Bebasnya Kapal Nuklir 6 : Anjing Berebut Tulang

23 Sep

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab VI : Anjing Berebut Tulang

Setelah menyusuri garis lintas selatan sejauh empat derajat dari khatulistiwa selama dua hari, MV Sinar Emas mencapai akhir rute ketiga. Stamina Kapten Thoha dan anak buahnya makin menurun akibat jatah bahan makanan maupun air minum yang diberikan oleh perompak dikurangi secara drastis. Meskipun dalam situasi yang sangat terjepit, Kapten Thoha berusaha bertahan dan terus-menerus membangkitkan semangat hidup anak buahnya. Pada pagi hari di mana rute ketiga berakhir, Kapten Thoha bertugas di dek anjungan, berdirinya sudah tidak setegak hari-hari sebelumnya.

“Hari ini kapal sudah berada di posisi yang Tuan kehendaki. Saya belum tahu kemana Tuan Nidal akan menuju. Bahkan tujuan akhir kapal ini pun masih anda rahasiakan. Sementara kondisi anak buahku semakin melemah akibat kalian batasi asupan makan kami,” keluh Thoha kepada Abu Nidal.

“Makanan yang ada di kapal tidak cukup lagi untuk makan kenyang, Kapten Thoha. Jangan takut, sebentar lagi kita membuat rute keempat, rute terakhir. Arahkan kapal ke arah barat laut masuk ke perairan pesisir Somalia. Nanti kapal akan bertemu dengan tanjung Kamboni, ambil sisi utara tanjung. Di utara kota Ras Kamboni kapal akan melempar jangkar. Di sana ada banyak persediaan makanan,” jawab Abu Nidal.

“Kami tidak sanggup lagi mengoperasikan kapal ini juga aku dan semua anak buahku. Saya mohon Tuan Nidal tambah jatah makanannya?” pinta Thoha mencoba bernegosiasi.

Dahi Abu Nidal berkenyit tanda sedang berpikir memutuskan sesuatu perkara.

“Baiklah Kapten Thoha jika itu permintaanmu. Tapi tidak semua anak buahmu, cuma engkau dan juru mudi serta kelasi mesin yang bertugas saja,” ujar Abu Nidal tanpa bisa ditolak Thoha.

Abu Nidal menoleh kepada Okocha Osama dan memberi perintah, “Osama, kasih Kapten Thoha beserta juru mudi dan kelasi mesinnya masing-masing sekerat roti canjeero dan segelas air minum. Selesai makan aku harap Kapten Thoha segera melaksanakannya. Jika kapalmu bergerak dengan kecepatan jelajah sepuluh knot, kita akan sampai di kota Ras Kamboni sebelum matahari terbit.”

Osama membuka kantung kain kemudian memberi Kapten Thoha sekerat roti cajeero, makanan pokok orang Somalia, mirip kue serabi kering terbuat dari tepung gandum dengan ragi. Thoha memecah sekerat roti canjeero jadi dua potong, memasukkan sepotongnya ke kantung bajunya dan memakan sepotong yang lain. Dengan lahap dia mengunyah roti itu meski rasanya asing bagi Thoha.

Hari semakin terik matahari sepenggala, ABK lainnya yang tidak bekerja berdiam diri di kabin ABK yang sekaligus penjara bagi mereka. Pasaribu, Anwar, dan Rifai duduk bersiap makan di tengah ruang  dikelilingi ABK lainnya.

Anwar membuka pembicaraan, “Sesuai instruksi Kapten Toha, kita harus semakin menghemat makanan. Persediaan kita hampir habis, air minuman mineral dalam kemasan berhasil mereka temukan dan disita semua. Tinggal dua botol dua literan yang aku miliki. Beras sudah dua hari yang lalu tidak diberikan, masih ada satu kardus mie instan dan satu toples sosis daging sapi. Aku putuskan masing-masing mendapat sepotong sosis yang harus dipotong dua, separo untuk makan sekarang dan separonya lagi untuk makan malam nanti. Untuk minum setiap orang hanya berhak atas air sebanyak satu tutup botol kemasan air mineral ini. Jika semua sudah habis, saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Makanya setiap orang harus disiplin tentang pembagian ini. Berdoalah sebelum makan.”

“Mau diapakan mie instannya?” tanya Pasaribu.

“Buat cadangan terakhir kita. Barangkali sebagai makan terakhir kita,” jawab Anwar sambil menelan ludah.

“Apakah nasib kita akan berakhir di sini.”

“Aku tak tahu. Tetapi Kapten Thoha terus mengobarkan semangat kita untuk tetap bertahan, tidak melakukan perlawanan sia-sia.”

Anwar mulai membuka tutup toples, mengeluarkan batangan sosis dan memotongnya jadi dua. Lalu diberikannya kepada setiap awak di dalam kabin. Dengan perlahan mereka memakannya. Tak lama berselang terdengar suara rentetan tembakan senjata api sahut-menyahut dari arah geladak lambung kanan kapal.

“Awas, ada tembakan. Cepat tiarap!” teriak Pasaribu.

Yang lain langsung dengan cepat berguling mencari perlindungan dan memegangi kepala masing-masing

Pasaribu dan perwira kapal lainnya paham dengan suara senjata api dan memiliki refleks untuk berlindung diri. Perusahaan pelayaran pernah memberi mereka outbond training di Rangkas Bitung dengan instruktur sejumlah bintara Komando Pasukan Khusus Group-1 yang bermarkas di Serang. Bermaterikan dasar-dasar teknik militer berupa navigasi darat dengan kompas, mountenering, cross country, junggle survival, lempar pisau, kesehatan lapangan, dan menembak. Dalam sesi menembak mereka cuma diberi lima butir peluru kaliber 5,56 mm standart NATO untuk menembakkan senapan SS-1 PINDAD dengan target balon karet sejauh lima puluh meter. Pasaribu masih ingat akibat tidak satu pun tembakannya mengenai target, ia harus direndam di kolam kodok pada tengah malam yang dingin.

“Bejo, ayo tiarap kamu. Awas kena serempet peluru nyasar,” tegur Pasaribu yang melihat Bejo masih bengong berdiri.

“Suara apa itu, Pak?” tanya Bejo sambil ikut tiarap.

“Sepertinya ada pertempuran di luar, dari geladak lambung kanan,” tukas Pasaribu.

“Mungkinkah ada pasukan asing yang hendak membebaskan kita?” harap Bejo.

“Mudah-mudahan saja,” imbuh Pasaribu.

Sementara dari ketinggian di dek anjungan, Thoha menyaksikan dua kapal kapal kecil bermotor berpenumpang orang-orang bersenjata api bergerak di sisi kanan kapal mengiringi MV Sinar Emas. Tampak mereka saling berteriak dengan Osama yang dikawal sejumlah perompak di lambung kanan kapal sambil memberi tanda dengan kedua tangan. Kemudian perompak dari geladak MV Sinar Emas menghujani kapal motor itu dengan tembakan bertubi-tubi. Kelompok yang berada dalam kedua kapal motor membalas dengan tembakan senjata api termasuk dengan senapan mesin ringan RPK. Thoha tetap tenang berdiri di dalam dek anjungan sebab dia tahu ruangan tersebut kebal dari tembakan peluru senapan serbu. Abu Nidal yang berada di dalam ruang dek anjungan bersama Thoha berkomunikasi dengan Okocha Osama lewat handy talkie.

“Bagaimana kondisimu di bawah?” tanya Abu Nidal.

“Milisi Janjaweed tetap tidak mau pergi, ngotot minta kapal ini,” jawab Osama.

“Baiklah jika itu yang mereka minta. Osama, ledakkan saja mereka.”

“Siap, Komandan Nidal.”

Terlihat dari geladak buritan muncul beberapa perompak membawa peluncur RPG mengendap-ngendap dan membidikkannya ke arah kapal motor. Sesaat kemudian tampak kepulan asap putih bekas pembakaran propelan menyembur memanjang ke belakang, proyektil roket meluncur deras menuju geladak kapal motor hingga terdengar ledakan. Sejumlah orang terpental jatuh ke laut dan kapal itu pun terbakar. Melihat kapal rekannya terbakar, kapal motor satu lagi meluncur menjauhi MV Sinar Emas dan pergi. Thoha menghela nafas panjang. Dari percakapan Nidal dengan Osama, dia jadi tahu bahwa para gerombolan perompak dari lain kelompok saling berebut kapal MV Sinar Emas dengan kerasnya hingga bertaruh nyawa.

Malam kembali turun, MV terus bergerak menyusuri perairan lepas pantai timur Afrika. Selepas sembayang Isha secara berjamaah, Kapten Thoha kembali mendekati Ibrahim Saleh yang memimpin regu penjaga sandera.

“Bagaimana keadaan Tuan Saleh? Dari dek anjungan saya dengar siang tadi seperti suara tembak-menembak.”

“Benar sekali Kapten Thoha. Siang tadi kapal ini dihampiri oleh kelompok milisi Janjaweed dengan naik dua kapal motor. Mereka meminta kapal ini sebagai sanderaan mereka. Komandan Osama menolaknya namun mereka bersikeras. Terpaksa kami bertempur menembaki mereka hingga Komandan Nidal menyuruh untuk menghancurkannya.”

“Tuan Saleh baik-baik saja?”

“Ya, namun ada dua anggota kami yang terluka tembak. Kini masih dirawat di ruang klinik kapal. Tapi kami berhasil menghancurkan satu buah kapal mereka. Satunya lagi pergi melarikan diri.”

“Tadi pagi saya dinstruksikan Tuan Nidal mengarahkan kapal ke tanjung Kamboni.  Tuan Saleh pernah ke sana?”

“Di situ ada kota kecil Ras Kamboni, tidak jauh dari perbatasan dengan Kenya, berjarak hampir 200 km selatan kota Kismayo. Ras Kamboni merupakan markas ketiga bagi kami setelah Kismayo dan Jamame.”

“Di sana juga tempat bercokolnya Brigade Ras Kamboni yang berafiliasi dengan Al-Shahab. Sebagian kota masih dikuasai milisi Ahmed Madoobe,” sambung Ibrahim Saleh.

Thoha berpikir sejenak, menduga-duga kalau besok pasti perompak ini akan berdiam di pangkalan mereka di Ras Kamboni  karena persediaan logistik kapal tidak cukup untuk berlayar lebih jauh lagi.

“Apakah kelompok tuan memang bermusuhan dengan kelompok milisi Janjaweed?”

“Di dalam etika kami, tidak ada permusuhan ataupun persahabatan dengan kelompok-kelompok perompak lainnya meski beda milisi partai. Aku tidak tahu pasti perkembangan kebijakan para tetua partai yang sering mengubah koalisinya. Para tetua lebih memikirkan keuntungan politik dalam persekutuannya. Bagi kami yang ada di lautan, perompok lainnya adalah teman jika bersedia membantu kelompok kami dalam perompakan. Sebaliknya jika ada perompak lain yang mau mencari enaknya dengan berusaha merebut kapal yang berhasil kami bajak berarti mereka adalah musuh kami.”

“Apa agama milisi Janjaweed? Muslim juga kah dia?”

“Milisi Janjaweed juga beragama Islam berafiliasi dengan partai Al-Shahab tapi milisi itu suka mengkafirkan kami sebab kami tidak bersedia membantunya melancarkan serangan bom bunuh diri terhadap orang-orang kulit putih di Kenya. Mereka berpandangan orang-orang kulit putih itu semuanya Thagut musuh Allah sehingga layak diperangi. Saya tidak sependapat dengan mereka karena posisi orang-orang kulit putih di sana adalah orang sipil yang tidak memerangi kami. Malahan yang memerangi kami banyak dari orang Somali sendiri dari partai lain.”

“Bagaimana dengan Muslim di Indonesia, saya tahu muslim di Indonesia yang terbesar di dunia. Tidakkah kalian saling bercerai-berai?” Saleh balik tanya.

Thoha berhentik sebentar sambil tangan kanannya menutup mulutnya. Sejurus kemudian terdengar Thoha menguap berat namun dia berusaha menahan kantuknya dan melanjutkan perbincangan.

“Benar muslim Indonesia terbesar di dunia sebagai negara meski muslim di India jumlahnya lebih banyak. Di sana sangat beragam corak ke-Islam-annya namun kami sangat menghormati kelompok yang lain. Bagi kami meski alirannya berbeda-beda, sepanjang yang pedoman hakikinya sama maka itu tidak jadi masalah. Tinggal beda penafsirannya saja. Dan pemimpin kami terus-menerus mendorong kami untuk menegakkan toleransi baik terhadap kelompok lain dalam Islam maupun terhadap agama lain sebagaimana Rasulullah mencontohkan,” jawab Thoha.

“Apa pedoman hakikinya?”

“Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kedua-duanya, tidak boleh salah-satunya. Qur’an sebagai kitab sucinya sedang Hadits memberi panduan penjelasan Qur’an dan praktik Rasulullah yang mengajari umatnya.”

Saleh terdiam sejenak, tampaknya merenungi perpecahan rakyat maupun elit Somalia yang demikian berat sehingga mencerai-beraikan negeri itu dalam perang saudara yang berlarut-larut tanpa ada mimpi perdamaian dan persatuan. Dirinya termasuk korban pertikaian itu sehingga dia terpaksa ikut kelompok perompak untuk bertahan hidup. Sebuah pilihan yang berat dengan semakin banyaknya kapal perang internasional berpatroli di Teluk Aden dan Laut Arab.

Kapal terus meluncur di atas perairan yang semakin tenang yang menunjukkan posisinya semakin mendekati pesisir, bukan lautan bebas lagi. Karena sudah mengantuk berat, Thoha permisi kepada Saleh untuk beristirahat ke dalam kabin. Sedangkan Saleh sendiri bergiliran dengan anggota perompak lainnya dalam berjaga dan beristirahat.

Thoha berbaring di samping anak buahnya beralaskan apa adanya. Sebelum tidur mereka bercakap-cakap dulu untuk mengetahui perkemangan yang terjadi. Terutama  dari Kapten Thoha yang lihai dalam berkomunikasi dengan perompak dan pintar mengambil hati.

“Kita sekarang berada di mana, Kapten?” tanya Rifai.

“ Makanan kita nyaris habis,” sambung Anwar.

“Bertahanlah dulu. Aku yakin besok pagi kita mendarat. Kapal ini terus mengarah ke barat laut ke pesisir Somalia selatan. Mereka akan turun di Ras Kamboni, di sana ada markasnya. Tidak jauh dari perbatasan Kenya di selatan. Kita cari informasi lagi begitu mendarat.”

“Kenapa ada suara pertempuran siang tadi?” tanya Pasaribu.

“Ada kelompok perompak lain yang mau mengambil alih kapal ini dari tangan Abu Nidal. Sehingga mereka saling baku tembak. Bagaimana dengan ABK yang lain, ada yang sakit?”

“Ada satu orang kelasi yang sangat lemah kondisi fisiknya meski secara psikis masih stabil. Jatah sosis untuk makan malam punyaku saya berikan sama dia agar tidak makin memburuk kondisi fisiknya,” bilang Rifai.

Thoha memasukkan tangan kanannya ke kantong bajunya mengambil sesuatu.

“Ini makanlah roti canjeero barang separo kerat. Tadi pagi aku mendapatkannya dari Osama. Aku berusaha semuanya mendapat tambahan tapi Abu Nidal cuma mau memberikannya bagi yang bekerja. Aku hanya memakan separonya. Aku berharap setelah mendarat nanti kita bisa mendapatkan cukup kalori untuk anak buah kita. Semoga tebusan cepat dikirim sehingga kita semua bisa segera bebas.”

“Terima kasih banyak, Kapten.”

Rifai menerima uluran tangan Thoha dan mengambil roti tersebut. Dengan perlahan dia menghabiskan roti tersebut. Terdengar suara mulut berkecap mengunyah makanan. Ketika sudah selesai menyantapnya, Rifai menoleh ke Thoha yang ternyata sudah terlelap. Rifai pun memejamkan matanya berusaha tidur, membayangkan bagaimana nasib awak kapal sesampainya di markas perompak. Karena kecapekan akhirnya Rifai menyusul Thoha terbuai dengan mimpi-mimpi pembebasannya.

   ***

Bersambung ke Bab VII : Penjara Terapung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: