Tag Archives: Angkatan Laut

Kritik Sistem Pertahanan Udara Kapal Perang AL Indonesia

22 Apr
Rudal Aster 30 Sea Viper (www.army-technology.com)

Latihan Penembakan rudal yang dimiliki AL Indonesia telah digelar di Samudera Hindia meliputi 3 sistem pertahanan anti kapal dan 2 sistem pertahanan udara kapal. Sistem pertahanan anti kapal berupa misil lawas seri baru asal Perancis, Exocet MM-40 Block II, misil terbaru asal Rusia P-800 Yakhont, dan torpedo bawah air SUT. Rudal permukaan anti kapal Yakhont dinilai lompatan besar persenjataan strategis AL Indonesia dan bisa dianggap sebagai rudal jelajah ringan dengan daya jelajah hingga 300 km. Persejataan ini memberikan efek detterent yang signifikan di kawasan regional, setara dengan ongkos pengadaannya yang lebih dari 1 juta US dollar per unitnya. Melengkapi sistem pertahanan anti kapal jarak menengah Harpoon dan rudal standart korvet kelas Sigma berupa Exocet MM-40 Block II dengan daya jelajah 70 km dan persejataan kapal selam torpedo SUT yang berdaya jelajah hingga belasan km. Namun yang memprihatinkan dan AL Indonesia ketinggalan dari AL regional adalah sistem pertahanan udara kapal perang. Pada kapal perang selain meriam penangkis pesawat juga dilengkapi dengan rudal anti pesawat. Frigat AL Indonesia kelas Van Speijk dan Parchim ada yang bersenjata rudal Perancis Mistral simbad dan rudal Inggris Seacat serta SA N 5 Strela II, kelas Sigma bersenjata rudal Mistral tetral. Semuanya merupakan missil pertahanan anti serangan udara jarak pendek sekitar 5 km dan berpandu pasif infared. Platform Tetral lebih modern, konsol otomatis, daripada platform Simbad yang operasi manual berkecepatan supersonik. Sedangkan rudal Sea Cat lebih tua lagi, beroperasi manual terbatas pada obyek subsonik. Korvet kelas Parchim mewarisi platform Strela 2 yang beroperasi manual berkecepatan supersonik. Sebagian dari korvet kelas Parchim sudah dipasang platform Sea Cat, mungkin pengalihan dari korvet bekas AL Inggris kelas Tribal yang sudah tua/decomissioned.

Rudal Aspide (www.defesaglobal.wordpress.com)

Semua rudal anti pesawat jarak pendek tersebut cuma memiliki nilai taktis namun tidak mempunyai nilai strategis. Sementara negara-negara kawasan regional seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, kapal-kapal perangnya telah dilengkapi dengan senjata pertahanan udara kapal jarak menengah atau jarak jauh. Frigat Singapura memiliki persenjataan keluarga  MBDA Aster 15 rudal jarak menengah berdaya jangkau 30 km dan Aster 30 rudal jarak jauh hingga 120 km. Frigat Malaysia dan Thailand dengan rudal Selenia Italy yakni seri Aspide berdaya jangkau hingga 50 km. Frigat Thailand akan dipersenjatai juga dengan rudal Raytheon AS, ESSM II Sea Sparrow terbaru dengan daya jangkau 50-an km berkecepatan lebih dari 4 Mach. Akuisi senjata pertahanan udara kapal perang oleh negara-negara tersebut merupakan langkah strategis menjawab ancaman evolusi rudal anti kapal berbasis pesawat tempur yang berdaya tempuh makin jauh dan makin akurat. Dalam formasi tempur tidak ada pesawat tempur anti kapal yang mendekati kapal hingga 10 km. Kecuali di era 70-an hingga 80-an. Rudal anti pesawat jarak pendek hanya efektif menghadapai helikopter ASW yang kini jarang dipakai selain misi anti kapal selam. Bahkan helikopter khusus anti kapal selam pun tidak dimiliki oleh AL Indonesia.

Rudal RIM-162 Evolved Sea Sparrow Missile ESSM (www.9abc.net)
Iklan
%d blogger menyukai ini: