Tag Archives: kultum

Harta dan Ilmu

21 Feb

Suatu hari Nabi bersabda, “Akulah kota ilmu sedang Ali gerbangnya”. Ketika kaum Khawarij mendengar hadits itu, mereka tak percaya dan dengki sekali. Maka berkumpullah sepuluh jagoan Khawarij untuk menguji Ali.
“Kita tanya satu masalah saja. Tapi kita bergilir, benarkah jawaban Ali akan berbeda-beda,” ujar salah seorang. 
“Jika berbeda, benarlah yang dikatakan Nabi,” sahut yang lain. 
Maka datanglah salah seorang kepada Ali dan bertanya, “Mana yang lebih utama, ilmu atau harta?”
“Tentu ilmu”, jawab Ali mantap.
“Mengapa?” sambung orang Khawarij.
“Ilmu itu warisan para Nabi sedang harta warisan Qorun, Syadad, Fir’aun, dan sebagainya”, jawab Ali.
Mendengar jawaban itu, orang tersebut pergi. Maka datanglah yang kedua dengan pertanyaan yang sama dan Ali menjawab bahwa ilmu lebih utama ketimbang harta.  
“Mengapa?” orang itu bertanya.
“Ilmu itu menjagamu. Tapi harta justru kau yang menjaganya.” jawab Ali.
Kemudian datanglah yang ketiga. Ali pun menjawab, “Pemilik harta punya banyak musuh sedang ilmu punya banyak teman.”
“Jika kau pergunakan uang maka uang itu akan menyusut. Tapi jika ilmu yang kau pergunakan maka ia malah bertambah,” jawab Ali kepada laki-laki keempat.
“Pemilik harta akan ada yang menyebutnya orang pelit dan rakus sedangkan pemilik ilmu selalu dianggap mulia dan dihormati” jawab Ali kepada orang kelima.
“Harta selalu dijaga dari pencuri sedangkan ilmu tidak perlu dijaga,” jawabnya kepada orang keenam.
“Pemilik harta akan dihisab di hari kiamat sedangkan pemilik ilmu akan diberi syafaat,” jawab Ali kepada orang ketujuh.
“Dalam kurun waktu yang lama, harta akan lenyap jika dibiarkan. Tapi ilmu tidak. Ia abadi,” jawabnya kepada orang kedelapan.
“Harta itu mengeraskan hati sedangkan ilmu itu menyinari hati,” jawab Ali kepada penanya kesembilan.
Untuk yang terakhir, Ali menegaskan,” Pemilik harta dipanggil besar karena harta sedangkan pemilik ilmu dianggap sang ‘alim. Seandainya kalian datangkan semua orang untuk bertanya tentang soal ini, saya akan jawab secara berbeda selagi saya masih hidup.”
Maka pulanglah mereka, menyerah, dan mengakui hadits Nabi tersebut.

Dikutip dari majalah Hidayah Edisi 162 Februari 2015, halaman 21.

Keutamaan Hari dan Sholat Jum’at

27 Nov
Masjid Astra di Sunter Jakarta (Koleksi Pribadi)

Hari Jum’at memang hari yang istimewa di sisi Allah SWT, banyak peristiwa agung terjadi pada hari Jum’at. Bukan sekedar rotasi hari biasa dari Senin hingga Ahad sebagaimana sehari-hari terjadi. Hari Jum’at merupakan raja dari hari-hari. Secara teologis ada peristiwa agung yang terjadi pada hari Jum’at. Allah SWT menciptakan langit dan bumi, menciptakan nabi Adam AS, memasukkan nabi Adam ke dalam syurga, menurunkan nabi Adam AS ke dunia, dan mewafatkan beliau juga pada hari Jum’at, niscaya Allah SWT mengabulkan doa yang dipanjatkan pada hari Jum’at, dan pada hari Jum’at juga dunia beserta isinya akan digulung kembali. Setiap malaikat, langit, bumi, angin, gunung, dan laut semuanya menyayangi hari Jum’at. Oleh karena hari Jum’at memiliki banyak keutamaan, kaum Muslim didorong menunaikan amalan lebih banyak pada hari Jum’at dibanding hari-hari lainnya sehingga lebih taqarub kepada Allah SWT dan sekaligus menambal pelbagai kekurangan di hari-hari lainnya. Allah SWT menjadikan perbuatan yang sangat mulia di hari Jum’at yang menjadi perantara diri kepada-Nya, sholat Jum’at. Sholat Jum’at adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan umat Muslim. Sebagimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Jumu’ah: 9, “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui“. Ayat tersebut bersifat umum dan tidak menyebutkan jamaah dengan jumlah tertentu. Segala sesuatu yang bersifat umum tidak boleh dikhususkan begitu saja tanpa berdasarkan Qur’an, Hadits, atau ijma’ ulama. Karena itu kontroversi di antara para ulama terjadi. Masalah-masalah yang diperdebatkan berkisar keabsahan shalat Jum’at: jumlah jamaah yang menunaikan dan prasyaratnya. Apakah dengan dua orang saja bisa menunaikan shalat Jum’at, orang yang bermukim di dusun kecil atau tinggal di kemah berpindah berkewajiban menunaikannya? Sebagian ulama seperti Umar bin Abdul Aziz, al-Auzai, dan Laits bin Sa’ad mengatakan setiap penduduk dusun yang ada pemimpinnya mereka diperintahkan untuk melakukan shalat Jum’at dan yang menjadi imam adalah pemimpin mereka. Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishak, mewajibkan ada shalat Jum’at dalam sebuah tempat yang di dalamnya terdapat 40 penduduk laki-laki yang sudah akil baligh dan berstatus merdeka. Syarat 40 orang ini ditanggapi oleh al-Auzai, tidak perlu sebanyak itu, asal ada 3 orang saja dan ada pemimpinnya, mereka wajib shalat Jum’at. Sebab pada dasarnya shalat Jum’at sama dengan shalat lainnya hanya saja di dalam shalat Jum’at ada kutbahnya.

Hampir serupa dengan shalat fardhu lainnya, shalat Jum’at diwajibkan kepada orang yang sudah akil baligh, merdeka, laki-laki, tidak sedang bepergian, dan tidak ada udzur sama sekali. Jadi shalat Jum’at wajib mutlak bagi laki-laki. Bagi perempuan yang ikut shalat Jum’at maka tidak perlu melakukan shalat Dzuhur. Anak kecil dan orang gila tidak wajib shalat Jum’at karena dianggap fisiknya lemah atau orang gila tidak memenuhi syarat akalnya. Sebagian besar ulama juga sepakat tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi kaum budak atau kaum tidak merdeka. Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab bahwa nabi Muhammad SAW bersabda “Shalat Jum’at itu wajib atas setiap Muslim dengan cara berjamaah kecuali empat golongan, yaitu budak, perempuan, anak-anak, dan orang sakit“. Untuk anak-anak perlu mengajak mereka menunaikan shalat Jum’at sebagai pembelajaran bagi mereka sehingga ketika kewajiban shalat Jum’at kelak turun baginya, anak sudah siap menunaikannya. Sedangkan bagi musafir, sebagian besar ulama sepakat tidak mewajibkannya karena nabi Muhammad SAW dalam perjalanan tidak mengerjakan shalat Jum’at. Begitu juga pada saat beliau mengerjakan haji wada’ di Arafah yang jatuh pada hari Jum’at, beliau hanya mengerjakan sholat Dzuhur dan Ashar dengan jama’ takdim. Langkah nabi ini juga diikuti para khalifah setelah beliau wafat.

Baca lebih lanjut

Teguh Memegang Buhul

29 Okt

Tali Buhul

Suatu hari, Muhammad bin Sirin membeli minyak goreng dengan maksud dijual kembali. Ia membeliminyak itu secara kredit seharga 40 ribu dinar. Tapi beberapa hari kemudian, saat membuka tutup drum minyak yang terbuat dari kulit, ia menjumpai bangkai tikus yang mengapung di genangan minyak tersebut. Padahal dari drum itu minyak disaring dan dimasukkan ke dalam wadah lain.

Sejenak dia berpikir, ”Semua minyak ini berasal dari satu penyaringan. Ini berarti najis tersebut tak hanya mengenai satu wadah ini. Aku bisa rugi besar jika tidak mengembalikannya.”

Namun dia berpikir lebih jauh lagi, “ Jika aku kembalikan kepada si penjual minyak ini karena alasan terdapat najis, bisa jadi dia akan menjual lagi minyak ini kepada orang lain.”

Setelah mempertimbangkan banyak hal, ia menumpahkan minyak makan tersebut ke selokan. Alhasil ia tidak jadi berjualan minyak itu bahkan harus menanggung hutang 40 ribu dinar.

Hari berlalu, hingga kemudian pedagang minyak itu datang mencari Muhammad bin Sirin guna menagih hutang. Namun dia tak punya uang maupun barang jaminan senilai 40 ribu dinar. Ia pun akhirnya pasrah ketika pedagang itu membawa kasus ini ke pengadilan. Akhirnya ia terpaksa harus mendekam di dalam penjara karena tak mampu membayar hutang tersebut. Selama di dalam penjara, perilakunya yang saleh sangat mengesankan siapapun yang berada di sana. Bahkan penjaga penjara menaruh sikap prihatin dengan nasibnya.

Seorang sipir penjara berniat menolongnya, “Wahai Tuan, jika malam tiba, silakan engkau keluar penjara dan tinggal bersama keluarga anda. Bila sudah pagi, Anda bisa kembali ke sini. Engkau bisa melakukan ini hingga dibebaskan. Aku dan kawan-kawanku akan menjaga rahasia ini.”

Tetapi Muhammad bin Sirin bukan senang atau gembira dengan tawaran yang sangat menarik ini melainkan menjawab dengan tenang, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan itu dan semoga Allah memberi petunjuk kepadamu.”

“Kenapa engkau menolak? Anda bukan orang jahat. Kami percaya kepadamu, apakah engkau tidak mempercayai kami?”

“Bukan begitu. Saya tidak ingin terlibat persekongkolan dan berkhianat pada penguasa negeri ini. Bagaimanapun saya harus menghormati hukum di negeri ini.”

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Sirin Al-Anshary (33H-110H, 653M-728M), seorang tabi’in ahli fiqih yang zuhud dan wara. Beliau lahir di Basrah dua tahun menjelang masa pemerintahan Utsman bin Affan, meninggal setelah 100 hari wafatnya Hasan Bashri. Ia sempat bertemu dengan 30 sahabat Rasulullah tetapi tidak pernah melihat Abu Bakar dan Abu Dzar Al-Ghifari. Beliau meriwayatkan beberapa hadits musnad dari Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Hudzaifah bin Al-Yaman, Abdullah bin Umar, dan sebagainya.  Bapaknya Muhammad bin Sirrin merupakan bekas sahaya Anas bin Malik yang dibelinya dari Khalid bin Walid yang menawannya di Ain at-Tamr di gurun pasir Irak dekat al-Anbar. Ibundanya Muhammad bin Sirrin ialah Shafifiyah, bekas sahaya Abu Bakar. Muhammad bin Sirin terkenal dengan keutamaannya dalam menafsir makna mimpi.

Referensi:

http://www.wikipedia.org

http://www.ppnuruliman.com

http://www.ahlulhadits.wordpress.com

Majalah Hidayah Edisi 105 – Mei 2010

%d blogger menyukai ini: