Penanganan Limbah Cair

14 Apr

Pada proses pengolahan minyak kelapa sawit dihasilkan produk sampingan berupa limbah yang meliputi limbah padat, limbah cair dan limbah gas. Limbah gas berupa flue gas dari hasil pembakaran di boiler, limbah padat berupa cangkang dan fiber yang kemudian digunakan untuk bahan bakar boiler yang kemudian dihasilkan abu, limbah cair berupa kondensat dan sludge. Limbah-limbah ini memerlukan penanganan lebih lanjut agar tidak memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Untuk limbah gas, flue gas yang keluar dari furnace boiler dipisahkan abunya yang kemudian dapat digunakan sebagai pupuk, dan asapnya dapat langsung dibunag ke udara bebas karena sudah tidak berbahaya lagi. Limbah yang berupa cangkang dan fiber digunakan sebagai bahan bakar boiler, sedangkan tandan kosong digunakan sebagai pupuk. Limbah cair memerlukan penanganan supaya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk cair organik yang kaya nutrisi bagi tanaman.

Sludge Pit/Fat Pit
Merupakan kolam untuk menampung sementara limbah cair baik berupa sludge, condensat maupun air dari parit di stasiun klarifikasi. Jika sludge pit telah terisi sampai ketinggian tertentu maka secara otomatis pompa sludge akan hidup dan mengalirkan limbah ke cooling pond.

Cooling Pond
Merupakan kolam yang berfungsi untuk mendinginkan limbah cair. Limbah dari sludge pit memiliki suhu (70-80C) dan didinginkan sampai (40-45C) selama 24 jam, hal ini bertujuan agar limbah memiliki kondisi yang memungkinkan bagi bakteri mesophilic untuk dapat berkembang Untuk mempercepat pendinginan maka limabah cair dilewatkan pada sebuah tower.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengoperasian cooling pond adalah :
Sebelum Proses
1.  Tentukan Cooling Pond mana yang akan diisi.
2.  Pastikan pompa dalam kondisi siap digunakan.
Pada saat Proses
1.  Buka keran inlet dari sludge pit ke Cooling Pond.
2.   Hidupkan pompa sludge pit
3.  Kontrol pengisian Cooling Pond agar tidak terisi terlalu penuh, batas pengisian 15 cm dari permukaan kolam.
4.   Check kebocoran pada mekanikal seal atau gland packing  pada pompa
5.   Pengisian cooling pond setiap hari bergantian agar penurunan tercapai.
Setelah Proses
1.  Matikan pompa jika cooling pond sudah terisi penuh.
2.  Tutup kran in let dari sludge pit ke cooling pond dengan baik.
3.  Keesokan harinya jika minyak muncul dipermukaan maka dilakukan pengutipan.
4.   Pengisian raw sludge dari cooling pond ke mixing pond tidak boleh sampai habis,  untuk mencegah terikutnya minyak.
Mixing Pond
Mixing pond adalah tempat melakukan pencampuran antara limbah yang telah didinginkan dengan lumpur yang diambil dari kolam anaerobic dengan perbandingan tertentu. Pencampuran ini dimaksudkan agar bakteri yang telah aktif dari kolam anaerobic dapat bercampur dengan limbah cair sehingga proses pengaktifan bakteri dapat lebih cepat. Masa tinggal limbah di kolam pencampur adalah 24 jam. Mixing pond merupakan tempat di mana fasa pertama proses acido genesis terjadi. Diharapkan pada mixing pond dengan retention time satu hari mulai terjadi hidrolisis dan asidifikasi dari senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana. Temperatur raw effluent dari cooling pond diperhatikan sekitar 40 – 45 C agar bakteri mesophylic dapat berkembang. Perhitungan back mix ratio disesuaikan agar fluktuasi ratio dapat diminimalkan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian cooling pond adalah :
Sebelum Proses
1.  Tentukan Mixing Pond mana yang akan diisi.
2.  Catat ketinggian level sludge pada mixing pond.
3.  Pastikan pompa untuk back mix siap digunakan.
Pada saat Proses
1.  Buka kran inlet dari cooling pond ke mixing pond.
2.  Tutup kran apabila sludge telah mencapai level ketinggian, sesuai dengan rasio yang diinginkan
3.  Buka kran back mixing pond yang akan diisi.   
4.  Hidupkan pompa back mixing
5.  Kontrol pengisian kolam mixing pond jangan sampai meluber
6.  Dalam pelaksanaannya dilaksanakan parallel dengan kolam lainnya agar hemat waktu.
Setelah Proses
1.  Setelah kolam mixing pond penuh, matikan pompa dan tutup kran dengan sempurna.
2.  Setelah didiamkan selama 24 jam baru boleh untuk difeedingkan ke Anaerobik Pond.
3.  Untuk sludge yang sudah dimix pada kolam mixing pada saat feeding harus dihabiskan, untuk mencegah  terbentuknya kerak pada kolam mixing.

Anaerobic Pond
Setelah 1 hari, limbah cair di mixing pond dialirkan ke kolam anaerobic, di sini terjadi proses penguraian bahan organic oleh bakteri anaerobic. Limbah yang keluar dari kolam anaerobic memiliki kadar BOD 3000-5000 mg/lt, pH 6.8-7.2, VFA 500-1000 mg/lt, Alkalinity 4000 mg/lt, dan ratio kurang dari 25. Seandainya terbentuk sekam dengan tebal lebih dari 20 cm maka sekam tersebut harus dibuang untuk meringankan beban bakteri pengurai limbah.

Contact Pond/Buffer
Setelah di kolam anaerobic, limbah dialirkan ke contact pond/buffer dimana terjadi pemisahan antara solids dan supernatant. Retention time limbah dapat dimaksimalkan dengan adanya contact pond sehingga bakteri bisa semaksimal mungkin dalam menguraikan limbah. Dari contact pond, limbah dipompa ke areal land aplikasi sebagai pupuk. Contact pond dengan kapasitas besar bisa berfungsi sebagai kolam penampung sementara (buffer pond)  bila terjadi emergency state pada station pengolahan limbah. Merupakan tempat terjadi penguraian bahan organic oleh bakteri aerobik. Buffer pond dapat dilengkapi dengan aerator yang berfungsi untuk membantu menurunkan BOD limbah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: