Tag Archives: Bebasnya Kapal Nuklir

Bebasnya Kapal Nuklir 12 : Soldiers of Fortune

28 Jan

Bab XII : Soldiers of Fortune


Selepas tengah malam salah seorang anak buah Yusuf Ahmed menggugahnya. Ahmed mengucek matanya sambil menguap, ditengoknya arloji di tangan kirinya berwarna putih metalik dengan merk Swiss Army. Jarum jam tangan menunjukkan tepat angka dua dini hari. Kondisi nyaris gelap, bara api unggun sudah padam menyisakan arang dan abu serta asap yang masih mengepul. Asapnya meski kadang pedih di mata namun sangat berguna di ruangan terbuka di malam hari. Karena asap membikin nyamuk tidak betah hingga menyingkir menjauh, tidur bisa pulas aman dari rongrongan nyamuk Afrika yang besar-besar. Jika menggigit kulit bukannya gatal malah sakit seperti dicubit. Penerangan malam ini mengandalkan temaram cahaya bintang yang diliputi awan, rembulan malu-malu mengintip dari sembulan mega yang berarak dari Samudera Hindia menuju daratan Afrika.
Yusuf Ahmed bangkit dari pembaringannya mengambil semangkuk air lalu membasuh muka. Melihat pemimpin kulit hitam itu bangun, Bejo yang bergilir jaga segera menggugah Kapten Thoha.
“Kapten, Kapten. Bangunlah,mereka sudah bangun,” ujar Bejo.

Kapten Thoha bangkit duduk dengan mata masih terpejam.

“Jam berapa ini, Bejo?”

“Saya tidak tahu, arlojiku sudah dirampas perompak sewaktu di kapal. Mereka tampaknya mau berkemas-kemas.”

“Bangunkan yang lain, semuanya.”

Bejo lantas menggugah yang lainnya satu per satu hingga seluruh awak kapal terbangun dari tidurnya. Kapten Thoha melangkah mendatangi Ahmed yang tengah mempersiapkan senjatanya. Dia sedang memasukkan butiran peluru M43 ke dalam magasin senapan AKM.

“Apakah Tuan Ahmed bersiap hendak berangkat?”

“Benar, Kapten. Sebelum pagi menjelang, kita harus sudah meninggalkan tempat ini. Aku perkirakan milisi Osama akan datang setelah pagi. Sekarang Kapten dan anggota anda ganti baju dulu. Pakaian seperti pengemis yang engkau kenakan tak akan bertahan dalam penjelajahan. Aku bagikan celana jeans dan baju paramiliter warna hijau daun seperti yang kami kenakan. Cuma ini yang kami miliki dengan jumlah yang melimpah. Ada sembilan ransel tersisa, cukup untuk kalian.”

“Ranselnya akan diisi apa? Kami tidak memiliki apapun.”

“Masih ada roti keras yang bisa bertahan seminggu. Ameer, bagikan buat awak kapal pakaian dan tas ransel lengkap dengan gesper dan peples serta sepatu boot kulit.”

Seorang pria Afrika lantas memberikan perlengkapan pakaian dan ransel kepada seluruh awak kapal. Mereka menerima dengan suka cita.

“Kalian bisa menggunakan senjata? Ini penting untuk bertahan hidup di sini. Tidak ada polisi yang melindungi kalian. Setiap orang berjuang melindungi dirinya sendiri, tidak ada jaminan keselamatan.”

“Saya, Pasaribu, Anwar, Rifai, dan Jafar bisa menggunakan senjata api laras panjang meski belum mahir. Sedangkan empat orang lain belum bisa.”

Baca lebih lanjut

Iklan

Bebasnya Kapal Nuklir 11 : Jarum Kompas Berubah

7 Okt

Bab XI : Jarum Kompas Berubah

Bangunan ini telah koyak-koyak diterjangan tembakan senapan mesin berat dan dihantam mortir. Asap bekas ledakan mortir masih mengepul, kobaran api membakar kayu gedung masih menyala. Bau mesiu bercampur anyir darah dan serpihan daging manusia yang gosong berbaur menjadi satu menyengat hidung. Kapten Thoha maupun yang lainnya berusaha menahan muntah. Mereka melangkahi beberapa mayat pria kulit hitam yang tewas akibat pecahan proyektil mortir atau tertembus peluru senapan mesin. Mereka tiba di salah satu ruangan sumber rintihan yang timbul tenggelam. Dada Pasaribu berdebar-debar, begitu tiba di dalamnya tampak mayat-mayat bergelimpangan. Api kecil masih berkobar-kobar, dinding luar telah ambruk karena jebol. Dia mengenali mayat-mayat itu adalah awak kapal yang dipisahkan oleh Komandan Osama. Hati Pasaribu luluh, lututnya lemas tak sanggup menopang badannya akibat luapan emosi menyaksikan rekan-rekannya sudah tidak bernyawa. Kapten Thoba mencoba mendekati satu-satunya orang yang terbaring namun masih bergerak-gerak.

“Sondakh, Sondakh, bangun!” seru Kapten Thoha kepadanya sambil berlutut.

Dia adalah salah satu kelasi kapal asal Manado, berencana melamar kekasihnya 3 bulan lagi.

“Sondakh, apa yang terjadi?” tanya Kapten Thoha dengan bola matanya berkaca-kaca.

“Saya terkena desingan peluru, Kapten. Lalu terdengar suara ledakan. Banyak rekan-rekan saya yang berjatuhan. Tolonglah mereka, Kapten,” pintanya dengan suara lemah.

“Aku pasti menolong mereka. Jangan khawatir, tapi kamu harus bertahan,” kata Kapten Thoha sambil memegang tangan kanan Sondakh.

“Dada saya terasa panas. Mata saya berkunang-kunang.”

“Bertahanlah. Aku akan mencari pertolongan. Aku janji akan melamarkan calon istrimu untuk kamu. Bukankah engkau bertekad melamarnya tiga bula mendatang.”

“Benar, Kapten. Sampaikan kepadanya bahwa aku mencintainya. Saya sangat setia kepadanya. Saya tidak pernah memiliki kekasih selain dirinya.”

“Pasti, Sondakh. Aku percaya engkau seorang laki-laki yang setia dan tepat janji. Aku bangga memiliki anggota seperti kamu.”

Sondakh terdiam. Tubuhnya semakin dingin dan kaku. Wajahnya pucat dan bibirnya berubah kebiru-biruan. Dia telah meninggal dunia. Kapten Thoha terdiam, pundaknya naik turun dengan cepat. Akhirnya dia tak mampu menahan tangisnya yang meledak.

“Sondakh..! Sondakh..!” panggil Kapten Thoha kepada Sondakh.

Namun dia tetap tidak menjawab panggilan Kapten Thoha. Rifai dan Anwar yang berada di belakang Kapten Thoha tak kuasa menahan haru. Mereka berdua pun ikut menangis sesenggukan. Bejo dan Jafar memeriksa seluruh isi ruangan. Namun tampaknya tidak ada harapan. Mereka melangkah mendekati Kapten Thoha yang masih bermata nanar jauh menerawang.

“Kapten, kami sudah memeriksa semuanya. Tidak ada yang selamat satu pun di ruangan ini.”

Baca lebih lanjut

Bebasnya Kapal Nuklir 10 : Pelangi Di Balik Hujan

6 Okt

Bab X : Pelangi di Balik Hujan

Sudah dua hari Kapten Thoha memikirkan teka-teki di balik rencana pelayaran Komandan Osama ke Iskandariyah Mesir. Ruang tahanan utama makin sepi setelah sepuluh anggotanya dipisah ke ruang lain dalam banguanan itu. Kapten Thoha mengerti bahwa Komandan Osama berusaha memaksanya ikut dalam pelayaran itu. Tenaganya sebagai nakhoda beserta awak yang tersisa rupanya masih diperlukan oleh para perompak. Tetapi kemana gerangan Komandan Abu Nidal? Semenjak diturunkan ke darat dia sudah tidak pernah kelihatan batang hidungnya. Kenapa harus ke Iskandariyah? Di mana armada pasukan NATO bahkan militer Indonesia? Semua pertanyaan tersebut berputar-putar terus-menerus di dalam benak Kapten Thoha tanpa ada secercah jawaban pasti. Namun ada keyakinan bahwa kantor pusat pasti meminta pertolongan pemerintah dan militer Indonesia untuk membebaskan kapal MV Sinar Emas beserta awaknya. Dia sama sekali tidak memiliki harapan bantuan dari Pemerintah Somalia sendiri. Kapten Thoha tahu dari cerita Saleh dan Ahmed sewaktu di kapal bahwa Pemerintah Sementara Somalia tidak memiliki kekuatan efektif di negeri Somalia, sangat terbatas di ibukota Maogadishu. Itu pun dengan dukungan pasukan Uni Afrika yang tergabung dalam AMISOM yang terutama berasal dari Uganda dan Burundi. Oleh karenanya kelompok garis keras Somalia dituding bertanggung jawab atas penyerangan teror bom ke Kampala yang menewaskan puluhan orang. Ketika ada acara nonton bareng pertandingan final sepak bola Piala Dunia Spanyol lawan Belanda. Kekuasaan di daerah dan distrik penjuru Somalia berada di tangan panglima perang lokal dan beragan milisi bersenjata. Kapten Thoha tawakal jika terpaksa harus menjemput maut di tanah asing ini. Dia telah berserah diri kepada Ilahi yang menghidupkan dan mematikan makhluk di mayapada. Bukankah semua mahkluk yang bernyawa pasti menemukan ajalnya. Bukankah setiap dzat yang diciptakan-Nya pasti kembali berpulang kepada-Nya. Dunia adalah panggung sandiwara, sang Pencipta adalah sutradaranya. Sedangkan diri Kapten Thoha cuma sekedar wayang yang dimain-mainkan sang Dalang. Lamunan Kapten Thoha buyar setelah mendengar langkah-langkah yang makin mendekati pintu. Terdengar gesekan anak kunci dengan lubang kunci pintu, daun pintu yang besar dan tebal itu perlahan-lahan membuka semakin melebar. Tampak Saleh dan Ahmed datang melangkah menuju tempat Kapten Thoha duduk termangu.

“Assalamu’alaikum,” sapa Abudullah Saleh.

“Wa’alaikumsalam. Ada apalagi Tuan Saleh menemui kami?” balas Kapten Thoha.

“Kondisi di luar berubah dengan cepat dan tidak terduga, Kapten Thoha. Apakah Kapten bersedia menerima tawaran Komandan Osama untuk dibebaskan di Iskandariyah? Beliau memastikan bahwa kalian akan bebas di sana. Tebusan kalian sudah kami terima namun pembebasn kalian bukan di sini tapi di sana.”

“Bagaimana kalau kami menolak?”

Baca lebih lanjut

Bebasnya Kapal Nuklir 9 : Masuk Kandang Singa

4 Okt

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab IX : Masuk Kandang Singa

Cahaya mentari pagi mulai menerpa pantai utara tanjung Kamboni, perlahan-lahan mulai jelas terlihat antara jari tengah dan telunjuk. Sementara yang lain masih tergolek tidur akibat kelelahan semalam, Kapten Thoha beserta Anwar dan Rifai tengah khusuk duduk berdoa seusai sholat shubuh di pojok ruangan. Kapten Thoha bertindak sebagai imam dengan Anwar dan Rifai di belakangnya sebagai makmum.  Terdengar perlahan dan berbisik Kapten Thoha bermunajat, “Ya Allah Tuhanku yang Maha Pengampun, ampunilah segala dosa dan kesalahan kami, tunjukkanlah kami jalan yang lurus yang Engkau ridlai. Ya Allah Tuhanku yang Maha Pelindung, lindungilah kami dari segala marabahaya yang tengah mengancam kami, yang kami sendiri tak mampu hindari. Berilah kami jalan keluar dari masalah ini, berilah kami petunjuk untuk pulang kembali dengan selamat. Ya Allah Tuhanku yang Maha Pemurah, berikanlah kesabaran dan keteguhan bagi kami yang  terlunta-lunta di sini, berikanlah kekuatan bagi keluarga kami yang  di sana yang menungu-nunggu kepulangan kami. Seandainya kami memang engkau takdirkan umur kami berhenti di sini maka kembalikan kami ke sisi-Mu dengan akhir yang mulia.”

“Amiin,” Mualim I Rifai dan Steward Kepala Anwar mengamini doa yang dipanjatkan Kapten Thoha.

Mereka berdua lanjut berdzikir memohon pertolongan hingga pagi menjadi terang benderang dan satu per satu awak kapal lainnya mulai terbangun. Berkas matahari menerobos lewat celah-celah atap seng dan lubang-lubang ventilasi dinding. Angin laut sangat terasa berhembus dengan terkadang suara deburan ombak memecah dari kejauhan. Dari pojok ruangan itu terdengar tetesan air kran menetes jatuh memercik di atas genangan air bak kecil, di samping sebuah jamban jongkok.

“Bangunan ini tidak jauh dari pantai,” kata Pasaribu.

“Benar. Masih di dermaga utara Ras Kamboni,” Kapten Thoha menimpali.

“Hari telah pagi, apakah Abu Nidal akan membebaskan kita sesuai dengan janjinya? Saya yakin paket tebusan sudah dikirimkan.”

“Aku merasakan ada sesuatu yang ganjil. Kenapa kita ditahan di sini jika paginya akan dibebaskan. Ada perkembangan situasi yang tidak kita ketahui.”

Kapten Thoha terdiam sesaat kemudian melanjutkan kembali.

“ Tapi aku yakin ada jalan keluar. Kalau kita bisa bebas nanti, apa yang akan kamu kerjakan pertama kali?”

“Saya akan pulang ke Tarutung menjumpai kedua orangtuaku di sana. Aku sangat rindu keduanya. Mereka berdua sudah beberapa tahun yang lalu mengidap sakit diabetes melitus. Saya khawatir umurnya tidak lama lagi. Kalau Kapten Thoha kemana?”

Baca lebih lanjut

Bebasnya Kapal Nuklir (Trilogi Novel) I.8

30 Sep

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab VIII : Benang Merah Somalia

Malam kian larut, Kapten Thoha tetap terjaga meski berusaha untuk tidur di atas lantai bersemen kasar beralas buntalan baju. Demikian juga dengan anak buahnya yang terbaring di dalam sebuah kamar luas di dalam rumah berdinding batako, langit-langitnya tinggi, atapnya dari seng. Terasa panas dan banyak nyamuk berkeliaran, Kapten Thoha berusaha tetap berpikir jernih dan tabah. Kini mereka sudah menginjakkan kaki di tanah Afrika, di pinggiran pantai Somalia. Negeri yang memiliki sejarah panjang mulai dari zaman pra-sejarah hingga masa kolonialisme Eropa dan era kemerdekaan. Negeri yang sangat didominasi oleh kepemimpinan militer dari masa awal kemerdekaan hingga saat terpecah-belahnya negeri itu.

Pemimpin militer Somalia, Mohamed Siad Barre, mengambil-alih pemerintahan Somalia pada 21 Oktober  1969 dengan kudeta tak berdarah. Satu hari setelah pemakaman mendiang presiden kedua Somalia yang tewas ditembak pengawalnya. Siad Barre menjadikan dirinya pemimpin tunggal di Somalia dengan membubarkan parlemen. Dia mencoba menciptakan faham baru, suatu sinkretisme antara Islam dan Marxisme.  Pada paruh awal kekuasaannya, Barre berhasil menciptakan kemajuan yang besar bagi rakyat Somalia. Pada paruh kedua berubah menjadi rezim yang totaliter dan tiran sehingga menciptakan resistensi dari rakyat maupun di dalam tubuh militer. Puncaknya terjadi pemberontakan besar oleh lawan-lawan politiknya yang tergabung di dalam USC (United Somali Congress) yang dibangun Ali Mahdi Muhammad dan Jendral Mohamed Farah Aidid. USC menyerbu ibukota Mogadishu mengakibatkan rezim Siad Barre runtuh kekuasaannya dengan melarikan diri ke Somalia tenggara pada 26 Januari 1991.

Ali Mahdi mengambil alih jabatan presiden mulai Januari 1991 hingga Juni 1995. Setelah berhasil merebut ibukota, koalisi USC terbelah, Ali Mahdi Muhammad membentuk SSA (Somali Salvation Alliance). Jendral Mohammed Farah Aidid menentang Ali Mahdi Muhammad dengan mendirikan SNA (Somali National Alliance) dan menolak kehadiran pasukan PBB Unosom II yang didominasi AS sehingga memeranginya dari 1992 hingga 1994. Pertempuran Mogasidhu 1993 diabadikan dalam film Black Hawk Down. Jendral Farah Aidid merebut jabatan presiden Somalia pada 15 Juni 1995 hingga meninggal dunia pada 1 Agustus 1996. Dia terkena serangan jantung setelah terluka dalam pertempuran melawan faksi SSA di Mogadishu. Putranya, Hussein Farah Aidid pulang dari AS menggantikan posisinya. Hussein Farah Aidid adalah bekas kopral USMC yang pernah berdinas di Operasi Desert Storm dan Restore Hope. Jabatan presiden dipegang Husssein farah Aidid hingga ditandatanganinya Deklarasi Kairo pada 22 Desember 1997 yang membagi kekuasaan di Mogadishu, SSA di utara dan SNA di selatan.

Sisa pendukung Barre dan bekas anggota militer Somalia yang masih loyal kepadanya membentuk SNF (Somali National Front) yang berusaha dua kali merebut Mogadishu di April 1991 dan April 1992. Tetapi semua usaha itu gagal, berhasil dipukul mundur oleh pasukan Jendral Farah Aidid.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: