Arsip | Kesehatan RSS feed for this section

Waspada Usus Buntu

1 Mei

Ada sejumlah rekan yang mengalami appendicitis sehingga harus diangkat appendixnya bahkan ada juga yang meninggal dunia akibat peritonitis setelah pecahnya usus buntu. Peradangan usus buntu (appendicitis) merupakan penyakit pada appendix vermiformis yang mengalami peradangan. Appendix vermiformis, umbai cacing, terletak di bawah caecum, saluran buntu pangkal dari usus besar. Fungsi organ tersebut belum banyak diketahui , sejauh ini berkenaan dengan sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) di mana memiliki/berisi kelenjar limfoid. Caecum sendiri menjadi rumah bagi bakteri baik dalam saluran usus besar. Jaringan mukosa appendix setiap hari menghasilkan mukus yang ditampumh oleh lumen apendix. Karena adanya appendicitis menyebabkan penyumbatan lumen appendix. Posisi appendix pada umumnya berada di titik Mc-Burney, sebuah titik yang pertamakali dipublikasikan tahun 1894 dalam jurnal Ann Surg. Titik tersebut berada pada sepertiga jarak dari SIA (spina iliaca anterior), tonjolan tulang pada daerah kanan depan daerah panggul, ke arah umbilicus (pusar). Gejala appendicitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari anoreksia (nafsu makan berkurang), mual, muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah. Setelah beberapa jam, rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. Jika dengan jari/tangan menekan daerah ini (titik Mc-Burney), penderita merasakan nyeri tumpul (nyeri tekan) dan jika penekanan ini dilepaskan, nyeri bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37,8-38,8? Celsius. Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di semua bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Bila usus buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok. Pemeriksaan darah menunjukan jumlah sel darah putih agak meningkat, sebagai respon terhadap infeksi. Biasanya, pada stadium awal apendisitis, pemeriksaan-pemeeriksaan seperti foto rontgen, CT scan, dan USG kurang bermanfaat karena tidak ada perubahan yang signifikan pada bentuk appendix. Jika radang usus buntunya kronis, maka gejala nyeri perut yang dirasakan ringan atau bahkan hanya merasa mual saja. Namun jika sudah akut, maka akan terasa sakit di ulu hati yang disertai mual dan muntah. Dalam waktu 24 jam biasanya terasa demam dan baru muncul sakit yang menetap pada perut kanan bawah. Untuk radang usus buntu akut, tindakan operasi appendectomy perlu segera dilakukan mengingat adanya kemungkinan pecahnya usus buntu. Usus buntu (appendix) yang pecah bisa menyebabkan masuknya kuman usus ke dalam perut menimbulkan peritonitis  yang bisa berakibat fatal , terbentuknya abses, pada wanita indung telur dan salurannya bisa terinfeksi dan menyebabkan penyumbatan pada saluran yang bisa menyebabkan kemandulan, dan masuknya kuman ke dalam pembuluh darah (septikemia) yang bisa berakibat fatal. Sedangkan untuk usus buntu kronis waktu operasinya masih bisa ditunda tergantung dari kondisi pasien, namun disarankan untuk tidak terlalu lama menundanya.  Memang radang usus buntu terjadi karena ada penyumbatan sisa-sisa makanan yang berupa tinja atau feses. Sisa-sisa makanan dan tinja yang mengeras akan terjebak di lubang rongga sehingga menimbulkan penyumbatan. Penyumbatan ini membuat bakteri atau virus terperangkap di dalam usus buntu sehingga bisa memicu terjadinya infeksi. Konsumsi cabai atau jambu beserta bijinya seringkali tidak tercerna dengan baik, sehingga masuk ke dalam saluran usus buntu sebagai benda asing. Makanya untuk mencegah peradangan usus buntu disarankan sering mengonsumsi makanan berserat seperti sayuran dan buah. Hal ini karena serat yang dikonsumsi bisa membantu proses pencernaan dan mencegah tinja terlalu lama berada di dalam usus dan memicu buang air besar secara teratur.

Iklan

Awas Wabah Hepatitis / Liver

27 Apr

Penyakit hepatitis, ada juga yang menyebutnya dengan liver, kerap berjangkit di daerah kita dengan intensitas yang acak. Kejadian ini tidak mengherankan karena Indonesia adalah negara dengan prevalensi hepatitis urutan ketiga setelah RRC dan India. Diperkirakan penduduk bumi yang mengidap penyakit hepatitis sekitar 360 juta orang dengan angka kematian 350 ribu orang per tahun. Di Indonesia estimasi penderita penyakit hepatitis sekitar 30 juta orang. Hepatitis ada dua kategori akut da kronis. Jenis-jenis hepatitis ada 6 yaitu hepatitis A, B, C, D, E, G. Sedangkan hepatitis jenis F masih dalam perdebatan para ahli.  Hepatitis yang paling banyak berjangkit adalah hepatitis A merupakan kategori akut. Sedangkang lainnya kategori kronik dan bisa meningkat menjadi kanker hati ataupun sirosis yang bersifat mematikan. Sumber penyakit hepatitis berasal dari  lima jenis virus yakni HAV, HBV, HCV, HDV, dan HEV. Yang paling umum menyebar adalah HAV kemudian HBV dan HCV.

Hepatitis A

Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala  sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu, rasa lelah, demam, diare, mual, nyeri perut, mata kuning dan hilangnya nafsu makan. Baik feces maupun urin muncul perubahan, feces menjadi berwarna gelap kehitaman dan urin menjadi berwarna kuning pekat dan keruh. Tanda bahwa bilirubin yang diproduksi kantung empedu telah masuk ke sistem peredaran darah. Mata kuning (ikterus atau jaundice) merupakan gejala khas penyakit hepatitis sehingga orang menyebutnya juga dengan sakit kuning. Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Orang yang terinfeksi hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut. Berbeda dengan hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak berlanjut ke hepatitis kronik. Masa inkubasi sekitar 30 hari. Penularan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feces pasien, misalnya makan buah-buahan, sayur, ikan yang tidak dimasak atau maka yang setengah matang. Minum air dan produk turunannya yang prosesnya terkontaminasi atu air sumbernya telah terkontaminasi. Saat ini sudah ada vaksin hepatitis A, memberikan kekebalan selama 4 minggu setelah suntikan pertama, untuk kekebalan yang panjang diperlukan suntikan vaksin beberapa kali. Pecandu narkotika dan hubungan seks anal, termasuk homoseks merupakan risiko tinggi tertular hepatitis A.

Hepatitis B
Gejala mirip hepatitis A, mirip flu, yaitu hilangnya nafsu makan, mual, muntah, rasa lelah, mata kuning dan muntah serta demam. Penularan dapat melalui jarum suntik atau alat/pisau cukur atau tato dan tindik yang terkontaminasi, kontak darah dan transfusi darah, gigitan manusia, ibu hamil terhadap janinnya, dan hubungan seks. Penderita HIV/AIDS juga rentan mengidap HBV sebagai koinfeksi penyakitnya. Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa tahun yang lalu. Yang merupakan risiko tertular hepatitis B adalah pecandu narkotika dan orang yang mempunyai banyak pasangan seksual (heteroseksual).

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: