Ridha Ibu Sepanjang Jalan

16 Okt
Doa Ibu

Seorang pelayan Anas bin Malik yang bernama Ibban bin Shaleh suatu ketika berjalan melewati sebuah pasar yang ramai di tengah kota Basrah. Di merasa heran menyaksikan empat orang laki-laki menggotong sebuah keranda mayat tanpa ada yang lain mengikuti atau melayat di tengah keramaian. Lantas Ibban bergabung dengan iringan kecil tersebut menyusuri jalan menuju pemakaman. Setelah tiba di tujuan, dia bermaksud hendak supaya jenazah dishalatkan dahulu.

“Siapakah di antara kalian yang menjadi wali jenazah agar menjadi imam shalat jenazahnya?” tanya Ibban.

“Kami semua tidak satu pun yang menjadi wali jenazah ini. Silakan anda maju memimpin shalat jenazah,” jawab salah satu di antaranya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ibban maju menjadi imam sahalat jenazah. Setelah itu baru jenazah mereka kuburkan. Usai prosesi pemakaman, Ibban kembali bertanya kepada mereka.

“Kenapa kalian tidak jujur menceritakan tentang siapa sebenarnya jenazah itu?”

“Sungguh! Tidak seorang pun di antara kami yang menmgetahui sejatinya jenazah itu kecuali wanita yang berada di sana. Dia yang menyewa kami,” jawabnya sambil menunjuk ke arah seorang wanita tua yang berdiri agak jauh. Wanita tersebut kemudian mendekati makam sedangkan keempat laki-laki itu pergi meninggalkan pemakaman.

Tanpa disadari wanita itu, Ibban mengamati gerak-geriknya dengan tatapan curiga. Ibban makin penasaran setelah melihat wanita tersebut menyunggingkan senyuman kecil ke arah makam jenazah tadi. Ibban lantas menghampiri wanita itu untuk mengetahui duduk perkaranya.

“Demi Allah, aneh, apakah engkau berkenan mengatakan sebab mengapa anda tersenyum ketika seharusnya anda bersedih?” tanya Ibban.

“Biar saja. Apa urusan anda menanyakan hal tersebut kepadaku?” jawabnya dengan ketus.

Tampak wajahnya merasa terusik dengan pertanyaan Ibban. Jawaban itu tidak membuat Ibban marah namun malah memperbesar rasa penasarannya.

“Katakanlah kepadaku apa yang sebenarnya terjadi. Aku adalah Ibban bin Shaleh, pelayan Anas bin Malik yang juga sahabat dan pelayan Rasulullah,” pinta Ibban.

Mendengar penuturan Ibban, roman muka wanita tersebut mulai berubah lebih ramah.

“Wahai Ibban, seandaainya bukan karena itu aku enggan menceritakan semuanya,” katanya mulai jujur.

“Ketahuilah, jenazah ini adalah anakku. Semasa hidupnya dulu dia banyak menuruti hawa nafsunya. Semalam dia sakit parah, dia memanggilku dan memberi beberapa wasiat.

Pertama, apabila dia meninggal dunia, aku tidak usah memberitahu siapapun di antara tetangganya. Kedua, ia memintaku untuk mengambil cincinnya dan mengukir tulisan di atasnya kalimat Laa ilaaha ilallah Muhammadur Rasulullah. Ketiga, ia memintaku agar aku meletakkan cincin itu di antara kulit dan kain kafannya. Keempat, ia memintaku apabila telah dimasukkan ke liang kubur agar aku meletakkan tanganku pada ikat rambutku, lalu menengadah ke hadlirat Allah utnyuk memohon ampunan untuknya dengan mengucapkan Ya Allah hamba telah ridha pada anak hamba maka berilah ia keridhaan-Mu.

Perempuan tua itu membeberkan kisah kematian anaknya dan latar belakang perilaku ganjil sebelumnya. Perempuan tersebut melanjutkan kisahnya.

“Setelah selesai menyampaikan wasiatnya ia meminta untuk terakhirnya agar aku meletakkan kaki kananku di tengah wajahnya sambil berkata Ini adalah balasan bagi orang yang durhaka kepada Allah azza wa jalla.”

Ibban terharu mendengar penuturan wanita ini. Terharu terhadap niatan taubat anaknya dan terharu kepada kelembutan sang ibu meski sering disakiti. Bagaimanapun pintu taubat masih terbuka selama manusia belum meregang nyawa.

“Sebenarnya aku tak ingin menuruti pesannya untuk meletakkan kaki kananku di atas wajahnya. Namun aku tak ingin mengkhianati amanah. Aku tidak mengangkatnya dari tengah wajahnya hingga ia menghembuskan nafas terakhir.”

Matanya menjadi sembab oleh tangis demi mengingat saat-saat terakhir anaknya.

“Kemudian aku menyewa empat orang tadi untuk mengurus jenazah anakku. Mereka memandikan, mengkafani, membawanya ke kuburan, dan memakamkannya seperti yang anda lihat tadi. Setelah mereka pergi, aku meletakkan tanganku pada ikat rambutku dan menengadah ke hadirat Allah sambil berucap Ya Arham ar-Rahim, wa Akram al-Karamiin (Ya Allha Yang Maha Pengasih dan Ya Allah Yang Maha Pemurah), Ya Allah yang Maha menyelesaikan segala sesuatu, Engkau mengetahui tentang kami, baik yang rahasia maupun yang tampak, Engkau melihat yang terlihat maupun yang tersamar, anak hamba yang durhaka dan berdosa serta salah telah menyampaiukan kepada Engkau melalui keridhaan ibunya yang hina dan miskin ini, hamba telah merelakannya maka berikanlah keridhaan-Mu kepadanya.

Iban masih tepekur menyimak segala kisah perempuan tersebut.

“Wahai Ibban, setelah aku memanjatkan doa kepada Allah, aku mendengar suara dalam kubur Pergilah ibu, aku telah menghadap Allah Yang Maha Pemurah dan Dia telah mengampuniku. Itulah ikhwal yang membuatku tersenyum.”

Bahkan Ibban tak kuasa menahan sedih dan haru, betapa lembut prempuan ini. Betapa juga kesungguhan taubat almarhum benar-benar didengar Allah mengampuni dosa anak dari wanita itu.

Lantas perempuan itu pergi berlalu meninggalkan Ibban bin Shaleh yang masih tercenung seorang diri memikirkan ikhtibar yang barusan didapatkannya.

(Hidayah, Edisi 77 Desember 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: