Tag Archives: Bebasnya Kapal Nuklir

Bebasnya Kapal Nuklir (Trilogi Novel) I.7

30 Sep

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab VII : Penjara Terapung

Ufuk fajar di timur mulai merekah, semburat cahaya jingga muncul dari balik cakrawala. Thoha sibuk membangunkan ABK untuk sholat berjamaah dengan mengguncang-guncang pundak dan mengusap wajah mereka.

“Ayo bangun. Waktu sudah Shubuh.”

Rifai membuka kelopak matanya, menguap terus bangun duduk.

“Kapal sudah tidak bergoyang-goyang lagi Kapten. Sudah tidak berlayar lagi. Apakah kita sudah sampai di Ras Kamboni?”

“Mungkin ada yang mereka tunggu. Harusnya sudah mendarat di Ras Kamboni. Bertayamum dulu, kita semua sholat Shubuh secara jamaah.”

Para awak kapal bergegas bertayamum dan berkumpul di tengah kabin.  Anwar mengumandangkan adzan dan iqamat, Thoha tampil ke depan menghadap ke utara arah kiblat.

Fajar telah usai menyingsing, Thoha kembali bekerja menggantikan mualim malam. Dia naik ke dek anjungan dengan dikawal sejumlah perompak. Dia duduk-duduk menunggu perintah Abu Nidal sambil mengamati situasi sekitar dari ketinggian dek anjungan. Posisi kapal lego jangkar beberapa ratus meter dari bibir pantai, sebelah utara tanjung Kamboni. Pantai landai berwarna coklat cerah yang hampir tidak ada pohon, cuma semak belukar, banyak dihiasi tebing bebatuan cadas berwarna gelap kecoklatan. Dermaga yang ada tidak sanggup menampung kapal dengan draught yang dalam. Dengan mata telanjang tampak di pantai dengan pasirnya memanjang dan sejumlah kapal-kapal kecil bermotor. Tak jauh di kanan kapal MV Sinar Emas ada sebuah kapal tanker berbendera Panama. Thoha menduga kapal tanker itu juga merupakan korban perompakan. Ada satu dua kapal motor yang bergerak dari pantai mendekati MV Sinar Emas. Kemudian mereka merapat di lambung kanan dan menaikkan sejumlah karung barang bahkan beberapa ekor kambing. Setelah agak lama menunggu muncul Abu Nidal di ruang dek anjungan.

“Bagaimana keadaanmu, Kapten Thoha?” sapa Abu Nidal.

“Saya sehat wal afiat, Tuan Nidal. Apakah itu adalah tanjung Kamboni?” balas Thoha.

“Betul. Di situ terletak kota Ras Kamboni. Tapi sementara kita tidak mendarat ke sana melainkan bertahan di sini. Jadi tugas Kapten Thoha sekedar membersihkan geladak dan merawat mesin. Kapal tidak akan berlayar hingga tebusan dikirimkan.”

“Kapan perintah pengiriman tebusan diberikan?”

“Tunggu saja hingga aku putuskan. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Area dropping zone sedang dipersiapkan.”

“Bagaimana nasib anak buahku. Hari ini kami sudah tidak memiliki makanan. Saya menolak bekerjasama jika Tuan membiarkan kami mati kelaparan.”

“Jangan kuatir, Kapen Thoha. Makanan tetap aku sediakan. Orangku telah menaikkan persediaan bahan makanan. Makan dua kali sehari, sekali makan tiap orang anda mendapat sepotong roti canjeero dan segelas air minum. Saya rasa itu sudah mencukupi buat kalian, sekedar menahan lapar dan dahaga,” ujar Abu Nidal sambil membetulkan letak sarung pistol Tokarev di pinggang kanannya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Bebasnya Kapal Nuklir 6 : Anjing Berebut Tulang

23 Sep

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab VI : Anjing Berebut Tulang

Setelah menyusuri garis lintas selatan sejauh empat derajat dari khatulistiwa selama dua hari, MV Sinar Emas mencapai akhir rute ketiga. Stamina Kapten Thoha dan anak buahnya makin menurun akibat jatah bahan makanan maupun air minum yang diberikan oleh perompak dikurangi secara drastis. Meskipun dalam situasi yang sangat terjepit, Kapten Thoha berusaha bertahan dan terus-menerus membangkitkan semangat hidup anak buahnya. Pada pagi hari di mana rute ketiga berakhir, Kapten Thoha bertugas di dek anjungan, berdirinya sudah tidak setegak hari-hari sebelumnya.

“Hari ini kapal sudah berada di posisi yang Tuan kehendaki. Saya belum tahu kemana Tuan Nidal akan menuju. Bahkan tujuan akhir kapal ini pun masih anda rahasiakan. Sementara kondisi anak buahku semakin melemah akibat kalian batasi asupan makan kami,” keluh Thoha kepada Abu Nidal.

“Makanan yang ada di kapal tidak cukup lagi untuk makan kenyang, Kapten Thoha. Jangan takut, sebentar lagi kita membuat rute keempat, rute terakhir. Arahkan kapal ke arah barat laut masuk ke perairan pesisir Somalia. Nanti kapal akan bertemu dengan tanjung Kamboni, ambil sisi utara tanjung. Di utara kota Ras Kamboni kapal akan melempar jangkar. Di sana ada banyak persediaan makanan,” jawab Abu Nidal.

“Kami tidak sanggup lagi mengoperasikan kapal ini juga aku dan semua anak buahku. Saya mohon Tuan Nidal tambah jatah makanannya?” pinta Thoha mencoba bernegosiasi.

Dahi Abu Nidal berkenyit tanda sedang berpikir memutuskan sesuatu perkara.

“Baiklah Kapten Thoha jika itu permintaanmu. Tapi tidak semua anak buahmu, cuma engkau dan juru mudi serta kelasi mesin yang bertugas saja,” ujar Abu Nidal tanpa bisa ditolak Thoha.

Abu Nidal menoleh kepada Okocha Osama dan memberi perintah, “Osama, kasih Kapten Thoha beserta juru mudi dan kelasi mesinnya masing-masing sekerat roti canjeero dan segelas air minum. Selesai makan aku harap Kapten Thoha segera melaksanakannya. Jika kapalmu bergerak dengan kecepatan jelajah sepuluh knot, kita akan sampai di kota Ras Kamboni sebelum matahari terbit.”

Osama membuka kantung kain kemudian memberi Kapten Thoha sekerat roti cajeero, makanan pokok orang Somalia, mirip kue serabi kering terbuat dari tepung gandum dengan ragi. Thoha memecah sekerat roti canjeero jadi dua potong, memasukkan sepotongnya ke kantung bajunya dan memakan sepotong yang lain. Dengan lahap dia mengunyah roti itu meski rasanya asing bagi Thoha.

Hari semakin terik matahari sepenggala, ABK lainnya yang tidak bekerja berdiam diri di kabin ABK yang sekaligus penjara bagi mereka. Pasaribu, Anwar, dan Rifai duduk bersiap makan di tengah ruang  dikelilingi ABK lainnya.

Anwar membuka pembicaraan, “Sesuai instruksi Kapten Toha, kita harus semakin menghemat makanan. Persediaan kita hampir habis, air minuman mineral dalam kemasan berhasil mereka temukan dan disita semua. Tinggal dua botol dua literan yang aku miliki. Beras sudah dua hari yang lalu tidak diberikan, masih ada satu kardus mie instan dan satu toples sosis daging sapi. Aku putuskan masing-masing mendapat sepotong sosis yang harus dipotong dua, separo untuk makan sekarang dan separonya lagi untuk makan malam nanti. Untuk minum setiap orang hanya berhak atas air sebanyak satu tutup botol kemasan air mineral ini. Jika semua sudah habis, saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Makanya setiap orang harus disiplin tentang pembagian ini. Berdoalah sebelum makan.”

“Mau diapakan mie instannya?” tanya Pasaribu.

“Buat cadangan terakhir kita. Barangkali sebagai makan terakhir kita,” jawab Anwar sambil menelan ludah.

“Apakah nasib kita akan berakhir di sini.”

Baca lebih lanjut

Bebasnya Kapal Nuklir 5 : Jalan Tikus

21 Sep

Pelayaran Gila Maut

Bab V : Jalan Tikus

Matahari beranjak naik, hari mulai siang namun awak yang disekap di kabin belum ada tanda-tanda diberi makan siang. Awak kapal berwajah kuyu sebab kurang tidur. Terdengar derit pintu kabin dibuka, masuk seorang anggota perompak bersenjata senapan Dragunov.

“Kapten Thoha, kini kami beri kesempatan satu orang di antara kalian memasak di dapur untuk makan kalian sendiri. Jatah memasak cuma sekali dalam satu hari. Ingat, jangan macam-macam!” ancam si perompak berkulit hitam legam.

Thoha menoleh ke Jamil dan berkata dengan lemah, “Jamil, kamu ikuti mereka ke dapur. Siapkan makan kita. Sekaligus amati kondisi sekitar dan jumlah anggota perompak, periksa persediaan logistik kita di gudang dapur.”

“Baik, Kapten.”

Jamil bangkit dari duduknya, berjalan keluar dikawal empat orang perompak bersenjata lengkap. Begitu sampai di dapur disaksikannya ruangan kotor berantakan, bekas dipakai juru masak perompak tanpa mau membereskan. Jamil cuma bisa bisa menghela nafas panjang menyesalinya. Dia sudah sangat lama bekerja di kapal sebagai juru masak, begitu telaten dan rapi merawat dapur beserta perlengkapannya. Jamil sangat mencintai profesi yang memberi nafkah bagi dirinya. Setiap bulan ia pasti mengirim sebagian gaji ke rekening orangtua.

“Cepat engkau kerjakan masakanmu. Bereskan dapur kalau sudah selesai. Jangan membuat gerak-gerik yang mencurigakan. Kamu mengerti?” hardik seorang perompak.

“Baik, Tuan. Saya paham,” jawab Jamil.

Pengawal Jamil beranjak melangkah di seberang pintu dapur, mereka asyik mengobrol sambil menikmati rokok kretek. Jamil mengecek stok logistik bahan makanan di dapur dan gudang serta persediaan air. Dengan cekatan dia menanak nasi dan membuat sayur oseng-oseng yang tidak cepat basi agar cukup untuk dua puluh satu orang awak kapal dalam satu hari. Lebih dari satu jam waktu yang dihabiskannya di dapur. Setelah selesai mencuci perlengkapan memasak dan merapikan dapur, Jamil memasukkan masakan ke dalam wadah ransum.

“Tugas saya sudah selesai, Tuan,” ucap Jamil kepada penjaganya.

“Lekas pergi. Bawa makananmu dan kembali ke kabin.”

Dengan dijaga empat orang kawanan perompak, Jamil berjalan keluar dapur menuju kabin ABK. Di dalam kabin tersebut, Thoha tengah merawat luka di dahi Bejo akibat sodokan popor.

“Aduuh, perih sekali,” Bejo mengerang kesakitan ketika Thoha mengusapkan larutan antiseptik pada lukanya.

“Tidak apa-apa, supaya lukanya tidak infeksi dan lekas kering,” hibur Thoha.

Jamil melangkah masuk kabin menghampiri Thoha, kedua tangannya membawa wadah makanan.

“Ini makanan kita, Kapten.”

“Mari kita semua duduk di lantai, makanan dibagi rata. Ingat dibagi dua, separuh dimakan sekarang dan sisanya dimakan sore nanti,” ujar Thoha kepada anak buahnya.

Mereka dengan lahap menyantap sarapan sekaligus makan siang di hari itu. Sambil makan, Thoha bercakap-cakap dengan Jamil.

Baca lebih lanjut

Bebasnya Kapal Nuklir (Trilogi Novel) I.4

20 Sep

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab IV : Menunggu Godot

MV Sinar Emas melaju dengan kecepatan jelajah sepuluh knot membelah Laut Laccadive. Kapal itu melintasi pulau-pulau Lakshadweep, wilayah barat daya India. Siang itu sangat panas menyengat, Rifai dan Thoha berjaga di dek anjungan sambil minum jus alpukat dingin. Peluh bercucuran tapi keduanya tetap riang dan optimis, sekali-sekali meneropong ke depan dengan teleskop binokuler.

“Kita  berada dua ratus mil laut dari pelabuhan Cochin, distrik Kerala. Lihat pulau-pulau kecil Lakshadweep itu, Kapten,” ujar Rifai sambil menunjukkan jari telunjuknya kagum dengan keindahan alamnya.

Kepulauan Lakshadweep memang memiliki panorama pantai dan laut yang sangat indah. Pemerintah New Delhi gencar mempromosikan sebagai tujuan turisme internasional. Bahkan pantai di Kavaratti, ibukota pemerintahan distrik Lakshadweep, juga memiliki pantai yang begitu elok. Menawarkan kegiatan turisme scuba diving dan snorkelling, mengayuh kano dan kayak, atau ski air.

“Aku perkirakan nanti malam kita sudah memasuki Laut Arab,” sahut Thoha.

“Itu sama dengan memasuki wailayah kekuasaan perompak Somalia,” Rifai bergidik.

Bagaimana tidak bisa keder, ratusan kapal niaga dari berbagai negara berhasil dirompak para lanun asal Somalia termasuk kapal MV Sinar Kudus dan MT Gemini yang banyak diawaki pelaut asal Indonesia. Iming-iming omzet jutaan Dollar dalam waktu sekejab membuat para pemuda pengangguran berbondong-bondong memilih perompak sebagai profesi mereka. Maraknya profesi perompak di Somalia tidak lepas dari tidak adanya kekuasaan pemerintahan yang efektif di negeri itu. Perang saudara yang berkepanjangan, campur tangan asing seperti intervensi Ethiopia dan negara adikuasa menimbulkan perpecahan yang sulit disatukan. Kemiskinan dan kelaparan menghantui setiap jiwa di Somalia. Bukan karena mereka tidak mampu mencari nafkah namun situasi dan kondisi di sana memupus upaya setiap orang untuk mencari sesuap makan. Bahkan demi mencari sejumput bantuan pangan PBB pun, mereka kesulitan. Hanya elit dan komandan perang lokal yang bisa makan kenyang.

“Kamu takut, Rifai?” gertak Thoha membuyarkan lamunan Rifai.

“Jangan resah, dari semula sudah ditekankan direksi kantor pusat bahwa kita akan dikawal kapal perang NATO begitu memasuki Laut Arab. Perompak Somalia pasti lari terbirit-birit jika bertemu kapal perang NATO,” sambung Thoha meyakinkan Rifai.

Rifai pun hanya manggut-manggut tanda setuju. Tangan kanannya kembali meletakkan teleskop di depan wajahnya, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

“Lihat Kapten, sepertinya ada helikopter mendekat dari arah pukul satu.”

Dengan kedua tangannya,Thoha bergegas menyorongkan teleskopnya ke arah jam dua seperti yang dikatakan Rifai.

“Itu sepertinya heli angkatan laut. Mungkin kepunyaan angkatan laut India” kata Thoha.

Lamat-lamat helikopter makin mendekat dan makin jelas, efek Doppler suara mesin heli makin kentara. Helikopter itu terbang rendah melintas di atas kapal MV SinarEmas. Sejumlah awak kapal sedang bertugas di luar melongok ke atas tatkala helikopter berwarna biru abu-abu gelap lewat.

“Itu heli Panther buatan Eurocopter,  bukan milik angkatan laut India. Lihat simbol di badan samping heli, bintang biru penuh seperti di bendera Israel. Itu heli angkatan udara Israel,” seru Rifai.

“Mungkin dia menuju ke pangkalan angkatan laut India di Cochin. India kan punyai kerjasama militer dengan Israel,” sahut Thoha mengira-ngira.

Helikopter itu terbang rendah kurang dari 100 kaki dari permukaan laut menjauh ke arah buritan kapal, semakin lama tampak semakin mengecil hingga hilang di balik cakrawala.

Baca lebih lanjut

Bebasnya Kapal Nuklir 3 : Tatapan Agen CIA

19 Sep

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab III: Tatapan Agen CIA

helikopter evakuasi medis

Pada pelayaran hari kesebelas, kapal MV Sinar Emas mencapai Lautan Hindia sisi tenggara pulau Ceylon yang bernegara Sri Lanka. Cuaca mendung, angin bertiup cukup kencang, matahari tertutup awan namun tidak hujan. Rifai dan Thoha mengamati horizon depan memakai teleskop binokuler dari dek anjungan, hari belum beranjak siang.

“Hari yang kurang menyenangkan. Masih adakah badai menghadang, topan menerjang?” ucap Thoha teringat beratnya menghadapi badai di teluk Benggala.

“Meskipun ada badai, posisi kita cukup dekat dengan pulau Ceylon, 100 km dari Pottuvil. Kita bisa berlindung ke sana,” Rifai optimis dengan keberhasilan berlindung di balik pulau kecil.

“Kota itu dekat dengan pantai paling indah di Sri Lanka, pantai teluk Arugam. Surga bagi peselancar dunia,” kenang Thoha.

“Pantai Nias dan Mentawai tidak kalah dengan pantai Arugam. Termasuk lokasi surfing terbaik di dunia, banyak orang bule berselancar di sana,” debat Rifai bersemangat. Sebagai orang Bengkulu tentu dia sangat bangga dengan keelokan tanah Sumatera.

“Besar sekali nasionalisme, realistis dikit ajalah,” balas Thoha dan Rifai pun tertawa.

“Pernahkah Kapten berwisata ke pantai Arugam?”

“Sekali tapi sudah lama, pada awal Desember 2004 sebelum pantai itu terkena tsunami Asia.”

“Ngapain Kapten ke sana? Berselancarkah?”

“Aku diinstruksikan menggantikan nakhoda kapal kargo perusahaan yang bersandar di Colombo secara estafet. Kapal kargo bulking baru yang bertolak dari galangan Yunani, tanpa muatan, singgah ke pelabuhan Colombo karena ada masalah elektrik. Diinspeksi selama dua minggu. Seumur-umur baru sekali ke sana makanya ada waktu senggang aku manfaatkan mengunjungi pantai Arugam, berkendara bus. Tidak lebih karena masa itu kondisi keamanan masih genting di tengah pemberontakan Tamil Eelam di utara. Ngeri juga, siapa tahu tiba-tiba ada bom bunuh diri meledak. Pantai Arugam aman dijaga ketat tentara, banyak juga orang bule berselancar di sana. Selesai inspeksi, aku membawa kapal kargo itu ke Tanjung Priok. Tapi sayangnya, aku tidak pernah kebagian memegang kapal baru. Nakhoda muda yang selalu diberi kepercayaan memegang kapal baru. Aku selalu dikasih kapal lama hingga saat ini. Ini saja kapal bekas buatan galangan Shanghai.”

Pelabuhan Colombo merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di dunia dengan rata-rata kargo tahunan sebesar 30,9 juta ton. Lokasinya sangat strategis di Lautan Hindia menjadikannya sebagai jalur penting pelayaran internasional, sudah dikenal dari dua ribu tahun yang lalu.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: