Balada Mobil Nasional, dari Maleo Hingga Esemka

22 Jan

Indonesia adalah bangsa yang besar, siapapun warga negara Indonnesia pasti mengamini, setidaknya menginginkan. Salah satu representasinya adalah memiliki kebanggaan nasional yang bersaing (mininal sama) dengan kebanggaan negara lainnya. Kondisi saat ini, bangsa Indonesia sangat kekurangan manifestasi kebanggaan nasional. Ketika tim nasional sepakbola mulai unjuk gigi di tingkat regional dalam kompetisi Piala Tiger dan SEA Games, muncul dukungan supporter bola segala elemen yang sangat luar biasa yang menarik empati rakyat. Tengok saja, ketika timnas berhasil mencetak gol, di tengah sorotan media Nurdin Halid (ketum PSSI) bergegas menghampiri SBY sembari mencium tangannya. Kehadiran SBY di stadion GBK pun diiringi berbagai pentolan partai politik. Meski akhirnya harapan itu kandas di final. Prestasi bola tidak bisa dicapai secara instan, perlu perbaikan dan peningkatan berbagai tingkatan supaya hasilnya bisa cemerlang dan konsisten. Mulai dari pembinaan usia dini, iklim kompetisi nasional yang terstruktur serta sehat, institusi juga stake holder yang kredibel dan kompeten, dukungan swasta yang kuat dan positif. Tidak tercerai berai seperti saat ini. Meski seluruh pemain nasional diimpor dari negeri asing, dengan kondisi sekarang niscaya tidak akan menjadi kampiun Asia Tenggara.

Ponsel kini menjadi kebutuhan pokok dalam gaya hidup modern. Ponsel BlackBerry besutan RIM Kanada adalah fenomena tersendiri di Indonesia dengan pangsa pasar yang signifikan di pasaran dunia. Sangat cocok dengan kultur oral bangsa Indonesia yang kental dengan kebiasaan kumpul-kumpul dan ngobrol ngalor-ngidul. Sementara di belahan dunia lain pangsa pasar RIM terus menyusut, di sini justru berkibar. Sadar Indonesia sebagai pasar besar bagi RIM, pemerintah RI memintanya memilih Indonesia menjadi salah satu lokasi pabrik handset blackberry. Tidak dinyana RIM malah membangun pabrik di Malaysia. Demikian juga ketika pemerintah RI meminta RIM meletakkan server di Indonesia. RIM diam-diam justru menaruh server agregatornya di Singapura. Pengusaha swasta asing itu benar-benar tidak sungkan, tidak takut, terhadap semua ancaman pemerintah Indonesia. Sepertinya kebesaran bangsa ini tidak menggetarkan RIM Kanada. Sehingga muncul usulan aksi melempar ponsel blackberry ke kedubes Kanada di Jakarta. Menegakkan kembali kehormatan bangsa Indonesia. Tidak mau rakyat Indonesia cuma sebagai sekedar pasar dan tempat mengeruk uang oleh RIM.

Fenomena kebanggaan mobil nasional kembali menyeruak setelah munculnya mobil Esemka di Solo. Berbagai pejabat publik dan pentolan politik beramai-ramai pasang muka mendukung hadirnya salah satu ikon kebanggaan nasional. Mereka sadar bahwa bangsa Indonesia tengah krisis manifestasi kebanggaan nasional. Salah satunya yang mampu menciptakan euforia dan mimpi-mimpi indah persatuan nasional serta sumber banjir empati adalah mobil nasional. Mobil rakitan yang digawangi institusi sekolah menegah kejuruan menghiasi headline berbagai media nasional. Indonesai sudah puluhan tahun bermimpi bisa menciptakan mobil nasional. Proyek mobnas pertama digulirkan pada tahun 1993 dengan nama Maleo yang dibidani oleh BJ Habibie. Proyek Maleo digawangi IPTN bekerjasama dengan pabrikan Rover Inggris dan desainer Millard Australia. Namun proyek ini kemudian berbenturan dengan bisnis serupa yang dikerjakan anak-anak Soeharto, Tommy dan Bambang. Notabene bisnis keluarga Soeharto sangat sarat dengan korupsi dan nepotisme. Dana pengembangan Mobnas Maleo dialihkan ke Tomir. Sindikasi perbankan pemerintah dan swasta nasional mengucurkan modal lebih dari satu setengah milyar Dollar kepada Timor. Tommy Soeharto menyodok proyek mobnas dengan keluarnya Inpres No.2 Tahun 1996. Dia menggandeng partner pabrikan KIA Korea Selatan meluncurkan mobil sedan Timor. Padahal mobil tersebut sekedar mengubah emblem KIA Sephia, tidak lebih. Meski disebutkan ketentuan dalam Inpress bahwa mobnas harus memiliki kandungan lokal minimal 20% di tahun pertama. Selanjutnya di tahun ketiga minimal kandungan lokal adalah 60%. Alhasil proyek nasional Timor cuma sekedar tempat mengeruk uang karena fasilitas bebas pajak seperti pajak bea masuk dan pajak pertambahan nilai barang mewah. Trik serupa dilakukan juga kemudian oleh Bambang Soeharto, abang Tommy, walaupun tanpa dukungan Inpress dengan membuat merek Bimantara sebagai jiplakan mobil Hyundai Korea Selatan. Kelompok swasta nasional Bakrie mencoba menyusul proyek Maleo dengan membuat proyek mobnas Beta 97 MPV pada tahun 1994. Bakrie menggandeng desainer otomotif Shado dari Inggris. Namun proyek ini kayaknya tidak mungkin berkembang karena mengisi segmen yang sama dengan bisnis keluarga Cendana terutama Bambang yang bermain di kelas MPV. Terobosan cerdas diambil oleh kelompok Texmaco dengan tidak melawan head to head bisnis keluarga Cendana yang bermain di kelas mobil sedan dan MPV. Konglomerasi besutan Marimutu Sinivasan tersebut berupaya bermain di kelas bus dan truk dengan nama Perkasa. Texmaco merancang bus dan truk Perkasa dengan mengambil komponen penting yang andal dari pabrikan Eropa dan Amerika Serikat. Mesin diesel dari Styer Austria dan Cummins Amerika Serikat, transmisi dari ZF Jerman, bodi dan chassis lisensi Leyland Inggris, gardan atau axle memakai produk Eaton AS. Alhasil power dan performa Perkasi menarik perhatian militer Indonesia, pernah mendapat order 1000 unit truk Perkasa untuk TNI. Sejumlah bus angkutan umumnya sempat merambah di jalan-jalan lintas kota oleh pengusaha otobus. Kehandalannya di medan jalan telah terbukti. Pabriknya di Subang Jawa Barat bahkan diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto.
Namun sayang, badai krisis ekonomi 1997 datang menerjang, meluluh lantakkan induk semang proyek-proyek kendaraan nasional. Ditambah sebelumnya sengketa dengan Jepang di WTO masalah fasilitas khusus proyek mobnas Timor.

Jepang menilai fasilitas khusus tersebut melanggar prinsip peraturan WTO. Tommy dan Bambang Soeharto kollaps seiring dengan jatuhnya rezim Soeharto. Texmaco pun terpukul telak, bisa dikatakan mati suri hingga sekarang meski pada tahun 2001 masih sempat mengeluarkan satu prototipe mobil MPV Texmaco Macan kapasitas 1800 cc. Setelah era reformasi, perlahan industri otomotif nasional mulai pulih. Seiring dengan kebangkitan sektor industri otomotif, bibit-bibit proyek mobnas kembali muncul. Namun kemunculannya berbeda dengan proyek mobnas era Soeharto. Dia lahir tanpa fasilitas khusus sebagaimana yang dinikmati Timor. Menurut Asosiasi Industri Automotive Nusantara (Asia Nusa) definisi mobil nasional harus mencakup 3 aspek pokok. Pertama, pemilik perusahaan adalah orang Indonesia. Kedua, pemegang hak patennya juga orang Indonesia. Ketiga, pemegang merk adalah orang Indonesia.
Berikut sejumlah proyek mobil nasional yang lahir di era pasca Reformasi.

Gang Car
Gang Car adalah sebuah mobil mini berkapasitas 2 orang buatan PT. DI yang ditenagai mesin 125-200 cc. Mobil ini didesain berukuran cukup kecil sehingga bisa beroperasi di gang-gang sempit di daerah perkotaan (maka dari itu dinamakan Gang Car). Proyek ini tidak pernah terdengar lagi kabarnya sejak tahun 2003 setelah PT.DI dilanda kemelut dan merumahkan 9000-an karyawannya.

Marlip
Mobil ini adalah mobil listrik yang dikembangkan oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan dipasarkan PT. Marlip Indo Mandiri. Mobil ini digunakan untuk mobil golf, pasien, mobil keamanan. Marlip juga punya varian mobil empat penumpang dengan kecepatan mencapai 50 km/jam dengan jarak tempuh maksimal 120km. Harga Marlip berkisar antara Rp 60 sampai Rp 80 juta.

Kancil
Kancil (singkatan dari Kendaraan Niaga Cilik Irit Lincah) merupakan merek dagang terdaftar dari sebuah kendaraan angkutan bermotor roda empat yang didisain, diproduksi dan dipasarkan oleh PT. KANCIL (singkatan dari Karunia Abadi Niaga Citra Indah Lestari). Mobil yang disiapkan untuk menjadi pengganti Bajaj/bemo ini menggunakan mesin 250 cc yang mampu melaju hingga 70 km/jam.

GEA
GEA adalah proyek mobil nasional hasil riset PT. INKA (Industri Kereta Api) dengan mesin Rusnas (Riset Unggulan Strategis Nasional), yakni mesin berkapasitas 640 cc. Tujuan GEA adalah memberikan alternatif mobil kecil menghadapi krisis energi. Dilepas dengan harga antara Rp 45 -50 juta, mobnas GEA ada dua tipe kategori city car dan pick up berdimensi 3.320×1.490×1.640 mm dengan wheelbase 1.965 mm. Mesinnya 650 cc dan mampu melaju hingga kecepatan 85 km/jam dengan mesin 650 cc yang sistem pembakarannya injeksi EFI dengan penggerak roda depan. Menteri BUMN berupaya mengintegrasikan BUMN rekasaya yang lain seperti PT Barata dan PT BBI guna mendukung strategi mobnas GEA.

Tawon
Mobil Nasional AG-Tawon diproduksi oleh PT Super Gasindo Jaya yang lokasi industrinya di Rangkasbitung – Banten. Mobil ini mampu melahap berbagai jenis bahan bakar mulai dari bensin dan atau bahan bakar gas CNG dan sudah memenuhi standarisasi Euro3. Kapasitas mesin Tawon sebesar 650 cc, 4 Percepatan transmisi manual yang dapat dipacu hingga kecepatan 100 km/jam. Mobil ini mulai dikembangkan sejak tahun 2007, dan diproduksi sejak tahun 2009, serta mengandung 90% Kandungan Lokal. Pemprov Banten mendukung proyek mobnas Tawon.

FIN Komodo
Mobil ini adalah mobil offroad yang mampu melahap segala medan. Bobotnya sangat ringan sehingga power yang diperlukan untuk melaju relatif kecil, akibatnya konsumsi bahan bakar relatif irit. Untuk medan hutan, biasanya jarak tempuh sepanjang 100 km dapat dilalui dalam 6 – 7 jam dengan konsumsi bahan bakar kurang lebih hanya 5 liter, sedangkan kapasitas tangki 20 liter, sehingga dapat survive di dalam hutan selama 7 x 4 jam atau 4 hari perjalanan siang hari.
Disamping untuk misi penjelajah atau survey atau pengawasan, maka FIN Komodo yang dirancang oleh salah satu desainer pesawat CN-250 Gatotkaca Ibnu Susilo juga dapat digunakan untuk mengangkut beban (barang bawaan) seberat 250 Kg, sehingga dapat juga berfungsi sebagai kendaraan utility.

Wakaba
Wakaba berasal dari singkatan Wahana Karya Anak Bangsa adalah mobil buatan Jawa Barat yang didukung oleh mesin berkapasitas 500 cc, 4 tak, 2 silinder, yang diklaim tetap bertenaga untuk digunakan pada medan seperti pedesaan yang penuh dengan bukit dan pegunungan. Dengan dimensi panjang 3.300 mm, serta lebar 1.500 mm, dan tinggi 1.820 mm, Wakaba siap memenuhi kebutuhan transportasi pedesaan yang selama ini masih jarang tersentuh secara khusus sektor transportasinya.

Arina
Arina merupakan mobil mungil buatan Semarang. Mobil ini berawal Universitas Negeri Semarang yang didanai oleh Departemen Perindustrian. Mobil Arina ini menggunakan mesin sepeda motor dengan kapasitas mesin 150 cc, 200 cc, dan 250 cc. Perancang mobil adalah seorang dosen jurusan Teknik Mesin Unnes bernama Widya Aryadi.

Nuri
Nuri merupakan saudara Tawon yang juga diproduksi oleh PT Super Gasindo Jaya. Mobil ini menggunakan mesin 800 cc. Mobil ini memiliki model hatchback yang mampu membuatnya lincah bermanuver.

Boneo
Mobil ini merupakan mobil buatan PT Boneo Daya Utama dan masih dalam tahap purwarupa. Modelnya ada dua yakni city car dan pikap dengan mesin V-Twin berkapasitas 653 cc yang mampu mengeluarkan tenaga 15,3 kW dan torsi 44,3 Nm.

Esemka
Mobil nasional berikutnya adalah Esemka. Esemka mengambil nama dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mobil ini sebenarnya merupakan mobil rakitan karya siswa-siswi SMK.
Nama-nama merek Esemka berbeda-beda tergantung SMK mana yang membuatnya. Ada Didgaya, Rajawali, dan lainnya dengan model berbeda-beda mulai dari SUV, MPV dan pikap kabin ganda.
Esemka pertama kali muncul ke publik pada 2009 lalu saat sebuah event di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mesinnya menggunakan mesin 1.500 cc yang berawal dari mesin Timor, namun dimodifikasi sendiri oleh Esemka. Ada pula yang mesin yang dipesan dari PT AIK Karawang yang kemudian dirakit oleh Esemka. Karena berbagai keterbatasan, beberapa parts kendaraan diambil dari mobil yang sudah beredar di Indonesia. Seperti lampu depan, dashboard, dan lampu belakang. Bahkan ada tipe tertentu mobil Esemka yang memgunakan mesin Isuzu Panther.

Mobil Esemka menyedot perhatian publik karena desainnya sudah sangat bagus. Terakhir mobil ini juga menjadi sorotan di awal tahun 2012 menyusul keputusan Walikota Surakarta Joko Widodo yang menggunakan mobil ini sebagai mobil dinas sebagai wujud dukungan bagi mobil Esemka. Tokoh-tokoh politik dan pejabat publik pun menyusul berbondong-bondong memesannya meski mobil Esemka belum lulus pengujian resmi apapun. Tampaknya mereka tidak mau kehilangan simpati dengan semakin dekatnya Pemilu mendatang. Memang beruntung bagi proyek mobil Esemka yang tidak berbasis pada perusahaan besar (baca: non-partisan) yang biasanya pengusahanya juga terlibat dalam proses tarik-menarik di dunia politik. Sehingga sangat banyak dukungan dari berbagai tokoh politik dan pemerintahan.

Seharusnya dukungan bagi proyek mobnas tidak berhenti pada sekedar dukungan jangka pendek dengan tendensi politik. Dibutuhkan political will pemerintah dan perangkat hukum pendukung tanpa melanggar hukum internasional (misalnya WTO) sehingga tercipta iklim yang kondusif bagi perkembangan proyek-proyek mobnas. Secara alamiah akan terseleksi mana proyek mobnas terbaik di Indonesia dengan faktor kemandirian yang kuat lepas dari asupan gizi pemerintah yang tentu memberatkan anggaran negara namun mampu bersaing dengan pemain mapan. Tidak dikhususkan pada merk tertentu dengan fasilitas khusus yang sangat mencolok. Jika hal itu terjadi ibarat membangunkan macan tidur, melecut perang dagang sektor otomotif dengan negara-negara maju terutama Jepang.

Satu Tanggapan to “Balada Mobil Nasional, dari Maleo Hingga Esemka”

  1. Subono (@Subono5758) 3 Mei 2012 pada 1:54 AM #

    Aku pesimis dengan kondisi pemerintah kita!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: