Jatuhnya Fokker-27 dan Regenerasi Pesawat Angkut

23 Jun

Kembali kecelakaan terbang militer menimpa pesawat angku medium Fokker F-27 Mk400M milik angkatan udara Indonesia menewaskan 7 awak dan 4 penduduk di dekat lanud Halim Perdanakusuma Jakarta di hari Kamis kemarin, 21 Juni. Ini bukan kejadian naas pertama yang menimpa pesawat Fokker militer Indonesia. Pada 6 April 2009, sebuah Fokker F-27 juga jatuh saat mendarat di lanud Husein Sastranegara Bandung, menewaskan 24 penumpang personil militer termasuk 17 prajurit Pakhas. Kini 7 armada pesawat Fokker F-27 seri 400 yang dibeli dari Belanda tahun 1975 tinggal 5 unit yang tersisa. Meski diklaim pesawat tersebut berusia lebih dari 30 tahun dengan kondisi laik terbang, sebagai lembaga militer tentu tidak terbuka sejauh mana tingkat kelayakannya. Mengingat pabrik Fokker sendiri telah bangkrut terhitung 15 Maret 1996 dengan menyisakan unit jasa dan pemeliharaan yang dijual ke perusahaan lain.

Fokker F-27 AU Indonesia

Fokker F-27 AU Indonesia

Hal tersebut tentu harus mendorong pemikiran tentang kelanjutan eksistensi pesawat-pesawat Fokker F-27 dan F-28 yang dimiliki Indonesia ke depannya. Fokker F-27 merupakan tulang punggung armada angkut kelas menengah turboprop angkatan udara selain pesawat jet Fokker F-28. Pesawat Fokker F-27 performanya  sedikit di atas kelas 5 unit CN-235 seri 110/220. Untuk pesawat angkut kelas berat tentu diperankan oleh  24 unit C-130 Hercules yang hadir sejak operasi Trikora era Orde Lama. Pesawat angkut kelas ringan didominasi NC-212 Aviocar.

Semua pesawat angkut di atas merupaka pesawat terbang yang sudah cukup berumur meski masih laik operasi. Tetapi langkah peremajaan haruslah diambil setahap-demi setahap hingga armada lama mencapai akhir usia pakai. Kemajuan sebenarnya cukup signifikan dengan telah ditandatanganinya kontrak pengadaan 9 unit C-295 dari Airbus Military pada tahun ini. Pesawat C-295 sejatinya direncanakan untuk mengganti 6 unit F-27 400 yang tersisa. Perencanaan ini cukup startegis mengingat model C-295 bisa menjadi sejumlah platform seperti angkut kargo dan personil, patroli maritim AKS (Anti-Kapal Selam) dan AKAP (Anti-Kapal Permukaan), serta AEW&C (Airborne Early Warning & Control) yang masih dalam tahap pengembangan Airbus Military. Dua unit pesawat akan datang di akhir tahun ini langsung dari pabrikan Airbus Military sedang sisanya akan dirakit di PT. DI dengan melibatkan sejumlah komponen yang dipasok sendiri. Tentu ini menjadi keuntungan sendiri bagi PT. DI untuk masuk menjadi bagian dari sistem chain supply Airbus.

Kemajuan lebih lanjut dicapai untuk sektor pesawat angkut ringan dimana Airbus Military telah menyerahkan produksi C-212 Aviocar sepenuhnya kepada PT. DI. Peralatan cetak seperi jig dan fixtures dikirim ke PT. DI sehingga jika Airbus Military mendapatkan order pesawat C-212 maka yang akan memproduksinya adalah PT.DI. Selain itu PT. DI telah mendesain dan akan memproduksi pesawat angkut yang lebih kecil lagi kelas 19 penumpang dengan model N-19. Tentu kemajuan ini memperkuat kemandirian industri dirgantara nasional.

Airbus Military C-295M

Airbus Military C-295M

Kelambatan yang nyata terlihat di sektor pesawat angkut berat yang notabene didominasi C-130 Hercules. Angkatan udara Indonesia berencana mendapat hibah 4 unit pesawat C-130H bekas AU Australia. Harusnya ada alokasi pembiayaan untuk unit baru Hercules seri J. Atau kembali berkolaborasi dengan Airbus Military untuk A-400M dimana industri lokal bisa dilibatkan menjadi pemasok sebagian komponen. Kemajuan yang diperoleh hendaknya tidak berhenti pada proyek CN-235 110/220 dan versi MPA yang telah dijalani selama ini.

Faktor keselamatan seyogyanya menjadi dasar pengoperasian alat bahkan di dalam dunia militer. Hanya pada misi-misi tertentu saja faktor keselamatan diabaikan atau dikesampingkan. Di bidang angkutan sipil saja sudah ada peraturan pemerintah yang membatasi usia pesawat komersial maksimal 20 tahun. Itu tentu bagian dari strategi keselamatan penerbangan walaupun dengan perawatan yang baik pesawat tua pun masih bisa laik terbang atau pesawat terbaru juga rawan kecelakaan jika perawatannya buruk. Jangan mudah menyalahkan alam dan kru pesawat ketika terjadi peristiwa nahas.

Iklan

2 Tanggapan to “Jatuhnya Fokker-27 dan Regenerasi Pesawat Angkut”

  1. Gogo 25 Juni 2012 pada 10:21 PM #

    smoga musibah fokker bisa membuka mata smua pihak akn pentingnya modernisasi alutsista udara kita..

  2. jaka 2 Juli 2012 pada 4:23 PM #

    Salam Kenal gan.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: