Arsip | Fotografi RSS feed for this section

Keraton Kedua Kerajaan Kotawaringin, Istana Lawang Agung Bukit Indra Kencana

22 Okt

Perjalanan berikutnya di Pangkalan Bun adalah mengunjungi Istana Lawang Agung Bukit Indra Kencana atau disebut juga dengan Istana Kuning. Nama Istana Kuning bukan sebutan harfiah karena istana tersebut tidak berwarna kuning tapi berwarna coklat, warna alamiah tekstur kayu ulin sebagai material konstruksi bangunan istana. Arti kuning merujuk pada warna kain yang berwarna kuning yang sering dipakai pada upacara adat, bersifat sakral.

image

Istana Lawang Agung Bukit Indra Kencana

Istana Lawang Agung Bukit Indra Kencana dibangun mulai tahun 1809 M oleh Sultan IX, Pangeran Ratu Imanudin. Beliau memindahkan Ibukota Kerajaan Kutaringin (Kotawaringin) pada tahun 1811 M (1231 H) dari Kutaringin (Kotawaringin Lama) ke Sukabumi Indra Sakti atau Pangkalan Bu’un Sukabumi yang kemudian hari dikenal dengan istilah Pangkalan Bun.

image

Istana Kuning dan Lapangan Tugu

Istana Lawang Agung Bukit Indra Kencana pernah dipakai menjadi gedung DPRGR, dikosongkan tahun 1976, dan terbakar tahun 1986. Istana Kuning direhabilitasi pada tahun 2000-an.

image

Gapura halaman luar Istana Kuning

Baca lebih lanjut

Iklan

Makam Raja-raja Kotawaringin Astana Al-Nursari

21 Okt

Tak jauh di belakang Astana Al-Nursari terdapat pemakaman raja-raja dan keluarga Kerajaan Kutaringin. Di kompleks ini bersemayam raja II hingga raja VIII. Sedangkan raja IX (Pangeran Ratu Imanudin) dan seterusnya dimakamkan di Kuta Batu, Pangkalan Bun. Sultan ke-9 memindahkan ibukota kerajaan dari Kotawaringin Lama ke Pangkalanbun pada tahun 1811 M. Adapun raja pertama, Pangeran Adipati Antakesuma, wafat di Banjarmasin dan dimakamkan di Quin.

image

Bangunan beratap sirap ulin merupakan lokasi pemakaman raja-raja dan keluarga dekatnya.

image

Sayangnya tidak ada petunjuk atau tulisan yang menerangkan batu nisan yang ada makam siapa.

image

Baca lebih lanjut

Makam Kyai Gede, Makam Keramat di Kotawaringin

20 Okt
image

Makam Kyai Gede

Kyai Gede adalah tokoh legendaris daerah Kotawaringin Barat di mana makamnya banyak diziarahi oleh masyarakat. Beliau penyebar agama Islam pertama di tempat tersebut yang bermukim lebih dahulu daripada pendiri pertama Kerajaan Kutaringin (Kotawaringin) Pangeran Antakusuma. Di kemudian hari pada masa Pangeran Antakusuma mendirikan Kerajaan Kutaringin, Kyai Gede diangkat sebagai Mangkubumi atau Perdana Menteri. Pangeran Adipati Antakesuma merupakan putra dari raja IV Kesultanan Banjar, Sultan Musta’inubillah (bertahta1650-1678). Asal-usul Kyai Gede ada 3 versi yang berbeda-beda.
Versi pertama didasarkan atas pendapat Lontaan dan Sanusi yang menyatakan bahwa Kyai Gede adalah seorang Muslim yang ditemukan terikat pada sebatang pisang pada saat pembangunan kerajaan Kutaringin. Oleh kepala suku Dayak Laman ditolong dan dirawat. Karena sikapnya yang mengerti tata tertib dan sopan santun, rakyat sangat tertarik untuk memeluk agama yang dianutnya. Selain pengetahuan agama, Kyai Gede juga mengajarkan ilmu pengetahuan perang karena beliau merupakan kyai dan pahlawan dari Majapahit. Ketika Pangeran Adipati Antakusuma mendarat di tepi Sungai Lamandau, Kyai Gede ikut menemuinya bersama dengan Demung Tujuh Bersaudara.
Versi kedua menurut legenda rakyat, pada waktu rombongan Pangeran Adipati Antakesuma mendarat di tepi Sungai Lamandau, mereka didatangi oleh rombongan Demang Tujuh Bersaudara dan Kyai Gede. Setelah kedua pihak berperang dengan kemenangan di pihak Pangeran Adipati Antakesuma, mereka sepakat mengangkat Pangeran Adipati Antakesuma sebagai raja. Kyai Gede, Demang Akar dan anaknya  Sagar masuk agama Islam. Demang Akar dan Sagar masing-masing berganti nama menjadi Demang Silam dan Selamat. Sementara keenam demang lainnya berpindah ke darat atau pedalaman Kutaringin. Menurut cerita versi ini, Kyai Gede tidak lain adalah Kyai Gade putra asli Kutaringin, bukan berasal dari Demak atau Majapahit. Dari catatan sejarah, Kyai Gade dan Pangeran Adipati Antakesuma keberadaannya tidaklah sezaman. Jika cerita versi pertama benar maka Kyai Gede memang hidup pada abad ke-16 (tahun 1595M) sedangkan Pangeran Adipati Antakesuma mendirikan kerajaan Kutaringin pada abad ke-17 pada tahun1679 (pendapat Lontaan dan Sanusi).

Baca lebih lanjut

Masjid Kyai Gede, Masjid Kuno Kerajaan Kotawaringin

20 Okt
image

Masjid Kyai Gede

Alhamdulillah, penulis berkesempatan berkunjung ke Masjid Jami’ Kutaringin, sebuah masjid kuno berumur lebih dari 300 tahun di Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Pada mulanya adalah surau yang didirikan Kyai Gede pada masa Pangeran Antakusuma, pemimpin pertama Kesultanan Kutaringin (Kotawaringin). Kyai Gede sendiri merupakan mangkubumi atau patih atau perdana menteri sekaligus seorang ulama penyebar agama Islam. Pada masa kepemimpinan raja VII (1069H-1116H atau 1727-1761M), Gusti Sultanul Baladuddin bergelar Pangeran Ratu Begawan, surau tersebut dipugar menjadi Masjid Jami’ Kutaringin. Konstruksi bangunan terbuat dari kayu ulin yang kokoh. Bertipe bangunan panggung, umumnya bangunan tradisional di kultur lingkungan yang dipengaruhi pasang surut air dan rawa. Pola bangunan simetris dengan 3 atap berundak, mirip masjid kuno Kesultanan Paser (Kerajaan Sadurengas) di Kalimantan Timur yang penulis pernah kunjungi.

image

Pintu masjid

Pintu masjid ada 2 buah di sisi bekakang, dengan pola simetris dengan sedikit ornamen ukiran.

image

Jendela masjid

Jendela berpori tanpa daun jendela, terdapat di semua sisi bangunan termasuk di bagian dinding atap untuk sirkulasi udara.

Baca lebih lanjut

Keraton Kesultanan Paser atau Kerajaan Sadurengas

27 Agu

image

Situs istana kerajaan jaman dulu ini terletak di pingging sungai Kandilo, tidak jauh dari Tanah Grogot, ibukota kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Tepatnya di kecamatan Pasir Belengkong, sekitar 300 meter dari jembatan Kandilo, jembatan jalan utama penghubung Tanah Grogot-Batulicin. Berdampingan dengan masjid kesultanan, terbuat dari bahan kayu bermutu tinggi. Kayu merupakan kekayaan yang melimpah di wilayah ini dulunya.

image

Istana Kesultanan Paser di tahun 2013

image

Istana Kesultanan Paser pada tahun 1925

Potret istana Kesultanan Paser pada 2 jaman yang berbeda. Pepohonan kelapa sekitar istana sudah tidak ada, padat dengan perumahan penduduk.

image

Keraton Kesultanan Paser sekarang telah menjadi Museum Sadurengas dan dipugar pada tahun 2008. Museum Sadurengas menempati bangunan bekas rumah salah satu Sultan Paser, yaitu Aji Tenggara (1844-1873). Pada awal abad ke-19 bangunan ini menjadi Istana Sultan Ibrahim Khaliludin. Bangunannya membentuk rumah panggung yang dalam bahasa Paser disebut ‘Kuta Imam Duyu Kina Lenja’ yang berarti rumah kediaman pemimpin yang bertingkat. Keraton kesultanan Paser menghadap ke barat ke arah tepi sungai Kandilo yang menjadi urat nadi transportasi umum di jaman keemasannya.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: