Arsip | Teknologi RSS feed for this section

Mesin Milling

15 Nov

Mesin milling memahat logam benda kerja dengan cara memutar pahat pemotong yang memiliki sejumlah sisi atau gigi potong. Laju pemakanan logam benda kerja akan semakin tinggi jika pahat potong berputar semakin tinggi. Gerakan makan pahat mesin milling berbeda dengan pahat drilling dan pahat bubut. Pada mesin drilling dan bubut, benda kerja dipertahankan bersinggungan dengan pahat potong guna pemakanan. Pada mesin milling ada proses pemakanan yang terputus-putus di mana sisi potong pahat menghasilkan geram yang bervariasi tebalnya. Operasi mesin milling diklasifikasikan peripheral (plain) milling dan face (end) milling. Periperal (plain) milling, pemotongan material benda kerja dikerjakan oleh sisi pinggir pahat. Biasanya cara ini bekerja pada mesin milling mendatar. Face (end) milling, pemotongan material benda kerja dikerjakan sisi muka atau ujung pahat. Biasanya cara ini bekerja pada mesin milling tegak. (Machining Technology: Machine Tools and Operations, Helmi A. Youssef and Hassan El-Hofy, 2008)

Akses Digital Perpustakaan Nasional RI

5 Agu

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) kini telah menyediakan akses ke
jurnal-jurnal internasional.
Kabar baik bagi rakyat Indonesia yang gemar belajar, menempuh studi, atau melakukan pemelitian. PNRI melanggan beberapa database jurnal internasional terkemuka untuk berbagai bidang ilmu, seperti Sage Knowledge, Taylor and Francis, Proquest, Cengage Learning, Mylibrary, Ulrichs, EBSCO Host, IGI Global, Westlaw, IG Publishing, dan lain-lain. Anda hanya perlu jadi anggota perpus secara online dan bisa mengakses (mengunduh) jurnal-jurnal tersebut secara digital. Ada juga channel lokal dari Balai Pustaka yang memuat buku-buku terbitan lama dalam 3 format. Namun sayang banyak yang mati linknya.
Cara akses koleksi PNRI mudah yang penting punya koneksi internet, prosedurnya sebagai berikut :
1. Mendaftar dahulu di keanggotaan.pnri.go.id, mengisi formulir digital, dan mendapatkan nomor keanggotaan
PNRI.
2. Masuk ke e-resources.pnri.go.id dengan menggunakan nomor keanggotaan PNRI dan password di atas.
Semoga informasi ini membawa banyak manfaat. Mencerdaskam kehidupan rakyat. Memaksimalkan penggunaan langganan tersebut Karena dibiayai anggaran Negara Dari pajak yang dipungut Dari rakyat.

Shared from Google Keep

Prosesor Ponsel Dari Satu Core Hingga Delapan Core

3 Agu

Prosesor Ponsel Dari Satu Core Hingga Delapan Core
Smartphone cenderung berpola mengikuti tren seperti komputer, makin canggih perangkat kerasnya. Struktur komponennya juga mirip mulai dari prosesor, pengolah grafis, RAM, ROM dan perangkat penyimpanan data, display, dan operating sistem. Kecepatan prosesor smartphone semakin lama semakin kencang. Mulai dari kecepatan kilo hertz, mega hertz hingga giga hertz. Mengikuti jejak core prosesor komputer, core prosesor ponsel juga bergerak dari single core, dual core, quad core, hingga octa core. Sayangnya tri core belum ada padahal dulu ada prosesor komputer versi tri core besutan AMD meski tidak populer. Perubahan prosesor ponsel rasanya lebih cepat daripada masa perubahan prosesor komputer. Ponsel kelas atas sudah jamak memakai prosesor octa core. Di komputer masih di level server dan workstation saja yang memakai octa core, belum di level prosumer. Metode kemampuan eksekusi prosesor juga mulai beralih dari 32 bit ke 64 bit. Jadi potensi yang digotong prosesor ponsel semakin digdaya. Namun bukan berarti di aplikasi praktis belum tentu membuat kinerja ponsel semakin moncer. Problem yang sama dulu juga menghinggapi komputer. Kemajuan teknologi perangkat keras prosesor komputer ke arah multi core 64-bit tidak bisa langsung diimbangi oleh kemajuan teknologi perangkat lunak dalam mendayagunakan kemampuam prosesor. Baik perangkat lunak sistem operasi maupun perangkat lunak program aplikasi. Memerlukan waktu transisi, jadi terkesan sumber daya perangkat keras menjadi mubazir. Apple dengan iphone mencerminkan fenomena tersebut. Sistem android berlomba mengadopsi prosesor quad core dan octa core berkecepatan tinggi. Tetapi iphone masih berkutat di dual prosesor berkecepatan sedang. Apple fokus pada pendayagunaan perangkat keras dan user experience yang memuaskan. Terbukti banyak orang bilang bahwa kinerja iphone masih lebih baik dibandingkan ponsel android kelas atas dalam penggunaan sehari-hari. Kata orang, sebab aku sendiri belum pernah memakai iphone. Di sisi lain, Apple juga yang pertama kali memakai prosesor 64 bit dan sistem operasi iphone 64 bit. Artinya sistem operasi android dan ekosistemnya masih harus diperbahui guna mengoptimasi pendayagunaan perangkat keras, efektif dan efisien.

Shared from Google Keep

Kontrol Digital Kamera via Ponsel

3 Agu

Kamera SLR di dekade terakhir mengalami evolusi besar seiring dengan perkembangan teknologi digital. Aku masih ingat ketika masih SMP, memakai kamera saku dengan negatif film. Beli 1 rol ASA 400,merk fujifilmyang berisi 34-36 klise di toko perlengkapan kamera. Toko tersebut hanya ada di kota kecamatan saja. Setelah satu rol habis, kembali balik ke toko itu untuk mencuci negatif film. Di rumah mengecek hasil cuci klise dan memilah mana yang cocok untum dicetak ukuran postcard. Menunggu lagi 2-3 hari hingga foto bisa diambil. Sampai di rumah, hasil cetak foto disimpan di album foto. Memiliki kamera saku saat masih terasa mewah. Masih jarang orang yang memiliki. Terlebih melihat fotografer yang menenteng kamera SLR dengan gears yang panjang dan besar. Woow keren sekali, lensa tele panjang dan lampu flash besar. Memotret obyek model yang cantik dan seksi. Image itu yang selalu melekat di benakku. Dan itu tidak melesat hingga kini jika melihat kehidupan fotografer senior Darwis Triadi. Kini dengan kemajuan teknologi digital menjadikan fotografi berubah sebagai hobi yang sangat terjangkau. Sekarang sangat susah melihat orang memakai kamera SLR karena negatif film sendiri juga sudah sulit dicari. Umumnya yang ada kamera DSLR, kamera saku juga kamera digital. Bahkan hampir semua hape dari feature phone hingga smart phone dilengkali kamera digital. Teknologi kontrol kamera semakin mengarah ke integrasi dengan smart phone. Dulu kamera DSLR hanya dilengkali dengan wired remote release. Kemudian berkembang ke wireless remote release via infrared. Semakin dalam integrasi dengan ponsel cerdas via koneksi wifi. Dulu sekedar transfer foto dari kamera komputer. Kemudian remote release via wifi, sharing foto ke media sosial. Terbaru remote control kamera via wifi seperti settingan kamera, digital view finder, dan juga remote release. Aku lihat yang agresif mengintegrasikan kamera dengan ponsel cerdas adalah Samsung lewat produk kamera digital seri NX. Integrasi tidak sekedar ke hape Samsung Galaxy, bisa diinstal di semua hape android dan iphone. Canon juga berusaha mengikuti tren integrasi smartphone dengan piranti lunak Canon EOS. Namun update tidak secepat Samsung, Canon EOS Remote versi Android pembaharuannya terakhir tahun 2013. Itu pun terbatas untuk Canon EOS 6D, EOS 70 dan EOS M2. Kinerjanya juga masih perlu ditingkatkan untuk mengurangi lag instruksi dari ponsel terhadap kamera. Ke depannya semua kamera digital kayaknya bakal mengadopsi integrasi penuh dengan ponsel cerdas mengingat semakin dominanmya ponsel di dalam kehidupan manusia.

Shared from Google Keep

Piranti Lunak Pengelolaan Ebook

2 Agu

Jika kita memiliki banyak dokumen pdf maupum ebook akan membutuhkan metode pengelolaan file-file tersebut. Seperti halnya saat anda memiliki hobi fotografi pasti akan sangat memerlukan piranti lunak untuk mengorganisir ribuan foto koleksi. Di dunia fotografi, piranti lunak Adobe Lightroom sangat populer untuk mengorganisasi koleksi foto digital. Di dunia ebook, ada 2 piranti lunak manajemen ebook yang populer bagi aku yakni Calibre dan Alfa Ebook Manager. Calibre merupakan perangkat lunak gratis yang dikembakngkan oleh Kovid Goyal. Versi perdana dibuat sewaktu dia masih menjadi mahasiswa di perguruan tinggi AS. Alfa Ebook Manager memiliki dua versi yakni gratis dan berbayar. Versi gratis sangat terbatas dibandingkan versi berbayar seperti fitur pencarian dan edit metadata, konversi ebook, dan e-reader. Alfa Ebook Manager merupakan piranti lunak manajemen ebook terbaik untuk versi berbayar. Namun hampir semua fiturnya bisa dijumpai di piranti lunak manajemen ebook gratisan Calibre. Hingga tulisan ini dibuat, Calibre sudah dirilis hingga versi 1.47.0 dan terus menerus diperbaharui. Namun ada perbedaan mendasar antara sistem kerja Alfa dan Calibre dalam menangani file ebook. Alfa tidak mengubah apapun file sumber ebook sedangkan Calibre harus menyalin file sumber ebook ke lokasi yang kita pilih sehingga otomatis menyita ruang penyimpanan dua kali lebih banyak dibandingkan Alfa. Aku sendiri hingga kini memakai Calibre sejak versi 1.30-an. Sebelumnya sempat mencoba Alfa versi gratisan kemudian pindah ke Calibre karena tidak puas dengan keterbatasannya.

Shared from Google Keep

%d blogger menyukai ini: