Tag Archives: Perompak Somalia

Perompak Somalia dalam Kisah Upin dan Ipin

4 Mei

Pembebasan kapal dan awak MV Sinar Kudus oleh perompak Somalia pada akhir pekan dengan  uang lebih dari 38 milyar rupiah, tebusan yang demikian besar, menyisakan pekerjaan rumah bagi negara . Jaminan keamanan dan keselamatan warga negara serta kelancaran perekonomian termasuk bagian dari martabat bangsa yang patut dijaga. Harus diakui proses pembelajaran pemerintah dari pembajak Somalia sangat lambat, khas filosofi tempe dan kedelai. Perlu dibuat plan program untuk berpartisipasi dengan AL internasional yang berpatroli di perairan tanduk Afrika yang merupakan salah satu jalur padat lalu-lintas kapal dunia. Memang diakui bahwa anggaran pemerintah begitu terbatas untuk menggelar kekuatan militer di perairan tersebut. Setidaknya minimal ada satuan yang stand by dengan jalur komunikasi dengan kapal-kapal Indonesia yang hendak melayari perairan tersebut. Jika ada tindak perompakan bisa langsung ditindak di laut terbuka untuk mencegah perompak merapatkan kapal ke basis mereka. Strategi  minimal itu sangat ekonomis secara operasional dalam rangka menjaga martabat dan harkat bangsa Indonesia jangan sampai diinka-injak lagi oleh gerombolan perompak Somalia seperti kejadian penyanderaan kapal MV Sinar Kudus. Di mana awak dan pemilik kapal yang merupakan bagian dari bangsa dipaksa untuk menebusnya tanpa bisa berbuat banyak. Meskipun di akhir episode pembebasan, personel pasukan khusus sempat berpesta sisa-sisa dengan membabat empat perompak yang menjadi sortie terrakhir dari pengunduran mereka dari kapal MV Sinar Kudus setelah tebusan dibayarkan. Dapat dirasakan gelora mereka yang mungkin tangan sudah gatal dengan aksi perompakan. Rasa yang sama yang dirasakan masyarakat Indoensia menyaksikan gelagat para perompak dan lemahnya pemerintah dalam melindungi warga negara Republik Indonesia. Semangat tempur dan profesionalisme mereka wajib dijaga dan diasah terus supaya dapat ditunjukkan ke dunia bahwa personel Indonesia tidak kalah bagus dengan kehebatan personel Korsel dan Malaysia dalam berlaga di atas kapal. Penulis mengutip frasa sartir dari tulisan sebelumnya: “Kapal apa yang bisa berlayar secepat kilat dari Indonesia ke perairan Somalia untuk mengejar kapal yang dirompak”. Jangan sampai kita mengejar kapal yang telah dirompak di sana dengan start dari sini. Ada cerita menarik dari kisah Upin dan Ipin bahwa kelinci yang larinya kencang kalah dalam lomba lari dengan kura-kura akibat kepongahannya.

Iklan

Perompak Somalia Berhenti Merompak dan Akhir Libya

21 Apr

Penghentian perompakan di perairan tanduk Afrika dngan mencipta pemerintahan Somalia yang kuat dan legimitasinya diakui mayoritas penduduknya sendiri. Ketiadaan pemerintahan yang mengayomi seluruh penduduk negeri memperpanjang perang saudara yang telah berlangsung bertahun-tahun. Panjangnya perang saudara tanpa ada salah satu duduk sebagai sebagi penguasa efektif tidak semata-mata karena berimbangnya kekuatan antara pemberontak dan pemerintah Somalia. Namun sangat dipengaruhi campur tangan asing berupa intervensi negara tetangga terutama Ethiopia dengan restu AS. Padahal pemerintahan yang berkuasa tengah terdesak dan hampir terguling oleh kelompok fundamentalis yang tidak dikehendaki Paman Sam. Dengan meminjam tangan negara tetangga Somalia, AS membantu pemerintah yang berkuasa untuk mendesak kembali kekuatan pemberontak yang sebelumnya hampir berhasil merebut kekuasan. Skenario ini hampir sama persis dengan apa yang terjadi di Afghanistan. Ketika faksi-faksi Mujahidin berhasil merebut kabul dari rezim komunis Najibullah yang telah ditinggal Uni Soviet 1989, mereka akhirnya saling bertempur berebut kekuasan. Kekuatan yang tersisa berpusat pada 4 kelompok, Jenderal Rashid Dostum, Abdullah Rabbani, Ahmad Syah Massoud, dan Gulbuddin Hekmatyar. Pasukan mereka silih berganti menyerang kabul hingga kemudian pertengahan dekade 90-an muncul faksi baru yang dimotori oleh kaum terpelajar suku Pastun yang berada di wilayah perbatasan Afghanistan dan Pakistan. Faksi baru ini datang seperti gelombang air bah yang tidak mampu ditahan oleh 4 faksi yang saling bertikai. Kelompok Taliban berusaha mengakhiri situasi stagnan akibat pertikain kelompok yang berkuasa. Dengan dukungan mayoritas suku Pastun yang sudah muak dengan kondisi yang ada, Taliban akhirnya merebut Kabul dan membentuk pemerintahan efektif pertama kali pasca pendudukan Uni Soviet. Sisa-sisa kekuatan lama menyingkir utara bertahan di benteng Panglima Ahmad Syah Massoud, Lembah Panshir, daerah suku Uzbek dan Tajik. Sebuah lembah luas yang hanya punya satu pintu masuk dan pintu keluar dimana selama pendudukan Uni Soviet, tentara merah tidak sanggup menahklukkannya. Praktis wilayah kekuasaan sisa penguasa yang lama tinggal 20% dari wilayah Afganistan. Sampai akhirnya pada tahun 2001 pasca serangan menara kembar WTC, AS dan sekutunya datang memberikan bantuan pihak Utara bahkan turun tangan turut menggempur kelompok Taliban. Hingga kini Taliban tersingkir dari Kabul dan bergerilya melawan pemerintahan dukungan AS. Kondisi seperti di Afganistan dan Somalia memberikan situasi tidak menentu bagi penduduknya. Kemiskinan dan kebodohan membelenggu rakyatnya. Skenario seperti itu hampir terjadi pada Myamar seandainya Myanmar tanpa dukungan ASEAN. Skenario itu pula yang sekarang sedangkan diterapkan pada Libya. Cepat atau lambat pasukan pemberontak dukungan Sekutu pasti akan terdesak ke pertahanan terakhir di Benghazi. Pada saat inilah moment mendaratnya pasukan Sekutu tiba untuk turun ikut menggempur pasukan yang setia kepada Moammar Qadafi. Dan nasib Libya pun akan seperti Afghanistan, Somalia, dan Iraq.

AL Indonesia Vs Bajak Laut Somalia

20 Apr

Bung Karno mengklaim bangsa kita bermental tempe. Bertahun-tahun Indonesia sekedar menjadi penonton aksi sirkus pembajak laut di teater perairan tanduk Afrika. Telah silih berganti kapal-kapal niaga negara asing menjadi korban penyanderaan perompak untuk memeras pemilik kapal dengan uang tebusan. Sejak ambruknya kekuasaan pemerintah pusat Somalia akibat perang saudara dan intervensi asing serta memburuknya kemiskinan, aksi perompakan semakin merajalela. Untuk meredam aksi perompakan, negara-negara NATO, Rusia, dan Asia mengerahkan kekuatan AL di sekitar perairan tanduk Afrika. Banyak negara-negara Asia yang turut serta menggelar kekuatan supaya jalur pelayaran niaga mereka aman seperti India, Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, China, dan Korsel. Bahkan AL Malaysia dan AL Korsel menunjukkan kepada dunia bahwa mereka andal dalam mengamankan akses pelayaran mereka dengan bertindak cepat dan tepat membebaskan kapal-kapal mereka yang disatroni perompak. Betul apa yang dikatakan Bung Karno bahwa bangsa kita bermental seperti tempe, diinjak-injak dulu baru sadar dan berbuat untuk bangkit. Kita menyatakan bahwa kita adalah bangsa bahari yang besar dengan panjang total pesisirnya terpanjang di dunia dan panjang wilayah negara ini apabila ditaruh di peta dunia maka ujungnya ada di Baghdad dan London. Tetapi kita memiliki Angkatan Laut yang lebih lemah dari negara kecil semacam Singapura, Malaysia, dan Thailand. Tidak mampu mengamankan jalur laut dunia seperti mereka. Begitu ada kapal pertama Indonesia MV Sinar Kudus yang menjadi korban perompakan pemerintah langsung kalut tidak bisa berbuat apapun guna membebaskan kapal berserta awaknya secara terhormat. Banyak negara menawarkan bantuan militer untuk menyelamatkan kapal tanpa perlu pemerintah Indonesia mengemis. Pemerintah berdalih bahwa mereka langsung mengerahkan frigat ke arah teluk Aden begitu informasi perompakan diterima namun kapal keburu sudah merapat ke pesisir Somalia yang notabene mustahil diserbu karena rapatnya penjagaan jika kapal sudah bersandar. Lelucon macam apa itu mengejar kapal perompak yang jauhnya ribuan mil dengan mengandalkan satu atau dua buah frigat. Kapal perang mana yang ada di dunia iniyang bisa berlayar secepat kilat. Namun kita tidak perlu terlalu menyalahkan pemerintah karena memang kita sadar pemerintah tidak memiliki cukup uang untuk ikut serta menggelar satu atau dua kapal AL guna berpartisipasi mengamankan kapal-kapal niaga Indonesia di perairan yang dijaga AL internasional di tanduk Afrika. Kita tidak perlu iri dengan AL Singapura yang saat ini mendapat giliran memimpin komando operasional AL internasional di perairan tersebut. Namun pemerintah jangan gengsi dan malu minta bantuan AL internasional di sana jika memang AL kita tidak mampu. Keluarga awak kapal yang disandera adalah warga negara Indonesia yang berharap mereka pulang selamat. Tunjukkan kepada dunia bahwa satu warga Indonesia adalah sangat berharga dan dilindungi penuh oleh pemerintah Indonesia dimanapun dia ada di belahan dunia. Seperti terasa jika anda menjadi warga negara AS, Inggris, Perancis, bahkan Israel, masyhur di dunia bahwa mereka sangat commit melindungi warga negaranya di manapun berada. Atau pemerintah Indonesia saat ini masih belum lepas dari doktrin matra darat warisan Orba, lupa akan doktrin bahari warisan Orla. Semoga peristiwa ini mengingatkan kehebatan doktrin bahari Bung Karno. Jasmerah!

%d blogger menyukai ini: