Bebasnya Kapal Nuklir 11 : Jarum Kompas Berubah

7 Okt

Bab XI : Jarum Kompas Berubah

Bangunan ini telah koyak-koyak diterjangan tembakan senapan mesin berat dan dihantam mortir. Asap bekas ledakan mortir masih mengepul, kobaran api membakar kayu gedung masih menyala. Bau mesiu bercampur anyir darah dan serpihan daging manusia yang gosong berbaur menjadi satu menyengat hidung. Kapten Thoha maupun yang lainnya berusaha menahan muntah. Mereka melangkahi beberapa mayat pria kulit hitam yang tewas akibat pecahan proyektil mortir atau tertembus peluru senapan mesin. Mereka tiba di salah satu ruangan sumber rintihan yang timbul tenggelam. Dada Pasaribu berdebar-debar, begitu tiba di dalamnya tampak mayat-mayat bergelimpangan. Api kecil masih berkobar-kobar, dinding luar telah ambruk karena jebol. Dia mengenali mayat-mayat itu adalah awak kapal yang dipisahkan oleh Komandan Osama. Hati Pasaribu luluh, lututnya lemas tak sanggup menopang badannya akibat luapan emosi menyaksikan rekan-rekannya sudah tidak bernyawa. Kapten Thoba mencoba mendekati satu-satunya orang yang terbaring namun masih bergerak-gerak.

“Sondakh, Sondakh, bangun!” seru Kapten Thoha kepadanya sambil berlutut.

Dia adalah salah satu kelasi kapal asal Manado, berencana melamar kekasihnya 3 bulan lagi.

“Sondakh, apa yang terjadi?” tanya Kapten Thoha dengan bola matanya berkaca-kaca.

“Saya terkena desingan peluru, Kapten. Lalu terdengar suara ledakan. Banyak rekan-rekan saya yang berjatuhan. Tolonglah mereka, Kapten,” pintanya dengan suara lemah.

“Aku pasti menolong mereka. Jangan khawatir, tapi kamu harus bertahan,” kata Kapten Thoha sambil memegang tangan kanan Sondakh.

“Dada saya terasa panas. Mata saya berkunang-kunang.”

“Bertahanlah. Aku akan mencari pertolongan. Aku janji akan melamarkan calon istrimu untuk kamu. Bukankah engkau bertekad melamarnya tiga bula mendatang.”

“Benar, Kapten. Sampaikan kepadanya bahwa aku mencintainya. Saya sangat setia kepadanya. Saya tidak pernah memiliki kekasih selain dirinya.”

“Pasti, Sondakh. Aku percaya engkau seorang laki-laki yang setia dan tepat janji. Aku bangga memiliki anggota seperti kamu.”

Sondakh terdiam. Tubuhnya semakin dingin dan kaku. Wajahnya pucat dan bibirnya berubah kebiru-biruan. Dia telah meninggal dunia. Kapten Thoha terdiam, pundaknya naik turun dengan cepat. Akhirnya dia tak mampu menahan tangisnya yang meledak.

“Sondakh..! Sondakh..!” panggil Kapten Thoha kepada Sondakh.

Namun dia tetap tidak menjawab panggilan Kapten Thoha. Rifai dan Anwar yang berada di belakang Kapten Thoha tak kuasa menahan haru. Mereka berdua pun ikut menangis sesenggukan. Bejo dan Jafar memeriksa seluruh isi ruangan. Namun tampaknya tidak ada harapan. Mereka melangkah mendekati Kapten Thoha yang masih bermata nanar jauh menerawang.

“Kapten, kami sudah memeriksa semuanya. Tidak ada yang selamat satu pun di ruangan ini.”

“Tampaknya ada lebih dari satu mortir yang menimpa ruangan ini. Kita telah kehilangan sepuluh anggota.”

“Ada beberapa orang kulit hitam di sebelah depan luar bangunan, Kapten. Sepertinya Ahmed ada di situ,” lapor Jamil.

“Kita jumpai dia. Aku ingin tahu apa yang terjadi.”

Kapten Thoha bangkit dan berjalan keluar bangunan melalui dinding gedung yang roboh diikuti oleh anak buahnya. Tampak bekas-bekas sisa pertempuran sengit di perkampungan ini. Selongsong peluru berceceran di mana-mana, asap dan bara api masih jelas mengepul. Mayat-mayat orang kulit hitam tergeletak di sudut-sudut jalan. Di depan bangunan terlihat lima orang bersenjata api mengerumuni seorang jenazah. Setelah dekat baru jelas mayat tersebut adalah Abdullah Saleh. Berjongkok di sebelahnya adiknya, Yusuf Ahmed, sambil menangis meratap.  Empat orang lainnya ikut bersedih.

“Apa yang terjadi Tuan Ahmed?” sapa Kapten Thoha.

“Abangku barusan meninggal dunia.”

“Aku turut berbela sungkawa.”

“Terima kasih, Kapten Thoha. Bagaimana keadaan dirimu? Apakah Anda terluka?”

“Saya baik-baik saja. Tapi aku kehilangan sepuluh anak buahku.”

“Sama. Selain Abang Saleh, beberapa anak buahku juga tewas. Apakah Kapten Thoha bersedia bekerjasama menguburkan semua yang meninggal dunia? Aku minta tolong nanti Kapten Thoha yang menjadi imam sholat jenazah dan memimpin doa. Aku percaya dengan kesalehan Kapten Thoha.”

“Dengan senang hati, Tuan Ahmed. Saya juga ingin menguburkan anggotaku secara layak. Mumpung hari belum sore.”

Anggota Kapten Thoha dan Ahmed akhirnya bekerjasama menguburkan jenazah. Mereka bahu membahu membuat lubang kuburan massal. Jenazah dianggap mati syahid tanpa dikafani karena situasi darurat. Kapten Thoha memimpin sholat jenazah dan membaca doa. Kemudian tanah disekop menimbun kembali lubang kubur menutupi para jenazah. Baik Kapten Thoha dan Yusuf Ahmed berlinang air mata. Mereka merasa kehilangan orang-orang yang sangat dekat, senasib seperjuangan, namun akhirnya dipisahkan oleh maut.

Senja mulai turun, lembayung senja bergelayut di ufuk barat.

“Maghrib sudah tiba, Tuan Ahmed. Alangkah baiknya kita sholat Maghrib dengan berjamaah.”

“Baiklah, Kapten Thoha. Kita gunakan beranda bangunan yang masih utuh itu untuk sholat berjamaah,” kata Ahmed sambil menunjukkan telunjuknya.

Selang beberapa saat ketiga belas orang itu menunaikan sholat Maghrib berjamaah di sebuah bangunan yang sebagian sudah koyak oleh peperangan, suatu pojokan perkampungan Ras Kamboni.

Semenjak hari ini, sikap Ahmed tidak lagi segarang sebelumnya, lebih banyak termenung. Anak buah Ahmed membuat mengumpulkan potongan kayu dan menyalakan api unggun sambil menggantung ceret di atasnya untuk merebus air. Mereka duduk-duduk di teras beranda bangunan tersebut. Kapten Thoha duduk di samping Yusuf Ahmed, demikian juga anak buah mereka duduk-duduk di dekatnya sambil memandang nyala api unggun menjilat-jilat ceret pemanas air.

“Apa yang terjadi sebenarnya Tuan Ahmed? Begitu besar pertempuran siang tadi hingga menewaskan separuh anggotaku dan pasukan Tuan Ahmed?” tanya Kapten Thoha.

“Ini yang sering terjadi di negeri ini. Serangan tiba-tiba dari milisi yang lain berebut daerah kekuasaan. Hari ini kawan besok bisa jadi lawan. Tidak ada sekutu sejati melainkan kepentingan tetua milisi, klan, atau partai yang bersifat sejati dan abadi.”

“Siapa yang menyerang kemari, Tuan.”

“Milisi Hassan Al-Turki dari Ras Kamboni wilayah selatan menyerang sisi utara Ras Kamboni posisi kami ini yang dikuasai milisi Ahmed Madoobe. Sebelumnya Komandan Abu Nidal yang bersekutu dengan milisi Ahmed Madoobe di sini melakukan gencatan senjata dengan milisi Hassan Al-Turki di Ras Kamboni selatan. Setelah Komandan Abu Nidal tewas dibunuh Komandan Osama, Hassan Al-Turki menuduh Osama akan membelot ke milisi klan Hawiye yang mendominasi Pemerintahan Sementara Mogadishu. Lalu pasukan milisi Hassan Al-Turki menyerang utara kota dengan sengit untuk merebut wilayah ini dari tangan Komandan Osama. Pasukan milisi kami berhasil memukul mundur mereka kembali ke selatan tapi dengan korban yang begitu banyak.”

“Di mana sekarang Komandan Osama?”

“Aku sendiri tidak tahu pasti posisinya sekarang. Mungkin dia sedang mengkoordinasikan pasukannya di perbatasan dengan wilayah selatan.”

“Bagaimana nasib kami, Tuan Ahmed?”

“Entahlah, kini kalian bukan lagi sandera hingga Komandan Osama datang. Aku sendiri sudah tidak berminat lagi terlibat dalam permainannya milisi Komandan Osama.”

Ceret air berbuih tanda air sudah mendidih. Seorang pemuda kulit hitam mengambil ceret tersebut dan menuangkannya ke dalam gelas yang berisi kopi dan gula. Lantas dia menyeduhnya dan menyajikan gelas kopi panas kepada Kapten Thoha dan Yusuf Ahmed. Aroma kopi yang begitu khas dan kental ditambah bau khas bakaran kayu membuat cita rasanya begitu menggoda. Disusul seorang lagi membagikan sekeping roti.

“Makanlah roti ini, Kapten Thoha. Ini adalah makan malam dengan segelas kopi tubruk.”

“Terima kasih, Tuan Ahmed. Apakah sebenarnya rencana Komandan Osama?”

“Dia mengajak kami berlayar kembali dengan kapal MV Sinar Emas menuju Iskandariyah bersama kalian. Saleh dijanjikan bagian satu juta dollar dari tebusan yang diterima kelompok milisi Komandan Osama jika kapal berhasil mencapai tujuan. Imbalan sebesar itu tentu sangat menggiurkan bagiku. Aku setuju dengan pendapat Saleh dan mengajak anggota kami bergabung dengan milisi Osama Okocha.”

“Tuan tadi bilang bahwa Abu Nidal tewas dibunuh Osama Okocha?”

“Benar, Kapten. Komandan Osama mengkudeta kepemimpinan grup perompak kapal MV Sinar Emas setelah paket tebusan sudah diterima di Eyl. Osama menembak mati Abu Nidal dan orang-orang yang setia dengannya. Lantas Komandan Osama membatalkan rencana pembebasan kalian di sini. Bilangnya ada pesanan kapal di Iskandariyah, jadi kalian akan diturunkan serta dibebaskan di sana. Kapal itu pun sudah selesai kami ubah cat dan namanya. Kami cat ulang badan kapal dari warna abu-abu menjadi warna biru. Namanya juga diganti menjadi MV Aeolus dengan bendera Siprus. Tapi sayang kami mengalami kendala besar jika mengoperasikan sendiri kapal itu. Oleh karena itu Komandan Osama memaksa Kapten Thoha ikut berlayar ke sana.”

Kapten Thoha terbatuk, kemudian menyeruput gelas kopi panasnya. Yusuf Ahmed terdiam sejenak, seperti ada beban berat di dalam pikirannya.

“Apa rencana tuan selanjutnya?”

Yusuf Ahmed belum menjawab pertanyaan Kapten Thoha. Dia menarik nafas yang dalam, dan menghembuskannya dengan panjang.

“Aku sendiri hampir putus asa dengan situasi ini. Terlalu banyak kehilangan orang-orang yang aku cintai di sekelilingku. Saudara satu-satunya yang kumiliki sudah tiada. Bapakku sudah lama meninggal dunia. Iparku tidak jelas rimbanya. Hanya ibu satu-satunya yang kumiliki.”

“Bukankah lebih baik jika Tuan Ahmed berkumpul kembali dengan ibunda?”

“Aku sudah muak dengan semua ini. Aku pun mulai tidak mempercayai Komandan Osama dengan segala ambisinya yang menjenuhkan. Sudah terpikirkan olehku untuk memisahkan diri dari milisinya, tentu ini berkonsekuensi bermusuhan dengan dia. Namun sejak kepergian Saleh, semakin bulat tekadku untuk pergi menyusul ibu ke Kenya.”

“Tapi anda nampaknya masih memiliki kekuatan.”

“Pasukanku tinggal empat orang ini saja yang tersisa dan yang masih setia denganku. Mereka berasal dari klan Habar Gidir. Jika aku meninggalkan mereka, sesuai dengan kesepakatan dengan mendiang Saleh maka mereka akan pulang kembali ke kampungnya di Hiiran, Somalia tengah.”

“Seandainya Tuan Ahmed jadi pergi, bagaimana dengan kami di sini?”

“Terserah anda, Kapten Thoha. Jika anda tetap bertahan di sini, pasti Komandan Osama akan menangkap anda lagi dan memaksa awak kapal untuk berlayar ke Iskandariyah. Jika anda hendak ikut denganku, banyak resiko menghadang sepanjang perjalanan menuju perbatasan.”

“JikaTuan Ahmed saja tidak percaya dengan komandan Osama, apalagi kami. Saya tidak akan menggantungkan nasib kepadanya. Melainkan kami akan ikut berupaya mencapai perbatasan kenya dan mencari perlindungan badan internasional di sana. Aku rasa pilihan ini lebih masuk akal daripada ikut berlayar dengan komandan Osama ke Iskandariyah. Apabila sampai di sana pun saya juga tidak tahu pasti nasib kami berikutnya. Saya mencium gelagat tidak baik darinya. Saya mohon tuan Ahmed berkenan membawa kami ikut ke Kenya.”

“Jika itu sudah menjadi kemauan Kapten Thoha, terserah saja. Tapi anda dan yang lainnya harus taat kepada perintahku agar semuanya bisa selamat.”

“Saya bersedia dengan senang hati, tuan.”

“Malam kian larut. Kita istirahat dulu, nanti selepas tengah malam persiapan berangkat. Entar aku jelaskan jika sudah hendak berangkat.”

“Baiklah.Terima kasih berkenan membantu kami.”

Api unggun kian mengecil nyalanya, kini tinggal bara yang tersisa. Kapten Thoha dan anak buahnya tidur samping emperan beranda. Yusuf Ahmed istirahat di sisi lainnya beserta tiga anak buahnya sementara satu orang lagi anak buahnya giliran berjaga mengamati situasi sekitar yang dirasa masih rawan. Melihat taktik penjagaan yang dilakukan anak buah Ahmed, Kapten Thoha merasa tidak enak jika membiarkannya tanpa membantu. Dia merasa sudah diperlakukan setara dengan kelompok Yusuf Ahmed.

“Pasaribu, kemari kau,” ujar Kapten Thoha.

“Siap, Kapten,” jawab Pasaribu.

“Kamu berjaga dulu membantu anggota Yusuf Ahmed. Bergantian tiap satu jam dengan yang lainnya. Jangan sampai tertidur saat jaga. Jika ada kondisi yang mengkhawatirkan segera bangunkan semuanya termasuk aku.”

“Baik, Kapten. Saya akan berjaga malam dulu. Baru giliran Rifai. Kapten istirahat saja, biar kami yang bergantian jaga.”

Kapten Thoha rebahkan badannya kembali dan memejamkan mata. Setelah selama lebih dari satu jam berjaga, Pasaribu mendekati Rifai dan menggugahnya.

“Rifai, Rifai, bangun. Giliran kamu berjaga saat ini,” kata Pasaribu.

“Iya, aku bangun,” jawab Rifai sambil duduk mengusap muka dengan kedua telapak tangan.

Malam merambah naik, diselingi suara burung-burung gagak dari atas pucuk-pucuk bangunan dan pohon sekitar. Burung gagak  itu mungkin masih mencium bau bangkai jasad yang masih belum dikubur. Memberi pesan bahwa maut masih terus bergelayut siap menjemput sewaktu-waktu. Di tengah suasana mencekam, pertempuran bisa pecah tanpa diduga seperti siang tadi.

***

  Bersambung ke Bab XII : Soldiers of Fortune

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: