Kapal Selam dan Penyelamatan Kondisi Darurat

11 Jul

Kapal selam beroperasi di bawah permukaan laut dengan berbagai resiko yang bisa menimpa wahana dan awaknya. Oleh karena itu diperlukan latihan kondisi tanggap darurat seandainya kapal selam mengalami kerusakan sehingga tidak bisa bergerak atau mengangsur naik. Kondisi darurat kapal selam telah terjadi semenjak 1915, semenjak penggunaan kapal selam pada Perang Dunia I. Ada dua metode penyelamatan awak kapal selam yakni menyelam keluar dengan pakaian khusus atau bantuan dari luar dengan wahana selam penyelamat / DSRV (Deep Submergence Rescue Vehicle).

Baju penyelamat awak kapal selam

Metode pertama memang berisiko tinggi terutama pada kondisi penyelaman yang dalam. Beberapa hari yang lalu dua perwira kapal selam termasuk komandan satuan kapal selam angkatan laut Indonesia tewas dalam kecelakaan latihan skenario tanggap darurat kapal selam. Diduga keduanya mengalami gejala gangguan dekompresi / DCI (Decompression Illness).

Metode penyelamatan diri awak dengan menyelam menuju permukaan memakai pakaian/perlengkapan khusus (suite) perorangan. Perlengkapan perorangan menggunakan model yang menutup sebagian badan (model lama) hingga yang menutup seluruh badan (model baru). Pada awalnya perlengkapan perorangan sederhana seperti Momsen Lung, Davis Aparatus, dan Steinki Hood. Sekarang pada umumnya perlengkapan yang melindungi seluruh tubuh seperti SEIE (Submarine Escape ImmersibleEquipment) buatan Inggris.

Resiko penyakit dekompresi sangat erat hubungannnya dengan penyelaman. Diakibatkan oleh perubahan paparan tekanan lingkungan dengan singkat dimana terbentuk gelembung-gelembung gas di dalam organ tubuh. Tubuh manusia tersusun atas sebagian besar air (cairan) yang bersifat tidak-mampu-tekan (noncompressible). Namun di dalam tubuh juga ada sejumlah unsur/senyawa berbentuk gas yang bersifat mampu-tekan (comppresible). Awak kapal selam yang akan menyelamatkan diri menuju permukaan dari kedalaman di bawah permukaan laut akan menerima sejumlah hukum fisika.

Hukum Boyle

Pertama, hukum Boyle yang berkenaan dengan konstanta benda gas dari faktor tekanan dikali volume yakni PxV = K dengan P adalah pressure atau tekanan, V adalah volume, dan K adalah konstan. Artinya perubahan dari tekanan suatu gas akan berpengaruh terhadap volume gas secara sebanding tersebut supaya hasilnya tetap pada temperatur konstan.Tiap turun 33 kaki tekanan bertambah 1 atm (atmosfir). Jadi volume paru-paru penyelam pada kedalam 33 kaki akan mengecil menjadi separuhnya volume paru-paru saat di permukaan laut karena tekanan pada kedalaman 33 kaki adalah 2 atm. Demikian juga pada kedalaman 66 kaki, volume paru-paru akan mengecil sepertiganya, pada kedalaman 99 kaki akan mengecil menjadi seperempat. Oleh karena itu jika penyelam dari posisi di bawah bergerak naik ke atas maka volume paru-paru akan berkembang. Pertambahan volume paru-paru paling besar akan terjadi pada saat muncul di permukaan. Sementara kemampuan berkembang (inflamasi) jaringan organ paru-paru adalah terbatas sehingga jika pertambahan volume paru-paru melebihi ambang batas makan organ tersebut akan pecah berdampak fatal bagi si penyelam. Kondisi tersebut bisa di atasi dengan memperlambat kecepatan penyelam  naik ke tas dan dengan penyesuaian perubahan tekanan melalui pelepasan nafas dari dalam paru-paru ke lingkungan luar sehingga berkembangannya paru-paru karena bertambahnya volume udara di dalam paru-paru dapat dihindari.

Simulasi Hukum Boyle

Kedua, hukum Henry yakni, pada temperatur konstan, jumlah gas yang terlarut dalam sebuah cairan yang bersinggungan adalah sebanding dengan tekanan parsial gas tersebut. Dengan formula %X = (PX/Pt) x100 dimana %X adalah jumlah gas X terlarut dalam suatu cairan, PX adalah tekanan parsial gas X, dan Pt ialah tekanan total atmosfer. Dengan bertambanhnya kedalaman, nitrogen di dalam udara bertekanan akan seimbang antara yang ada di alveoli (jaringan paru-paru) dengan di dalam darah. Sehingga menambah jumlah gas nitrogen yang terlarut dan terakumulasi dalam komponen lipida jaringan tubuh. Jika penyelam bergerak naik menuju permukaan maka tekanan di dalam paru-paru akan berkurang sehingga tekanan parsial gas nitrogen ikut berkurang dan harusnya gas nitrogen yang terlarut dalam darah berdifusi kembali ke jaringan alveoli paru-paru. Apabila penyelam bergerak terlalu cepat ke atas, artinya terjadi penurunan tekanan mendadak maka perpindahan difusi gas nitrogen yang terlarut dalam darah menuju alveoli paru-paru terjadi dengan tidak sempurna. Masih ada sisa-sia gas nitrogen yang terjebak dalam larutan darah sehingga tercipta gelembung-gelembung gas di dalam pembuluh darah. Adanya gelembung gas pada darah manusia menimbulkan gangguan faal tubuh dengan dampak beragam dari ringan hingga menimbulkan kematian. Gangguan tersebut dikenal dengan DCS (Decompression Sickness). Untuk mengurangi resiko DCS, penyelam harus bergerak naik ke atas berangsur-angsur dengan memperhatikan safety stop tiap 10 meter atau 33 kaki kenaikan yang berfungsi sebagai aklimatisasi.

DCS dibagi  3 kategori yakni DCS tipe I (ringan), DCS tipe II (sedang), dan AGE atau Articular Gas Embolism maupun Pulmonary Barotrauma (berat). DCS tipe I berkenaan dengan rasa nyeri yang akan hilang dalam 10 menit, pruritas atau rasa terbakar pada permukaan kulit, ruam kulit yang umumnya bintik-bintik atau gelembung lepuh pada kulit. DCS tipe II berhubungan dengan keluhan pada paru-paru, hypovolemik kejut (berkurangnya plasma darah mendadak), dan keluhan-keluhan pada jaringan saraf. Dampak berat DCS berupa AGE (Arterial Gas Embolism) dan Pulmonary Barotrauma. Pulmonary Barotrauma berupa pendarahan paru-paru akibat pecahnya jaringan disebabkan pertambahan volume paru-paru di luar ambang batas. AGE disebabkan sumbatnya pembuluh darah oleh gelembung gas dengan dampak klinis tergantung posisi organ yang disumbat. Emboli arteri koroner dapat menyebabkan serangan jantung (myocardial infarction)  dan ganguan denyut jantung (dysrhymea). Sedangkan emboli pada otak bisa menimbulkan stroke.

Penanggulangan gejala DCS secara terapi fisik berupa perlakuan awak di dalam ruang rekompresi. Awak akan diberi paparan kompresi hingga batas tekanan tertentu di dalam bejana tekanan dengan kadar oksigen yang tinggi kemudian didekompresi secara perlahan-dalan dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan menghilangkan sisa-sisa gas yang masih terperangkap di dalam jaringan organ badan. Pada batasan paling rendah, jika awak kapal selam mengalami kompresi 1,7 bar selama 24 jam maka yang bersangkutan harus mendapat dekompresi terkendali untuk mencegah DCS.

Submarine Escape Training Tower

Submarine Escape Training Tower

Resiko-resiko di atas harusnya tidak mengendurkan awak kapal selam untuk berlatih terus dalam latihan tanggap darurat kapal selam. Karena faktor keberhasilan penyelamatan diri tidak semata bergantung pada alat yang dipakai meliputi kepercayaan diri, keterampilan (skill), ketaatan terhadap prosedur), kebugaran fisik, kepemimpinan (leadership), dan terakhir nasib mujur. Sebelum berlatih emergency escape secara live di laut, awak diberi latihan simulasi di media yang moderat misalnya kolom menara air yang dilengkapi kompartemen escape trunk. Kolom air setinggi 10 hingga 11 meter (33 kaki) sudah cukup memberi perbedaan tekanan sebesar 1 atmosfir. Seyogyanya disamping perlengkapan perorangan disediakan juga metode memakai DSRV (Deep Submergence Rescue Vehicle) yang tentunya akan lebih rumit dan memakan biaya (anggaran) lebih lanjut. Dibutuhkan perencanaan ke depan, termasuk sistem penggelaran DSRV, kapal pendukung (penyelamat), sistem doking pada kapal selam dan kapal permukaan.

Wahana Selam Penyelamat

Wahana Selam Penyelamat

Referensi:

  1. Submarine Casualties Booklet, US Naval Submarine School, 1966
  2. Severe Decompression Illness Following Simulated Rescue from a Pressurized Distressed Submarine, MG White, RTO MP-062 NATO, 2000
  3. Decompression Sickness, Stephen A Pulley, update 14 Juni 2012 pada situs http://www.reference.medscape.com
  4. http://www.subescapetraining.org, diakses pada tanggal 5 Juli 2012
  5. http://www.scubaboard.com/forums/ask-dr-decompression/423518-article-about-decompression-sickness.html, diakses pada 5 Juli 2012
  6. Describing Decompression Illness, TJR Francis, UHMS Publication, 1991

Satu Tanggapan to “Kapal Selam dan Penyelamatan Kondisi Darurat”

  1. Gogo 16 Juli 2012 pada 12:39 PM #

    joss. turut berduka atas tragedi kapal selam RI..
    smg kedepan, teknologi rescue awak kapal selam mkin canggih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: