Game Komputer, Dari Starcraft I Hingga Diablo III

26 Mei

Bikin penasaran terhadap munculnya sekuel terbaru Diablo, sebuah game legendaris dan laris berusia panjang. Diberitakan dalam sepekan pertama Diablo III terjual hingga 6,3 juta kopi. Game ini sangat populer sewaktu aku kuliah 1999-2000, seri kedua Diablo Lord of Destruction. Setelah lebih dari sepuluh tahun diciptakan lanjutannya oleh Blizzard dengan Diablo III. Game seri Diablo merupakan permainan jenis RPG (Role Player Game). Benar-benar membetot konsentrasi pemain saat larut dalam pertempuran sengit di dalamnya. Dipadu dengan kerja otak yang berpikir keras melewati tiap tantangan dengan berbagai taktik dan strategi.

Game seri Diablo sepadan ketenarannya dengan Starcraft I Broodwar yang legendaris dan laris juga. Namun jenis permainan Starcraft adalah RTS (Real Time Strategy). Game tersebut sempat membikin kuliah satu semester berantakan. Larut dalam sengitnya peperangan di dalam game ini bersama dengan satu kawan menggunakan dua unit PC di dalam jaringan unitas kampus. Selama beberapa bulan aktif bertempur mulai dari Maghrib atau Isa hingga Subuh. Kalau kuat melek, pagi kuliah siang tidur. Malamnya kembali begadang bertempur di dalam game Starcraft hingga larut pagi. Tahun kemarin pun saya kembali memainkan sekuel kedua Starcraft The Wing of Liberty. Benar-benar fantastis, dulu 12 tahun yang lalu game ini masih dua dimensi. Kini menjelma menjadi game RTS tiga dimensi dengan fitur sinematik yang alur ceritanya sangat mempesona. Dengan akhir puncaknya adalah pertempuran mengalah ratu Zerg dengan pasukannya berupa ratusan kerbau ganas. Di mana saya membuat steling armada tank di puncak dan kaki bukit untuk bertahan.

Menurut penelitian psikologi, orang bisa larut dan tertarik di dalam permainan game karema faktor aktualiasi virtual. Orang bisa memposisikan diri beserta tindakannya sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Hal tersebut memuaskan dahaganya terhadap angan-angan yang diharapkannya yang tidak mungkin bisa dilakukan di dunia nyata. Oleh karena itu game harus dikendalikan terutama bagi anak-anak sebab mereka belum bisa membedakan dunia maya dengan realitas. Sehingga game kekerasan dipandang sebagai salah satu pencetus kekerasan anak-anak.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: