Antena Parabola

24 Nov

image

TV antena parabola, mulai ngetren saat aku SMP di kampung. Seperti hanya fenomena menonton televisi hitam putih tatkala SD. Dulu satu kampung bisa dihitung dengan jari orang yang memiliki televisi layar tabung monokrom. Jadinya sangat ramai di malam hari dan hari Minggu untuk menonton televisi. Menggelar tikar di depan TV, belasan pasang mata asyik melototin layar kaca hitam putih. Yang paling ramai di hari Minggu adalah acara musik. Menyaksikan video klip Betharia Sonata, Tomy J Pisa, Pance F Pondaag, Iis Sugiarto, dan Nia Daniaty.
Kira-kira saat era SMP, Perkembangan jaman bergeser ke televisi berwarna dan booming antena parabola. Jika tidak memiliki parabola maka hanya bisa menikmati siaran TVRI yang sudah membosankan di sore hingga tengah malam serta TPI di pagi hari. Antena parabola dan receivernya bisa menyajikan saluran televisi swasta seperti RCTI, Indosiar, dan ANTV. Maklum menara relay televisi swasta masih terbatas di kota-kota besar. Saat itu hanya segelintir orang yang memiliki TV berwarna dengan dilengkaapi antena parabola. Sangat ramai orang-orang bergerombol menonton TV tersebut di malam hari. Semasa itu sedang booming serial mandarin. Aku sendiri ikut kelompok anak muda yang suka nonton tv di rumah orang kaya yang ada anak gadisnya. Benar-benar seru.
Seiring dengan meningkatnya kemakmuran penduduk dan semakin terjangkaunya harga perangkat elektronika, kini televisi hadir di setiap rumah. Menjadi perabot wajib dalam keluarga. Bahkan tidak jarang dalam satu rumah ada lebih dari satu perangkat televisi. Jadi, menonton televisi sekarang semakin privat.
Aku sendiri memiliki televisi setelah menikah. Selama bujang aku memasang TV turner di komputer PC. Menonton TV di layar kaca monitor komputer ukuran 14 inci. Sehabis berkeluarga, beli televisi layar tabung ukuran 21 inci lengkap dengan antena parabola dan receiver. Maklum tinggal di pelosok Kalimantan. Tidak ada stasiun relay teresterial. Tujuh tahun kemudian tren piranti parabola bergeser dari antena C band ke Ku band. Frekuensi Ku band diisi oleh saluran berbayar seperti Telkomvision, Top TV, dan Orange TV. Aku pun mengikuti tren tersebut karena kualitas gambar dan stabilitas sinyal lebih bagus. Semula membeli bekas rekan yang keluar dari pekerjaan. Setengah tahun kemudian baru dipasang. Sialnya receiver Orange TV bekas tersebut rusak. Alamak harus beli baru lengkap dengan antena karena katanya tidak dijual terpisah harus sepaket. Antena besar C band akhirnya resmi pensiun berganti antena kecil Ku band.

Satu Tanggapan to “Antena Parabola”

  1. lazione budy 24 November 2014 pada 10:37 AM #

    kalau di kampung di luar rumahnya ada antenna ini selalu dianggap orang kaya.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: