Tag Archives: F-35

Singapura mendekap F-35, Malaysia mendekat PAKFA?

2 Apr

image

F-35 Lightening II, proyek pesawat tempur generasi kelima yang dipandega AS pada tahap mengarah ke manufaktur akhir dan pengiriman ke negara pemakai. Hanya sedikit negara yang mendapat akses teknologi canggih tersebut. Di kawasan Asia di antaranya Jepang, Singapura, Australia, dan Israel. Negara yang bisa membelinya tentu akan menjadikan angkatan udaranya menjadi elit dan disegani. Teknologi pesawat tempur siluman merupakan teknologi terbaru. Semua negara kuat berlomba menciptakannya karena dinilai sebagai faktor kunci keunggulan kekuatan udara terkini dan untuk beberapa dekade ke depan. Dua dekade sebelumnya, cuma AS yang bisa mampu memproduksi pesawat tempur dengan teknologi siluman, F-117 Nighthawk dan B-2 Spirit. Seiring evolusi teknologi, F-117 telah digantikan dengan pesawat yang lebih maju oleh F-22 Raptor. Pesawat tersebut eksklusif digunakan oleh AU AS untuk peran keunggulan udara, tidak untuk diekspor. Melalui kerjasama pendanaan, diproduksi pesawat tempur baru yang berkarakter multi-peran yaitu F-35 Lightening II. Setelah melalui berbagai tahap pengujian berliku dan molornya jadwal produksi akhir menyebabkan biaya membengkak. Namun negara sekutu AS tetap memandang pesawat siluman sebagai aset yang vital dan strategis. Di kawasan Asia  yang sangat dinamis perkembangan ekonomi, perdagangan dan geopolitik strategis mendorong banyak negara memburu teknologi pertahanan kunci. Jepang dan Australia sangat membutuhkan F-35 sebagai strategi mengimbangi kemajuan RRC yang dirasa ekspansif. Demikian pula Singapura, sebagai negara kota yang dikelilingi dua negara besar menitikberatkan kekuatan militernya pada keunggulan teknologi pertahanan.  Menjadikan Singapura di kawasan Asia Tenggara sebagai negara yang paling kuat dalam hal perangkat keras militer saat ini. Demi mempertahankan keunggulan tersebut, Singapura berambisi memperoleh 12 unit pesawat tempur siluman F-35. Lumrah di satu kawasan untuk saling mengimbangi kemajuan teknologi pertahanan satu sama yang lain. Seperti hanya ketika Singapura memiliki tank kelas berat MBT dari Jerman, Leopard 2SG, akhirnya mendorong Malaysia membeli tank kelas berat dari Polandia (PT-91 Twardy). Berantai mempengaruhi Thailand yang mencari tank kelas berat dari Ukraina (T-84 Oplot) dan Indonesia mendatangkan Leopard 2 A4 dan Leopard 2Ri dari Jerman. Kepemilikan pesawat tempur kelas berat F-15 dengan rudal udara kategori BVRAAM (Beyond Visual Range Air to Air Missile) dari AS (rudal AIM-120 AMRAAM) memicu negara Malaysia, Indonesia, dan Vietnam membeli pesawat tempur sekelas dari Rusia yakni SU-27/30 dengan rudal BVRAAM berupa R-77 Vympel atau AA-12 Adder.

image

Rencana pengadaan pesawat tempur F-35 oleh Singapura tentu mempengaruhi perimbangan kekuatan militer di kawasan Asia Tenggara. Kentara Malaysia menunjukkan ketertarikannya terhadap pesawat tempur Sukhoi T-50 PAK FA Rusia yang tengah uji produksi dan turut didanai India untuk tipe FGFA. Negara ketiga yang turut mengembangkan pesawat tempur siluman adalah RRC, meskipun berbagai analis memperkirakan realisasinya akan jauh lebih lama dibandingkan PAK FA Rusia, apalagi jika dibandingkan F-35. Jika Singapura telah memiliki F-35 dan Malaysia mendapatkan PAKFA, bagaimana dengan Indonesia? Berkaca dari pengalaman akses teknologi yang biasanya ketinggalan dibandingkan Singapura dan Malaysia, tidak seharusnya menjadikan Indonesia berkecil hati. Keunggulan perangkat keras tidak serta merta menjadikan angkatan bersenjata negara bersangkutan menjadi superior. Kemampuan memainkan peran diplomasi dan politik strategis bisa menghasilkan keuntungan yang tidak terduga. Bagaimana Rusia bersedia menjual rudal Yakhont berdaya jangkau 300 km untuk kapal perang AL Indonesia bisa mencerminkan perihal itu. Rudal Yakhont versi kapal perang tidak dijual sembarangan. Sedikit negara Asia seperti Indonesia yang dipercaya, Syria dan Vietnam mendapatkan rudal Yakhont versi pertahanan pantai (Bastion).  Meski Malaysia dan Vietnam mencoba mendapatkan rudal setara Yakhont produksi bersama Rusia-India yaitu rudal Brahmos yang multi platform. Jika Indonesia berminat mendapat pesawat tempur siluman pasti pilihannya tinggal dua yakni FGFA Rusia-India atau PAK FA Rusia. Meski PAK FA ditujukan hanya untuk memenuhi kebutuhan AU Rusia sendiri. Kemungkinan peluang ekspor adalah FGFA versi Rusia. Pesawat tempur FGFA yang produksi bersama India-Rusia selain untuk menyuplai AU India dan AU Rusia juga ditujukan ekspor tapi berbeda karakter sesuai kustomisasi masing-masing. Tidak menutup kemungkinan akses ke pesawat tempur siluman RRC walau diprediksi sebagai platform penelitian belaka. RRC sangat berhasrat mengembangkan teknologi pesawat tempur siluman dengan membuat dua jenis purwarupa. Purwarupa pertama J-20 dibuat oleh pabrikan Chengdu yang diperkirakan berperan sebagai penyerang jarak jauh. Purwarupa kedua dihasilkan pabrikan Shenyang dengan J-30. Diduga J-30 diranjang untuk beroperasi dari kapal induk dengan watak tugas segala-peran (multirole) mirip F-35. Kalau ke F-35 sangat kecil peluangnya mengingat Indonesia bukan lingkaran dalam AS yang sangat bergantung langsung kepada payung AS baik secara ekonomi maupun politik dan militer. Seperti halnya Singapura, Australia, Jepang, terlebih Israel. Di samping itu, Indonesia harus memperkuat soft skill pertahanan, tidak semata-mata mengejar hard skill berupa perangkat keras. Ini menjadi isu yang luas dan mendalam. Bagaimana meningkatkan kecintaan terhadapa tanah air terutama bagi generasi muda, memperluas komponen cadangan nasional misalkan penggolongan wajib militer. Menjaga pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kemakmuran di samping mencegah kebocoran anggaran. Kekuatan ekonomi yang mumpuni bisa menjadikan posisi Indonesia dinilai penting oleh berbagai negara kuat di penjuru dunia sehingga mereka akan ikut terancam jika Indonesia mendapat ancaman, baik dari dalam terlebih dari luar negeri. Dengan posisi strategis secara politik, kuat perekonomian dan ditopang penguasaan teknologi pasti pelan tapi pasti teknologi pertahanan dari negara maju bisa diakses bahkan produksi bersama ataupun sharing komponen. Mengingat saat ini hampir mustahil satu negara sepenuhnya memproduksi sendiri semua kebutuhan teknologi pertahanannya.

Iklan
%d blogger menyukai ini: