Tag Archives: rudal panggul

Rudal Anti-tank Baru Bagi Infanteri

8 Apr

image

Sejumlah berita hangat sempat muncul pada rencana penambahan arsenal baru senjata anti-tank. Tahun kemarin sempat tersiar khabar jika AS bersedia menjual 180 unit rudal Javelin ke Indonesia senilai 60 juta Dollar . Namun rudal produksi  Raytheon dan Lockheed Martin tersebut tidak juga nongol. Sebagai penggantinya mencuat setelah Menhan Inggris Phillip Hammond berkunjung ke Jakarta di pertengahan Januari tahun ini turut menawarkan rudal anti-tank terbaru mereka yakni NLAW, Next Generation Light Anti-Tank Weapon. Kini rudal tersebut sudah pada tahap uji terima di Pusdikpassus Batujajar, Bandung. Rudal NLAW sebenarnya berdasarkan teknologi misil anti-tank Saab Bofors Dinamics asal Swedia. Inggris bekerjasama dengan Swedia mengembangkan proyek MBT LAW (Main Battle Tank and Light Armour Weapon) pada tahun 2002. Mengingat senjata anti-tank AD Inggris, Insys LAW-80 akan berakhir usia pakainya.  Swedia sendiri pada tahun 2005 juga memesan sistem rudal NLAW dari Saab Bofors Dynamics dengan nama RB-57. Perusahaan pertahanan Inggris yang terlibat dalam pengembangan NLAW adalah Thales Air Defense dan BAE Systems. Pangsa pasar pihak ketiga terbuka kepada Finlandia di tahun 2007 dan menyusul Luxembourg. Pengiriman sistem rudal NLAW ke pihak pengguna dimulai sejak 2009.
Rudal NLAW merupakan rudal panggul anti-tank canggih dan terbaru pada saat ini. Prajurit penembak bisa dengan cepat membidikkan senjata dalam waktu kurang dari 5 detik. Ukuran diameter misil adalah 115 mm, bagian hululedak berukuran 150 mm. Berat sistem rudal, misil beserta peluncurnya, sekitar 11,6 kg.Tabung peluncur terbuat dari bahan komposit dilengkap piranti lipat, alat bidik optis, pegangan dan picu, paket batere, tali selempang, serta tambahan pemandu malam jika diperlukan. Misil memiliki daya jangkau efektif 20 m hingga 600 m. Dalam kondisi mendesak, rudal bisa ditembakkan ke sasaran tanpa penjejakan (tracking). Bisa juga diluncurkan dari celah sempit seperti rongga bangunan dan palka kendaraan. Sudut tembak maksimal hingga +45 derajat. Waktu tempuh pada jarak 400 m adalah kurang dari 2 detik. Kecepatan awal luncur sebesar 40 m/detik dan kecepatan maksimum masih dibawah kecepatan suara atau kurang dari 1 Mach. Pada moda tembak PLOS (Predicted Line of Sight), juru tembak menjejak sasaran selama 3 detik memakak alat bidik. Mikro-komputer peluncur menghitung data yang terekam  dan memperkirakan jalur terbang ke arah target secara otomatis. Begitu misil melesat keluar dari peluncur, dia akan terbang secara mandiri. Pada moda OTA (Overfly Top Attack), misil akan terbang 1 meter di atas garis lurus penjejakan terhadap target. Sensor misil akan memicu hulu ledak ketika tepat di atas atap atau kubah kendaraan lapis baja. Moda tembak ini dipakai terhadap sasaran lapis baja yang memiliki zirah lemah di posisi atas seperti tank guna memperbesar kill probability. Juru tembak bisa juga memakai moda DA (Direct Attack) seperti kendaraan lapis baja ringan, bangunan atau bungker. Misil akan melucur lurus menuju sasaran sesuai garis bidik dimana sistem sekering dinonaktifkan diganti dengan mekanisme sensor tumbukan untuk memicu hulu ledak sesaat setelah terjadi benturan antara kepala misil dengan sasaran. Misil memiliki sensor optis dan sensor magnetis yang diaktifkan oleh sekering kedekatan (proximity fuse). Paket pembelian rudal NLAW disamping meliputi peluncur dan misilnya juga mencakup sarana pelatihan. Perlengkapannya antara lain simulator efek tembakan beserta peluncur rudal latih, dan misil hampa.
Kehadiran rudal NLAW dari Inggris sudah pasti menambah daya pukul taktis bagi satuan infanteri Indonesia. Mengingat arsenal sebelumnya banyak yang masih berupa roket anti-tank tanpa kendali atau recoilless weapon seperti C90-CR Spanyol dan M80 Zolja buatan eks-Yugoslavia. Di samping itu, kehadiran tank berat kelas MBT yang dimiliki oleh negara kawasan merupakan tantangan sendiri bagi prajurit infanteri TNI dari sisi profesionalisme tugas pokoknya. Menunjukkan kekuatan dan keandalan personel berimbang dengan rekan seprofresi di negara sekitar misalnya rudal Javelin Selandia Baru dan Australia, rudal Spike Singapura, rudal Konkurs atau Mentis Malaysia. Namun ada pepatah lawas, the man behind the gun.

Iklan

PM Inggris Tawarkan Starstreak Rudal Anti-pesawat, Indonesia Berminat

16 Apr

Dalam kunjungan kerja PM David Cameron ke Indonesia, Kerajaan Inggris menawarkan persenjataan anti-pesawat Starstreak. PM Inggris berkunjung ke Indonesia selama dua hari pada pekan kemarin. Menhan Indonesia mengungkapkan ke media bahwa Indonesia berminat membeli meski dalam jumlah sedikit. Mungkin penawaran PM Inggris tersebut sebuah jawaban atas permintaan militer Indonesia. Soalnya isu rudal Starstreak pernah dilontarkan panglima Kodam Bukit Barisan pada Agustus 2010. Jika rencana Kemenhan terealisasi, tentu akan menambah perbendaharaan rudal anti-pesawat jarak pendek yang dimiliki militer Indonesia.

Secara pasti rudal panggul anti-pesawat jarak pendek yang telah menjadi inventaris adalah RBS-70, Grom, dan QW 2/3. Grom buatan Polandia dioperasikan Kostrad dan Qian Wei seri 2 dan 3 buatan RRC dioperasikan Paskhas AU, keduanya bersistem fire and forget. RBS-70 buatan Swedia bersistem pemandu laser dengan kombinasi proximity fuse. Sistem pemandu rudal Starstreak buatan Inggris (Thales) juga menggunakan laser bernergi rendah. Sistem pemandu inframerah maupun radar lebih mudah diacak dengan flare dan chaff. Sistem pemandu laser hingga saat ini sulit untuk diacak sehingga kill probabilitynya lebih tinggi. Terlebih kecepatan tembak Starstreak paling tinggi, hingga 3,5 Mach. Menjadikannya rudal Manpads tercepat saat ini sehingga sasaran yang ditembak hampir tidak memiliki kesempatan untuk menghindar atau memberikan reaksi. Perlu dikembangkan sensor laser yang lebih canggih untuk mendeteksi ancaman rudal jenis ini. Satu-satunya hambatan adalah kondisi cuaca dan pandangan misalnya asap.

Rudal Starstreak mulai dikembangkan pada November 1986 oleh pabrikan Shorts (berganti nama Thales). Sistem ini resmi berdinas di jajaran militer Inggris pada September 1997, mulai menggantikan peran rudal Javelin dan Starburst. Rudal Starburst dioperasikan Inggris, Kanada, Malaysia, dan Kuwait. Pada tahun 2007, Thales menyempurnakan sistem ini dengan merilis Starstreak II. Rudal Starstreak 2 memiliki kinerja lebih tinggi dari Starstreak I. Misil lebih ringan berbobot 14 kg, jarak jangkau hingga 7 km dengan ketinggian hingga 5 km, usia pakai misil hingga 15 tahun.

Sistem rudal Starstreak terdiri dari peluncur dan misil. Peluncur menjadi satu dengan pemandu laser. Misil memiliki dua tinggat roket pendorong propelan padat. Roket tingkat pertama melontarkan misil keluar dari laras peluncur hingga jarak aman dari operator beberapa ratus meter. Kemudian roket booster akan mendorong misil hingga kecepatan 3,5 Mach. Jika bahan bakar roket booster habis, misil melepaskan 3 sub-munisi meluncur secara terpisah menuju target dengan daya kinetik 9G. Selama peluncuran, operator memandu terus misil hingga sub-munisi mengenai target. Masing-masing sub-munisi memiliki 2 laser pemandu yang akan menyesuaikan lintasan luncur sesuai panduan laser dari sistem pemandu yang dioperasikan prajurit operator. Kepala sub-amunisi diperkeras dengan tungsten untuk memperkuat efek kinetik. Jika sub-munisi menghantam sasaran, delay-fuse akan aktif menunda peledakan hulu ledak. Memberi waktu bagi kepala sub-munisi menembus atau merobek masuk ke dalam sasaran sebelum diledakkan. Dengan keandalan semacam itu, rudal Starstreak bisa berfungsi ganda sebagai senjata penghancur kendaraan lapis baja.

Rudal Starstreak dikonfigurasi dalam bentuk peluncur portabel panggul, LML (Lightweight Multiple launcher) yang bisa dipasang diberbagai platform mobile, SP HVM (Self Propelled High Velocity Missile) dengan penggerak kendaraan lapis baja Alvis Stormer, dan ATASK (Air to Air Starstreak) yang dipasang di helikopter serang Apache. Hingga kini negara operator rudal Starstreak selain Inggris adalah Afrika Selatan. Rudal Starstreak secara teknis memang sangat unggul namun belum terbukti dalam palagan (battle proven). Minat pembelian rudal Starstreak hendaknya direncanakan dengan matang berkenaan dengan pembelian sistem senjata anti-pesawat jarak pendek lainnya yang telah dahulu direncanakan seperti Oerlikon twincanon Swiss, Chiron Korsel, bahkan TD2000 RRC.

Chiron, Rudal Panggul Anti-Pesawat Paskhas AU Terkini?

19 Okt
Rudal Chiron AD Korea Selatan

Setelah peringatan HUT Paskhas TNI-AU beberapa hari yang lalu, semakin santer kabar rencana akuisi persenjataan baru bagi satuan Paskhas yakni meriam penangkis serangan udara Oerlikon 35 mm dan rudal panggul (MANPADS atau SHORAD) Chiron. Meriam PSU Oerlikon twin canon sudah beberapa tahun didengungkan bahkan Paskhas ingin mendapatkannya mulai dari tahun 2009. Tidak cuma Paskhas, korps marinir AL juga hendak memperolehnya dari bulan Mei tahun ini untuk memperkuat batere pertahanan udara termasuk pengamanan udara kompleks istana negara. Rencana pembelian Chiron merupakan perkembangan baru dari kedekatan kerjasama pertahanan dengan Korea Selatan. AB Indonesia tercatat memiliki sejumlah arsenal rudal panggul dari beberapa pemasok. Paskhas AU sendiri sebelumnya sangat intensif memperkuat diri dengan rudal panggul buatan RRC Qian Wei 3 bahkan dilengkapi dengan simulator. Satuan AD seperti Kostrad dilengkapi dengan rudal SHORAD buatan Polandia PZR Grom dan rudal buatan Swedia RBS-70. Sementara beberapa kapal AL dipersenjatai rudal buatan Perancis MBDA Mistral versi Simbad dan Tetral.

Misil Chiron

Rudal Chiron termasuk salah satu rudal generasi terbaru di kelasnya yang dikembangkan lembaga riset Korsel selama lebih dari delapan tahun, diproduksi oleh LIG Next1. Pengembangannya berdekatan dengan proyek rudal PZR Grom dari Polandia. Bedanya Chiron memiliki kerjasama resmi dengan Rusia sedangkan Grom diduga hasil spionase militer di perusahan LOMO Leningrad pada saat pecahnya Uni Soviet 1991. Pada awalnya Korea Selatan merintis pengembangan rudal panggul pada tahun 1995 oleh badan penelitian pertahanan pemerintah dengan anggaran 71 juta dollar dengan nama proyek KP-SAM Shingung. Pada tahun 2003 Korsel menerima pengiriman rudal panggul Igla dari Rusia sebagai bagian dari pembayaran hutang Rusia. Fase produksi rudal dimulai pada tahun 2004 dan penggelaran operasional dilakukan pada September 2005. AD Korea Selatan memesan  sebanyak dua ribu unit rudal. Sensor pengindra inframerah dipasok pabrik LOMO Rusia sedangkan sistem kendali, motor roket dan hulu ledak dikembangkan sendiri oleh Korsel sendiri.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: