Arsip | HAM&Politik RSS feed for this section

Capres, Kedewasaan Berpolitik

20 Jul

Perhitungan rekapitulasi hasil pemilu presiden masih berlangsung. Bagiku ini adalah pemilu kedua yang aku ikuti. Sudah 3 kali pemilu yang aku ikuti. Pertama kali adalah pemilu saat sekolah SMU, memiliki hak pilih semasa Orba. Mencoblos apa, pasti pembaca sudah bisa menebak dengan benar. Siapapun yang mencoblos parpol akan khawatir terhadap masa depannya. Apalagi di usia remaja tanggung yang masih labil. Melihat mesin orba di pemilu yang sangat invasif. Hal itu pernah aku alami sendiri saat mengurus beasiswa SMU. Harus berurusan dengan sekjen Golkar tingkat kecamatan, meyakinkan beliau bahwa orangtuaku adalah kader Golkar. Di masa kuliah adalah romantika pergerakan anti Orba. Aku terlibat demonstrasi di dalam kampus bersama kawan-kawan pergerakan. Waktu itu demontrasi hanya boleh di dalam kampus. Tatkala barisan demonstran hendak keluar kampus, gerbang ditutup satpam. Di depan gerbang sudah menunggu pasukan dalmas dengan pentungan dan tameng. Di belakang dalmas bersiap polisi dengan senapan berlaras panjang. Di belakang barisan polisi bersiaga tentara berseragam hijau doreng. Hingga kemudian Soeharto turun tahta pada bulan Mei 1998. Hegemoni politik Orba kemudian luntur dan diselenggarakannya pemilu jurdil pertama kali dalam sejarah Indonesia pada tahun 1999. Aku pun terlibat dalam euforia reformasi saat itu. Dengan antusias ikut Unfrel dalam mengawasi jalannya pemilu. Unfrel dimotori oleh Todung Mulya Lubis yang memang kesohor saat itu dan memiliki integritas tinggi. Aku pun mencoblos saat pemungutan suara. Kondisi politik nasional setelah itu membuatku tidak puas. Pasca pemilu 1999, aku tidak pernah lagi ikut pemugutan suara lagi. Hingga kondisi berubah pada saat ini. Kedewasaan parpol peserta pemilu telah meningkat dari sebelumnya. Pilihan capres tinggal dua kandidat. Aku tertarik memilih salah satu dari mereka. Harapanku mereka sudah matang dan dewasa dalam berpolitik. Menang atau kalah mereka akan memberikan yang terbaik untuk rakyat, bangsa, dan negara. Tidak semata-mata mengejar kekuasaan. Jika kalah pun bisa beroposisi dengan elegan. Jika menang menunaikan segala janji-janji besar yang sudah diobral saat kampanye. Terutama janji memerangi korupsi yang merupakan amanah reformasi 1998.

Shared from Google Keep

Iklan

Pangkalan Bun Kota Tersayang, Jangan Dijadikan Arang

30 Des

Rusuh massa siang tadi mencoreng wajah teduh Pangkalan Bun, ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Unjuk rasa sekitar lima ratusan orang menentang pasangan bupati-wakil bupati yang ditetapkan Mahkamah Konstitusi diwarnai aksi perusakan dan pembakaran beberapa bangunan. Massa pendukung pasangan bupati dan wakil bupati yang terpilih dalam pilkada tapi didiskualifikasi MK, Sugianto Sabran-Eko Sumarno, menggelar unjuk rasa menolak rencana pelantikan pasangan bupati dan wakil bupati Ujang Iskandar-Bambang Purwanto. Pelantikan tersebut akan dilaksanakan di kantor Kementrian Dalam Negeri Jakarta pada hari Jumat besok.

Terbakarnya rumah jabatan bupati Kotawaringin Barat

Sangat menyedihkan menyaksikan pertikaian antar rakyat dalam perebutan kekuasaan elit politik. Kekuasaan pada hakikatnya bertujuan menyejahterakan rakyat. Pemimpin yang terpilih bertugas melayani rakyat. Kerusuhan dan perusakan justru merugikan kita sendiri. Jangan sampai dilupakan pepatah, menang jadi arang kalah jadi abu. Baik yang menang maupun yang kalah merugi semua. Jabatan adalah titipan Allah SWT dan akan kembali diambil oleh-Nya. Semoga semua pihak legowo dan berjiwa ksatria, semua elit politik seharusnya mengutamakan keselamatan dan keamanan rakyat. Yang menang jangan menafikan yang kalah dan yang kalah tetap memiliki peranan dalam membangun negara. Seperti hikmah dari perebutan jabatan kepresidan Amerika Serikat, Barack Obama. Dia merangkul bekas lawannya yang sangat tangguh dalam konvensi Partai Demokrat, Hillary Clinton. Demikian juga dia tidak ragu mengajak mantan rivalnya dalam pemilu presiden dari partai Republik, McCain-Palin, untuk bekerja sama dengan dirinya dalam pemerintahan. Meski John McCain menolak namun McCain tetap kritis terhadap Obama melalui jalur politik elegan tanpa membuat kerusakan secuil pun. Padahal McCain adalah veteran pahlawan Perang Vietnam, mantan serdadu penerbang pesawat tempur A-4 Skyhawk angkatan laut AS.

Sumber: detiknews.com, kompas.com

Kerusuhan Inggris dan Kegelisahan Rakyat

16 Agu

Polisi London Halau Demonstran (www.republika.co.id)

Kepolisian Inggris terus memburu para pelaku penjarahan dan perusakan dalam tragedi kerusuhan terburuk dalam seperempat abad terakhir di Inggris. PM David Cameron telah mengutuk kejadian itu di depan parlemen dan menempatkannya sebagai kriminal murni. Dia berusaha menutupi akar permasalahan kenapa kematian seorang penjahat kecil kulit hitam bisa meletuskan kerusuhan besar di kota-kota Inggris yang melibatkan tidak cuma orang kulit hitam namun juga ras lainnya termasuk warga kulit putih. Kerusuhan bermula dari protes warga tas tewasnya Marc Duggan, pemuda kulit hitam berusia 29 tahun yang diduga anggota kelompok kriminal di Tottenham. Duggan ditembak anggota Trident, unit polisis metropolitan London pada 4 Agustus dengan senapan HK MP-5. Dekat mayatnya tergeletak pistol semi-otomatik Bruni BBM. Namun sejumlah saksi mata membantah dia bersenjata. Investigasi IPCC (Independent Police Complaints Comission) dalam temuan awalnya juga menyatakan tidak ada bukti pistol itu ditembakkan.

Kematian seorang pemuda kulit hitam tersebut sebenarnya sekedar katalisator dari kegelisahan kaum menengah terutama generasi muda Inggris terhadap ketidakpastian masa depan mereka dalam situasi perekonomian yang sedang melesu. Kriminalitas yang merebak di jalanan di tengah kerusuhan tidak bisa dilepaskan dari kenyataan disintegrasi moral pada kelompok kelas atas. Warga Inggris kelas menengah dan kelas bawah melihat gap yang sangat tajam dengan warga kelas atas. Mereka merasakan standart hidup yang terus merosot di tengah program penghematan anggaran pemerintah. Masyarakat menolak untuk menanggung dampak kegagalan yang dilakukan oleh kebijakan pemerintah dan kesalahan bankir dan lembaga keuangan.

Mereka juga muak dengan kebohongan publik oleh pemerintahan seperti terkuaknya skandal penyadapan publik oleh konglomerat media yang melibatkan aparat keamanan/polisi. Pemerintah juga menalangi kerugian yang dialami sejumlah lembaga keuangan untuk mengindari kebangkrutan masal. Talangan mengakibatkan krisis keuangan yang ditanggung oleh keseluruhan rakyat Inggris berupa penghematan di segala bidang mulai dari sektor pertahanan hingga layanan dasar sosial. Kerusuhan sosial memang pada dasarnya berakar pada ketidakpuasan warga terhadap penghematan oleh pemerintah di Eropa. Hal itu terbukti dari sejarah kerusuhan sosial di Eropa sejak akhir republik Weimar di Jerman hingga demontrasi anti-pemerintah di Yunani terakhir ini. Permasalahan yang sama saat ini juga telah merebak di Italia, Spanyol, Portugal, dan Perancis akibat program penghematan pemerintah di tengah merosotnya ekonomi nasional. Warga tidak akan protes jika penghematan anggaran itu tidak akibat kerakusan pelaku bisnis besar yang gagal dimana kegagalan tersebut berimplikasi bail-out yang mengindikasikan skandal korupsi pemerintahan. Sebagimana ditunjukkan dengan goyahnya lembaga-lembaga keuangan setelah krisis kredit perumahan di AS yang menyeret lembaga keuangan dunia termasuk Eropa. Dampak yang luar biasa dari kasus semacam ini terjadi negara-negara berkembang yang akhirnya mengakhiri rezim rapuh yang berkuasa seperti di Indonesia, Tunisia, Mesir, dan Libya. Seperti di Tunisia, katalisatornya adalah tewasnya Mohamed Bouazizi akibat protes dengan membakat diri setelah sarana usahanya dalam berdagang buah digusur aparat pemerintah.

Kita di Indonesia baik masyarakat maupun pemerintah harus mencermati dan mengambil hikmah dari kejadian yang menimpa negara-negara Eropa saat ini. Terutama konsisten memberantas korupsi dan menegakkan supremasi hukum. Korupsi telah terbukti merosotkan kualitas kesejahteraan warga dan menghancurkan pemerintahan yang berkuasa dan membawa bangsa ke dalam krisis yang sangat menyakitkan.

Pembunuh Rajamedia Newscorp Dibunuh Mafia Media?

20 Jul

Setelah terkuaknya skandal penyadapan publik oleh raksasa media memaksa Ruperth Murdoch menutup koran besar Inggris yang telah berusia ratusan tahun, News of the World. Sebuah cara yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan golden time dan berita yang paling eksklusif dengan mengorbankan narasumber di dunia nyata. Mirip dengan tertuduh teroris yang merangkap wartawan TV di Indonesia beberapa bulan yang lalu. Dia bekerja sama dengan jaringan teroris berencana merekam live peristiwa pemboman untuk mendapatkan laporan yang paling eksklusif.

Namun sayang sang peniup terompet, Sean Hoare, bekas wartawan News of the World itu telah tewas dengan sebab yang belum diungkapkan aparat Inggris (Senin pekan ini). Kabar yang sangat mencurigakan. Meski  laporan awal kepolisian mengemukakan bahwa kematian tidak dapat dijelaskan saat ini, tapi tidak dianggap mencurigakan. Namun terasa sangat mencurigakan karena belum lama terbongkarnya skandal paling busuk raksasa industri media dan menjelang dipanggilnya Ruperth Murdock oleh Parlemen Inggris. Sangat mudah melenyapkan Hoare bagia mafia media mengingat bagaimana mudahnya News of the World menyadap dan menyelidik tokoh-tokoh besar termasuk PM Brown dan keluarga Kerajaan Inggris. Berarti mereka memiliki jaringan intelijen dan teknologi yang mampu menembus batas pengamanan agen rahasia Inggris M15 maupun agen-agen keamanan internal. Sesuatu yang sangat mencengangkan dan keunggulan yang merupakan kecurangan dimanfaatkan untuk mendongkrak tiras dan keuntungan perusahaan raksasa media Murdoch. Dia tidak bisa lepas tangan dari semua kejadian itu meski dia bersikeras di depan parlemen bahwa dia tidak tahu menahu sama sekali tentang kejahatan penyadapan ilegal namun sebagai pemimpin dan pemilik perusahaan raksasa media tersebut dia tetap harus bertanggung jawab tidak sekedar lempar handuk ke bagian operasional di bawahnya.

Dropping Senjata NATO Parahkan Instabilitas Afrika

8 Jul

Pemberontak Libya di Misrata, AP

Dalam pekan awal bulan ini, pemberontak Libya semakin maju ke arah ibukota Tripoli. Serangan udara high-altitude disusul serbuan low altitude dari heli serang Apache Inggris dan heli Tiger Perancis yang berpangkalan di kapal induk serbu amfibi NATO di Laut Mediterania makin mendesak kubu pertahanan pasukan pemerintah Libya. Untuk pertama kali secara terbuka NATO mengakui telah men-dropping pasukan pemberontak Libya dengan senjata dan amunisi. Juru bicara militer Perancis, Kol. Thierry Burkhard, mengungkapkan bahwa dropping senjata Perancis terdiri dari senapan mesin, granat roket, termasuk amunisi. Persenjataan didropping dengan kargo parasut dijatuhkan di pegunungan Nafusa barat dekat perbatasan Tunisia yang dikuasai pemberontak. Di pihak Inggris, Jubir Kemenlu William Hague juga memastikan pasukan Inggris menyuplai pasukan pemberontak dengan perlengkapan militer. Pasokan tersebut meliputi 5 ribu rompi anti-peluru, 6.650 seragam polisi, dan peralatan komunikasi. Diyakini, jenis dan jumlah senjata yang disuplai melebihi adap yang diungkap.

Taktik strategi NATO sudah dianalisis dari awal konflik sebagai bagian dari strategi NATO memenangkan peperangan. Meski baru diungkap secara resmi, bantuan senjata dan finansial sudah berlangsung lama termasuk turunnya pasukan khusus yang menyatu dengan pemberontak Libya  mendahului dropping senjata. Pasukan khusus memiliki misi melatih personel pasukan pemberontak, membantu taktik tempur di lapangan, berkoordinasi dengan pimpinan oposisi, dan menjalin komunikasi dengan militer NATO termasuk pasokan data intelijen dan pemindai target serangan udara. Sementara itu ditengarai Perancis sedang mennyiapkan dropping tank-tank ringan untuk pemberontak Libya.

Jubir Kemenlu RRC, Hong Lei, menentang tindakan dropping semacam itu dan meminta NATO tidak bertindak melebihi mandat resolusi DK PBB. Menlu Rusia, Sergei Lavrov, menuduh tindakan itu sebagai pelanggaran resolusi DK PBB No.1970 yang mengenakan embargo senjata terhadap Libya paa bulan Februari. Saksi PBB terhadap Libya ditambah lagi dengan resolusi No.1973 berupa larangan terbang (no fly zone) yang bertujuan melindungi penduduk sipil. Ketua Komisi Uni Afrika, Jean Ping, juga berkeberatan atas supplai senjata kepada pihak pemberontak karena tidak ada mekanisme pengendalian senjata yang sudah ditebarkan dan rawan memunculkan perdagangan senjata gelap yang saat ini tengah mengancam konflik bersenjata di antara banyak negara Afrika. Namun Menlu Perancis Allain Juppe berdalih bantuan senjata tersebut Cuma senjata ringan dan bertujuan untuk melindungi penduduk sipil Libya. Tidak melanggar resolusi No.1970 maupun 1973 karena resolusi No.1973 memberi mandat untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan untuk melindungi penduduk sipil dan tidak berkaitan dengan paragraf 9 resolusi No.1970 yang mengembargo senjata terhadap Libya. Definisi terhadap pemberontak bersenjata adalah warga sipil sebenarnya rancu dan sarat kepentingan. Dalam konflik bersenjata manapun, pemberontak yang bersenjata tergolong militer yang beroposisi, tidak tergolong sebagai penduduk sipil.

Peperangan Libya sudah berlangsung sekitar lima bulan dan NATO yang dibantu Qatar dan UEA berusaha keras segera menyudahi perlawanan rezim Qadafi. Pemberontak yang berbasis di Nafusa dilaporkan susah memotong jalur pipa suplai minyak ke arah ibukota. Pasukan pemberontak menarget merebut Zawiya yang merupakan satu-satu nya kilang suplai minyak tersisa dari pemerintah yang bertahan di ibukota. Di sisi timur, Mahmoud Jabril (pimpinan TNC), meminta bantuan senjata NATO untuk memperkuat pasukannya di Misrata, 130 mil barat Tripoli. Dalam beberapa bula ini pertempuran di Misrata masih berkecamuk dan gerakan maju pemberontakm terhambat di Misrata meski ada bantuan serangan udara NATO. Sejumlah analisa mengemuka mengenai skenario pemerintahan Libya pasca-Qadafi. Uni Eropa/ NATO akan mengarahkan bidang keamanan, Australian beserta Turki dan PBB menyiapkan layanan publik. Sedangkan AS dan Turki menyiapkan institusi keuangan dan ekonomi Libya. Skenario ini rupanya belajar dari kasus Iraq pasca pendudukan AS yang tanpa perencanaan Iraq pasca-Saddam Hussein sehingga mengacaukan kondisi dalam negeri Iraq.

China yang selama ini pasif dan sebelumnya lebih dekat ke kubu Qadafi mulai menunjukkan pergeseran sikap ke arah oposisi Libya. Kepala hubungan luar negeri China, Chen Xiadong dilaporkan melawat ke Benghazi pekan ini bernegosiasi dengan TNC, pemerintahan Transisi Libya. Benghazi merupakan ibukota pemberontak Libya, RRC rupanya tidak mau ketinggalan rezeki di Libya pasca jatuhnya Qadafi kelak. Seperti halnya Iraq pasca jatuhnya Saddam di mana perusahaan minyak dan gas dikuasai oleh perusahaan asal AS dan Eropa. Libya merupakan negara dengan sumberdaya minyak dan gas terbesar di Afrika.

%d blogger menyukai ini: