Tag Archives: F-16

24 Pesawat F-16 Pasti Datang

24 Jun
Pesawat Tempur TNI-AU F-16 A Block 15 OCU

Menhan RI, Poernomo Yusgiantoro, dengan Komisi I DPR memastikan tawaran hibah 24 unit F-16 bekas dari AS diterima. Pemerintah dan DPR telah setuju menerima tawaran hibah tersebut setelah mengkaji secara mendalam. Di lain pihak Konggres AS telah menyetujui rencana pemerintah AS di bawah Barack Obama akan hibah itu. Dalam setahun ke depan akan datang 3 hingga 5 pesawat, sesuai dengan kapasitas upgrading pabrikan. Dananya diambil dari alokasi rencana pembelian 6 unit F-16 Block 52 baru. Hibah F-16 bekas disampaikan oleh Menhan Rober Gates pada kunjungan 2008. Dalam kunjungan Presiden AS Barack Obama beberapa wakt lalu, beliau menegaskan kembali rencana hibah tesebut

Namun banyak mendapat kritisi dari berbagai pihak termasuk Komisi I sendiri. Penawaran hibah pada mulanya diiringi ketakutan trauma embargo militer AS yang pernah dialami Indonesia dari tahun 2000, baru dicabut pada November 2005. Embargo militer dijatuhkan AS kepada Indonesia akibat krisis Timor Leste di mana Indonesia dituduh melakukan pelanggaran HAM. Dampaknya sangat serius bagi armada pesawat tempur maupun non tempur TNI-AU. Hampir semua pesawat tempur F-16 grounded akibat kekurangan suku cadang bahkan terjadi kanibalisasi. Mulai 2008 AS kembali membantu Indonesia dalam perawatan pesawat terutama C-130 Hercules dan F-16 Falcon. Saat kini dari 10 pesawat F-16 yang tersisa baru 6 unit yang layak terbang dan 4 unit tercatat rusak.

Pada mulanya Pemerintah berencana mengupgrade 10 unit F-16 A/B tersebut yang berkelas Block 15 OCU ke F-16 C/D Block 32 dan menambah 6 unit baru F-16 C/D Block 52. Harga satu unit F-16 Block 52 sekitar 60 juta dollar. Namun AS menyarankan untuk menerima hibah pesawat bekas cadangan F-16, dana yang ada bisa dipakai untuk meng-upgrade 24 unit pesawat bekas tersebut. Pesawat cadangan AS yang akan dihibahkan merupakan F-16 C/D Block 25 yang ketinggalan jaman avioniknya dan harus diupgrade teknologinya ke kelas Block 32. Lifetime pesawat masih panjang masih tersisa 4000 hingga 5000 jam, masih hingga 20-25 tahun lagi dengan pemakaian yang hemat. Biaya upgrade tiap pesawat diperkirakan sekitar 10 juta dollar. Jika sudah kelar semua maka TNI-AU akan memiliki kekuatan 2 skudron F-16 C/D Block 32 dengan jumlah 34 unit. Kekuatan taktis yang sangat efektif di Asia Tenggara.

Namun yang perlu diperhatikan adalah kesinambungan AS dalam mendukung perawatan pesawat tersebut, terutama resiko ancaman embargo di kemudia hari. Mengingat pada bulan November 2010, Dubes dan Konggres AS sempat ribut masalah pelanggran HAM TNI di Papua akiobat kasus video penyiksaan penduduk setempat oleh oknum TNI. Ini merupakan sinyal yang perlu dicermati oleh pihak pemegang keputusan. Kemudian program pengadaan pesawat bekas F-16 tersebut harus diikuti dengan pemenuhan arsenalnya. Jangan seperti program pembelian Su-27/30 dari Rusia yang tidak bersama paket senjatanya. Perlu waktu yang lebih lama realisasi pengadan arsenal Sukhoi sehingga sempat menjadikan pesawat tempur Sukhoi Indonesia ibarat macan ompong.

Purwarupa F-35 JSF (www.defenseindustrydaily.com)

Arsenal F-16 yang dilengkapkan pun harusnya lebih baik lagi. Saat pembelian F-16 pertama Indonesia pada 1989 dan 1990, bersama paket senjata meliputi AIM-9-P4 Sidewinder, rudal anti-pesawat jarak pendek, dan AGM-65 Maverick, rudal udara-darat untuk sasaran keras berdaya jelajah menengah. Untuk kali ini harusnya diikuti paket pembelian arsenal yang lebih baik lagi minimal dengan AIM-120 AMRAAM, rudal anti-pesawat jarak menengah (sekitar 50 km). Serta rudal anti pesawat jarak pendek AIM-9 seri terbaru yang lebih andal dari pada seri sebelumnya seperti seri P4 (daya tahan jamming/decoy, akurasi, kemudahan manuver). Perlu diketahui cuma Indonesia saja yang memiliki pesawat tempur buatan AS tanpa AIM-120 AMRAAM di Asia Tenggara. Yang lain sudah ada seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Australia. Menjadikan pesawat tempur TNI-AU sangat lemah dalam peperangan BVR (Beyond Visual Range). Dengan akuisi pesawat-pesawat F-16 tadi diperkirakan F-16 menjadi tulang punggung armada tempur TNI-AU hingga kehadiran armada pesawat yang lebih maju lagi di masa depan, KFX yang bergenerasi 4,5+. Akan tetapi diperkirakan juga negara-negara tetangga seperti Singapura dan Australia sedang menunggu kedatangan pesawat tempur generasi 5, F-35. Apakah Indonesia akan selalu terbelakang?

F-16: Pilih Kuantitas Atau Kualitas

6 Jan
Pesawat Tempur F-16 Block 52 (www.defense.pk)

Polemik antara menolak dan menerima hibah pesawat tempur bekas USAF F-16 terus menyeruak. Tentunya pasti hibah tersebut memiliki dua sisi acceptable dan unacceptable. Pesawat tempur ini memang pesawat legendaris General Diyamics (Locheed) karena sudah battle proven, baik dalam operasi khusus maupun operasi terbuka dari sejumlah campign. Dari pihak legislatif pun terbelah pendapat antara menerima dan menolak sementara Kemenhan masih menimang-nimang. Indonesia mengalami sejarah pahit operasional pesawat F-16, satu-satunya pesawat paling canggih yang dimiliki negeri ini.

Meski pesawat F-16 sebenarnya merupakan pesawat tempur ringan multi peran (berat kosong 8 ton, berat operasional 12 ton) dengan radius tempur menengah (500-an km), bandingkan dengan pesawat tempur berat Sukhoi Su27/30 mampu 2 ribuan km. Dampak krisis Timor Leste, AS embargo militer Indonesia September 1999 yang baru dicabut November 2005. Dampaknya sangat terasa bagi kemampuan terbang fleet F-16, tercermin dari Insiden Bawean Juli 2003. Ketika 5 pesawat F-18 yang berinduk USS Carl Vinson melanggar wilayah udara RI, kita cuma bisa meng-intercept dengan 2 unit F-16 B berkursi ganda yang notabene untuk latih pilot malah dipake bertempur sungguhan. Btw, cuma 2 unit itu saja yang bisa terbang!  Sementara 8 unit lainnya pasti grounded karena kurang spare part atau bahkan dikanibal kalau tak dapat akses ke pasar gelap. Sedangkan 2 unit lagi telah rontok duluan, 1 unit (1607) saat berlatih di daerah Tulungagung Jatim Juni 1992 dan 1 unit lagi (1604) crash waktu mendarat di Halim saat cuaca buruk Maret 2007.

Pesawat Tempur TNI-AU F-16 Block 15 OCU

Tidak heran F-16 B dalam insiden Bawean sampai rocking the wings (kepakkan sayap tanda tidak hendak berkelahi). Belum lagi masalah arsenal untuk F-16, Indonesia hanya bisa beli sidewinder standart dan maverick. Padahal sidewinder cuma bisa untuk dogfight karena jarak jangkaunya pendek dan model lama sudut serangnya lebih sempit. Kita tidak bisa mengakses rudal AMRAAM yang daya jangkaunya bisa 40 km! Demian juga rudal udara ke darat yang bisa menembus bunker, TNI AU tidak diberi akses, mungkin maksud AS biar Indonesia tidak bisa menjebol bunker di tengah pulau Singapura jika seandainya Indonesia konflik dengan Singapura.

Di situ lah letak pertahanan militer terakhir Singapura. Dari segi avionik, pasti sistem navigasi dan kendali senjata mudah dijamming oleh pesawat AS seperti pada insiden Bawean. Pesawat bekas pun harus diketahui dengan pasti sisa usia pakai engine turbin gas masih berapa ribu jam lagi sebelum overhaul atau bahkan replacement. Belum ada kabar TNI AU memiliki stock engine jet turbin, beda dengan pembelian F16 blok 52 Mesir tahun 2009 yang meliputi engine turbin dan kualitas turbin gas bagus dimana lifetime engine 6000 jam terbang. Dari segi pesawatnya sendiri perlu diketaui kondisi ketahanan fuselage atau airframe (kerangka), masih sisa berapa ribu jam lagi sebelum mengalami fatigue sehingga crack/retak. Dari segi konsepsi fungsi strategis pesawat tempur. Lebih condong sebagai fungsi deterrent (penggetar) ataukah fungsi taktis.

Secara historis, Indonesia tidak pernah melibatkan secara langsung pesawat tempurnya bertempur dengan pesawat negara asing/musuh. Demikian juga secara taktis, Anggaran negara Indonesia tidak mampu menyediakan jumlah pesawat yang memang bisa mengcover seluruh wilayah nasional. Itu dari segi biaya pembelian unit, belum biaya pemeliharaan pesawat bekas pasti jauh lebih besar. Demikian pula biaya penyediaan arsenal untuk opeasional pesawat. Pesawat F-16 yang pernah dibeli Indonesia pun cenderung berfungsi sebagai deterrent meski juga memiliki peran taktis. Tentuya kalau menitik beratkan pada fungsi deterrent, membeli F-16 dengan jumlah yang sedikit tapi memiliki spek dan kemampuan yang lebih tinggi adalah lebih bagus. Terlepas dari kajian teknis dan finansial, kemampuan diplomasi juga sangat mempengaruhi keputusan suatu alutsista (alat utama sistem persenjataan). Ingatlah bahwa Indonesia bisa memiliki pesawat C-130 Hercules di awal dekade 60-an. Padahal belum ada negara NATO di Eropa yang diberi akses dan kita masih konflik dengan Belanda masalah Papua Barat. Bahkan Hercules langsung terjun dalam operasi militer berhadapan dengan pesawat-pesawat tempur Belanda yang peninggalan PD II bermesin piston rotary.

Bayangkan, pesawat tempur Belanda mau menembak pesawat angkut segede Hercules aja tidak mampu! Itu belum diplomasi Bung Karno dalam mendapatkan pembom jet strategis Tu-16 yang bisa mengkaramkan kapal induk Belanda Karel Dorman, pertama di luar Soviet yang bisa mengaksesnya, setara dengan pembom jet strategis AS sendiri yang memilki B-58 Hustler. Bayangkan, pesawat pembom sebesar itu tidak bisa dikunci pesawat-pesawat jet tempur Inggris waktu konflik dengan Malaysia! Tapi Indonesia bisa! Semoga para pemimpin negara ini tidak salah ambil langkah karena obsesi sesaat. Dikaji betul antara membeli bekas 24 unit dengan beli baru 6 unit karena rakyat Indonesia sendiri yang bakal menanggung akibatnya.

Pesawat Tempur F-16 Block 60 (www.military.wikia.com)
%d blogger menyukai ini: