Balada Angkatan Laut Filipina di Spratly

16 Agu

Sebagai negara maritim, bangsa Indonesi harus memiliki kebanggaan terhadap laut dan kekayaan yang terkandung di dalamnya baik yang di tengah maupun di pinggiran perbatasan wilayah laut. Sekedar kebanggaan dan kepedulian saja tidak cukup. Harus disertai dengan kekuatan maritim yang disegani kawan dan lawan. Tidak usah jauh-jauh, tengok saja konflik kawasan Laut China Selatan. Terlihat gap yang sangat jauh antara kekuatan angkatan laut RRC dengan negara-negara lainnya yang saling mengklaim kawasan kepulauan Paracel dan Spratly. Tidak heran dulu dengan mudah AL RRC dengan mudah mengalahkan AL Vietnam dalam pertempuran memperebutkan kepulauan Paracel. Kini bahkan kekuatan maritim RRC sangat mendominasi di kawasan kepulauan Spratly. Vietnam dan Filipina bergegas membangun armada AL dengan pengadaan alutsista modern meskipun terlambat. Apalagi Filipina yang paling inferior, nasib angkatan lautnya sangat memprihatinkan. Tidak memiliki pesawat tempur jet maupun frigat modern. Hanya 2 kapal perang kelas Oliver Perry bekas dari AS dengan hanya bersenjata meriam. Ibarat macan ompong tanpa taring dan kuku. Terenyuh membaca kondisi mengenaskan marinir Filipina yang bertugas menjaga kehadiran mereka di kawasan kepulauan Spratly. Di satu sisi RRC tengah memperkuat kehadirannya dengan mendirikan sejumlah rig dan berusaha membangun landasan pesawat terbang. Di sisi lain Filipina hanya sekedar mengkandaskan sebuah kapal perang tua, kapal Sierra Madre. Rongsokan kapal perang AL Filipina tersebut dikandaskan di gugusan karang Second Thomas terletak di kawasan kepulauan Spratly sebelah barat Filipina. Ada satu detasemen marinir yang ditambatkan di situ untuk menunjukkan kehadiran Filipina di kawasan sengketa. Ironisnya untuk keluar masuk ke tempat tersebut harus menembus blokade angkatan laut RRC yang terlihat sangat perkasa. Marinir Filipina bertahan di situ kapal Sierra Madre tanpa perlindungan kapal perang maupun pesawat tempur angkatan bersenjata Filipina. Mereka berharap lebih kepada dukungan Amerika Serikat dan Jepang untuk menghadapi RRC dalam konflik Laut China Selatan.
Pelajaran di atas tentu memberikan hikmah bagi kita semua.

Shared from Google Keep

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: