Tag Archives: kartini

Selamat Kartini 20 April dan Kematian Kartini

22 Apr

Peringatan hari Kartini sudah kita alami mulai dari TK hingga sekarang. Tapi masih ada saja pihak yang salah menuliskan tanggalnya. Ironisnya kesalahan itu berasal dari sebuah partai politik yang bertahun-tahun dipimpin seorang wanita dan mengklaim memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Tulisan tersebut bertebaran di ibukota yang notabene penduduknya pasti lebih berpendidikan dan melek informasi dari pada di daerah-daerah yang jauh dari pusat kekuasaan. Kejadian di atas menunjukkan bahwa problematika yang dihadapi Kartini pribadi hingga kini masih belum ada yang bisa menuntaskan. Fakta bahwa ibu kita Kartini meninggal setelah melahirkan anaknya yang pertama terulang terus hingga sekarang. Pelayanan kesehatan reproduksi dan pendidikan bagi kaum perempuan masih termarginalisasi. Dari data statisik terakhir (2009) angka kematian ibu atau MMR (Maternal Mortality Ratio)  adalah 307 per 100.000 persalinan, tertinggi di Asia. Bahkan angka tersebut 2,5 lebih tinggi dari Filipina yang lebih miskin dari Indonesia. Masih jauh dari target PBB dalam program MGD (Millenium Development Goals) pada angka maksimum 102. Cermin dari angka tersebut berarti tingginya kematian ibu bukan semata-mata karena kemiskinan namun cenderung pada pendidikan dan akses layanan kesehatan reproduksi bagi kaum wanita. Perlindungan bagi perempuan buruh migran juga sangat memprihatinkan, kontras dengan Filipina yang juga sama-sama pengekspor buruh perempuan. Presiden Arroyo datang langsung ke Kuwait tatkala buruh migrannya menghadapi penyiksaan majikannya. Sedangkan semua presiden Indonesia menjanjikan janji-janji manis perlindungan secara reaktif namun penindasan buruh migran tidak berhenti sampai saat ini karena tidak ada realisasinya. Baik presiden RI perempuan atau laki-laki tidak mengubah kondisi mereka.Selamat memperingati Hari Kartini 20 April 2011..

Iklan

Kenapa Harus Kartini?

17 Apr

Di Minggu pagi ini aku baru saja menghadiri peringatan hari Kartini di perkebunan jauh pedalaman Kalimantan. Terulang kembali dalam benak sebuah pertanyaan yang selalu muncul pada tangal 21 April. Kenapa Kartini yang diangkat sebagai simbol emansipasi wanita di negeri ini. Sebuah perayaan historis yang sudah menjadi tradisi seremonial mulai dari TK hingga  masa bekerja bahkan kelak pensiun tatkala mengantar cucu bersekolah. Tidak adakah tokoh yang lebih besar dan lebih awal dari Kartini yang sejajar dengan kebesaran tokoh nasional yang mayoritas bergender laki-laki. Apakah karena Kartini dari ras Jawa tradisional yang lemah, terpingit korban poligami, kaum ningrat dengan Islam abangan, komunikatif dengan perempuan Barat, yang patut diangkat sebagai simbol perjuangan emansipasi gender wanita oleh Etische Politiek. Di mana kebijakan kolonial tersebut diterima dan dilanjutkan oleh pemerintahan Republik. Dalam fakta historis ada sejumlah wanita yang luar biasa dalam  perjuangan emansipasi wanita, pendidik dan penulis, bahkan pemimpin politik, namun berani melawan kolonialisme Belanda. Tidak sekedar melawan hegemoni manusia bergender laki-laki ataupun bahkan menjadi kaum feminis. Lepas dari sekedar pemilihan simbol, di era modern belum habis masalah diskriminasi gender dan jahiliyah modern. Kesetaraan pendidikan bagi wanita dan layanan kesehatan medis reproduksi terutama pada wanita hamil dan pasca melahirkan. Dari data statisik terakhir (2009) angka kematian ibu atau MMR (Maternal Mortality Ratio)  adalah 307 per 100.000 persalinan, tertinggi di Asia. Bahkan angka tersebut 2,5 lebih tinggi dari Filipina yang lebih miskin dari Indonesia. Masih jauh dari target PBB dalam program MGD (Millenium Development Goals) pada angka maksimum 102. Cermin dari angka tersebut berarti tingginya kematian ibu bukan semata-mata karena kemiskinan namun cenderung pada pendidikan dan akses layanan kesehatan reproduksi bagi kaum wanita.

%d blogger menyukai ini: