Archive | Motivasi RSS feed for this section

Tepat Waktu

28 Feb

Bertahun-tahun kita bekerja namun masih adakalanya terlambat masuk kerja. Disiplin kerja masih harus ditingkatkan. Untuk memotivasi berangkat kerja tepat waktu, ada satu kisah yang sangat menarik, patut dijadikan suri teladan. Adalah James Robertson, seorang pria kulit hitam Amerika (kelihatannya), buruh pabrik di Detroit yang memberi inspirasi kita tentang kegigihan untuk tepat waktu. Beberapa pekan yang lalu dia menjadi perbincangan pers Amerika tatkala kisahnya diungkap ke media. Usianya saat ini 56 tahun, sangat berumur sebagai seorang buruh pabrik.  Terakhir dia punya mobil pada waktu sepuluh tahun yang lalu, merk Honda. Namun kemudian rusak dan tidak sanggup memperbaikinya apalagi membeli baru. Tempat tinggalnya di pinggiran kota Detroit, cukup jauh dari pabrik tempat bekerja di sisi lain kota. Sebagai seorang operator mesin moulding plastik, gajinya 10,55 Dollar per jam. Sedikit di atas upah minimum Detroit yang 8 Dollar per jam. Sistem transportasi kota Detroit tidak memungkinkan dia untuk langsam berangkat dari rumah ke tempat kerja. Dia harus naik bus diselingi jalan kaki sejauh 20 mil atau sekitar 35 km per harinya pulang pergi. Aktivitas ini dijalankannya sudah hampir sepuluh tahun. Dan selama rentang waktu tersebut, absensinya sempurna alias tidak pernah mangkir ataupun terlambat masuk kerja. Bayangkan jam kerja mulai jam 2 siang maka James Robertson harus berangkat dari rumah jam 8 pagi. Sudah dipastikan jam istirahatnya di rumah lebih sedikit dibanndingkan rekan kerja lainnya. Tapi dia tetap bersemangat tinggi dalam bekerja di perusahaannya. Manajer pabrik sangat salut terhadap James Robertson. Tidak jarang dia mengajak makan siang bersama Robertson di pabrik dengan membuka bontot yang dimasak istrinya. Ketika ada buruh pabrik yang terlambat masuk kerja, manajer pabrik mengambil contoh James Robertson sebagai suri tauladan. Dia berkata kepada karyawan telat,” Lihat Robertson, dia berangkat kerja ke pabrik dengan naik bus tapi tidak pernah terlambat. Sedangkan kau naik Pontiac malahan terlambat masuk kerja”.
Pada dua tahun terakhir James Robertson dibarengi oleh Blake Poloke, seorang bankir perusahaan investasi di Detroit. Dia sering melihat Robertson menyusuri jalan secara konsisten. Lantas Poloke menawari Robertson tumpangan. Lambat-laun Poloke mengenal semakin dalam Robertson sehingga salut terhadapnya. Poloke akhirnya mengabarkan ke media massa kisah Robertson. Berita tersebut menyentuh hati Evans, seorang mahasiswa, dengan membuka pundi amal di suatu situs. Gerakan amal Evans berhasil mengumpulkan donasi lebih dari 300 ribu Dollar. Banyak orang Amerika tersentuh dengan kisah James Robertson. Donasi yang terkumpul memungkinkan Robertson membeli mobil Ford Taurus warna merah seharga 37 ribu Dollar lengkap dengan asuransi. Selebihnya didedikaskan untuk membantu tunjangan kesehatan James Robertson. Sikap dan perilaku luar biasa dari seorang James Robertson yang gigih dalam bekerja mencari nafkah.

Harta dan Ilmu

21 Feb

Suatu hari Nabi bersabda, “Akulah kota ilmu sedang Ali gerbangnya”. Ketika kaum Khawarij mendengar hadits itu, mereka tak percaya dan dengki sekali. Maka berkumpullah sepuluh jagoan Khawarij untuk menguji Ali.
“Kita tanya satu masalah saja. Tapi kita bergilir, benarkah jawaban Ali akan berbeda-beda,” ujar salah seorang. 
“Jika berbeda, benarlah yang dikatakan Nabi,” sahut yang lain. 
Maka datanglah salah seorang kepada Ali dan bertanya, “Mana yang lebih utama, ilmu atau harta?”
“Tentu ilmu”, jawab Ali mantap.
“Mengapa?” sambung orang Khawarij.
“Ilmu itu warisan para Nabi sedang harta warisan Qorun, Syadad, Fir’aun, dan sebagainya”, jawab Ali.
Mendengar jawaban itu, orang tersebut pergi. Maka datanglah yang kedua dengan pertanyaan yang sama dan Ali menjawab bahwa ilmu lebih utama ketimbang harta.  
“Mengapa?” orang itu bertanya.
“Ilmu itu menjagamu. Tapi harta justru kau yang menjaganya.” jawab Ali.
Kemudian datanglah yang ketiga. Ali pun menjawab, “Pemilik harta punya banyak musuh sedang ilmu punya banyak teman.”
“Jika kau pergunakan uang maka uang itu akan menyusut. Tapi jika ilmu yang kau pergunakan maka ia malah bertambah,” jawab Ali kepada laki-laki keempat.
“Pemilik harta akan ada yang menyebutnya orang pelit dan rakus sedangkan pemilik ilmu selalu dianggap mulia dan dihormati” jawab Ali kepada orang kelima.
“Harta selalu dijaga dari pencuri sedangkan ilmu tidak perlu dijaga,” jawabnya kepada orang keenam.
“Pemilik harta akan dihisab di hari kiamat sedangkan pemilik ilmu akan diberi syafaat,” jawab Ali kepada orang ketujuh.
“Dalam kurun waktu yang lama, harta akan lenyap jika dibiarkan. Tapi ilmu tidak. Ia abadi,” jawabnya kepada orang kedelapan.
“Harta itu mengeraskan hati sedangkan ilmu itu menyinari hati,” jawab Ali kepada penanya kesembilan.
Untuk yang terakhir, Ali menegaskan,” Pemilik harta dipanggil besar karena harta sedangkan pemilik ilmu dianggap sang ‘alim. Seandainya kalian datangkan semua orang untuk bertanya tentang soal ini, saya akan jawab secara berbeda selagi saya masih hidup.”
Maka pulanglah mereka, menyerah, dan mengakui hadits Nabi tersebut.

Dikutip dari majalah Hidayah Edisi 162 Februari 2015, halaman 21.

Petaka MH Series, Malaysia Airlines Menatap Masa Depan

2 Agu

Petaka MH Series, Malaysia Airlines Menatap Masa Depan
Dua bencana besar yang menimpa maskapai penerbangan utama negeri jiran, Malaysia Airlines, memperburuk kinerja bisnis yang memang beberapa tahun terakhir menurun. Setelah ditelisik, ternyata raibnya MH370 dan tertembak jatuh MH17 merupakan puncak gunung es persoalan yang mendera maskapai tersebut. Tiga tahun terakhir menderita kerugian finansial sebesar US$ 1,3 milyar. Diperkirakan maskapai masih akan merugi satu hingga dua juta Dollar Amerika per hari. Dengan sumber daya yang ada saat ini, maskapai hanya sanggup terbang selama 6 bulan ke depan. Bisa bernasib tragis seperti yang menimpa maskapai Merpati, hidup segan mati tidak mau. Diperlukan perombakan besar dan mendalam terhadap badan maskapai Malaysia Airlines. Dibutuhkan intervensi yang jitu dari pihak pemerintah selaku pemegang saham terbesar. Bukan hanya sekedar injeksi modal semata namun perubahan sistem dan kultur karyawan di dalamnya. Termasuk mengganti pucuk pimpinan dengan orang-orang yang tepat. Memiliki visi ke depan untuk menyelamatkan maskapai, berintegritas dan berdedikasi tinggi. Malaysia bisa mencontoh maskapai penerbangan utama Indonesia, Garuda Indonesia, yang pernah limbung di era 90-an hingga awal 2000-an. Saat itu asetnya negatif dibandingkan dengan hutangnya. Hingga pada tahun 2005 datang Emirsyah Satar yang mengubah citra dan kinerja maskapai Garuda Indonesia saat ini yang disegani di kelas dunia.

Shared from Google Keep

Balada Pegawai Microsoft, Unpredictable Market

1 Agu

Balada Pegawai Microsoft, Unpredictable Market
Jerry Berg, seorang pegawai Microsoft galau tatkala mendengar kabar rencana restrukturisasi perusahaan untuk memperbaiki performance. Restrukturisasi biasanya termasuk efisiensi karyawan seperti zero growth, pensiun dini, bahkan pemecatan. Pangsa pasar TI global mencerminkan penurunan permintaan komputer desktop dan laptop. Di sisi lain berkembang pesat pasar komputasi mobile yang mencakup komputer tablet dan smartphone. Dulu sektor ini masih termasuk ranah blue ocean. Microsot sudah berjalan pada arah yang tepat dengan mendayagunakan kekuatan yang ada ke sektor tersebut. OS Windows mobile phone menuju integrasi dengan OS Windows. Surface dan Lumia mejadi ikon perangkat keras mobile. Namun goncangan persaingan bisnis yang keras tetap saja menggoyang Microsoft. Sektor core business andalan Microsoft perlahan menjadi ranah red ocean. Hingga keputusan phk pun diambilnya terhadap 18 ribu karyawan. Suatu hari dia dan rekan-rekannya dikumpulkan di sebuah ruangan kerja dan dikonseling. Bahwa mereka termasuk karyawan yang menjadi bagian dari proses efisiensi perusahaan. Tidak ada kata lain untuk phk dan mereka mendapat pesangan. Programmer itu pun protes karena merasa tidak layak masuk dalam skema efisiensi perusahaan. Dia mengklaim diri berkinerja bagus selama 15 tahun bekerja di Microsoft, semua proyeknya selalui disetujui. Sang programer menuduh keputusan itu bukan diambil berdasarkan pertimbangan logis manusia namun sekedar sesuai dengan algoritma tertentu yang diprogram di dalam perangkat lunak personalia. Dia nervous karena merasa nyaman dalam kenyamanan yang dirasakannya selama ini. Ia memiliki seorang anak yang menderita autis. Sebagai karyawan tetap, semua perawatan dan pengobatan anaknya ditanggung oleh perusahaan sebagai bagian dari insentif atau jaminan kesehatan. Kini setelah terkena phk, dia harus menanggungnya sendiri sambil kembali mencari pekerjaan lain lagi di tengah gelombang efisiensi industri perangkat lunak teknologi informasi, sektor yang sangat volatil dan kadang di luar dugaan. Pakar motivasi memang sudah banyak mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam zona comfort. Selalui mempersiapkan skenario terburuk seperti phk yang biasanya merupakan strategi jangka panjang. Terlebih karyawan perusahaan swasta yang sekedar menggantungkan hidupnya dari semata-mata upah bulanan. Harus lebih kreatif dan dinamis, tidak ada benda di dunia ini yang berada di dalam kondisi statis. Bahkan electron pun selalu bergerak mengitari inti atom. Bulan mengitari bumi, bumi mengitari matahari, matahari mengitari pusat galaksi, pusat galaksi mengitari pusat kluster galaksi.

Shared from Google Keep

Onoda, Sang Prajurit Terakhir Jepang yang Menyerah

23 Feb

Maaf sedikit terlambat posting untuk tema ini. Sebenarnya ide tulisan ini tercetus ketika membaca berita kematian Hiroo Onoda. Legenda itu sendiri telah meninggal di bulan kemarin, Januari 2014. Beliau dikenal sebagai prajurit Jepang pada Perang Dunia II yang menyerah terakhir kali. Setelah hampir 30 tahun pasca Jepang menyerah kepada Sekutu di tahun 1945. Onoda merupakan perwira intelijen dengan keterampilan komando, pangkat terakhir adalah letnan dua. Sebelum pasukan Jepang yang berbasis di Manila mundur karena terdesak, Onoda dan regunya mendapat instruksi untuk bertahan di pulau Lubang, kepulauan barat Filipina. Mereka mendapat instruksi langsung secara lisan dari Mayor Taniguchi. Onoda berempat dengan timnya bergerilya di dalam hutan pulau tersebut. Meskipun ada selebaran yang menyatakan perang telah berakhir, mereka tetap bertahan tidak mempercayai propaganda tersebut sebelum mendapat instruksi langsung. Di tahun kelima, salah satu anggotanya menyerah kepada aparat keamanan Filipina. Beberapa tahun kemudian dua anggota tersisa tewas dalam baku tembak. Sejumlah pencarian digelar oleh pemerintah Jepang untuk menemukan Onoda di pulau Lubang. Tapi hasilnya nihil, tidak dijumpai jejak sedikitpun. Hingga suatu hari, seorang pria Jepang bernama Suzuki berhasil membuat kontak dengan Onoda di hutan itu. Dia membuat foto potret Onoda dan pulang ke Jepang untuk meyakinkan pemerintah bahwa Letda Hiroo Onoda masih hidup. Operasi pencarian Onoda digelar kembali di hutan pulau Lubang pada tahun 1974. Suzuki mengikutsertakan mantan atasan langsung Onoda di masa PD II Mayor Taniguchi. Tidak mudah menemukan Onoda yang sangat terampil bergerilya. Senapan Arisaka yang merupakan senjata laras panjang standar bala tentara Jepang di PD II masih terawat dengan baik lengkap dengan sekitar 500 butir peluru. Ketika tim pencari berhasil menemukan Onoda, mereka berusaha meyakinkan Onoda. Mayor Taniguchi muncul dengan membawa selembar surat perintah yang dibuat bergaya era PD II dan memberikan perintah lisan langsung kepada Onoda untuk menyerah pada penguasa wilayah setempat atau pemerintah Filipina karena perang Kekaisaran Jepang sudah berakhir. Onoda menerima dan menyerah kepada aparat keamanan Filipina. Selama bergerilya di hutan, Onoda dan regunya telah menewaskan sekitar 30 penduduk. Namun presiden Filipina, Ferdinand Marcos memberikan amnesti sehingga Onoda bisa dipulangkan ke negaranya.

%d blogger menyukai ini: