Tag Archives: linux

Instalasi Linux 11.04 Natty Narwhal di Laptop Acer Aspire 4810TZ

7 Agu

Setelah otak-atik laptop penulis dengan Ubuntu Lucid kini giliran mencicipi Ubuntu Natty. Tampilan desktopnya berbeda jauh dengan Lucid. Secara default sudah terintegrasi dengan Ubuntu Unity dengan tampilan mirip dengan GUI Android di PC Tablet dan ponsel. Ada kolom launcher aplikasi di sisi kiri desktop. Sisi atas dan bawah terkesan clean. Update patch baik untuk security dan recommended update lebih banyak dibanding Lucid. Perlu sehari semalam online laptopnya buat menyelesaikan semua update via Update Manager. Mengingat koneksi internetnya adalah edge Telkomsel pakai kartu simpati dengan layanan unlimited flash yang lima puluh ribu buat sebulan.

Ditancapkan ke dalam HP Android Samsung Ace. Langsung bisa diconnect-kan ke laptop via wifi, diset sebagai portable hotspot. Bahkan koneksi dengan mudah established saat booting live CD Ubuntu Natty. Sangat interoptible mengingat OS Android merupakan platform HP berbasis Linux yang disponsori Google. Jadi ada pilihan langsung menginstal semua update saat instalasi OS atau bisa juga mencicil setelah selesai instalasi OS.

Desktop Ubuntu 11.04 Natty

Fitur Natty makin kaya dengan program aplikasi default yang berbeda dengan sebelumnya. Misalnya aplikasi office berganti ke paket LibreOffice 3.3.2 yang sebenarnya identik dengan OpenOffice namun dikembangkan oleh komunitas karena ada keraguan terhadap komitmen Oracle yang telah membeli SUN terhadap masa depan open source OpenOffice. Aplikasi internet sudah meningkat ke Firefox versi 5. Tampilan fontnya lebih ciamik dan terkesan serius. Tetapi dengan spek laptop yang sama kecepatan booting OS terasa agak melambat sedikit dibanding Ubuntu 10.04 Lucid.

Iklan

Linux Ubuntu 10.04 Pada Notebook Acer Aspire 4810TZ

29 Jul

Setelah menyelesaikan konfigurasi Ubuntu Lucid selama 2 hari akhirnya laptop Acer ini sudah siap bekerja penuh seperti sediakala. Memang diakui Linux dan internet seperti ikan dengan kolam. Sulit menyelesaikan konfigurasi penuh notebook tanpa ada koneksi dengan internet. Maklum masih nubie dalam Linux. Tiga tahun yang lalu pernah juga aku mencoba instalasi Gutsy Gibbon pada komputer desktop/PC namun tak bisa mengkonfigurasi optimal. Terutama sulitnya konfigurasi VGA card ATI Radeon yang tidak mencapai depth 32 bit serta resolusi yang hanya 800×600. Selain itu iklim yang tidak kondusif berupa lingkungan kerja yang cuma memakai windows (bajakan) dan tanpa komunitas lokal serta belum adanya koneksi internet mobile seperti Indosat dan Telkomsel. Setelah mendengar kabar plan legalisasi software komputer kerja dengan platform Linux Ubuntu, membuat penulis tertarik mengotak-atik Linux lagi.

Di situs Ubuntu ketemu dengan versi 10.04 Lucid Lynx, 10.10 Maverick Meerkat, dan 11.04 Natty Narwhal. Sebenarnya tertarik dengan versi terbaru yaitu 11.04 tetapi karena susahnya mencari handbook Ubuntu terbaru maka terpilih versi 10.04. Selain handbook versi 10.04 cukup banyak juga ada embel-embelnya LTS (Long Term Support), katanya dukungan Canonical terhadap LTS dobel durasinya dibanding yang biasa. Hampir sejam mendownload file iso Lucid di warnet dari situs Ubuntu. Begitu tiba di rumah langsung cari keping DVDRW, sebab tidak ketemu keping CDRW. Dibakar dulu sebagai file iso (bukan data) di Windows dengan Nero (tentu semuanya bajakan he..he..). DVD installer Linus Ubuntu sudah kelar giliran merapikan partisi harddisk. Spek notebook Acer Aspire 4810 TZ penulis adalah processor dual core Penryn Intel Pentium SU4100 clock speed 1,3 Ghz FSB 800 Mhz, Chipset Intel GS45 dengan chip grafis terintegrasi GMA 4500MHD, chipset Southbridge ICH9-M, layar LED LCD 14 inci, Memory 1GB DDR3, Hardisk Hitachi 250 GB, Batere Lithiom Ion 5800 mAH, card reader Realtek terintegrasi, Bluetooth 2.1 EDR dengan modul Foxconn BCM 92046, chipset WLAN Intel Wifi Link 1000 BGN dengan kualifikasi 802.11 b/g/Draft-N, chipset LAN Foxconn Atheros AR8131. Harddisk 250 GB disisakan untuk ruang Ubuntu sebesar 100 GB. Selebihnya yang 250 GB sudah ditempati windows dan data, instalasi ini sementara dual boot dengan OS Windows dan OS Ubuntu Linux. OK HDD sudah lanjut masuk bios set prioritas booting ke optical drive. Konfigurasi partisi atomatis dengan pilihan dual boot di mana ruang kosong 100 GB diambil Linux Ubuntu.

Tampilan Desktop Linux Ubuntu 10.04

Proses instalasi Lucid Lynx masih mirip dengan Gutsy Gibbon dulu namun sekarang lebih mudah dan cepat. Instalasi selesai dan masuk ke desktop Ubuntu. Enaknya Lucid langsung mendeteksi hardware Bluetooth, Wifi, kartu jaringan, chip suara, mouse touchpad, USB flash disk/external HDD, optical drive, dan monitor laptop. Memang paling maknyos komputer baik notebook maupun PC yang hendak diinstal OS Linux ialah yang berbasis chipset Intel, langsung detect lagi berlimpah supportnya. Aplikasi office bawaannya adalah OpenOffice versi 3.2 (terbaru 3.3) dengan desktop Gnome.

Monitor dengan mudah disetting resolusinya 1366×768 dengan refresh rate 60 Hz. Sayangnya belum tahu cara setup depth color karena sepertinya baru 24 bit bukan 32 bit. Kelihatan dari foto di facebook, kalau di Windows tampak tajam sedangkan di Ubuntu agak blur. Jangan-jangan memang belum maksimal kinerja driver kartu grafis Ubuntu. Kartu jaringan kabel cukup mudah disetting sesuai konfigurasi jaringan kantor seperti IP addres, gateway, dan DNS servernya. Kartu jaringan wireless juga gampang settingnya dengan ponsel Android untuk koneksi internet. Koneksi ini penting untuk instal dependencies, instal plugin software program pemutar musik dan dan video supaya bisa mengenali berbagai format file multimedia.

Ditambahkan sumber-sumber software repository pada Sypnatic Package Manager dan Update Manager supaya pilihan sumber repository tambah luas. Untuk instalasi tambahan penulis lebih suka pakai Sypnatic Package Manager daripada Ubuntu Software Center. Di Sypnatic kelihatan dengan detail paket-paket yang didownload beserta indikator kecepatan download-nya. Paket program yang perlu didownlod misalnya CompizConfig Settings Manager dan pengolah grafis GIMP serta program aplikasi webcam Cheese. CompizConfig Settings Manager adalah program window manager yang bisa menampilkan special effect desktop seperti compiz fusion. Berbasis GUI, lebih mudah daripada window manager bawaan Gnome.

Kustomisasi desktop seperti theme dan background bisa diambil dari situs Gnome atau yang lainnya. Untuk software personal information manager dan email sudah cukup dengan Evolution. Sinkronisasi dengan akun Gmail lancar namun email internal yang memakai IBM Lotusnote belum bisa. Karena tidak tahu password IMAP servernya. Belum dicoba sih settingan CUPS untuk printer. Admin networking kayaknya cukup mencoba print server. Yang lainnya tidak perlu sebab sudah ada petugasnya di situ. Jadi cukup otak-atik admin desktop serta back up-restoring file, system rescue serta memahami struktur file linux beserta command line-nya. Btw, tulisan ini adalah yang pertama bagi penulis yang ditulis dan diupload dalam platform Linux, sungguh menyenangkan. Bravo Linux..

Android Vs Apple: Buruknya Nasib Open Source

26 Jul

Keputusan pengadilan AS yang kontroversial dengan memenangkan Apple tidak saja menguntungkan Apple, namun juga bisa mengancam eksistensi ponsel berbasis Android. Pasalnya dari putusan pengadilan itu, bisa saja muncul larangan semua ponsel dan tablet berbasis Android di Amerika Serikat. Sebelumnya, Apple telah memenangkan putusan awal dari sebuah panel perdagangan AS bahwa handset HTC Taiwan telah melanggar dua paten Apple. HTC menggunakan sistem operasi Google Android untuk ponsel pintarnya dan kasus itu sedang diawasi ketat pasar perangkat mobile.

Keputusan awal pengadilan itu sudah menciptakan desas desus diantara pembuat handset karena keputusan itu menyampaikan pesan kepada pembuat ponsel pintar lainnya yang berbasis Android. Kemenangan Apple itu bisa menjadi gertakan kepada pembuat handset Android lainnya atau mengajukan permintaan larangan impor HTC ke AS. Paten itu berhubungan dengan pengolahan data dan aksi cover seperti perangkat mengenali nomor telepon dan memintanya untuk menelpon. Apple kesal bahwa Android berisi ‘server analyzer’ yang ‘mendeteksi struktur data’. VentureBeat melaporkan pernyataan ahli paten Florian Mueller. Mueller mengatakan bahwa dirinya telah melihat paten itu sebelumnya dan masalah itu tampaknya sangat mendasar. Mereka sangat mungkin melanggar kode yang merupakan inti dari Android. Ini bisa menjadi skenario terburuk dalam larangan impor terhadap banyak bahkan semua handset HTC berbasis Android di pasar AS. Kasus ini akan berbuntut pada kekayaan litigasi paten antara Apple dan Samsung yang juga menggunakan Android, Apple dan Nokia, dan Microsoft dan Motorola.

HTC mengatakan akan melawan keputusan hakim Komisi Perdagangan Internasional (ITC) pekan lalu, tapi komisi belum sepenuhnya mengambil keputusan. Penjualan ponsel pintar berbasis Android telah melampaui penjualan iPhone global tetapi Apple diharapkan akan meluncurkan iPhone baru pada tahun ini dan memberikan dorongan besar sendiri. Awalnya, Apple menuduh HTC telah melanggar 10 paten tapi enam paten dikandaskan dari kasus dan hakim ITC menetapkan HTC melanggar dua dari empat paten yang tersisa. Sebuah keputusan akhir kasus itu pada 6 Desember nanti. Apple telah mengajukan gugatan terhadap HTC paralel di pengadilan di Delaware.

Menurut laporan dari Bloomberg BusinessWeek, Google sendiri kini telah mengubah proses persetujuan dan pembatasan perangkat untuk menggunakan Android. Perusahan yang menginginkan versi terbaru Android akan membutuhkan persetujuan dari apa yang akan mereka kerjakan pada platform tersebut. Google Andoid Inc. Di bawah CEO Andy Rubin berusaha memperketat dan menegakkan klausul non-fragmentation, membatasi hal-hal yang berkait kustomisasi interface dan bagaimana produsen bermitra dengan layanan dari platform lain seperti facebook atau Microsoft. Namun belum begitu jelas regulasi yang akan diterapkan ke depan. Namun OS Android yang berasal dari platform open source Linux yang sukses bersaing dengan platform propietary harusnya tidak mengikis semangat komunitas. Meski diakui Google memberi kontribusi sangat besar terhadap OS Android. Semoga Google tidak berubah menjadi seperti Apple atau Microsoft yang berusaha berebut pangsa pasar dengan rakus dan monopoli yang bersekongkol dengan kekuatan politik dunia.

Go to Linux

24 Jul

Berita mengejutkan namun menyenangkan terdengar dari kolega kerja sehabis pulang dari head office Jakarta. Dia pulang sambil membawa oleh-oleh laptop dinas yang sudah terinstal operating sistem linux Ubuntu. Teman satu ini menargetkan setelah lebaran tahun ini minimal 80% komputer kantor site di kebun sudah beroperasi dengan basis linux Ubuntu. Target ini terlalu rendah, harusnya 99 persen komputer kantor go to linux. Angka 1 persen cuma untuk komputer dengan program aplikasi jaringan di windows yang benar-benar belum bisa dimigrasikan ke Linux.

Terdengar angin surga karena siapapun yang mencoba menggunakan sendiri OS linux di dalam iklim windows adalah sama dengan bunuh diri karena kompatibilitas yang tidak 100 persen kecuali memakainya bareng sehingga tercipta iklim linux (opened source). Padahal hampir semua aplikasi yang ada di site sebenarnya sudah bisa berganti alternativenya di aplikasi linux beserta OS-nya. Di sini letak posisi strategis kebijakan migrasi system karena semua perlu untuk migrasi bersama-sama ke linux jika plan ini mau berhasil. Kalau ada segelinir kelompok yang balik kucing ke windows bajakan maka alhasil bakal menyeret lainnya ke system windows. Rayuan kemudahan interface desktop window memang telah meracuni semua user sejak pertama mengenal komputer.

Dengan migrasi ke linux, mau tidak mau user harus kembali belajar system baru yang sebenarnya lama-lama mereka akan terbiasa dan akhirnya bisa menerima linux dan aplikasinya. Sebuah pilihan halal karena pada tahun 2005 MUI sudah mengeluarkan fatwa berkenaan dengan HAKI baik dlaa bentuk software maupun karya digital lainnya seperti lagu dan film.

%d blogger menyukai ini: