Tag Archives: wisata sejarah

Masjid Kyai Gede, Masjid Kuno Kerajaan Kotawaringin

20 Okt
image

Masjid Kyai Gede

Alhamdulillah, penulis berkesempatan berkunjung ke Masjid Jami’ Kutaringin, sebuah masjid kuno berumur lebih dari 300 tahun di Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Pada mulanya adalah surau yang didirikan Kyai Gede pada masa Pangeran Antakusuma, pemimpin pertama Kesultanan Kutaringin (Kotawaringin). Kyai Gede sendiri merupakan mangkubumi atau patih atau perdana menteri sekaligus seorang ulama penyebar agama Islam. Pada masa kepemimpinan raja VII (1069H-1116H atau 1727-1761M), Gusti Sultanul Baladuddin bergelar Pangeran Ratu Begawan, surau tersebut dipugar menjadi Masjid Jami’ Kutaringin. Konstruksi bangunan terbuat dari kayu ulin yang kokoh. Bertipe bangunan panggung, umumnya bangunan tradisional di kultur lingkungan yang dipengaruhi pasang surut air dan rawa. Pola bangunan simetris dengan 3 atap berundak, mirip masjid kuno Kesultanan Paser (Kerajaan Sadurengas) di Kalimantan Timur yang penulis pernah kunjungi.

image

Pintu masjid

Pintu masjid ada 2 buah di sisi bekakang, dengan pola simetris dengan sedikit ornamen ukiran.

image

Jendela masjid

Jendela berpori tanpa daun jendela, terdapat di semua sisi bangunan termasuk di bagian dinding atap untuk sirkulasi udara.

Baca lebih lanjut

Iklan

Legenda Batu Ikan Belida

17 Okt

Konon di zaman dahulu kala di desa Kutaringin (Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah) ada sekelompok orang hidup dengan serba kekurangan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka bercocok tanam. Di desa Kutaringin ini ada sebuah sungai besar dan panjang. Sungai ini terkenal dengan sungai Lamandau. Selain digunakan sebagai tempat mandi oleh para penduduk, sungai ini juga di jadikan sebagai mata pencaharian mereka. Suatu hari ada salah satu dari penduduk mandi di sungai Lamandau pada saat matahari terbenam. Ketika ia mandi datanglah seekor ikan belida menemui penduduk tersebut. Kejadian yang serupa terulang kembali ikan belida ini menemui penduduk yang lain. Bahkan setiap mereka mandi ikan balida tersebut selalu datang menemui mereka.

image

Batu Ikan Belida

Seiring berjalannya waktu akhirnya di desa Kutaringin ini mengalami perubahan musim, hujan tak kunjung turun air di sungai Lamandau pun hampir kering. Kemarau makin larut dan penduduk pun resah. Ikan belida yang sering datang menemui mereka pun kini tidak pernah

Baca lebih lanjut

Keraton Kesultanan Paser atau Kerajaan Sadurengas

27 Agu

image

Situs istana kerajaan jaman dulu ini terletak di pingging sungai Kandilo, tidak jauh dari Tanah Grogot, ibukota kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Tepatnya di kecamatan Pasir Belengkong, sekitar 300 meter dari jembatan Kandilo, jembatan jalan utama penghubung Tanah Grogot-Batulicin. Berdampingan dengan masjid kesultanan, terbuat dari bahan kayu bermutu tinggi. Kayu merupakan kekayaan yang melimpah di wilayah ini dulunya.

image

Istana Kesultanan Paser di tahun 2013

image

Istana Kesultanan Paser pada tahun 1925

Potret istana Kesultanan Paser pada 2 jaman yang berbeda. Pepohonan kelapa sekitar istana sudah tidak ada, padat dengan perumahan penduduk.

image

Keraton Kesultanan Paser sekarang telah menjadi Museum Sadurengas dan dipugar pada tahun 2008. Museum Sadurengas menempati bangunan bekas rumah salah satu Sultan Paser, yaitu Aji Tenggara (1844-1873). Pada awal abad ke-19 bangunan ini menjadi Istana Sultan Ibrahim Khaliludin. Bangunannya membentuk rumah panggung yang dalam bahasa Paser disebut ‘Kuta Imam Duyu Kina Lenja’ yang berarti rumah kediaman pemimpin yang bertingkat. Keraton kesultanan Paser menghadap ke barat ke arah tepi sungai Kandilo yang menjadi urat nadi transportasi umum di jaman keemasannya.

Baca lebih lanjut

Legenda Putri Petung

18 Agu

image

Putri Petung adalah mitologi penduduk Paser (Kalimantan Timur) yang diyakini sebagai pemimpin atau ratu pertama kerajaan Sadurengas. Konon di daerah Paser penduduknya masih sederhana kehidupannya. Belum memiliki tata aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Keadaan penduduk tidak tentram tidak menentu, saling silang tikai. Dan disebabkan karena belum adanya pemimpin atau belum ditemukannya seorang yang dapat dijadikan pemimpin mereka. Di situlah banyak masyarakat yang sering terjadi pertikaian kesalahpahaman dan pembunuhan yang tidak bisa terelakkan. Dan masyarakat sering berpindah ladang dan pindah tempat, tidak ada kepastian dalam kehidupan. Masyarakat berburu hewan untuk dimakan bersama keluarga dan dibagi rata dengan teman-temannya. Ditengah kehidupan yang sarat pertikaian dan pertentangan, muncul lah dua orang yang oleh masyarakat tidak diketahui asal-usulnya. Pastinya, kedua orang tua itu bukan masyarakat atau orang yang berada di lingkungan mereka. Kedua orang itu memperkenal diri sebagai Tumindong Doyong yang tua berambut putih memegang kerbau berwarna putih dan satunya lagi sebagai Tumindong Tau Keo. Mulailah kedua orang itu beradaptasi dengan semua masyarakat yang ada di sekitar lingkungan tersebut. Setelah melihat kondisi masyarakat yang serba tidak teratur maka kedua orangtua tadi mencoba memberikan nasehat-nasehat dalam menata kehidupan yang lebih baik. Masyarakat setempat setelah mendengar nasehat terutama dari Tumindong Doyong  yang lebih mereka kenal dengan gelar Kaka Ukup yang artinya orangtua penunggang kerbau yang bernama Ukup, mereka berunding sesuai dengan ilmu yang mereka peroleh dari nasehat tersebut agar Tumindong Doyong atau Kaka Ukup  (ada juga ejaan Kakah Ukop) bersedia menjadi pemimpin mereka dan Tumindong Tau Keo sebagai wakilnya. Namun oleh keduanya usulan tersebut ditolak dengan mengatakan mereka tidak pantas karena memang bukan keturunan raja. Meskipun demikian mereka akan memfasilitasi keinginan masyarakat Paser untuk memiliki pemimpin atau raja. Kaka Ukup kemudian mengajak sekelompok masyarakat untuk berlayar menuju ke pinggir langit untuk mencari orang yang pantas menjadi raja Paser.

Baca lebih lanjut

Gambar

Keraton Sadurengas

10 Agu

image

image

image

image

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: