Tag Archives: sejarah kotawaringin

Makam Kyai Gede, Makam Keramat di Kotawaringin

20 Okt
image

Makam Kyai Gede

Kyai Gede adalah tokoh legendaris daerah Kotawaringin Barat di mana makamnya banyak diziarahi oleh masyarakat. Beliau penyebar agama Islam pertama di tempat tersebut yang bermukim lebih dahulu daripada pendiri pertama Kerajaan Kutaringin (Kotawaringin) Pangeran Antakusuma. Di kemudian hari pada masa Pangeran Antakusuma mendirikan Kerajaan Kutaringin, Kyai Gede diangkat sebagai Mangkubumi atau Perdana Menteri. Pangeran Adipati Antakesuma merupakan putra dari raja IV Kesultanan Banjar, Sultan Musta’inubillah (bertahta1650-1678). Asal-usul Kyai Gede ada 3 versi yang berbeda-beda.
Versi pertama didasarkan atas pendapat Lontaan dan Sanusi yang menyatakan bahwa Kyai Gede adalah seorang Muslim yang ditemukan terikat pada sebatang pisang pada saat pembangunan kerajaan Kutaringin. Oleh kepala suku Dayak Laman ditolong dan dirawat. Karena sikapnya yang mengerti tata tertib dan sopan santun, rakyat sangat tertarik untuk memeluk agama yang dianutnya. Selain pengetahuan agama, Kyai Gede juga mengajarkan ilmu pengetahuan perang karena beliau merupakan kyai dan pahlawan dari Majapahit. Ketika Pangeran Adipati Antakusuma mendarat di tepi Sungai Lamandau, Kyai Gede ikut menemuinya bersama dengan Demung Tujuh Bersaudara.
Versi kedua menurut legenda rakyat, pada waktu rombongan Pangeran Adipati Antakesuma mendarat di tepi Sungai Lamandau, mereka didatangi oleh rombongan Demang Tujuh Bersaudara dan Kyai Gede. Setelah kedua pihak berperang dengan kemenangan di pihak Pangeran Adipati Antakesuma, mereka sepakat mengangkat Pangeran Adipati Antakesuma sebagai raja. Kyai Gede, Demang Akar dan anaknya  Sagar masuk agama Islam. Demang Akar dan Sagar masing-masing berganti nama menjadi Demang Silam dan Selamat. Sementara keenam demang lainnya berpindah ke darat atau pedalaman Kutaringin. Menurut cerita versi ini, Kyai Gede tidak lain adalah Kyai Gade putra asli Kutaringin, bukan berasal dari Demak atau Majapahit. Dari catatan sejarah, Kyai Gade dan Pangeran Adipati Antakesuma keberadaannya tidaklah sezaman. Jika cerita versi pertama benar maka Kyai Gede memang hidup pada abad ke-16 (tahun 1595M) sedangkan Pangeran Adipati Antakesuma mendirikan kerajaan Kutaringin pada abad ke-17 pada tahun1679 (pendapat Lontaan dan Sanusi).

Baca lebih lanjut

Iklan

Masjid Kyai Gede, Masjid Kuno Kerajaan Kotawaringin

20 Okt
image

Masjid Kyai Gede

Alhamdulillah, penulis berkesempatan berkunjung ke Masjid Jami’ Kutaringin, sebuah masjid kuno berumur lebih dari 300 tahun di Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Pada mulanya adalah surau yang didirikan Kyai Gede pada masa Pangeran Antakusuma, pemimpin pertama Kesultanan Kutaringin (Kotawaringin). Kyai Gede sendiri merupakan mangkubumi atau patih atau perdana menteri sekaligus seorang ulama penyebar agama Islam. Pada masa kepemimpinan raja VII (1069H-1116H atau 1727-1761M), Gusti Sultanul Baladuddin bergelar Pangeran Ratu Begawan, surau tersebut dipugar menjadi Masjid Jami’ Kutaringin. Konstruksi bangunan terbuat dari kayu ulin yang kokoh. Bertipe bangunan panggung, umumnya bangunan tradisional di kultur lingkungan yang dipengaruhi pasang surut air dan rawa. Pola bangunan simetris dengan 3 atap berundak, mirip masjid kuno Kesultanan Paser (Kerajaan Sadurengas) di Kalimantan Timur yang penulis pernah kunjungi.

image

Pintu masjid

Pintu masjid ada 2 buah di sisi bekakang, dengan pola simetris dengan sedikit ornamen ukiran.

image

Jendela masjid

Jendela berpori tanpa daun jendela, terdapat di semua sisi bangunan termasuk di bagian dinding atap untuk sirkulasi udara.

Baca lebih lanjut

Legenda Batu Ikan Belida

17 Okt

Konon di zaman dahulu kala di desa Kutaringin (Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah) ada sekelompok orang hidup dengan serba kekurangan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka bercocok tanam. Di desa Kutaringin ini ada sebuah sungai besar dan panjang. Sungai ini terkenal dengan sungai Lamandau. Selain digunakan sebagai tempat mandi oleh para penduduk, sungai ini juga di jadikan sebagai mata pencaharian mereka. Suatu hari ada salah satu dari penduduk mandi di sungai Lamandau pada saat matahari terbenam. Ketika ia mandi datanglah seekor ikan belida menemui penduduk tersebut. Kejadian yang serupa terulang kembali ikan belida ini menemui penduduk yang lain. Bahkan setiap mereka mandi ikan balida tersebut selalu datang menemui mereka.

image

Batu Ikan Belida

Seiring berjalannya waktu akhirnya di desa Kutaringin ini mengalami perubahan musim, hujan tak kunjung turun air di sungai Lamandau pun hampir kering. Kemarau makin larut dan penduduk pun resah. Ikan belida yang sering datang menemui mereka pun kini tidak pernah

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: