Tag Archives: kapal selam

Daya Saing Industri Alutsista

27 Mei

Peningkatan kapasitas teknologi pertahanan tidak sekedar cukup dengan membeli perangkat keras karena memiliki anggaran yang besar, milyaran Dollar. Negara yang memboroskan diri ke anggaran pertahanan dengan sekedar membeli perangkat keras tidak akan bisa bertahanan lama dalam mengikuti perubahan tantangan zaman. Benar dia akan dengan cepat mendapatkan perangkat keras canggih dan menggetarkan dalam jumlah banyak dan singkat. Tapi itu hanya semu, sementara saja. Justru dengan adanya anggaran yang besar harusnya bisa berinvestasi untuk sektor penunjang teknologi pertahanan. Lembaga riset baik di badan pemerintahan maupun perguruan tinggi diberi kesempatan dan anggaran yang memadai. Demikian juga sektor swasta di bidang pertahanan lebih diperdayakan lagi. Tidak boleh dimonopolikan ke perusahaan BUMN, apalagi untuk komponen pendukung dan material yang non-lethal. Boleh kebijakan penjualan dan ekspor diatur oleh suatu badan pemerintah namun tidak boleh mematikan sektor swasta. Karena di negara maju, sektor industri pertahanan swasta terbukti jauh lebih efisien dan justru meringankan beban negara serta ikut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dengan collateral effect.
Produk pertahanan lokal sebaiknya mendapat prioritas memenuhi keperluan domestik. Apabila memang ada suatu perangkat keras pertahanan yang belum bisa diproduksi sendiri di dalam negeri maka boleh dibeli ke pihak asing namun harus bisa melibatkan industri dalam negeri. Oleh karena itu produk yang akan dibeli tidak boleh didatangkan bulat-bulat. Dibuatkan regulasi sehingga pemasok asing bersedia share component dan joint production. Untuk bisa ikut share component dan joint production, industri pertahanan baik swasta maupun BUMN harus memiliki skill dan penguasaan teknologi yang
Baca lebih lanjut

Kapal Selam dan Penyelamatan Kondisi Darurat

11 Jul

Kapal selam beroperasi di bawah permukaan laut dengan berbagai resiko yang bisa menimpa wahana dan awaknya. Oleh karena itu diperlukan latihan kondisi tanggap darurat seandainya kapal selam mengalami kerusakan sehingga tidak bisa bergerak atau mengangsur naik. Kondisi darurat kapal selam telah terjadi semenjak 1915, semenjak penggunaan kapal selam pada Perang Dunia I. Ada dua metode penyelamatan awak kapal selam yakni menyelam keluar dengan pakaian khusus atau bantuan dari luar dengan wahana selam penyelamat / DSRV (Deep Submergence Rescue Vehicle).

Baju penyelamat awak kapal selam

Metode pertama memang berisiko tinggi terutama pada kondisi penyelaman yang dalam. Beberapa hari yang lalu dua perwira kapal selam termasuk komandan satuan kapal selam angkatan laut Indonesia tewas dalam kecelakaan latihan skenario tanggap darurat kapal selam. Diduga keduanya mengalami gejala gangguan dekompresi / DCI (Decompression Illness).

Metode penyelamatan diri awak dengan menyelam menuju permukaan memakai pakaian/perlengkapan khusus (suite) perorangan. Perlengkapan perorangan menggunakan model yang menutup sebagian badan (model lama) hingga yang menutup seluruh badan (model baru). Pada awalnya perlengkapan perorangan sederhana seperti Momsen Lung, Davis Aparatus, dan Steinki Hood. Sekarang pada umumnya perlengkapan yang melindungi seluruh tubuh seperti SEIE (Submarine Escape ImmersibleEquipment) buatan Inggris.

Resiko penyakit dekompresi sangat erat hubungannnya dengan penyelaman. Diakibatkan oleh perubahan paparan tekanan lingkungan dengan singkat dimana terbentuk gelembung-gelembung gas di dalam organ tubuh. Tubuh manusia tersusun atas sebagian besar air (cairan) yang bersifat tidak-mampu-tekan (noncompressible). Namun di dalam tubuh juga ada sejumlah unsur/senyawa berbentuk gas yang bersifat mampu-tekan (comppresible). Awak kapal selam yang akan menyelamatkan diri menuju permukaan dari kedalaman di bawah permukaan laut akan menerima sejumlah hukum fisika.

Hukum Boyle

Pertama, hukum Boyle yang berkenaan dengan konstanta benda gas dari faktor tekanan dikali volume yakni PxV = K dengan P adalah pressure atau tekanan, V adalah volume, dan K adalah konstan. Artinya perubahan dari tekanan suatu gas akan berpengaruh terhadap volume gas secara sebanding tersebut supaya hasilnya tetap pada temperatur konstan.Tiap turun 33 kaki tekanan bertambah 1 atm (atmosfir). Jadi volume paru-paru penyelam pada kedalam 33 kaki akan mengecil menjadi separuhnya volume paru-paru saat di permukaan laut karena tekanan pada kedalaman 33 kaki adalah 2 atm. Demikian juga pada kedalaman 66 kaki, volume paru-paru akan mengecil sepertiganya, pada kedalaman 99 kaki akan mengecil menjadi seperempat. Oleh karena itu jika penyelam dari posisi di bawah bergerak naik ke atas maka volume paru-paru akan berkembang. Pertambahan volume paru-paru paling besar akan terjadi pada saat muncul di permukaan. Sementara kemampuan berkembang (inflamasi) jaringan organ paru-paru adalah terbatas sehingga jika pertambahan volume paru-paru melebihi ambang batas makan organ tersebut akan pecah berdampak fatal bagi si penyelam. Kondisi tersebut bisa di atasi dengan memperlambat kecepatan penyelam  naik ke tas dan dengan penyesuaian perubahan tekanan melalui pelepasan nafas dari dalam paru-paru ke lingkungan luar sehingga berkembangannya paru-paru karena bertambahnya volume udara di dalam paru-paru dapat dihindari.

Simulasi Hukum Boyle

Kedua, hukum Henry yakni, pada temperatur konstan, jumlah gas yang terlarut dalam sebuah cairan yang bersinggungan adalah sebanding dengan tekanan parsial gas tersebut. Dengan formula %X = (PX/Pt) x100 dimana %X adalah jumlah gas X terlarut dalam suatu cairan, PX adalah tekanan parsial gas X, dan Pt ialah tekanan total atmosfer. Dengan bertambanhnya kedalaman, nitrogen di dalam udara bertekanan akan seimbang antara yang ada di alveoli (jaringan paru-paru) dengan di dalam darah. Sehingga menambah jumlah gas nitrogen yang terlarut dan terakumulasi dalam komponen lipida jaringan tubuh. Jika penyelam bergerak naik menuju permukaan maka tekanan di dalam paru-paru akan berkurang sehingga tekanan parsial gas nitrogen ikut berkurang dan harusnya gas nitrogen yang terlarut dalam darah berdifusi kembali ke jaringan alveoli paru-paru. Apabila penyelam bergerak terlalu cepat ke atas, artinya terjadi penurunan tekanan mendadak maka perpindahan difusi gas nitrogen yang terlarut dalam darah menuju alveoli paru-paru terjadi dengan tidak sempurna. Masih ada sisa-sia gas nitrogen yang terjebak dalam larutan darah sehingga tercipta gelembung-gelembung gas di dalam pembuluh darah. Adanya gelembung gas pada darah manusia menimbulkan gangguan faal tubuh dengan dampak beragam dari ringan hingga menimbulkan kematian. Gangguan tersebut dikenal dengan DCS (Decompression Sickness). Untuk mengurangi resiko DCS, penyelam harus bergerak naik ke atas berangsur-angsur dengan memperhatikan safety stop tiap 10 meter atau 33 kaki kenaikan yang berfungsi sebagai aklimatisasi.

DCS dibagi  3 kategori yakni DCS tipe I (ringan), DCS tipe II (sedang), dan AGE atau Articular Gas Embolism maupun Pulmonary Barotrauma (berat). DCS tipe I berkenaan dengan rasa nyeri yang akan hilang dalam 10 menit, pruritas atau rasa terbakar pada permukaan kulit, ruam kulit yang umumnya bintik-bintik atau gelembung lepuh pada kulit. DCS tipe II berhubungan dengan keluhan pada paru-paru, hypovolemik kejut (berkurangnya plasma darah mendadak), dan keluhan-keluhan pada jaringan saraf. Dampak berat DCS berupa AGE (Arterial Gas Embolism) dan Pulmonary Barotrauma. Pulmonary Barotrauma berupa pendarahan paru-paru akibat pecahnya jaringan disebabkan pertambahan volume paru-paru di luar ambang batas. AGE disebabkan sumbatnya pembuluh darah oleh gelembung gas dengan dampak klinis tergantung posisi organ yang disumbat. Emboli arteri koroner dapat menyebabkan serangan jantung (myocardial infarction)  dan ganguan denyut jantung (dysrhymea). Sedangkan emboli pada otak bisa menimbulkan stroke.

Penanggulangan gejala DCS secara terapi fisik berupa perlakuan awak di dalam ruang rekompresi. Awak akan diberi paparan kompresi hingga batas tekanan tertentu di dalam bejana tekanan dengan kadar oksigen yang tinggi kemudian didekompresi secara perlahan-dalan dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan menghilangkan sisa-sisa gas yang masih terperangkap di dalam jaringan organ badan. Pada batasan paling rendah, jika awak kapal selam mengalami kompresi 1,7 bar selama 24 jam maka yang bersangkutan harus mendapat dekompresi terkendali untuk mencegah DCS.

Submarine Escape Training Tower

Submarine Escape Training Tower

Resiko-resiko di atas harusnya tidak mengendurkan awak kapal selam untuk berlatih terus dalam latihan tanggap darurat kapal selam. Karena faktor keberhasilan penyelamatan diri tidak semata bergantung pada alat yang dipakai meliputi kepercayaan diri, keterampilan (skill), ketaatan terhadap prosedur), kebugaran fisik, kepemimpinan (leadership), dan terakhir nasib mujur. Sebelum berlatih emergency escape secara live di laut, awak diberi latihan simulasi di media yang moderat misalnya kolom menara air yang dilengkapi kompartemen escape trunk. Kolom air setinggi 10 hingga 11 meter (33 kaki) sudah cukup memberi perbedaan tekanan sebesar 1 atmosfir. Seyogyanya disamping perlengkapan perorangan disediakan juga metode memakai DSRV (Deep Submergence Rescue Vehicle) yang tentunya akan lebih rumit dan memakan biaya (anggaran) lebih lanjut. Dibutuhkan perencanaan ke depan, termasuk sistem penggelaran DSRV, kapal pendukung (penyelamat), sistem doking pada kapal selam dan kapal permukaan.

Wahana Selam Penyelamat

Wahana Selam Penyelamat

Referensi:

  1. Submarine Casualties Booklet, US Naval Submarine School, 1966
  2. Severe Decompression Illness Following Simulated Rescue from a Pressurized Distressed Submarine, MG White, RTO MP-062 NATO, 2000
  3. Decompression Sickness, Stephen A Pulley, update 14 Juni 2012 pada situs http://www.reference.medscape.com
  4. http://www.subescapetraining.org, diakses pada tanggal 5 Juli 2012
  5. http://www.scubaboard.com/forums/ask-dr-decompression/423518-article-about-decompression-sickness.html, diakses pada 5 Juli 2012
  6. Describing Decompression Illness, TJR Francis, UHMS Publication, 1991

Kekuatan Defensif dan Ofensif Anti-Kapal Selam Asia

16 Jun

Perkembangan negara Asia dalam pengadaan kapal perang jenis frigat ataupun korvet dan kapal serbu amfibi jenis LPD (Landing Platform Dock) ataupun LHD (Landing Helicopter Dock) menciptakan permintaan heli angkatan laut/marinir. Pesawat bersayap putar dan tetap patroli maritim mampu membesut kekuatan defensif dan ofensif kapal perang. Tipe heli yang dipelukan berupa heli serbaguna untuk transpor, utilitas, SAR, dan medis. Tipe lebih spesifik berupa misi anti-selam (ASW/Anti-submarine Warfare, anti-permukaan (AsuW/Anti-Surface Warfare), anti-ranjau (counter-mining), dan peringatan dini (EW/Early Warning). Pengadaan heli dengan kemampuan AKS (Anti-Kapal Selam) makin mendesak seiring meningkatnya populasi dan teknologi kapal selam negara-negara Asia terutama India dan China RRC yang memicu kehangatan regional. Di samping alasan-alasan taktis untuk mengamankan jalur suplai perniagaan lewat laut.

Singapura sebagai negara kecil tapi berteknologi maju membangun sendiri kapal LPD kelas Endurance sebanyak 4 unit. Bahkan saat ini tengah menyelesaikan 1 unit HTMS Angthong untuk AL Thailand. AL Singapura mengoperasikan 6 unit heli maritim Sikorsky S-70B Seahawk mulai 2005. Heli tersebut menggantikan peran heli ringan Fennec berpangkalan di Sembawang. Kehadiran Seahawk meningkatkan jarak indera 6 kapal frigat kelas Formidable dalam misi anti-kapal permukaan dan kapal selam. Integrasi heli Seahawk memperkuat jaringan pertahanan AB Singapura yang semakin menekankan keterpaduan dalam sistem manajemen pertempuran. Armada kapal selam Singapura terdiri dari kapal selam eks-Swedia, 4 unit kelas Chalenger dan 2 unit kelas Vastergotland.

Thailand juga memperkuat kedigdayaan kapal perang dengan pengadaan 6 unit heli Sikorsky S-70B-7 dan 6 unit S-76 di akhir tahun 90-an. Namun pada mulanya heli S-70B Thailand tidak dilengkapi piranti penginderaan kapal selam seperti dipping sonar untuk menghemat biaya pembelian. AL Thailand memodernisasi armada heli AL dengan memesan 6 unit versi baru MH-60S senila 246 juta US Dollar dalam skema FMS (Foreign Military Sales). Sebanyak 2 unit telah tiba pada Agustus 2011. Heli MH-60S lebih canggih dari S-76B dengan peran sama sebagai heli utilitas dan surveilens AL tapi memiliki kemampuan operasional siang dan malam. Di samping itu AL Thailand memiliki 3 unit heli AKS  AgustaWestland Super Lynx 300. Thailand belum memiliki armada kapal selam meski telah memiliki rencana pengadaan kapal selam ringan yang sesuai dengan kondisi perairan teluk Siam dan laut Andaman yang dangkal. Namun Thailand mempunyai kapal induk ringan HTMS Chakri Naruebet (11.500 ton), 10 kapal frigat dan 7 korvet.

Australia memodernisasi armada heli organik AL fungsi anti-kapal selam dan kapal permukaan dengan pengadaan 24 unit MH-60R pada tahun 2014. Rencananya heli tersebut menggantikan armada 16 heli S-70B-2 yang sudah aktif sejak dekade 1980-an. Heli Seahawk Romeo itu akan memperkuat armada kapal frigat kelas ANZAC dan tentunya kapal LHD mendatang kelas Canberra. Sementara heli medium fungsi utilitas Sea King Mk.50 akan digantikan oleh MRH-90. Pesawat sayap tetap anti-kapal selam terdiri dari 18 unit AP-3C Orion. AL Australia memiliki 6 unit kapal selam konvensionall berbobot 3000 ton kelas Collins namun menghadapi masalah kesiapan unit yang merosot. Ada dua pilihan antara mendesain kapal selam baru atau merakit dari galangan luar negeri.

India yang tengah meretrofit kapal induk eks-Soviet Admiral Gorshkov dan merancang bangun sendiri satu kapal induk nuklir INS Vikrant menawarkan tender internasional untuk 22 unit helikopter serang dan 20 heli angkatan laut multi-misi. Tender heli serang telah dimenangkan kontestan Boeing AH-64D Apache, menyingkirkan Mi-28 Havoc. Sedangkan peserta tender heli maritim multi-misi yang diharapkan adalah Sikorsky S-70B atau MH-60R Seahawk dan NHIndustries NH-90 NFH serta Eurocopter  EC-725 Super Cougar. Tulang punggung helikopter multi-misi untuk peran anti-kapal selam dan kapal permukaan sekarang ini adalah sejumlah Ka-28 Kamov dan Westland Sea King Mk.42 serta tambahan 6 unit bekas surplus AL AS berupa heli UH-3H Sea King pada tahun 2007. Sedangkan hekopter AL fungsi utilitas ringan diperankan  oleh HAL 316 Chetak yang akan diremajakan dengan 56 unit armada baru. Termasuk heli Dhruv yang dibuat industri lokal. Namun unjuk kerja Dhruv tidak memuaskan menurut spesifikasi teknis AL India. Kapal serbu amfibi modern menjadi salah satu rencana akuisi AL meskipun saat ini AL India mengoperasikan 1 unit kapal induk konvensional INS Viraat. Kemungkinan mengikuti jejak Rusia membeli LHD Perancis kelas Mistral atau LHD Australia desain Navantia kelas Canberra. Armada pesawat patroli maritim cukup berumur yang tersusun atas 8 unit Tupolev Tu-142 MPA dan 5 unit Ilyushin Il-38 MPA. Untuk menggantikannya, AL India telah memesan 12 unit pesawat sayap tetap patroli maririm P-8I Poseidon yang memiliki kemampuan anti-kapal selam dan surveillance. Armada kapal selam India salah satu terbesar di Asia terdiri atas 10 unit kelas Kilo dan 4 unit kelas U-209. Pada tahun 2010 India menyewa 2 unit kapal selam nuklir Rusia kelas Akula-II selama 10 tahun. Saat ini tengah didesain sendiri kapal selam nuklir kelas Arihant, direncankan akan dibangun 3 unit. Pada tahun 2011 ditenderkan 6 unit kapal selam konvensional yang dimenangkan oleh kelas Scorpene. Kapal perang India dengan kemampuan AKS tersusun atas 14 frigat, 8 destroyer, dan 24 korvet serta 8 penyapu ranjau peran ganda.

Pakistan mempunyai 3 unit kapal selam Perancis kelas Agosta 90B dan 2 unit kelas Agosta 70. Armada frigat ada 11 kapal dengan 6 kapal kelas Tariq (Type 21 eks-Inggris), 4 kapal kelas Zulfiquar (Type-054 RRC), dan 1 kapal kelas Alamgir (Oliver Hazard Perry eks-AS). Kapal frigat diperkuat helikopter peran AKS dengan 3 Westland Lynx, 6 Westland Sea King Mk.45, dan paling gres 4 unit Harbin Z-9EC. Pesawat sayap tetap patroli maritim AKS terdiri dari 1 unit Breguet Atlantique I, 8 unit P-3C Orion, dan 7 unit Fokker F-27-200 MPA . Sementara 3 kapal penyapu ranjau peran tunggal tanpa kemampuan AKS.

RRC tengah menyelesaikan proyek kapal induk Varyag yang telah beberapa kali uji layar. Varyag merupakan kapal induk eks-Soviet dibeli dari Ukraina. Kapal induk juga memerlukan heli peran  anti-kapal selam dan ranjau untuk melindungi diri dari ancaman bawah laut secara mandiri di samping kawalan aktif dari frigat atau destroyer. Armada heli AKS China terdiri dari 6 unit Ka-28 Kamov buatan Rusia. Sudah ada rakitan dalam negeri Harbin Z-9 yang memiliki peran SAR dan AKS, aktif di figat AL RRC dan Pakistan. Armada pesawat sayap tetap patroli maritim terdiri atas 6 unit Shaanxi Y-8 MPA produk lokal kopian An-12, 3 unit pesawat amfibi Harbin SH-5. AL RRC memiliki armada kapal selam terbesar di Asia terdiri dari 10 unit kapal selam nuklir dan 53 unit kapal selam konvensional/diesel-elektrik. Armada kapal perang dengan kemampuan AKS mencakup 25 destroyer, 50 frigat, 131 kapal patroli AKS, dan lebih dari 40 kapal penyapu ranjau peran ganda.

Dua Korea yang saling berseteru memiliki kekuatan kapal selam yang kuat meskipun Utara armadanya sudah berumur. Korea Utara memiliki 20 kapal selam tua kelas Romeo 1800 ton, kapal selam midget buatan lokal 40 unit kelas Sang-O (300 ton) dan 10 unit kelas Yono (130 ton). Frigat dengan kemampuan AKS dan AKAP tinggal 2 kapal tua kelas Najin. AL Korea Utara diduga tidak memiliki armada pesawat udara AKS baik sayap tetap maupun putar. Bertolak belakang dengan Korea Selatan yang semakin maju dengan kemampuan memproduksi kapal perang dan kapal selam modern. AL Korsel mengoperasikan 1 kapal induk serbu amfibi, 11 kapal destroyer, 9 Frigat, 21 korvet,  3 kapal selam tipe U-214 (kelas Son Won-il), dan 9 kapal selam tipe U-209 (kelas Changbogo) serta dua kapal selam midget. Armada pesawat terbang peran AKS dan AKP terdiri atas 16 unit Lockheed Martin P-3 Orion, 12 heli Westland Super Lynx Mk.99 dan 13 unit Super Lynx Mk.99A.

Pasukan Beladiri Maritim Jepang merupakan angkatan laut terkuat kedua di Asia. AL Jepang memiliki 2 kapal induk helikopter kelas Hyuga, 10 kapal destroyer, 21 kapal frigat, 11 kapal selam kelas Oyashio (2.750 ton), 4 kapal selam kelas Soryu (2.900 ton), dan  1 kapal selam kelas Harushio (2.450 ton). Armada pesawat terbang peran AKS/AKAP adalah 80 unit Lockheed Martin P-3C dan 52 unit heli SH-60K. Semuanya merupakan lisensi AS yang diproduksi di dalam negeri dengan konten lokal yang semakin tinggi. Mencerminkan kemampuan pabrikan alutsista Jepang yang setara dengan negara maju lainnya. Saat ini Jepang sedangkan mengembangkan pesawat terbang P-1 Kawasaki untuk meremajakan pesawat Orion.

Vietnam memiliki 7 unit kapal frigat kelas Petya (5) dan Gepard 3.9 (2) yang memiliki kemampuan peperangan bawah permukaan. Armada heli AKS terdiri atas 7 unit Kamov Ka-28 tanpa pesawat terbang patroli maritim AKS. Namun AL Vietnam pada tahun 2009 telah menandatangani pengadaan 6 unit kapal selam kelas Improved Kilo dari Rusia.

Malaysia telah mengoperasikan 2 unit kapal selam kelas Scorpene buatan Perancis. Amada Frigat berkemampuan AKS dengan fasilitas helipad terdiri atas 2 unit kelas Lekiu dan 2 unit kelas Kasturi. Diperkuat 6 unit helikopter Super Lynx Mk.100 peran AKS dan AKAP. Selain itu armada kapal perang Malaysia yang mempunyai kemampuan AKS terdapat 4 kapal korvet kelas Laksamana dan 6 kapal korvet kelas Kedah. Sedangkan 4 kapal penyapu ranjau kelas Lerici berperan tunggal semata. Ada rencana Malaysia akan 6 unit heli AKS baru dan 6 unit kapal LCS (Littoral Combat Ship).

Indonesia sudah lama dikenal memiliki armada kapal selam pertama di Asia Tenggara. Kini AL Indonesia mengoperasikan 2 kapal selam kelas U-209 Jerman dan akan menambah 3 unit lagi tipe serupa kelas Changbogo dari Korea Selatan. Selain itu mempunyai juga kapal frigat multi-peran yang memiliki kemampuan AKS berfasilitas dek helikopter maritim.Namun hingga kini tidak memiliki satu pun helikopter maritim peran AKS. Pada masa Orde Baru pernah memiliki heli Westand Wasp bekas AL Belanda, dioperasikan di kapal frigat kelas Tribal dan Van Speijk. Kapal frigat dan LPD (Landing Platform Dock) hanya dilengkapi heli NBO-105 dan Bell N-412 peran intai, utilitas dan transport. Armada kapal perang dengan kekuatan AKS meliputi 17 frigat dan 22 korvet. Sedangkan 2 kapal penyapu ranjau kelas Tripartite dan 9 kapal penyapu ranjau kelas Kondor II berperan tunggal sebagai penyapu ranjau.  Pesawat terbang sayap tetap kemampuan AKS berupa 1 unit CN-235 MPA yang akan ditambah 3 unit. CN-235 MPA bisa dipersenjatai torpedo dan misil udara ke permukaan dan dipasang detektor kapal selam MAD AN/ASQ-508. Angkatan bersenjata Indonesia berencana membeli 11 unit helikopter AKS dan telah ada penawaran dari perusahaan AS. Kemungkinan adalah 11 heli retofit Kaman SG-2H Sea Sprite yang pernah ditolak Australia. Pengadaan pesawat terbang sayap tetap dan sayap putar sangat penting mengingat perkembangan armada kapal selam Asia yang cepat dan posisi perairan dalam Indonesia yang strategis sebagai persimpangan jalur bagi kapal selam dan kapal perang internasional serta pengamanan jalur perniagaan maritim.

Kapal Selam Baru Indonesia Dan Prospeknya Di Asia Tenggara

2 Jun

Kapal selam kelas Changbogo Korsel

Pemerintah memastikan rencana pembelian kapal selam tahun ini. Sebagaimana Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Madya Susilo, mengatakan secara implisit di media masa akhir pekan kemarin bahwa setidaknya ada dua unit kapal selam yang akan dibeli. Diberrtahukan pula kementerian sedang memproses tawaran pembelian kapal selam dari beberapa negara. Meski demikian, ia tidak menyebutkan kapal selam buatan negara mana yang akan dipilih. Meski kesepakatan pembelian dilakukan tahun ini, dua kapal selam itu baru selesai dibangun lima tahun mendatang. Akan tetapi ditandaskan pembeliannya menyesuaikan ketersediaan anggaran karena harga kapal selam yang sangat mahal. Ia mencontohkan kapal selam jenis Scorpene yang dibeli Malaysia dari Prancis harganya mencapai €550 juta atau lebih dari US$700 juta. Beberapa hari kemudian Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno mengambangkan lagi dengan menyampaikan masih dalam proses dengan Kementerian Pertahanan.

Merunut informasi sebelumnya selama beberapa tahun ini terakhir, tender yang sempat diulang kembali mengerucut pada 2 kontestan yaitu galangan Rusia dan Korsel. Mengacu pada hasrat pemerintah tentang prasyarat adanya unsur ToT (Transfer of Technology) di mana kapal selam dirakit di Indonesia maka bisa dipastikan galangan Korsel sebagai pemenang tender dengan produk Changbogo class. Secara historis hingga kini Rusia sangat pelit dalam hal ToT kecuali dalam proyek besar yang dia tidak mampu mendanai sendiri. RRC pun mau tidak mau melakukan reverse engineering guna melakukan ToT secara sembunyi-sembunyi terhadap produk Rusia. Contohnya kasus copy desain Su-27 tanpa izin yang berakhir perselisihan dengan Rusia.

Fase reverse engineering (rekayasa balik) bukanlah sesuatu yang asing bagi Indonesia karena langkah-langkah alih teknologi sudah dibuat master plannya oleh mantan Menristek BJ Habibie dalam konsep alih teknologi dirgantara dengan fiosofi “berawal dari akhir dan berakhir di awal” disebut dengan empat tahapan alih teknologi. Empat tahapan alih teknologi itu, pertama, memproduksi pesawat terbang berdasarkan lisensi utuh dari industri pesawat terbang lain, hasilnya adalah NC 212 lisensi dari Casa Spanyol. Kedua, memproduksi pesawat terbang secara bersama-sama, hasilnya adalah “Tetuko” CN-235 berkapasitas 30-35 penumpang yang merupakan produksi kerjasama secara equal antara IPTN dengan Casa Spanyol. Ketiga, mengintegrasikan seluruh teknologi dan sistem konstruksi pesawat terbang yang paling mutakhir yang ada di dunia menjadi sesuatu yang sama sekali didesain baru, di sinilahproses reverse engineeering berrmain, hasilnya adalah “Gatotkoco” N-250 berkapasitas 50-60 penumpang yang dikembangkan dengan teknologi fly-by-wire dari Airbus. Keempat, memproduksi pesawat terbang berdasarkan hasil riset kembali dari awal, yang diproyeksikan berupa pesawat turbojet bernama N-2130 berkapasitas 130 penumpang. Namun akhirnya Indonesia gagal pada fase keempat reverse engineering karena masalah pembiayaan sedangkan RRC melaju terus tanpa henti.

Dalam proses pengadaan kapal selam harusnya pemerintah lebih tegas dalam item ToT supaya nilai tambahnya pembelian kapal selam meski pada awalnya biaya dan resiko lebih tinggi dibanding beli jadi. Jangan sampai kalah langkah dengan Singapura. Dulu mereka melakukan tender pembuatan 6 frigat kelas formidable yang bekerja sama dengan galangan DCNS. Satu unit frigat dibuat di Lorient Perancis sedangkan sisanya dibuat oleh ST Enginnering di Singapura. Pada proyek korvet Sigma Indonesia, 4 unit semuanya dibuat di galangan Schelde tanpa satu pun yang dibangun di galangan lokal.

Kapal Selam dengan VLS

Memang diakui jika Indonesia memilih kelas Kilo tentu kapal selam yang didapat nanti akan memiliki daya deterrent besar namun Indonesia tidak mendapat nilai tambah selain produk kapal selam itu aja, tidak lebih, tetap akan bergantung pada Rusia selamanya. Meski tidak sehebat kelas Kilo, Changbogo sendiri masih mirip dengan sepasang kapal selam AL Indonesia yang sudah dioperasikan mulai dekade 80-an. Karena memang Changbogo produk Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering melisensi dari U-209/1200 Thyssen/Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW) Jerman yang mulai meluncur ke laut tahun 1991. Meski bukan produk baru dan lebih kecil dari Cakra class namun masih andal dalam operasi, pada spec tertentu Changbogo class bisa pula dibuat hingga 1400 ton. Yang lebih kecil punya AL Argentina U-209/1100, ARA San Luis, sangat mengesankan dalam perang Falkland 1982 melawan AL Inggris. Sejak karamnya destroyer Argentina ARA General Belgrano oleh kapal selam nuklir Inggris HMS Conqueror dan rusaknya kapal selam tua Argentina ARA Santa Fe akibat bom laut, armada kapal perang Argentina ditarik mundur semua ke pangkalan kecuali kapal selam U-209/1100 ARA San Luis. Armada AL Inggris menilainya sebagai ancaman serius dan mengejarnya selama 60 hari tanpa hasil hingga perang Malvinas berakhir. Pengejaran armada Inggris terhadap ARA San Luis melibatkan 1 kapal induk, 11 destroyer, 5 kapal selam nuklir, satu kapal selam diesel, dan lebih dari 25 helikopter ASW. Satu-satunya kesalahan ARA San Luis adalah kurangnya pelatihan awak dalam melayani torpedo kapal selam sehingga gagal meledakkan sasaran.

Kapal selam  modern multi-peran

Tidak ketinggalan Korsel juga sedang mengembangkan teknologi VLS (Vertical Launching System) pada platform U-214/1800. Sistem tersebut memungkinkan pemasangan rudal penjelajah Cheoryong, sebuah rudal jarak jauh Korsel yang mampu menjangkau sasaran sejauh 500 km, versi upgradenya bisa 1000 km. Namun apabila Jerman membatasi transfer teknologi kunci seperti tabung peluncurnya, Korsel meghadapi kesulitan untuk mengekspor kapal selam tersebut, juga regime kontrol rudal melarang ekspor rudal berdaya jelajah lebih dari 300 km. Di samping itu Thyssen-Krupp Marine System Jerman tengah mengembangkan IDAS (Interactive Defense and Attack System), suatu rudal antipesawat jarak pendek untuk kapal selam. Teknologi ini memberikan kemampuan kapal selam yang sedang menyelam untuk menyerang pesawat terbang atau heli ASW yang mengancamnya. Jarak jangkau hingga 20 km, tengah dikembangkan pada platform U-212. Menjadikan U-boat satu-satunya kapal selam yang memiliki kemampuan pertahanan udara. Kilasan teknologi kapal selam di atas membuka peluang dan cakrawala pandang Indonesia terhadap potensi pengembangan kemampuan kapal selam berbasis U-boat ke depan. Bila suatu saat bisa diakses oleh kapal selam Indonesi tidak menutup AL Indonesia akan memiliki armada kapal selam tercanggih di kawasan Asia Tenggara, melebihi Scorpene Malaysia dan Improved Kilo Vietnam. Karena indikator kapal selam serang tercanggih kini indikatornya adalah kemampuan multi-peran multi-matra mecakup peran anti-kapal permukaan dan anti-kapal selam dengan torpedo dan rudal maupun ranjau laut, serangan sasaran daratan, peran pertahanan udara, infiltrasi, dan IRS (Inteligence, Recon, and Surveillance).

Konstelasi Kapal Selam Asia Tenggara dan Ancaman Laten Korupsi

12 Mei

Sudah bertahun-tahun Kemenhan menimbang-nimbang penambahan kapal selam sampai ditender ulang segala dan hingga kini pun belum ada keputusan. Pemain tender pun telah tersisa dua galangan Rusia dan Korea Selatan. Sementara Kemenhan Thailand telah bergerak lebih cepat dengan memilih membeli kapal 6 unit kapal selam bekas Jerman tipe U-206A dan berharap segera disetujui kabinet.  Meski bekas dengan umur lebih dari 30 tahun tapi masih andal dalam sepuluh tahun ke depan dengan biaya pembelian yang jauh lebih murah, 7,7 milyar Baht. Kapal selam tersebut masuk kategori ringan dengan bobot 450 ton,  diawaki 20 pelaut, bersenjata 8 peluncur torpedo 21 inci. Pilihan tersebut disesuaikan dengan kondisi geografis Thailand yang merupakan laut perairan dangkal. Singapura merupakan negara kedua di Asia Tenggara yang mengoperasikan kapal selam pada tahun 1997 setelah membeli kapal selam Challenger class bekas AL Swedia. Kontrak penbelian pada tahun 1995 dengan meretrofit kapal selam Swedia buatan tahun 1968. Kapal selam kelas Challenger berbobot 1.130 ton, diawaki 28 pelaut, bersenjata torpedo 4 peluncur 21 inci dan 2 peluncur  16 inci, serta ranjau laut. Pada tahun 2005 AL Singapura menambah 2 unit kapal selam kelas Archer, satu unit telah diluncurkan tahun 2009.  Kapal selam tersebut merupakan kapal selam bekas Swedia kelas Vastergotland produksi tahun 1987 dan 1988. Berbobot 1400 ton, kapal selam kelas Vastergotland berawak 28 personel, bersenjata 6 peluncur torpedo 21 inci dan 3 peluncur 16 inci. Pada tahun 2009 Vietnam telah menandatangani kontrak pembelian 6 unit kapal selam kelas Project 636 Kilo (improved) dari Rusia. Rencananya batch pertama dikirim 2012, kapal selam kelas improved Kilo Vietnam berbobot 2300 ton berawak 52 personel disamping bersenjata torpedo juga dilengkapi peluncur rudal S-Club berdaya jelajah 275 km yang mampu menghancurkan target permukaan maupun pantai. Malaysia pada tahun 2009 telah lengkap 2 unit kapal selam kelas Scorpene yang dipesan pada tahun 2002 dari galangan DCNS Perancis. Kapal selam Scorpene berawak 31 personel disamping membawa 18  torpedo atau ranjau dengan 6 peluncur kaliber 21 inci juga telah dilengkapi dengan rudal anti kapal SM-39 berdaya jelajah 50 km. Menjadikan Malaysia menjadi negara Asia Tenggara yang memiliki armada kapal selam tercanggih sebelum Vietnam menerima batch kapal selam kelas improved Kilo. Konstelasi di atas masih belum dikorelasikan dengan armada kapal selam Australia, RRC, India, Korea, dan Jepang yang lebih powerfull dari kekuatan armada kapal selam regional Asia Tenggara. Untuk Indonesia memang berpulang pada kondisi keuangan negara. Dengan mengetahui kondisi keseimbangan pertahanan regional seperti di atas, semoga para koruptor bisa berpikir ulang jika hendak mengkorup uang negara. Supaya uang negara bisa terkumpul cukup untuk pengadaan unit kapal selam.

%d blogger menyukai ini: