Teguh Memegang Buhul

29 Okt

Tali Buhul

Suatu hari, Muhammad bin Sirin membeli minyak goreng dengan maksud dijual kembali. Ia membeliminyak itu secara kredit seharga 40 ribu dinar. Tapi beberapa hari kemudian, saat membuka tutup drum minyak yang terbuat dari kulit, ia menjumpai bangkai tikus yang mengapung di genangan minyak tersebut. Padahal dari drum itu minyak disaring dan dimasukkan ke dalam wadah lain.

Sejenak dia berpikir, ”Semua minyak ini berasal dari satu penyaringan. Ini berarti najis tersebut tak hanya mengenai satu wadah ini. Aku bisa rugi besar jika tidak mengembalikannya.”

Namun dia berpikir lebih jauh lagi, “ Jika aku kembalikan kepada si penjual minyak ini karena alasan terdapat najis, bisa jadi dia akan menjual lagi minyak ini kepada orang lain.”

Setelah mempertimbangkan banyak hal, ia menumpahkan minyak makan tersebut ke selokan. Alhasil ia tidak jadi berjualan minyak itu bahkan harus menanggung hutang 40 ribu dinar.

Hari berlalu, hingga kemudian pedagang minyak itu datang mencari Muhammad bin Sirin guna menagih hutang. Namun dia tak punya uang maupun barang jaminan senilai 40 ribu dinar. Ia pun akhirnya pasrah ketika pedagang itu membawa kasus ini ke pengadilan. Akhirnya ia terpaksa harus mendekam di dalam penjara karena tak mampu membayar hutang tersebut. Selama di dalam penjara, perilakunya yang saleh sangat mengesankan siapapun yang berada di sana. Bahkan penjaga penjara menaruh sikap prihatin dengan nasibnya.

Seorang sipir penjara berniat menolongnya, “Wahai Tuan, jika malam tiba, silakan engkau keluar penjara dan tinggal bersama keluarga anda. Bila sudah pagi, Anda bisa kembali ke sini. Engkau bisa melakukan ini hingga dibebaskan. Aku dan kawan-kawanku akan menjaga rahasia ini.”

Tetapi Muhammad bin Sirin bukan senang atau gembira dengan tawaran yang sangat menarik ini melainkan menjawab dengan tenang, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan itu dan semoga Allah memberi petunjuk kepadamu.”

“Kenapa engkau menolak? Anda bukan orang jahat. Kami percaya kepadamu, apakah engkau tidak mempercayai kami?”

“Bukan begitu. Saya tidak ingin terlibat persekongkolan dan berkhianat pada penguasa negeri ini. Bagaimanapun saya harus menghormati hukum di negeri ini.”

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Sirin Al-Anshary (33H-110H, 653M-728M), seorang tabi’in ahli fiqih yang zuhud dan wara. Beliau lahir di Basrah dua tahun menjelang masa pemerintahan Utsman bin Affan, meninggal setelah 100 hari wafatnya Hasan Bashri. Ia sempat bertemu dengan 30 sahabat Rasulullah tetapi tidak pernah melihat Abu Bakar dan Abu Dzar Al-Ghifari. Beliau meriwayatkan beberapa hadits musnad dari Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Hudzaifah bin Al-Yaman, Abdullah bin Umar, dan sebagainya.  Bapaknya Muhammad bin Sirrin merupakan bekas sahaya Anas bin Malik yang dibelinya dari Khalid bin Walid yang menawannya di Ain at-Tamr di gurun pasir Irak dekat al-Anbar. Ibundanya Muhammad bin Sirrin ialah Shafifiyah, bekas sahaya Abu Bakar. Muhammad bin Sirin terkenal dengan keutamaannya dalam menafsir makna mimpi.

Referensi:

http://www.wikipedia.org

http://www.ppnuruliman.com

http://www.ahlulhadits.wordpress.com

Majalah Hidayah Edisi 105 – Mei 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: