Bebasnya Kapal Nuklir 5 : Jalan Tikus

21 Sep

Pelayaran Gila Maut

Bab V : Jalan Tikus

Matahari beranjak naik, hari mulai siang namun awak yang disekap di kabin belum ada tanda-tanda diberi makan siang. Awak kapal berwajah kuyu sebab kurang tidur. Terdengar derit pintu kabin dibuka, masuk seorang anggota perompak bersenjata senapan Dragunov.

“Kapten Thoha, kini kami beri kesempatan satu orang di antara kalian memasak di dapur untuk makan kalian sendiri. Jatah memasak cuma sekali dalam satu hari. Ingat, jangan macam-macam!” ancam si perompak berkulit hitam legam.

Thoha menoleh ke Jamil dan berkata dengan lemah, “Jamil, kamu ikuti mereka ke dapur. Siapkan makan kita. Sekaligus amati kondisi sekitar dan jumlah anggota perompak, periksa persediaan logistik kita di gudang dapur.”

“Baik, Kapten.”

Jamil bangkit dari duduknya, berjalan keluar dikawal empat orang perompak bersenjata lengkap. Begitu sampai di dapur disaksikannya ruangan kotor berantakan, bekas dipakai juru masak perompak tanpa mau membereskan. Jamil cuma bisa bisa menghela nafas panjang menyesalinya. Dia sudah sangat lama bekerja di kapal sebagai juru masak, begitu telaten dan rapi merawat dapur beserta perlengkapannya. Jamil sangat mencintai profesi yang memberi nafkah bagi dirinya. Setiap bulan ia pasti mengirim sebagian gaji ke rekening orangtua.

“Cepat engkau kerjakan masakanmu. Bereskan dapur kalau sudah selesai. Jangan membuat gerak-gerik yang mencurigakan. Kamu mengerti?” hardik seorang perompak.

“Baik, Tuan. Saya paham,” jawab Jamil.

Pengawal Jamil beranjak melangkah di seberang pintu dapur, mereka asyik mengobrol sambil menikmati rokok kretek. Jamil mengecek stok logistik bahan makanan di dapur dan gudang serta persediaan air. Dengan cekatan dia menanak nasi dan membuat sayur oseng-oseng yang tidak cepat basi agar cukup untuk dua puluh satu orang awak kapal dalam satu hari. Lebih dari satu jam waktu yang dihabiskannya di dapur. Setelah selesai mencuci perlengkapan memasak dan merapikan dapur, Jamil memasukkan masakan ke dalam wadah ransum.

“Tugas saya sudah selesai, Tuan,” ucap Jamil kepada penjaganya.

“Lekas pergi. Bawa makananmu dan kembali ke kabin.”

Dengan dijaga empat orang kawanan perompak, Jamil berjalan keluar dapur menuju kabin ABK. Di dalam kabin tersebut, Thoha tengah merawat luka di dahi Bejo akibat sodokan popor.

“Aduuh, perih sekali,” Bejo mengerang kesakitan ketika Thoha mengusapkan larutan antiseptik pada lukanya.

“Tidak apa-apa, supaya lukanya tidak infeksi dan lekas kering,” hibur Thoha.

Jamil melangkah masuk kabin menghampiri Thoha, kedua tangannya membawa wadah makanan.

“Ini makanan kita, Kapten.”

“Mari kita semua duduk di lantai, makanan dibagi rata. Ingat dibagi dua, separuh dimakan sekarang dan sisanya dimakan sore nanti,” ujar Thoha kepada anak buahnya.

Mereka dengan lahap menyantap sarapan sekaligus makan siang di hari itu. Sambil makan, Thoha bercakap-cakap dengan Jamil.

“Jamil, sudah dicek gudang logistik?”

“Bekal makanan berupa daging banyak mereka ambil. Demikian juga dengan beras dan buah-buahan. Tapi beras masih banyak di gudang cadangan dan sayur mayur masih utuh. Kayaknya, mereka tidak suka sayuran.”

“Kita hemat konsumsi makanan. Aku tidak tahu seberapa lama kita di sini. Aku juga belum tahu ke mana kapal ini akan mereka bawa,”

Terdengar bunyi langkah sepatu mendekat, masuk keruang kabin. Terlihat ada dua orang perompak mengiringi seorang perompak lagi menghampiri Thoha. Dia perompak yang pertama masuk dek anjungan semalam, postur badannya tinggi besar tapi atletis khas profil serdadu.

“Ada apa gerangan?” tanya Thoha.

“Jangan banyak bertanya. Kapten Thoha ikut aku menghadap komandan Abu Nidal.”

“Baiklah, Tuan.”

Thoha berdiri dari duduknya dan berjalan diiringi ketiga orang perompak naik tangga menuju dek anjungan. Di sana sudah duduk menunggu pria yang berusia sebaya dengan dirinya, memelihara jenggot panjang dan bersurban. Dalam hati, Thoha menduga ini pria yang bernama Abu Nidal.

“Bagaimana keadaanmu, Kapten Thoha?” sapanya.

“Saya baik-baik saja, Tuan,” balas Thoha dengan senyuman kecut.

“Anda seorang Muslim, Kapten?” tanyanya lagi.

“Betul, saya beragama Islam. Sepertinya tuan juga Muslim,” jawab Thoha.

“Aku juga Muslim. Kenalkan diriku bernama Abu Nidal, dan orang yang membawamu itu adalah Osama, komandan tempur kepercayaanku. Aku berharap Kapten Thoha mau bekerjasama dengan baik. Aku tidak akan menyakiti dirimu maupun anak buahmu. Apa muatan kapalmu dan berapa nilainya?”

“Kapal ini bermuatan limonit nikel sebanyak yang tertera di manifes kapal, sepuluh ribu ton. Nilainya saya sendiri tidak tahu karena tugasku adalah mengantarnya hingga dibongkar di pelabuhan Rotterdam.”

“Bagus. Sekarang hubungi perusahaanmu, beritahu bahwa kapal ini berada di perairan Puntland Somalia. Suruh persiapkan uang tunai sebanyak lima juta dollar untuk menebus kapal ini beserta awak dan muatannya. Itu saja jangan lebih sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Dan jangan melibatkan unsur militer dari pihak manapun. Sampaikan dalam bahasa Inggris supaya aku jelas apa yang kamu katakan pada mereka.”

“Baik, Tuan Nidal. Saya sampaikan tuntutan anda ke kantor perusahaan lewat radio komunikasi.”

“Silakan. Lakukan sekarang.”

Thoha mendatangi piranti radio untuk mengontak kantor pusat di Jakarta.

“Kantor pusat. Kantor Pusat.”

“Masuk. Di sini petugas kantor pusat.”

“Ini Kapten Thoha, nakhoda MV Sinar Emas. Saya sampaikan bahwa kapal berada di perairan Puntland dan perompak minta dipersiapkan uang tebusan lima juta dollar. Nanti ada pemberitahuan selanjutnya.”

Abu Nidal memberi kode kepada Thoha untuk menghentikan komunikasinya.

“Selesai, Kapten Thoha. Letakkan radionya.”

Thoha menuruti perintah Abu Nidal, menaruh kembali radio dan bergeser menjauhinya.

“Kapten Thoha, atur anak buahmu yang memegang roda kemudi dan menjaga kamar mesin. Dua hari sekali lantai kapal harus dibersihkan. Khusus Kapten Thoha, aku minta kamu menjadi mualim kapal selama siang hari. Sekarang anda buat rute navigasi menuju posisi enam puluh bujur timur tepat pada garis khatulistiwa. Gunakan kecepatan penuh. Kapal harus secepatnya sampai.”

“Baik, Tuan Nidal. Saya arahkan kapal menuju ke sana. Tetapi koordinat itu bukanlah Puntland Somalia, malah kapal akan semakin jauh dari Puntland.”

“Ikuti saja apa perintaku.”

Mesin diesel kapal menderum kencang, perlahan-lahan kapal bergerak menyerong ke arah lambung kiri dan melaju membelah Laut Arab. Ketika senja mulai turun, Thoha meminta ijin ke Osama untuk bergantian kerja deng an Rifai.

“Tuan Osama. Sesuai dengan kesepakatan, yang bekerja di sini saya aturkan ABK bergantian. Saya permisi hendak kembali ke kabin. Hari sudah senja, jika tuan berkenan mari kita tunaikan sholat  Maghrib secara berjamaah.”

“Orangku akan membawa Kapten Thoha kembali ke kabin. Kalau anda mau sholat berjamaah silakan saja, saya tidak sholat.”

“Tuan Osama kan Muslim juga.”

“Benar saya Muslim. Tapi Muslim Somalia tidak sholat, Muslim Indonesia sholat,” kata Osama sambil tertawa.

“Assalamu’alaikum,” salam Thoha sebelum keluar.

“Wa’alaikumsalam.”

Thoha berlalu tanpa paham maksud tawa Osama dengan dikawal sejumlah orang bersenjata senapan AK-76.

Di dalam kabin, Thoha mengumpulkan ABK waktunya makan terakhir di hari itu. Makanan yang tersisa dengan cepat tandas tanpa bekas. Seusai makan, Thoha mencoba mendekati kelompok perompak yang ditugasi menjaga kabin ABK. Dia berusaha menjalin hubungan yang bagus dengannya.

“Permisi Tuan-tuan. Kami minta ijin mengambil air wudlu buat sholat Maghrib.”

“Tentu aku ijinkan, Kapten Thoha,” ujar seorang penjaga yang bermuka kelimis.

“ Saya dengar mayoritas penduduk Somalia adalah Muslim. Dengan senang hati saya mengajak tuan-tuan sholat maghrib berjamaah. Silakan tuan menjadi imam sholat.”

“Kebetulan sekali, aku ambil air wudlu dulu baru kemudian giliran kalian. Kami juga akan ikut sholat berjamaah. Kapten Thoha saja yang bertindak selaku imam sholat. Bacaan Qur’an ku tidak bagus, lagian sering bolong-bolong sholatnya,” ujarnya dengan polos.

Ruang kabin ABK dirapikan untuk sembayang maghrib berjamaan. ABK selain muslim duduk-duduk di pinggir kabin sambil mengawasi keluar. Hanya sedikit  di antara perompak yang ikut sholat Maghrib berjamaah, di antaranya penjaga kabin. Sehabis sholat, Anwar bertadarus Qur’an dengan tartil. Suaranya merdu, dia sewaktu lajang pernah ikut lomba MTQ tingkat kabupaten di Padang Sidempuan. Sambil mendengarkan Anwar tadarus, Thoha duduk di dekat pintu keluar kabin dengan dua orang perompak yang tadi ikut sholat berjamaah.

“Kalau boleh tahu, siapa nama tuan-tuan?” sapa Thoha sambil menyalami keduanya.

“ Aku bernama Ibrahim Saleh. Ini adikku, Yusuf Ahmed.”

“Saya nakhoda kapal ini, Kapten Abdullah Thoha.”

“Aku sudah tahu anda Kapten Thoha,” ujar Saleh.

“Apakah kalian semua berasal dari Indonesia?” tanya Saleh.

“Ya, kami semua berasal dari Indonesia meski berbeda asal provinsi dan sukunya. Saya berasal dari kota pelabuhan Surabaya di provinsi Jawa Timur dengan suku Jawa.”

“Kami berasal dari kota pelabuhan Kismayo provinsi Hubbada Hoose berjarak lebih dari empat ratus kilommeter dari kota Mogadishu, tapi orangtuaku berasal dari NFD (Northern Frontier District) bagian Kenya. Kami termasuk suku Bantu, minoritas di Somalia, bukan suku Somali yang mendominasi di sana seperti komandan Okocha Osama dan Abu Nidal.”

“Sudah berapa lama Tuan Saleh melaut?”

“Aku tak tahu sudah berapa lama karena tidak pernah sekolah sehingga tidak bisa baca-tulis. Tidak banyak pilihan pekerjaan di negeri Somalia. Sejak kecil aku sudah diajari memakai senjata api.”

“Bagaimana dengan keluargamu, anak istrimu, baik-baik saja?”

“Adikku ini belum menikah. Kalau aku sudah memiliki seorang anak laki-laki, aku tinggalkan mereka di kota Kismayo. Kalau nanti mendarat, aku ingin pulang ke rumah. Aku ingin berkumpul lebih lama dengan keluargaku yang sering kutinggal melaut.”

Saleh terdiam sambil menerawang ke arah luar pintu kabin, tampaknya kangen sekali dengan keluarganya. Thoha sadar diri dan tak mau bertanya lebih jauh sebab dia bisa merasakannya sebagimana yang juga dia rasakan sebagai seoranng pelaut yang sering berlayar. Kapal MV Sinar Emas terus bergerak ke arah barat daya, meninggalkan Laut Merah menuju Samudra Hindia.

Setelah berlayar selama lebih dari tiga hari berlayar selepas kejadian perompakan, kapal MV Sinar Emas sampai di koordinat yang dikehendaki Abu Nidal. Di pagi hari tatkala Kapten Thoha bekerja di dek anjungan bersama juru mudinya, Abu Nidal keluar dari kabin nakhoda dan menjumpai Thoha.

“Beberapa saat lagi kapal akan sampai pada posisi yang Tuan kehendaki. Kemana lagi kapal akan diarahkan?” tanya Thoha.

“Sebentar, Kapten Thoha,” kata Abu Nidal lantas mengamati peta navigasi.

“Sekarang ubah rute navigasi ke arah posisi empat derajat lintang selatan dan lima puluh derajat bujur timur. Aku perkirakan jika kapalmu tetap sanggup melaju seperti saat ini, kapal akan tiba dalam dua hari lagi.”

“Jafar, putar roda kemudi serongkan kapal ke kanan dikit. Kita menuju ke koordinat itu.”

Dengan cekatan Jafar memutar roda kemudi sehingga kapal menyerong kanan menyusuri Lautan Hindia sebelah utara Seychelles. Ketika senja mulai turun, kembali juru kemudi dan navigasi serta kelasi mesin berganti personel.

Thoha dengan ketiga perwiranya tiduran berdekatan di kabin ABK. Mereka tampak mengobrol setengah berbisik.

“Ada informasi baru, Kapten?” tanya Pasaribu.

“Kapal ini sudah mengubah rute, berlayar di sebelah barat laut Seychelles. Kayaknya mengarah ke daratan Afrika, utara Kenya. Tapi aku tidak tahu tujuan pastinya. Menurutku mereka sengaja mengitari sisi luar perairan tanduk Afrika, mungkin menghindari kejaran kapal perang NATO. Mereka tidak akan menemukan kapal ini dalam waktu dekat. Abu Nidal telah mengecohnya dengan memberi informasi posisi kapal di perairan Puntland. Satu hari lagi kapal akan tiba di akhir rute perompak yang kedua.”

“Persedian logistik makanan terus menyusut dengan cepat,” tambah Anwar.

“Aku perkirakan jumlah perompak di kapal ini lebih dari empat puluh orang. Makan mereka sangat boros. Boleh jadi, persediaan air tawar akan habis dalam waktu kurang dari seminggu, bahan makanan dalam dua minggu lagi. Kalau bisa kita sembunyikan stok air minum mineral. Jangan mandi. Apabila mau sholat, lebih baik tayammum saja.”

“Kita irit makanan yang tidak mau mereka makan seperti mie instan dan sayuran,” Anwar menimpali.

“Bagaimana prospek pembebasan kita?” tanya Rifai.

“Aku yakin, kantor pusat pasti berusaha keras membebaskan kita. Tapi kita harus sabar bertahan, biasanya akan ada saling tarik ulur. Ini akan memakan waktu. Mereka memiliki banyak uang untuk mengirimkan tebusan. Apalagi barang kita bawa kepunyaan Rio Tinto yang notabene salah satu perusahaan tambang internasional terkaya,” yakin Thoha.

“Betul, Kapten. Kita bisa disandera perompak selama berbulan-bulan bahkan dapat lebih dari setahun,” sahut Rifai.

“Bagaimana keadaan Bejo?” Thoha ingat kelasinya yang terluka akibat perlakuan kejam perompak.

“Kelasi itu sudah sehat dan baik-baik aja,” jawab Rifai.

Malam semakin larut, Thoha dan anak buahnya tertidur pulas, lelah badan dan pikiran. Para penjaga pun sebagian terkulai tidur mendengkur.

Pada suatu pagi setelah menempuh rute kedua yang ditetapkan Abu Nidal, kapal tiba di tujuan dalam waktu dua hari dua malam. Kapten Thoha kembali bertugas bersama ABK juru mudi di dek anjungan melayani kepentingan para bajak laut. Tak lama kemdian terlihat komandan Osama masuk ke dalam dek anjungan, mengenakan baju militer berwarna hijau zaitun tanpa menenteng senjata.

“Kapten Thoha, hari ini coba kontak radio lagi dengan kantor anda. Minta persiapkan pesawat terbang untuk mengirim paket uang tebusan. Jangan dibilang posisi kapal ini. Sampaikan saja bahwa pesawat terbang harus mampu mencapai Mogadishu untuk menjatuhkan paketnya dalam waktu empat jam setelah perintah pengiriman kami berikan.”

“Di koordinat mana paketnya dijatuhkan?”

“Lokasi pastinya meyusul.”

Thoha beranjak ke tempat stasiun radio komunikasi yang menyatu dengan ruang dek anjungan. Radio itu dijaga oleh perompak bersenjata. Penjaga yang tampaknya familiar juga dalam pengoperasian radio mengasih kesempatan Thoha. Dia memangil-manggil petugas radio kantor pusat PT Pelayaran Samudra. Kemudian Kapten Thoha mengulangi pernyataan Osama perihal tuntutan perompak. Thoha meletakkan gagang radio usai menghubungi kantor pusat. Ketika membalikkan punggungnya, sudah berdiri di sebelah Osama, Abu Nidal, pemimpin kawanan perompak.

“Kapal sudah sampai di ujung rute kedua.  Kapten Thoha buatkan rute ketiga, lurus saja ikuti derajat empat lintang selatan ini hingga tiba di empat puluh empat derajat bujur timur.”

“Baik, Tuan Nidal. Saya lakukan.”

Lalu Thoha mengukur posisi kapalnya saat ini dan mencermati peta sambil mencorat-coret memperhitungkan navigasi kapal. Lantas dia menginstruksikan juru mudi mengikuti rencana navigasi yang sudah dibuatnya. Kapal bergerak sedikit menyerong ke kanan, berlayar mengikuti garis lurus lintas selatan sejauh empat derajat.

Hari berganti malam, Kapten Thoha sudah berada di dalam kabin ABK bersama yang lainnya. Pejagaan kabin tidak berubah tetap dipercayakan kepada kelompok Ibrahim Saleh. Seperti biasa, untuk mengisi waktu yang menjenuhkan, Saleh dan adiknya berbincang-bincang dengan Kapten Thoha di dekat pintu kabin. Sambil duduk bersila, mereka mendengarkan sayup-sayup bacaan tadarus Anwar.

“Bagaimana keadaan Tuan Saleh dan Tuan Ahmed?” sapa Thoha.

“Kami baik-baik saja. Tapi mulai hari ini juru masak membatasi porsi makan, tidak sebanyak biasanya. Sepertinya persedian makanan mulai menipis. Aku tidak mengerti gimana perhitungan komandan Osama,” keluh Saleh.

“Siapa sebenarnya Osama, Tuan Saleh?” selidik Thoha.

“Dulu dia pernah berdinas di angkatan bersenjata Somalia berpangkat sersan sebelum negeri kami dikoyak perang saudara. Padahal di aksi sebelum ini, kami merompak kapal kargo kimia Jepang dan berhasil mendapatkan tebusan sebesar lima belas juta dollar. Aku sendiri menyesalkan pengurangan makanan kami, serasa hidup di daratan Somalia,” sambung Saleh.

“Kenapa memangnya kalau hidup di darat?”

“Banyak kerabatku yang kesulitan pangan di sana. Penguasa kota Kismayo silih berganti yang memegang, partai mana yang lebih kuat dialah yang menguasai kota. UNHCR sering kesulitan menembus blokade milisi partai.”

“Apakah Tuan Saleh ikut terlibat dalam konflik perang saudara di Somalia?”

“Aku masih ingat, sewaktu aku dan adikku masih kanak-kanak masih sempat merasakan indahnya bermain-main di jalanan pinggir kota Kismayo. Suatu saat ketika aku hendak berangkat ke sekolah dasar untuk pertama kalinya, bapakku melarang. Bilangnya tentara di kota telah berbalik melawan pemerintah pusat. Siangnya pesawat-pesawat tempur buatan Soviet milik pemerintah Mogadishu mulai menghujani kota Kismayo dengan bom tandan. Itu adalah dua puluh tahun yang lalu setelah jatuhnya pemerintahan diktator Siad Barre. Semenjak itu bapak terlihat selalu memanggul senapan Kalashnikov. Kemudian beliau mengajari kami bagaimana menggunakan senjata itu ,” Saleh mengenang masa kecilnya.

“Di mana sekarang bapak Tuan Saleh? Apakah baik-baik juga?”

“Bapak tidak sempat menyaksikanku menikah. Setahun sebelumnya beliau gugur dalam pertempuran mempertahankan kota bersama pasukan Jendral Morgan Said Hersi. Kota jatuh ke tangan milisi-milisi yang dibantu tentara Kenya. Ibu kemudian mengungsi ke Kenya, tinggal bersama kerabat di Northern Frontier District hingga kini.”

Karena malam makin kelam, Thoha permisi kepada Saleh dan Ahmed undur diri ke dalam kabin. Dia berbaring di samping ketiga perwiranya. Dengan berbisik mereka bercakap-cakap.

“Kapal sekarang berlayar ke arah mana, Kapten?” tanya Pasaribu.

“Aku rasa kapal ini akan semakin mendekati perairan dekat daratan Afrika, Somalia selatan. Anwar, semakin hemat konsumsi makanan sebab perompak sendiri juga mulai menghemat ransum makanan mereka sendiri. ”

“Iya, Kapten. Sudah saya duga sebelumnya,kita bakal menghadapi kesulitan persediaan makanan,” sahut Anwar.

Tak lama kemudian ketiga perwira kapal sudah terlelap dalam mimpi, Thoha tak kuat menahan kantuk hingga dia pun pulas tidurnya.

   ***

Bersambung ke Bab VI : Anjing Berebut Tulang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: