Sintesis Peran Tank Kelas Berat

28 Apr

Tank Leopard 2 dari awal pengadaannya mengundang kontroversi di dalam negeri maupun luar negeri (Belanda dan Jerman). Dari segi politik luar negeri, oposisi pemerintah Belanda dan Jerman menentang penjualan tank tersebut karena menilai Indonesia masih rawan pelanggaran HAM oleh aparat keamanan. Pengadaan tank Leopard bekas dari Belanda akhirnya dialihkan ke Jerman karena ketidakpastian realisasi penjualaan akibat kuatnya penentangan oleh parlemen Belanda. Meski kanselir Angela Merkel secara implisit mendukung penjualan tank Leopard Jerman ke Indonesia, masih ada parpol yang mempermasalahkan. Di dalam negeri, sejumlah pihak juga mengemukakan ketidaksetujuan terhadap pembelian tank tersebut. Isu pelanggaran HAM juga dikemukakan LSM Kontras dan Imparsial. Di samping alasan teknis yang tidak sesuai penggelaran tank berat di wilayah Indonesia.

Memang dalam sejarah republik ini, belum pernah ada tank kelas berat yang menginjakkan kaki. Pergolakan dengan bangsa asing dari masa Perang Dunia I, Perang Dunia II, Operasi Trikora dan Dwikora, kendaraan lapis baja paling berat yang terlibat adalah tank M4 Sherman. Tank tersebut bersenjata kanon kaliber 76 mm dengan bobot 33 ton. Perang Indo-China yang bergolak di era Perang Dingin melibatkan tank M48A3 Patton dan tank T-54/55. Tank Patton berbobot  45 ton memiliki senjata utama kanon kaliber 90 mm. Tank tersebut secara luas dipakai AS dan sekutunya saat Perang Vietnam dibanding T-54/55. Australia berperang di sisi AS sewaktu Perang Vietnam menggunakan tank Centurion buatan Inggris  berbobot 51 ton dengan senjata utama kanon kaliber 20 pounder (84mm). Bobot tank secara teknis memang berbeda dengan besar tekanan kendaraan ke tanah (ground pressure) yang sering dipakai sebagai argumen oleh pihak pendukung pembelian tank kelas berat Leopard. Meski tank kelas berat (Main Battle Tank) pada umumnya berkisar antara 45 ton hingga 65 ton namun karena menggunakan roda rantai (track) yang luasan permukaan kontaknya ke tanah luas sehingga tekanan ke tanah (ground pressure) menjadi rendah kurang dari 15 psi. Berbeda dengan kendaraan komersial biasa yang beroda ban seperti truk atau bus yang bisa mencapai lebih dari 30-50 psi. Meski ground pressure rendah, tetap saja bobot tank adalah sangat besar yang harus ditopang oleh struktur jalan dan jembatan. Apalagi struktur jalan dan jembatan di luar Jawa dan Sumatera pada umumnya speknya lebih rendah. Terutama di wilayah yang didominasi oleh hutan, anak sungai dan rawa (gambut) seperti Kalimantan dan pesisir Papua dan Sumatera. Terlebih kontur topografi ekstrim seperti pegunungan dan perbukitan.

Kondisi medan yang ada di nusantara tentu akan mengubah filosofi modern penggunaan armada tank dalam perang konvensional. Tank dan kendaraan kavaleri lapis baja lainnya sangat perkasa di medan terbuka dan datar dengan tektur tanah yang kuat. Menjadikan pasukan kavealeri mampu bertempur mandiri tidak terikat dengan pasukan infanteri. Kombinasi daya pukul, perlindungan zirah lapis baja, dan mobilitas tinggi sebagai kunci gerak maju pasukan kavaleri yang mengagumkan seperti yang diadopsi Jermann pada Perang Dunia II, AS pada Perang Teluk I dan II, Rusia pada konflik Kaukasus (Chechnya dan Georgia), dan Israel pada Perang Arab-Israel. Berbeda dengan  penggunaan tank gaya lama yang diikatkan ke pasukan infanteri sehingga gerak maju armada tank sangat lambat disesuaikan dengan pergerakan pasukan infanteri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: