Tag Archives: Bebasnya Kapal Nuklir

Bebasnya Kapal Nuklir (Trilogi Novel) I.2

17 Sep

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab II: Pralaya Teluk Benggala

Malam masih larut, 3 unit pesawat pembom raksasa B-29 Superfortress mesinnya menderu-deru di landasan pacu jalur utara pangkalan udara pulau Tinian, sebelah selatan pulau Saipan, Pasifik Barat. Tinian merupakan pangkalan Wing Pembom Ke-313 AU AS. Sekaligus menampung Group Campuran Ke-509 di mana ketiga pesawat pembom B-29 tersebut bernaung. Pesawat pertama sebagai leader dikomandani Kol. Tibbet berjuluk Enola Gay, pesawat kedua dan ketiga sebagai wingman dipimpin Mayor Charles W. Sweeny dan Kapten George Marquardt. Mereka heading ke arah Iwojima pada ketinggian 2.440 meter dpl kemudian berpencar. Rendezvouse ditetapkan dekat kepulauan Jepang pada ketinggian 9.855 meter dpl menuju Hiroshima. Perjalanan sejauh itu ditempuh selama enam jam. Setengah jam sebelum sampai di sasaran, Letda. Morris Jeppson telah menyingkirkan kunci pengaman sehingga bom yang bersandi Little Boy menjadi aktif . Pesawat perintis yang menyurvei kota Hiroshima mengirim sandi clear untuk cuaca. Sejam sebelumnya radar AU Jepang di Hiroshima mendeteksi kedatangan rombongan pesawat pembom itu. Sirine tanda bahaya serangan udara meraung-raung di seantero kota menyebabkan penduduk berduyun-duyun  menuju tempat-tempat perlindungan. Lamat-lamat makin jelas di radar, rombongan pesawat tadi cuma berjumlah 3 unit pembom. AU Jepang batal menerbangkan skuadron buru sergap dan sekedar menyiagakan meriam penangkis serangan udara demi menghemat armada pesawat tempurny beserta di tengah minimnya suplai bahan bakar. Sirine tanda bahaya serangan udara sudah berhenti berbunyi. Seluruh penjuru kota menjadi hening tanpa bunyi. Tepat jam 08.15 pagi hari, bom Little Boy dilepaskan dari cantolannya. Ketiga pesawat kemudian mengambil kecepatan penuh meninggalkan lokasi pada ketinggian 9.470 meter dpl. Mereka telah berada sejauh 18,5 km dari titik jatuhnya Little Boy dan menyaksikan awan cendawan raksasa membumbung ke langit setelah bom tersebut meledak dan menimbulkan reaksi fisi atom menelan kota Hiroshima. Lebih dari seratus ribu penduduk kota Hiroshima tewas.

Thoha tersentak dari mimpi buruknya dan terbangun dari tidurnya, dilihatnya sekeliling hari masih gelap, hari kesembilan pelayaran. Bulir-bulir peluh sebesar biji jagung bergulir dari dahi dan lehernya. Goyangan kapal terasa menguat, tiba-tiba dia terjatuh dari ranjang akibat ayunan kapal yang keras. “Ada apa ini?” gumamnya. Di tengah goyangan kapal yang tidak beraturan, Thoha segera bergegas menuju anjungan kapal dengan masih mengenakan celana pendek biru dan kaos dalaman putih.

“Cuaca sangat buruk, Kapten. Kita di dalam badai,” teriak Ari Sigit, Mualim II yang berjaga malam begitu melihat Thoha datang tergopoh-gopoh dari kabin nakhoda.

“Berapa kecepatan angin?” tanya Thoha.

“Bisa mencapai lebih dari 90 km per jam” jawab Sigit.

Thoha melihat keluar kaca dan tampak gulungan ombak besar setinggi  sekitar 3 meter datang menerjang lambung kiri kapal hingga kapal bergeser miring.

“Nyalakan tanda bahaya. Semua ABK harus berjaga sekarang juga sampai badai reda,” perintah Thoha.

Sigit segera menghampiri knop emergency, tombol besar warna merah dan menekannya disusul suara sirine tanda bahaya bertalu-talu membahana di seluruh penjuru kapal. Semua perwira kapal di kabin perwira berhamburan menuju dek anjungan. Demikian juga semua orang yang tidur di kabin ABK berlarian menuju masing-masing stasiun menyusul rekannya yang bergilir shift malam.

Baca lebih lanjut

Iklan

Bebasnya Kapal Nuklir (Trilogi Novel) I.1

16 Sep

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab I: Kiriman Paket Speedboat

Jam tangan menunjukkan pukul empat pagi, masih dingin buat bangun. Namun Thoha memaksa badannya segera beranjak dari ranjang mess pelabuhan. Pria berumur empat puluh lima tahun ini hendak mempersiapkan diri sembayang subuh dan mengecek perbekalannya. Jam enam nanti Thoha akan menakhodai kapal barang berlayar jauh menuju Rotterdam, pelabuhan besar Eropa, Belanda tepatnya. Usai sholat subuh dengan sebagian tubuh masih basah bekas usapan air wudlu, Thoha mengangkat ponsel menghubungi Sri Ajeng, istrinya asal Malang yang tinggal di Surabaya. Sebuah kebiasaan yang berlangsung selama delapan belas tahun, selalu menghubungi istri tercinta sebelum kapal berangkat berlayar.

“Halo. Assalamu’alaikum, Mama.”

“Wa’alaikumsalam,  Papa. Baik-baik ajakah Papa. Di mana Papa sekarang?”

“Papa dalam kondisi baik saja. Sekarang ada di pelabuhan Polewali. Dua jam lagi Papa akan berlayar menuju Rotterdam Belanda mengantar barang. Doakan Papa mudah-mudah perjalanan ini lancar tanpa hambatan.”

“Iya Pa. Doaku selalu menyertaimu.”

“Bagaimana dengan Luna? Masih rajin sekolah?”

“Putri Papa habis ujian semesteran. Dia bilang dapat pacar lain fakultas kedokteran.”

“Tolong tetap diawasi dia Ma. Ayah khawatir dengan pergaulan anak muda sekarang. Meski aku banyak memberi nasihat lewat email maupun hpnya. Salam kangen buat keluargaku. Aku senantiasa rindu berkumpul dengan Mama dan Luna.Tapi demi mencari rezeki yang halalan thoyiban, apa boleh buat ada sesuatu yang harus kukorbankan.”

“Mama juga selalu rindu dengan suamiku.”

“Cintaku, sayangku, jaga diri baik-baik. Papa mau berangkat kerja.”

Tak lama kemudian dia meluncur dari mess pelabuhan Polewali ke dermaga tempat kapal MV Sinar  Emas merapat dengan mengendarai sebuah Landrover Defender tua inventaris perusahaan tambang raksasa dunia, Rio Tinto. Lokasi tambang Rio Tinto sendiri berjarak 200 km dari Polewali sebelah barat gunung Rantemario. Jam enam pagi lebih sedikit, dua puluh tujuh awak kapal MV Sinar berkumpul di ruang kendali kapal. Mereka dikumpulkan oleh Abdullah Thoha sebagai kapten kapal dengan tujuan dibriefing sebelum berangkat dan mempererat kerjasama sekaligus persaudaraan di antara orang-orang yang bekerja di dalam kapal ini. Selama lebih dari dua bulan mereka akan bekerja dan hidup bersama di atas kapal sumber nafkah hingga balik ke tanah air dan kembali berkumpul bersama keluarga masing-masing. Dalam pagi yang masih sejuk, dalam posisi berdiri sikap istirahat membentuk setengah lingkaran, Thoha memulai briefingnya, “Selamat pagi, rekan-rekan.”

“Selamat pagi. Kapten,” balas para awak kapal.

“Setengah jam lagi kita akan berangkat berlayar menempuh perjalanan panjang. Sebelumnya kita biasa mengirim bijih tambang ke Jepang. Kali ini kapal memuat sepuluh ribu ton limonit nikel dengan tujuan pelabuhan Rotterdam Belanda. Tolong tetap menjaga kesehatan dan tetap solid di antara rekan-rekan. Karena kita satu-satunya yang ada dalam kapal ini selama lebih dari dua bulan hingga kita pulang. Jaga komunikasi selama perjalanan. Jangan bertindak sendiri-sendiri. Ada pertanyaan?”

“Kita akan lewat rute mana Kapten?” tanya Ahmad Rifai, Mualim I yang berkumis tebal melintang, perokok berat sehari bisa habis 4 pak rokok filter. Dia sudah berkeluarga, asal Bengkulu, berusia 29 tahun.

“Kita mendapat instruksi dari kantor pusat Jakarta dengan rute Terusan Suez, tidak diperkenankan singgah di pelabuhan mana pun selain pelabuhan Rotterdam. Itu ditempuh sekitar 34 hari jika perjalanan lancar dan mesin kita dalam kondisi fit. Pasaribu, apakah sudah selesai persiapan mesin kapal?” selidik sang nakhoda kepada Busar Pasaribu, Masinis Kepala bertubuh besar kekar berusia sepertiga abad asal Tarutung, tidak pernah merokok sejah dari kecil.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: