Nilai Visi dan Strategi Air Asia

20 Mei

Maskapai penerbangan biaya murah atau LCC (Low Cost Carrier) semakin sengit bersaing bisnis dalam kondisi kenaikan harga bahan bakar pesawat. Efisiensi dan efektivitas biaya menentukan ketahanan hidup perusahaan disamping ketajaman taktik dalam menangani pasar. Terlebih menghadapi Flag Carrier (maskapai utama) yang membuat anak perusahaan LCC.Mengubah mentalitas aristokrat ke enterpreneur pada stakeholder baik karyawan maupun pengelola bukan perkara mudah namun tidaklah mustahil.

flyaway.com

Maskapai Air Asia yang pada mulanya perusahaan yang merugi dalam krisis ekonomi Asia 1997 di bawah penanganan perusahaan negara/pemerintah bermetaformosis menjadi perusahaan swasta yang memiliki diferensiasi di bawah visi Tony Hernandes pada 2001. Diferensiasi tersebut mengadaptasi model LCC yang sudah hadir terlebih dahulu Southwest Airlines di Amerika dan Ryanjet di Eropa, dikustomisasi menurut karakteristik pasar Asia. Model bisnis LCC pada awalnya tidak sukses akibat murahnya bahan bakar dan subsidi maskapai pemerintah. Seiring dengan liberalisasi ekonomi dan penyehatan perusahaan negara, perlahan model bisnis LCC unjuk gigi. LCC biasanya fokus pada sektor penerbangan regional dengan durasi terbang kurang dari empat jam. Bukan pada sektor interkontinental yang berdurasi lama dengan pesawat berbadan lebar yang biasanya dikuasai maskapai penerbangan utama / Flag Carrier berbiaya tinggi.

Fokus pelayanan adalah biaya penerbangan yang semurah mungkin dengan layanan dasar yang terpenuhi secara layak. Jadi menyasar kelas menengah ke bawah yang merupakan mayoritas konsumen penerbangan tapi peka terhadap perbedaan harga. Jadi orang cukup bisa duduk di pesawat hingga tujuan perjalanan dengan jadwal yang tepat waktu. Tidak membutuhkan embel-embel layanan yang macam-macam. Taktik dan strategi Air Asia dengan cepat diikuti oleh maskapai penerbangan lainnya termasuk Indonesia karena terbukti sangat berhasil.

Satu yang menarik adalah menonjol sewaktu sepi dan konsisten kala ramai. Sewaktu terjadi krisis penerbangan dunia akibat serangan WTC  11 September 2001, Air Asia malah menambah frekuensi iklan dan promo. Ketika terjadi pemboman Bali I di mana maskapai internasional takut ke Bali, Air Asia malah meningkatkan iklan dan promosi tujuan terbang wisata ke Bali. Kejadian ini mirip dengan awal melonjaknya maskapai penerbangan carter ringan lokal Susi Air. Tatkala terjadi bencana tsunami Desember 2004 di Aceh, semua maskapai penerbangan nasional tidak ada yang berani terbang ke Aceh. Berniat membantu korban bencana tsunami dengan membawa sejumlah bantuan kemanusiaan, pesawat ringan Cessna Susi Air menjadi pesawat komersial yang mendarat pertama di Aceh. Dengan segera menjadi langganan badan-badan kemanusiaan internasional sehingga mempercepat penguasaan pangsa pasar carter ringan ke depannya.

Secara filosifi Lautan Merah dan Lautan Biru, Air Asia yang fokus ke sektor LCC menjadi perintis terkemuka di Asia mengikuti jejak sedikit LCC di Amerika dan Eropa yang masih tergolong sektor bisnis lautan biru. Memungkinkannya tumbuh pesat di kemudian waktu berkompetisi dengan maskapai penerbangan murah lainnya yang tumbuh berjamur mengikuti keberhasilan Air Asia.

Satu Tanggapan to “Nilai Visi dan Strategi Air Asia”

  1. Gogo 20 Mei 2012 pada 9:57 PM #

    salut ama nih maskapai..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: