Tag Archives: satelit mikro

Pameran Kekuatan Surveillance Strategis dan MH370

29 Mar

Musibah raibnya pesawat penumpang Malaysia MH370 menunjukkan betapa pentingnya kemampuan surveilance jarak jauh dan teknologi penginderan jarak jauh (satelit). Berbagai negara berlomba menggelar kekuatan SAR mencari jejak pesawat terbang naas tersebut. Secara tidak langsung mereka juga menunjukkan kepada dunia internasional akan kedigdayaan teknologi surveilance dan penginderaan jarak jauh yang mereka miliki. Kemampuan tersebut tidak saja sangat berguna dalam posisi perang namun sangat bermanfaat dalam misi non perang. Seperti halnya pesawat angkut kelas berat yang tidak cuma berfungsi untuk mobilisasi prajurit dan perlengkapan tempur. Namun sangat berperan dalam bantuan kemanusian seperti bencana alam untuk suplai logistik, medis, dan evakuasi dalam jumlah besar dan intensitas tinggi.

Demikian pula kemampuan surveilance dan penginderaan jarak jauh di samping berguna untuk pemetaan strategis dan peran pencegahan infiltasi permukaan dan bawah permukaan juga sangat berguna dalam misi SAR kemanusiaan di medan yang terpencil dan terisolir. Negara-negara besar terlihat sangat dominan dalam menggelar kemampuan mencari jejak MH370 di Samudra Hindia yang sangat jauh dan luas. Sangat kontradiktif bagi negara-negara Asia Tenggara yang terbatas kekuatan surveilance dan penginderaan jarak jauh. Untuk perburuan di lautan, Singapura hanya memiliki Fokker-50 MPA dengan daya jelajah 2 ribu kilometer. Indonesia dan Malaysia mempunyai armada CN-235 MPA dengan daya jelajah 4 ribu kilometer. Tentu saja tidak termasuk pesawat terbang taktis untuk peran surveilance jarak pendek seperti C-212 MPA dan N-22 Nomad. Tidak sepadan dengan pengerahan P-3 Orion Australia, P-8 Poseidon Amerika Serikat, Il-76 MPA Tiongkok, bahkan Tu-142 India yang sekarang juga memiliki armada P-8 Poseidon. Indonesia memang prospektif untuk ikut serta dengan Boing 737-200 Surveiller dengan catatan dilengkapi dengan piranti air refueling dan didukung  pesawat air refueling strategis semacam Airbus A330 MRT atau Boeing KC-135 Stratotanker. Singapura mempunyai armada KC-135 tetapi tidak memiliki armada pesawat surveillance strategis.

Negara-negara maju juga dengan cepat mengerahkan satelit pencitraan jauh dan observasi bumi sebagai dasar pergerakan pesawat surveilance dan kapal dalam mencari puing-puing MH730. Perancis, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Inggris menjadi yang terdepan dalam merilis citra obyek yang diduga serpihan pesawat yang raib tersebut. Bertolak belakang dengan perjuangan Indonesia yang sedang berusaha membuat satelit mikro sekaligus riset roket pengorbitnya. Meskipun sebenarnya sudah ada langkah maju dengan peluncuran satelit mikro ataupun TUBSat dengan roket India. Sejajar dengan Singapura dan Malaysia yang berada di tahap teknologi satelit mikro untuk remote-sensing. Sedikit lebih maju adalah Thailand yang mengoperasikan satelit observasi bumi Thaichote seberat 715 kg sejak Oktober 2008 dengan diorbitkan roket Rusia. Satelit Thaichote turut berperan serta dalam pencarian puing-puing MH370. Mencoba sejajar dengan kedigdayaan Tiongkok yang memiliki sejumlah satelit penginderaan jarak jauh dan observasi bumi peran militer seperti seri satelit Yaogan yang mengusung piranti elektro-optis dengan resolusi yang lebih tajam.

Dengan adanya kejadian genting MH370, semoga riset penginderaan jarak jauh Indonesia semakin didorong maju. Seiring dengan peningkatan kemampuan surveilance jarak jauh pesawat terbang dan unsur pendukungnya.

Iklan

Rudal Indonesia Tembus Luar Angkasa?

20 Jun

Republik Islam Iran berhasil meluncurkan satelit kedua yang bernama Rassad ke orbit bumi. Peluncuran satelit yang berjalan dengan sukses sepertinya sengaja dilakukan pada malam kelahiran Imam Ali as. Satelit itu diluncurkan oleh pembawa satelit Safir-e-Rassad pada Rabu malam, Kesuksessan ini kembali membuktikan bahwa Republik Islam Iran terus berupaya menggapai puncak teknologi, meski negara ini ditekan dan diembargo. Namun embargo dan tekanan bukanlah alasan untuk jumud teknologi dan sains. Bahkan Iran mampu menjadikan tekanan dan embargo sebagai peluang untuk maju.

Meskipun mempunyai berat 15,3 kilogram yang merupakan kategori satelit mikro, namun satelit Rassad memiliki semua fitur satelit besar. Satelit ini telah melewati semua tahap yang diperlukan untuk manufaktur, pengujian perakitan, dan persiapan untuk diluncurkan di dalam negeri. Satelit Rassad akan mengorbit bumi pada ketinggian 260 kilometer 15 kali setiap 24 jam. Misi peluncuran tersebut adalah untuk mengambil gambar permukaan bumi dan menyampaikan pesan ke stasiun bumi dengan informasi telematika. Satelit dilengkapi dengan panel surya ini dan menggunakan energi matahari untuk bekerja. Sebelumnya, Iran untuk pertama kalinya meluncurkan satelit Omid pada tahun 2009. Dengan peluncuran satelit Omid, Iran menjadi negara kesembilan yang mampu mengembangkan teknologi untuk peluncuran satelit. Tehran juga berencana meluncurkan satelit berawak ke luar angkasa pada tahun 2019

Sebuah pencapaian teknologi luar angkasa yang luar biasa mengingat Iran tidakmendapat dukungan Barat kecuali dua negara besar saja yaitu Rusia dan RRC dalam kancah politik internasional. Padahal sebelum Revolusi Iran adalah boneka Barat, pasca Revolusi 1979 mereka menghadapi masa suram dalam perang 8 tahun melawan Irak yang didukung oleh Barat dan negara-negara monarchy Arab. Setelah itu pun mereka menghadapi sangsi-sangsi unilateral oleh negara-negara Barat yang semakin berat hingga sangsi-sangsi internasional oleh PBB dimana negara-negara Barat ada dibaliknya. Sungguh menakjubkan perjuangan dan semangat bertahan hidup bangsa Iran. Sangat jauh dengan perjuangan dan kekuatan bertahan bangsa Indonesia. Di masa Orde Lama, negeri yang subur dan kaya sumberdaya alam ini menikmati dukungan politik dan militer dari Uni Soviet hingga dirintisnya teknologi roket.

Monumen Roket Kartika I

Pada 22 September 1962 dibentuk Projek Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA) afiliasi AURI dan ITB yang dipimpin Boediardjo dan J Salatun. Tonggak sejarah awal ini ditandai dengan peluncuran roket ilmiah seri Kartika pada tahun 1964. Roket Kartika I merupakan roket sounding kedua di negara Asia-Afrika saat itu, sesudah Jepang. Alat telemetrinya yang kedua sesudah India, berhasil merekam sinyal-sinyal dari satelit cuaca TIROS dengan alat buatan dalam negeri. Roket Kartika I diluncurkan dari pamengpeuk dengan berat 220 kg, roket Kartika II berbobot 66,5 kg dan berjarak tempuh 50 km. Setelah Orla tumbang digantikan Orba, fokus teknologi dirgantara sangat condong dengan industri pesawat terbang dengan hadirnya BJ Habibie di dekade 1970-an. Perkembangan teknologi luar angkasa berjalan terseok-seok. Kini negara Asia yang sangat maju dan intesif mengembangkannya adalah Jepang, RRC, dan India. Saat ini telah disusul Iran dan sangat besar kemungkinannya adalah Pakistan. Bahkan RRC memiliki program taikonot untuk menempatkan ilmuwan China ke angkasa luar.Mereka pada tahun 2008 berhasil menempatkan 3 awak dengan kapsul Shenzhou VII di luar angkasa dan Zhai Zhigang adalah taikonot pertama mereka dengan melalukan spacewalk pertama selama 20 menit. Menjadikan RRC sebagai negara keriga di dunia yang berhasil menempatkan manusia di luar angkasa setelah Soviet/Rusia dan Ameika Serikat.

Seandainya Indonesia konsisten mengembangkan teknologi roket luar angkasa tidaklah mustahil kini bisa sejajar dengan negara-negara tersebut. Bahkan teknologi roket sangat strategis dalam sistem pertahanan dan efek deterrent besar karena dengan mudah diubah untuk fungsi militer menjadi rudal balistik jarak jauh dan mengganti payload dengan hulu ledak. Efek deterrent jauh lebih besar dari pada pesawat tempur. Sayang, harapan itu hingga sekarang masih dalam taraf perintisan sejak hampir lima puluh tahun yang lalu. Masih berkutat dengan proyek ekperimental meski diakui semakin melangkah maju. Baru kemudian pada tahun 1987, Indonesia melalui LAPAN kembali membuat roket yang diberi nama RX-250 LPN. Roket ini merupakan roket berbahan bakar cair dan padat dengan berat 300 kg memiliki panjang 5,30 meter berdaya jangkau 70 km.

Peluncuran Roket Percobaan LAPAN akhir 2010

Terakhir Lapan telah berhasil meluncurkan roket eksperimental RX-320 pada 30 Mei 2008 dan RX-420, 2 Juli 2009, yang dilaksanakan di Stasiun Uji Terbang Pamengpeuk, Jawa Barat. Itu mendekati fase akhir untuk peluncuran RPS (Roket Pendorong Satelit). Roket tersebut merupakan roket pendorong satelit bertingkat empat yang disebut dengan Roket Pendorong Satelit (RPS)-420 dan direncanakan bisa diluncurkan 2014. Stasiun peluncuran akan dibangun di pulau Enggano yang lebih representatif daripada di Pamengpeuk Garut Jabar. Saat ini ilmuwan Indonesia telah mampu membuat satelit mikro TUB-SAT mekerja sama dengan Universitas Teknologi Berlin. Satelit mikro pertama bernama LAPAN-A1 telah diluncurkan pada 2007 dengan roket India di stasiun peluncuran Shriharikota. Kapan ya Indonesia berhasil menembus angkasa luar?

%d blogger menyukai ini: