Bebasnya Kapal Nuklir 9 : Masuk Kandang Singa

4 Okt

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab IX : Masuk Kandang Singa

Cahaya mentari pagi mulai menerpa pantai utara tanjung Kamboni, perlahan-lahan mulai jelas terlihat antara jari tengah dan telunjuk. Sementara yang lain masih tergolek tidur akibat kelelahan semalam, Kapten Thoha beserta Anwar dan Rifai tengah khusuk duduk berdoa seusai sholat shubuh di pojok ruangan. Kapten Thoha bertindak sebagai imam dengan Anwar dan Rifai di belakangnya sebagai makmum.  Terdengar perlahan dan berbisik Kapten Thoha bermunajat, “Ya Allah Tuhanku yang Maha Pengampun, ampunilah segala dosa dan kesalahan kami, tunjukkanlah kami jalan yang lurus yang Engkau ridlai. Ya Allah Tuhanku yang Maha Pelindung, lindungilah kami dari segala marabahaya yang tengah mengancam kami, yang kami sendiri tak mampu hindari. Berilah kami jalan keluar dari masalah ini, berilah kami petunjuk untuk pulang kembali dengan selamat. Ya Allah Tuhanku yang Maha Pemurah, berikanlah kesabaran dan keteguhan bagi kami yang  terlunta-lunta di sini, berikanlah kekuatan bagi keluarga kami yang  di sana yang menungu-nunggu kepulangan kami. Seandainya kami memang engkau takdirkan umur kami berhenti di sini maka kembalikan kami ke sisi-Mu dengan akhir yang mulia.”

“Amiin,” Mualim I Rifai dan Steward Kepala Anwar mengamini doa yang dipanjatkan Kapten Thoha.

Mereka berdua lanjut berdzikir memohon pertolongan hingga pagi menjadi terang benderang dan satu per satu awak kapal lainnya mulai terbangun. Berkas matahari menerobos lewat celah-celah atap seng dan lubang-lubang ventilasi dinding. Angin laut sangat terasa berhembus dengan terkadang suara deburan ombak memecah dari kejauhan. Dari pojok ruangan itu terdengar tetesan air kran menetes jatuh memercik di atas genangan air bak kecil, di samping sebuah jamban jongkok.

“Bangunan ini tidak jauh dari pantai,” kata Pasaribu.

“Benar. Masih di dermaga utara Ras Kamboni,” Kapten Thoha menimpali.

“Hari telah pagi, apakah Abu Nidal akan membebaskan kita sesuai dengan janjinya? Saya yakin paket tebusan sudah dikirimkan.”

“Aku merasakan ada sesuatu yang ganjil. Kenapa kita ditahan di sini jika paginya akan dibebaskan. Ada perkembangan situasi yang tidak kita ketahui.”

Kapten Thoha terdiam sesaat kemudian melanjutkan kembali.

“ Tapi aku yakin ada jalan keluar. Kalau kita bisa bebas nanti, apa yang akan kamu kerjakan pertama kali?”

“Saya akan pulang ke Tarutung menjumpai kedua orangtuaku di sana. Aku sangat rindu keduanya. Mereka berdua sudah beberapa tahun yang lalu mengidap sakit diabetes melitus. Saya khawatir umurnya tidak lama lagi. Kalau Kapten Thoha kemana?”

“Aku akan minta cuti panjang, liburan menemani putriku yang kuliah di fakultas kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Kami jarang sekali berkumpul bersama. Istriku lebih sering tinggal di Surabaya menungguku pulang.”

“Bukan gambaran keluarga yang ideal.”

“Betul. Paling banter dapat dihitung dengan jari saat-saat  kami sarapan pagi bersama dalam satu meja. Tapi aku patut bahagia, kami masih harmonis meski tidak begitu mesra. Terakhir aku dan istri mengunjungi putri kami yang indekost di belakang kampus. Aku masih ingat suatu sore hari istriku mengajak kami bertiga makan soto babat di Jalan Oro-oro Dowo di sebuah warung soto terkenal di kota Malang. Luna ngambeg di sana, tidak mau makan soto karena tidak cocok dengan seleranya. Ia pengen pizza hut. Saya menuruti kemauan Luna. Habis warung soto babat, kami bertiga naik mobil ke gerai fastfood pizza hut di dekat alun-alun kota. Begitu tiba di sana Luna menyantap pizza denganb lahap. Giliran istriku yang ngambeg tidak mau makan pizza. Bilangnya rasanya hambar kurang cabe rawit. Akhirnya aku cuma bisa tertawa sendiri menyaksikan perbedaan kultur kuliner antara ibu dan anak ini.”

“Apakah termasuk dalam hal kehidupan pribadi Luna gaul juga?”

“Alhamdulillah kami berusaha menanamkan kejiwaan yang cukup religius dalam diri Luna. Meski beradaptasi dengan kehidupan yang lebih modern daripada orangtuanya, pergaulan Luna cukup konservatif, tidak silau dengan style yang dicitrakan oleh film Holywood. Aku tidak menginginkan dia akan hamil di luar pernikahan atau sirna cita-citanya karena dipermainkan laki-laki. Seperti kebiasaan kalian ketika kapal singgah di pelabuhan.”

“Ha..ha..ha…,” Pasaribu tertawa terbahak-bahak.

“Itu mah naluri laki-laki sejati,” sanggah Pasaribu sambil tertawa lagi.

Terdengar dari kejauhan langkah-langkah sepatu mendekat, gemeretak anak kuci diputar, dan pintu perlahan-lahan dibuka diiringi derit engselnya. Masuk Saleh dengan sejumlah perompak bersenjata lengkap. Saleh membawa senapan Dragunov yang dia selempangkan di pundak kanan. Dia melangkah mendekati Thoha yang duduk bersandar di dinding dengan wajah muram dan masam.

“Bagaimana tidur anda semalam, Kapten Thoha? Aku harap anda bisa tinggal di sini sampai waktu yang kami tentukan. Aku berharap Kapten Thoha dan anak buah anda tetap bisa bekerja sama dengan kami hingga waktu pembebasan datang,” ujar perompak Saleh menyapa Kapten Thoha.

“Kapan waktu pembebasan datang?” balas Thoha.

“Aku belum bisa memastikan saat ini,” jawab Saleh.

“Saya sudah merasa muak dengan tipu daya kalian. Bukankah harusnya hari ini adalah pembebasan kami.”

“Benar, Kapten. Tapi karena sesuatu hal, ada instruksi untuk menahan kalian di sini.”

“Bukankah sebagai seorang yang amanah harus menepati janji. Komandan Abu Nidal telah berjanji kepadaku bahwa jika paket tebusan sesuai dengan yang dia minta maka kami bebas keesokan harinya. Kini aku bertanya kepada Tuan Saleh, apakah paket tebusan telah diterima sesuai kesepakatan?”

“Aku belum bisa menjawabnya. Nanti aku konsultasikan kepada Komandan Osama. Yang jelas, paket sudah dijatuhkan di Eyl dengan sebuah pesawat kargo ringan dari Djibouti. Ransum kalian tetap sebagaimana kalian ditahan di atas kapal. Sebentar lagi diberikan. Selamat menikmati.”

Abdullah Saleh lantas berlalu meninggalkan tawanan perompak setelah seorang anggota perompak datang membagikan ransum makanan. Pintu kembali ditutup diiringi bunyi derit tanda daunnya bergesek dengan lantai. Kunci bergemeretak ditekan anak kunci. Suasana kembali sepi dan sunyi, hari makin panas.

Hari berganti hari, tak terasa berlalu tiga hari tiga malam awak kapal MV Sinar Emas yang tersisa sebanyak sembilan belas orang, termasuk nakhoda, ditahan di bandar utara Ras Kamboni. Kondisi mental awak semakin menurun menuju putus asa. Sehabis sholat Isha, dalam temaran lampu minyak yang diletakkan di luar pintu ruanga penahanan, Kapten Thoha bercakap-cakap dengan anak buahnya.

“Saya rasa harapan untuk bebas nyaris punah,” kata Anwar sambil meneteskan air mata.

Kapten Thoha menarik nafas panjang dengan berat.

“Bagaimana kalau kita berusaha melarikan diri?” usul Pasaribu.

“Berapa prospeknya? Kemana kita akan kabur?” balik Thoha.

“Kita balik ke kapal dan pergi berlayar?” jawab Pasaribu sekenanya.

“Kalau kembali ke kapal, apakah kita mampu mengalahkan perompak yang menjaga kapal? Sebelum kita mendarat, ada lebih dari empat puluh orang perompak yang berada di kapal. Mereka semua bersenjata sedangkan kita tinggal sembilan belas tanpa senjata. Kita bisa juga merebut senjata yang ada sama perompak di sini. Namu itu pasti akan mengorbankan sebagian dari anggota dan itu akan mengurangi lagi jumlah awak yang tersisa,” terang Thoha.

“Kita menyelinap ke kapal dan menghubungi kantor pusat tentang koordinat posisi kita di Ras Kamboni. Pasti militer datang kemari’” usul Rifai.

“Sama saja berarti itu harus melumpuhkan perompak di atas kapal. Prospeknya sangat kecil. Jika pun berhasil masuk ke dek anjungan pasti perlu waktu lebih dari satu hari untuk mencapai tempat ini. Sebelum mereka tiba kita akan habis dibantai perompak.”

“Terus bagaimana strategi, Kapten? Apakah kita akan pasrah hingga membusuk di sini menjadi mayat dan pulang tanpa nama?” protes Anwar.

“Sabarlah menunggu peluang. Ingatlah pada apa yang pernah diceritakan Saleh dan Ahmed bahwa mereka punya paman di UNHCR seminnggu sekali mengirim bahan pangan ke Ras Kamboni dan Kismayo. Berarti ada peluang kita bisa mengontak dan meminta pertolongan anggota PBB di daerah ini. Tinggal kita mencari informasi pastinya posisi orang UNHCR serta harus sabar menunggu waktu yang pas untuk meloloskan diri. Setidaknya kita bisa menyeberang ke Kenya dari perbatasan. Kota ini tidak jauh dari perbatasan Somalia – Kenya. Menurut perhitungan yang aku buat dengan Abu Nidal sewaktu habis rute di barat laut Seychelles, kira-kira jarak ke arah perbatasan Kenya dari Ras Kamboni sekitar sepuluh kilometer. Firasatku memang mengatakan peluang kita dibebaskan semakin mengecil. Boleh jadi mereka akan memeras terus kantor pusat Jakarta,” ujar Kapten Thoha.

Awak yang lain terdiam sambil berpikir keras juga memahami taktik Kapten Thoha.

“Sudahlah. Kalian istirahat dulu, tetap jaga kondisi fisik kalian dengan baik karena itu pasti akan sangat membantu pada saat waktunya tiba,” hibur Kapten Thoha.

Keesokan harinya di pagi yang mendung, mereka kembali duduk-duduk di lantai, sekali-kali berusaha mengintip dari celah-celah daun pintu dan lubang angin tentang situasi di luar. Terdengar kembali suara langkah-langkah mendekat ke arah pintu ruang penahanan. Bunyi anak kunci diputar dalam lubang kunci dan segera daun pintu dibuka dengan kasar. Muncul dari luar Komandan Okocha Osama didampingi Saleh dan Ahmed. Osama mengenakan baju seragam warna hijau zaitun dengan pistol Tokarev terselip di sarungnya pada pinggang kanan.

“Kapten Thoha, apakah anda tetap ingin bebas?” tanya Osama.

“Pasti, Tuan. Kami semua ingin segera bebas dan kembali pulang ke tanah air,” jawab Kapten Thoha.

“Bagus, Kapten. Aku berencana membebaskan kalian di pelabuhan Iskandariyah Mesir.  Aku pastikan kalian akan bebas di sana.”

“Bagaimana saya bisa yakin kami akan bebas di sana. Seharusnya menurut Komandan Abu Nidal, kami sudah bebas empat hari yang lalu. Tapi kenyataannya tidak, kami tetap ditahan.”

“Kurang ajar sekali engkau, Kapten Thoha. Pimpinan di sini bukan lagi Abu Nidal melainkan aku, Okocha Osama. Camkan itu baik-baik, Kapten. Aku tunggu jawabanmu besok siang. Sementara mulai sekarang rombonganmu akan dibagi dua. Separuh ditaruh di ruang sini, separuh di ruang sebelah hingga Kapten berikan kepastian pelayaran ke Iskandariyah.”

Komandan Osama berkata ketus sambil mengepalkan tinju tangan kanannya. Dengan cepat di berbalik badan meninggalkan ruang tahanan utama. Anak buahnya melaksanakan perintah Komandan Osama dengan menggiring sepuluh orang awak kapal ke ruang lainnya dalam bangunan kusam tersebut. Mereka meronta-ronta menolak berpisah dengan sang nakhoda yang sangat mereka cintai. Namun apa daya kondisi fisik semua awak kapal makin melemah tidak mampu melawan paksaan perompak yang segar bugar ditunjang dengan postur fisik yang kekar dan todongan senjata api. Mimik wajah Kapten Thoha berubah makin layu dan suntuk. Sangat bersedih dengan perlakuan para perompak yang memisahkan separuh awak kapalnya. Kini di ruangan itu tinggal Kapten Thoha beserta Pasaribu, Rifai, Anwar, Bejo, Jamil, Jafar, Sigit, dan Wayan. Mereka semua saling berdiam, tanpa sepatah katapun, tak tahu apa yang harus diperbuat. Hanya suara deburan ombak yang kadang terdengar setelah memecah batuan pantai dari kejauhan.

Kapten Thoha hanya bisa menngelus-elus kepalanya yang berambut tipis dan mulai memutih. Kumis dan jenggotnya tumbuh tidak teratur, tidak bisa merawat diri akibat penyanderaan perompak yang berjalan beberapa minggu. Sambil keningnya berkerut memikirkan teka-teki kenapa Komandan Osama berencana membebaskan awak kapal di Iskadariyah Mesir. Gerangan apa maksud dan tujuan Komandan Osama di balik semua itu.

***

  Bersambung ke Bab X : Pelangi di Balik Hujan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: