Bebasnya Kapal Nuklir 10 : Pelangi Di Balik Hujan

6 Okt

Bab X : Pelangi di Balik Hujan

Sudah dua hari Kapten Thoha memikirkan teka-teki di balik rencana pelayaran Komandan Osama ke Iskandariyah Mesir. Ruang tahanan utama makin sepi setelah sepuluh anggotanya dipisah ke ruang lain dalam banguanan itu. Kapten Thoha mengerti bahwa Komandan Osama berusaha memaksanya ikut dalam pelayaran itu. Tenaganya sebagai nakhoda beserta awak yang tersisa rupanya masih diperlukan oleh para perompak. Tetapi kemana gerangan Komandan Abu Nidal? Semenjak diturunkan ke darat dia sudah tidak pernah kelihatan batang hidungnya. Kenapa harus ke Iskandariyah? Di mana armada pasukan NATO bahkan militer Indonesia? Semua pertanyaan tersebut berputar-putar terus-menerus di dalam benak Kapten Thoha tanpa ada secercah jawaban pasti. Namun ada keyakinan bahwa kantor pusat pasti meminta pertolongan pemerintah dan militer Indonesia untuk membebaskan kapal MV Sinar Emas beserta awaknya. Dia sama sekali tidak memiliki harapan bantuan dari Pemerintah Somalia sendiri. Kapten Thoha tahu dari cerita Saleh dan Ahmed sewaktu di kapal bahwa Pemerintah Sementara Somalia tidak memiliki kekuatan efektif di negeri Somalia, sangat terbatas di ibukota Maogadishu. Itu pun dengan dukungan pasukan Uni Afrika yang tergabung dalam AMISOM yang terutama berasal dari Uganda dan Burundi. Oleh karenanya kelompok garis keras Somalia dituding bertanggung jawab atas penyerangan teror bom ke Kampala yang menewaskan puluhan orang. Ketika ada acara nonton bareng pertandingan final sepak bola Piala Dunia Spanyol lawan Belanda. Kekuasaan di daerah dan distrik penjuru Somalia berada di tangan panglima perang lokal dan beragan milisi bersenjata. Kapten Thoha tawakal jika terpaksa harus menjemput maut di tanah asing ini. Dia telah berserah diri kepada Ilahi yang menghidupkan dan mematikan makhluk di mayapada. Bukankah semua mahkluk yang bernyawa pasti menemukan ajalnya. Bukankah setiap dzat yang diciptakan-Nya pasti kembali berpulang kepada-Nya. Dunia adalah panggung sandiwara, sang Pencipta adalah sutradaranya. Sedangkan diri Kapten Thoha cuma sekedar wayang yang dimain-mainkan sang Dalang. Lamunan Kapten Thoha buyar setelah mendengar langkah-langkah yang makin mendekati pintu. Terdengar gesekan anak kunci dengan lubang kunci pintu, daun pintu yang besar dan tebal itu perlahan-lahan membuka semakin melebar. Tampak Saleh dan Ahmed datang melangkah menuju tempat Kapten Thoha duduk termangu.

“Assalamu’alaikum,” sapa Abudullah Saleh.

“Wa’alaikumsalam. Ada apalagi Tuan Saleh menemui kami?” balas Kapten Thoha.

“Kondisi di luar berubah dengan cepat dan tidak terduga, Kapten Thoha. Apakah Kapten bersedia menerima tawaran Komandan Osama untuk dibebaskan di Iskandariyah? Beliau memastikan bahwa kalian akan bebas di sana. Tebusan kalian sudah kami terima namun pembebasn kalian bukan di sini tapi di sana.”

“Bagaimana kalau kami menolak?”

“Jika anda menolak, mulai hari ini ransum makanan kalian akan dikurangi menjadi satu hari sekali.”

Kapten Thoha termenung sesaat.

“Saya harap Kapten Thoha segera menerimanya. Tidak ada pilihan lain. Aku pribadi juga tidak ingin mempersulit kalian. Besok pagi aku akan menemui anda lagi besok. Hari ini makanan baru disediakan siang nanti.”

Kapten Thoha diam tanpa menjawab. Saleh mengucapkan salam dan pergi meninggalkan ruang tahanan.  Daun pintu kembali ditutup dan dikunci, bunyi langkah-langkah kaki yang makin menjauh hingga lenyap dibalik ruangan. Suasana hening kembali.

“Bagaimana menurut Kapten. Apakah kita memiliki peluang?” tanya Rifai.

“Aku belum bisa memutuskan. Tapi benar, kita tidak memiliki peluang lain hingga saat ini. Tapi kita tidak boleh langsung menuruti kemauan mereka. Kita harus membangun kekuatan menawar supaya mereka tidak terlalu keras menekan kita.”

“Besok kah jawabannya Kapten Thoha sampaikan?” lanjut Pasaribu.

“Iya. Hari ini kita harus sabar untuk makan satu kali sehari dalam hari ini. Nanti malam bagi semuanya harus banyak berdoa. Mudah-mudahan dengan berlayar ke Iskandariyah, kita benar-benar bisa bebas di sana.”

Matahari makin tinggi dan panas menyengat. Tepat siang hari datang beberapa perompak bersenjata masuk ke dalam ruang tahanan dan membagikan ransum satu-satunya di hari itu bagi awak kapal. Ransum yang sama seperti hari-hari sebelumnya, sekerat roti canjeero dan segelas air putih.

Hari berganti malam, matahari tengelam berganti rembulan sabit. Temaram cahaya lampu minyak di luar pintu menjadi satu-satunya sumber penerangan meski cuma siratan sinar lewat celah-celah daun pintu.

Yamin Anwar dan Ahmad Rifai duduk bersebelahan berbincang-bincang.

“Kamu yakin kita akan berlayar besok?” tanya Anwar.

“Aku sangat yakin. Mereka begitu memaksa Kapten. Kapal itu memang bukan kapal yang jamak diproduksi galangan Eropa tapi buatan galangan Shanghai China. Pasti mereka akan kesulitan jika mau membawa sendiri kapal itu berlayar ke Mesir,” jawab Rifai.

“Aku jadi semangat ingin segera pergi dari sini. Kalau bisa malam ini saja kita berlayar. Sudah tak sabaran lagi untuk bebas dari cengkeraman perompak,” sahut Anwar.

“Sepertinya sudah kangen sama istrimu, Anwar?” tukas Rifai.

“Kalau itu sih tak perlu saya jawab. Emangnya engkau tidak, Rifai? Kalau kamu bilang tidak, halaah munafik itu namanya,” balas Anwar.

”Enak aja kamu. Jelek-jelek begini aku masih lebih perkasa dibanding kau. Mau bukti?” sergah Rifai.

“Menantang nih. Ayo aku tantang kamu berlomba panco. Siapa yang menang berarti dia yang lebih perkasa,” tantang Anwar kepada Rifai.

“Ayo siapa takut, aku buktikan padamu dengan panco,” balas Rifai tak mau kalah.

Mereka berdua merebahkan diri berhadap-hadapan sambil saling mengaitkan tangan kanan. Dengan sigap keduanya berusaha saling menjatuhkan kepalan tangan masing-masing. Ketika keduanya masih sibuk saling menjatuhkan tangan, Kapten Thoha datang menghampiri keduanya.

“Lagi ngapain kalian berdua?” tanya Kapten Thoha.

Mendengar suara Kapten Thoha, Rifai dan Anwar bangkit duduk kembali dari posisi panco mereka yang bertiarap.

“Anwar menantang saya lomba panco,” jawab Rifai.

“Rifai meremehkan keperkasaan saya, Kapten,” balas Anwar tidak mau disalahkan.

“Sudahlah, berlagak bak anak kecil. Hari ini kita makan cuma sekali tapi malah kalian boroskan tenaga kalian dengan cara seperti itu. Apa hubungannya keperkasaan kalian sebagai laki-laki dengan menang berpanco. Yang penting kalian berdua bisa memenuhi nafkah batin buat istri kalian sendiri sudah lebih dari cukup. Besok kita akan melakukan perjalanan jauh. Hemat tenaga kalian.”

“Siap, Kapten,” jawab Rifai dan Anwar, keduanya kembali berbaring saling membelakangi punggung.

Kapten Thoha balik melangkah ke posisinya semula di samping Pasaribu untuk melanjutkan kembali pembicaraannya. Malam kian larut, semua orang di dalam ruang tahanan akhirnya terlelap akibat lelah dengan pikirannya masing-masing dalam keremangan pelita lampu minyak.

Saat dini hari, Kapten Thoha membuka kedua kelopak matanya sambil menguap. Di menoleh karena ada suara gerakan orang. Setelah dicermati dengan teliti ternyata Anwar tengah sholat sunnah, entah mungkin tahajjud atau juga hajat. Kapten Thoha tergerak bangkit melangkah menuju kamar kecil di pojok ruangan mengambil air wudlu. Dia ingin menunaikan sembayang sunnah sholat tahajjud untuk memanjatkan doa memohon pertolongan kepada dzat penguasa alam semesta, tempat dia menyandarkan segala sesuatu dan harapan terutama dalam kondisi terjepit seperti sekarang ini. Hal itu membuatnya memiliki perasaan tenang dan tentram meski ada tekanan dari luar. Suatu perasaan normal bagi semua orang yang pasti membutuhkan dzat yang dinilai lebih powerfull dan lebih berpengaruh dibandingkan dirinya, naluri Robbaniyah. Bahkan sekalipun orang atheis pun akan merasakan hal serupa meski tidak merujuk kepada definisi Tuhan.

Hari berganti pagi, cahaya matahari Afrika semakin terang menyinari ruang tahanan. Kapten Thoha dan delapan anak buahnya di situ duduk berkumpul sambil menunggu kedatangan Abdullah Saleh dan Yusuf Ahmed.

“Ada rencana lain, Kapten?” tanya Rifai.

“Sejauh ini tidak ada. Aku tidak memiliki informasi lain lagi sehingga tidak bisa menimbang jalan lain. Semoga dengan menerima ajakan mereka berlayar ke Iskandariyah akan membawa kita ke jalan pembebasan yang kita semua dambakan.”

“Bagaimana jika itu sebuah jebakan berikutnya?” ujar Bejo meragukan.

“Jika itu sebuah takdir, tak bisa dihindari. Namun kita akan terus berusaha selagi masih ada peluang meski kecil kemungkinannya. Kita harus optimis karena dengan berpikir positif secara tidak sadar kita telah memperkuat mental kita dalam menghadapi permasalahan yang membelit.”

Percakapan berakhir tatkala terdengar langkah-langkah mendekat dan berhenti di balik pintu. Bunyi anak kunci mengulik lubang kunci pintu, perlahan daun pintu dibuka. Masuk beberapa orang perompak bersenjata api, termasuk yang sudah mereka kenal sebelumnya Abdullah Saleh dan Yusuf Ahmed. Tampaknya mereka berdua tetap dipercaya oleh Komandan Osama sebagai salah satu perwira dalam kelompok perompaknya.

“Asslamu’alaikum, Kapten Thoha,” salam Saleh.

“Wassalamu’alaikum , Tuan Saleh,” balas Kapten Thoha.

“Anda masih baik-baik saja?”

“Alhamdulillah, seperti yang tuan lihat sekarang.”

“Sebagaimana kami sampaikan kemarin bahwa pagi ini kami menunggu kepastian jawaban Kapten Thoha untuk berlayar dengan kapal anda sesuai perintah Komandan Osama sekaligus membebaskan kalian semua di pelabuhan Iskandariyah Mesir.”

“Saya bersedia memenuhi permintaan Komandan Osama tapi dengan syarat.”

“Apa yang Kapten kehendaki?”

“Kami benar-benar akan dibebaskan begitu tiba di Iskandariyah.”

“Syarat anda pasti diterima. Kalau begitu persiapkan diri anda semua , nanti siang semua awak kapal baik yang berada di ruang ini maupun ruang sebelah akan dikembalikan ke kapal. Pagi ini akan dihidangkan sarapan. Aku akan melapor dulu kepada Komandan Osama. Senang bisa bekerjasama lagi dengan anda, Kapten Thoha.”

“Saya juga senang berkenalan dengan perompak yang ksatria dan menepati janjinya. Meski kami tidak mempunyai pilihan lain. Apa menu sarapan kami hari ini?”

“Tetap roti canjeero dengan tambahan sebutir balbeelmo. Sebentar lagi disajikan. Asslamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Tak lama kemudian masuk seorang perompak yang berpenampilan garang membawa kantung makanan dan teko minuman air putih. Dia mebagikannya satu per satu kepada semua awak kapal. Sambil menerima uluran makanan dari tangannya, Pasaribu memperhatikan kalungnya. Perompak ini mengalungkan selempang peluru senapan mesin ringan RPK. Peluru jenis M43 dengan disatukan dalam deretan selempang. Membikin keder siapapun yang melihatnya, termasuk Pasaribu.

Selesai melahap sarapan pagi perdana, mereka duduk-duduk di pinggir ruangan. Matahari makin tinggi, cuaca terasa makin terik menyengat. Terdengar dari luar bangunan suara orang-orang saling berteriak dalam bahasa yang tidak dimengerti awak kapal, mungkin bahasa Somali. Disusul bunyi kaki berlari-lari. Tak lama kemudian muncul suara dari kejauhan tembakan senapan api menyalak saling bersahutan. Makin lama desingan suara tembakan-tembakan senjata laras panjang makin men dekat.

“Semuanya tiarap!” teriak Kapten Thoha.

“Ada pertempuran di luar sana,” kata Pasaribu.

“Kelihatannya pertempuran besar. Suaranya ramai sekali,semakin mendekat,” ujar Kapten Thoha.

“Awas peluru nyasar,” teriak Pasaribu.

Kemudian dari luar terdengar suara lengkingan disusul ledakan-ledakan.

“Lindungi kepala kalian. Ada mortir!” sambung Pasaribu.

Bangunan itu bergetar, ada bagian gedung yang terkena hantaman mortir berat. Asap mengepul dan merasuk ke dalam ruang tahanan awak kapal. Tapi semua yang ada di situ tidak berani beranjak dari posisinya masing-masing. Jantung Kapten Thoha berdetak dengan kencang, gerangan apa yang terjadi di luar hingga terjadi pertempuran sengit. Mortir kembali meledak menerjang bagian lain bangunan tersebut. Disusul suara teriakan kesakitan dari sejumlah orang dalam bahasa yang sangat akrab ditelinga para awak kapal.

“Aduuh. Tolong. Tolong”

“Suara siapa itu, Pasaribu?” tanya Kapten Thoha.

“Entah, Kapten. Tapi yang jelas dari ruang sebelah. Berarti ada anggota kita yang terluka di situ, ” ujar Pasaribu.

Selang beberapa saat terdengar rentetan suara berat senapan mesin, pelurunya berdesingan melubangi dinding-dinding ruangan tahanan.

“Awas, tetap tiarap jangan bergerak. Ada tembakan senapan mesin berat,” teriak Kapten Thoha.

Asap kembali mengepul menyelimuti ruangan, beberapa awak terbatuk-batuk. Kemudian suara tembakan senjata api terdengar menjauh dan berhenti sama sekali. Suasana kembali sunyi, namun diwarnai erangan dan kesakitan dari dalam bangunan maupun di luar banguan.

“Pertempuran sudah berhenti, Kapten,” tukas Pasaribu.

“Baik. Ada yang terluka di sini?” tanya Kapten Thoha.

“Tidak ada, semua selamat,” jawab Rifai.

“Pasaribu, kita periksa ruangan sebelah. Kita tengok anggota kita di sana,” perintah Kapten Thoha.

“Tapi pintunya masih terkunci.”

“Didobrak saja. Daun pintu sudah rusak terkena tembakan. Mudah saja menjebolnya.”

Kapten Thoha dan awak kapal lainnya bangkit dan mendekati pintu ruangan. Pasaribu dan Kapten Thoha mengambil ancang-ancang mau menendang mendobrak daun pintu dengan kaki mereka.

Braak..

Daun pintu akhirnya jebol dan terlepas dari kusennya akibat tendangan Kapten Thoha dan Pasaribu. Mereka semua bergegas berjalan keluar mencari sumber rintihan dari ruangan lainnya.

***

  Bersambung ke Bab XI : Safari Afrika

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: