Archive | Gadget RSS feed for this section

Powerbank Konslet Nyaris Meledak

6 Mei

Cukup banyak kisah yang kubaca di media online tentang batere ponsel dan powerbank yang terbakar ataupun meledak bahkan ada yang menyetrum pemakainya hingga tewas. Seminggu yang lalu aku pun nyaris mengalaminya. Seperti biasa di sore hari ponsel BB menderita low bat. Penggunaannya memang cukup intens untuk percakapan, sms, 3 akun email aktif, dan aplikasi pesan (whatsapp dan bbm). Masih ditambah dengan aplikasi baca berita Detik. Supaya ponsel tidak mati maka aku colokkan powerbank. Cukup berumur powerbank tersebut, hampir setahun. Beli di plasa kota, berwarna hitam, kotak tebal, dengan daya besar 10 ribu mAh, made in china. Waktu itu kurogoh kocek tigaratusan ribu. Tahun kemarin kapasitas sebesar itu tergolong gahar dan sangar. Alasanku selain buat ngecas hape juga sekalian charging tablet galaxy tab2. Secara fisik terlihat lucu saat dipakai ngecas ponsel. Powerbank tampak lebih besar dan lebih tebal dibandingkan hape yang dicas. Kadang membetot perhatian kolega, dikirain barang apa. Saat ini sudah banyak beredar powerbank kapasitas besar namun kecil dan setipis ponsel. Ada teman kantor memakai powerbank 20 ribu mAh tapi dimensinya mirip dengan ponselnya yang samsung galaxy s4. Kembali ke kisah powerbankku, tidak lama sesudah kucolokkan powerbank ke hape bb, body powerbank terasa hangat dan di layar bb muncul notifikasi bahwa sumber daya tidak bisa dikenali. Lantas kucabut kabel charger dari hape, sesaat keluar pijar api dan asap dari kabel charger. Api dan asap sebentar sudah hilang. Kuperhatikan platik kabel telah meleleh dan sebagian bodi plastik powerbank juga ada yang meleleh. Tapi bodi powerbank tetap terasa hangat. Daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, aku lempar powerbank itu jauh-jauh keluar pagar kantor. Jadi ingat kisah-kisah seram tentang peristiwa batere ponsel dan powerbank yang kubaca. Naas tapi masih mujur.

Update OS Blackberry ke Versi 10.3

8 Mar

image

Kabar tentang software operating system BlackBerry 10.3 sudah lama tersiar. OS tersebut mengemukaka di masa rilis blackberry passport dan blackberry Q20. Fitur utama utama pada OS Blackberry 10.3 menurutku adalah voice assistant mengikuti jejak Siri iOS, Cortana Windows Phone, dan Google Now. Namun sudah kucoba menggunakan voice assistant masih kurang impresif. Mungkin aku saja yang belum tahu sela-selanya. Fitur utama kedua adalah konektivitas handset blackberry dengan perangkat komputer desktop atau laptop dan table android atau ipad. Aku menjajal koneksitas BB Q10 dengan laptop Windows 8.1 dengan Blackberry Blend. Semula mengalamai kendali meskipun sudah saya instal BB Blend baik di handset BB Q10 maupun di perangkat laptop HP Pavilion dengan OS Windows 8.1. Usut punya usut ternyata perangkat lunak BB blend di handset perlu diupdate dengan versi terbaru. Padahal tidak ada notifikasi permintaan update di perangkat Q10 juga di BlackBerry World.
Gadgetku sendiri sudah aku update OS dua kali. Pertama versi kedua dari OS BB 10.2 lantas yang kedua OS BB 10.3. Pada awalnya. Tidak menyangka Q10 bakal mendapat update OS BB 10.3. Karena sudah aku set otomatis update maka tatkala secara OTA sudah ada update, handset Q10 mengunduh update tersebut. Ini memerlukan usaha keras pasalnya tempat tinggalku miskin sinyal. Usaha pertamaku mendownload update sebesar 1 GB. Sudah selesai download dan install tapi anehnya masih belum muncul OS BB 10.3. Malahan minta download lagi sebesar 1.5 GB. Ini bukan perkara sepele di dunia sinyal EDGE, tidak mudah mencari sinyal 3G kecuali ke kota atau mencari lokasi tertentu. Untungnya sewaktu turun belanja ke kota sempat mendownload lumayan besar hingga 1.3 GB. Sisanya aku selesakan dengan mencari lokasi dekat boiler yang kuat menangkap sinyal 3G. Setelah selesai instalasi update OS BB 10.3 dan setting perangkat, lanjut download BB Blend untuk Windows.

image

Memakai BB Blend serasa memindahkan display handset BB ke monitor komputer. Koneksi seamless seperti yang dijanjikan Blackberry ternyata tidak semulus yang aku bayangkan. Masih terasa ada lag, padahal koneksi dengan laptop memakai kabel usb. Mungkin pengaruh jaringan data seluler. Namun perlu dicatat BB Blend hanya mengakomodasi fitur yang native di OS BB seperti BBM, sms, email, dan file browser. Semoga ke depan semakin banyak yang diakomodir misalkan facebook, twitter, dan sebagainya.

Update OS BlackBerry 10.2

13 Nov

image

Ada update baru OS BlackBerry 10.2.1.3442 via OTA baru-baru ini. Kayaknya update minor perbaikan bug di versi sebelumnya. Ada dua tambahan aplikasi di dalam update tersebut yaitu Foursquare, media sosial berbasis, dan sebuah layanan penyimpanan awan Box. Cloud storage yang populer di versi sebelumnya, Dropbox, tidak dihapus. Unjuk kerja yang ditampilkan oleh sistem operasi BB 10 terasa sekali. Terasa lebih efisien, peralihan antar jendela menu maupun peralihan ke jendela multitasking lebih cepat. Problem crash yang sering aku alami saat menjalankan aplikasi BlackBerry World sudah hilang. Dulu memang sering forced shut down aplikasi itu. Baik saat loading aplikasi maupun setelah aplikasi baru running. Namun sebenarnya yang aku tunggu adalah update mayor BlackBerry 10.3 yang konon sudah diinstal di ponsel BB Passport. Lumayan makin aktif nih perusahaan BB untuk bersaing dengan Android, iOS, dan Windows. Meskipun masih peringkat buncit, bos Mr. Chen bilang masa kritis perusahaan BB sudah lewat, tinggal perbaikan dan peningkatan profit. Sudah tidak bleeding lagi. Mudah-mudahan sukses tidak bernasib seperti ponsel Nokia maupun ponsel Ericsson.

Prosesor Ponsel Dari Satu Core Hingga Delapan Core

3 Agu

Prosesor Ponsel Dari Satu Core Hingga Delapan Core
Smartphone cenderung berpola mengikuti tren seperti komputer, makin canggih perangkat kerasnya. Struktur komponennya juga mirip mulai dari prosesor, pengolah grafis, RAM, ROM dan perangkat penyimpanan data, display, dan operating sistem. Kecepatan prosesor smartphone semakin lama semakin kencang. Mulai dari kecepatan kilo hertz, mega hertz hingga giga hertz. Mengikuti jejak core prosesor komputer, core prosesor ponsel juga bergerak dari single core, dual core, quad core, hingga octa core. Sayangnya tri core belum ada padahal dulu ada prosesor komputer versi tri core besutan AMD meski tidak populer. Perubahan prosesor ponsel rasanya lebih cepat daripada masa perubahan prosesor komputer. Ponsel kelas atas sudah jamak memakai prosesor octa core. Di komputer masih di level server dan workstation saja yang memakai octa core, belum di level prosumer. Metode kemampuan eksekusi prosesor juga mulai beralih dari 32 bit ke 64 bit. Jadi potensi yang digotong prosesor ponsel semakin digdaya. Namun bukan berarti di aplikasi praktis belum tentu membuat kinerja ponsel semakin moncer. Problem yang sama dulu juga menghinggapi komputer. Kemajuan teknologi perangkat keras prosesor komputer ke arah multi core 64-bit tidak bisa langsung diimbangi oleh kemajuan teknologi perangkat lunak dalam mendayagunakan kemampuam prosesor. Baik perangkat lunak sistem operasi maupun perangkat lunak program aplikasi. Memerlukan waktu transisi, jadi terkesan sumber daya perangkat keras menjadi mubazir. Apple dengan iphone mencerminkan fenomena tersebut. Sistem android berlomba mengadopsi prosesor quad core dan octa core berkecepatan tinggi. Tetapi iphone masih berkutat di dual prosesor berkecepatan sedang. Apple fokus pada pendayagunaan perangkat keras dan user experience yang memuaskan. Terbukti banyak orang bilang bahwa kinerja iphone masih lebih baik dibandingkan ponsel android kelas atas dalam penggunaan sehari-hari. Kata orang, sebab aku sendiri belum pernah memakai iphone. Di sisi lain, Apple juga yang pertama kali memakai prosesor 64 bit dan sistem operasi iphone 64 bit. Artinya sistem operasi android dan ekosistemnya masih harus diperbahui guna mengoptimasi pendayagunaan perangkat keras, efektif dan efisien.

Shared from Google Keep

Kontrol Digital Kamera via Ponsel

3 Agu

Kamera SLR di dekade terakhir mengalami evolusi besar seiring dengan perkembangan teknologi digital. Aku masih ingat ketika masih SMP, memakai kamera saku dengan negatif film. Beli 1 rol ASA 400,merk fujifilmyang berisi 34-36 klise di toko perlengkapan kamera. Toko tersebut hanya ada di kota kecamatan saja. Setelah satu rol habis, kembali balik ke toko itu untuk mencuci negatif film. Di rumah mengecek hasil cuci klise dan memilah mana yang cocok untum dicetak ukuran postcard. Menunggu lagi 2-3 hari hingga foto bisa diambil. Sampai di rumah, hasil cetak foto disimpan di album foto. Memiliki kamera saku saat masih terasa mewah. Masih jarang orang yang memiliki. Terlebih melihat fotografer yang menenteng kamera SLR dengan gears yang panjang dan besar. Woow keren sekali, lensa tele panjang dan lampu flash besar. Memotret obyek model yang cantik dan seksi. Image itu yang selalu melekat di benakku. Dan itu tidak melesat hingga kini jika melihat kehidupan fotografer senior Darwis Triadi. Kini dengan kemajuan teknologi digital menjadikan fotografi berubah sebagai hobi yang sangat terjangkau. Sekarang sangat susah melihat orang memakai kamera SLR karena negatif film sendiri juga sudah sulit dicari. Umumnya yang ada kamera DSLR, kamera saku juga kamera digital. Bahkan hampir semua hape dari feature phone hingga smart phone dilengkali kamera digital. Teknologi kontrol kamera semakin mengarah ke integrasi dengan smart phone. Dulu kamera DSLR hanya dilengkali dengan wired remote release. Kemudian berkembang ke wireless remote release via infrared. Semakin dalam integrasi dengan ponsel cerdas via koneksi wifi. Dulu sekedar transfer foto dari kamera komputer. Kemudian remote release via wifi, sharing foto ke media sosial. Terbaru remote control kamera via wifi seperti settingan kamera, digital view finder, dan juga remote release. Aku lihat yang agresif mengintegrasikan kamera dengan ponsel cerdas adalah Samsung lewat produk kamera digital seri NX. Integrasi tidak sekedar ke hape Samsung Galaxy, bisa diinstal di semua hape android dan iphone. Canon juga berusaha mengikuti tren integrasi smartphone dengan piranti lunak Canon EOS. Namun update tidak secepat Samsung, Canon EOS Remote versi Android pembaharuannya terakhir tahun 2013. Itu pun terbatas untuk Canon EOS 6D, EOS 70 dan EOS M2. Kinerjanya juga masih perlu ditingkatkan untuk mengurangi lag instruksi dari ponsel terhadap kamera. Ke depannya semua kamera digital kayaknya bakal mengadopsi integrasi penuh dengan ponsel cerdas mengingat semakin dominanmya ponsel di dalam kehidupan manusia.

Shared from Google Keep

%d blogger menyukai ini: