Bebasnya Kapal Nuklir (Trilogi Novel) I.4

20 Sep

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab IV : Menunggu Godot

MV Sinar Emas melaju dengan kecepatan jelajah sepuluh knot membelah Laut Laccadive. Kapal itu melintasi pulau-pulau Lakshadweep, wilayah barat daya India. Siang itu sangat panas menyengat, Rifai dan Thoha berjaga di dek anjungan sambil minum jus alpukat dingin. Peluh bercucuran tapi keduanya tetap riang dan optimis, sekali-sekali meneropong ke depan dengan teleskop binokuler.

“Kita  berada dua ratus mil laut dari pelabuhan Cochin, distrik Kerala. Lihat pulau-pulau kecil Lakshadweep itu, Kapten,” ujar Rifai sambil menunjukkan jari telunjuknya kagum dengan keindahan alamnya.

Kepulauan Lakshadweep memang memiliki panorama pantai dan laut yang sangat indah. Pemerintah New Delhi gencar mempromosikan sebagai tujuan turisme internasional. Bahkan pantai di Kavaratti, ibukota pemerintahan distrik Lakshadweep, juga memiliki pantai yang begitu elok. Menawarkan kegiatan turisme scuba diving dan snorkelling, mengayuh kano dan kayak, atau ski air.

“Aku perkirakan nanti malam kita sudah memasuki Laut Arab,” sahut Thoha.

“Itu sama dengan memasuki wailayah kekuasaan perompak Somalia,” Rifai bergidik.

Bagaimana tidak bisa keder, ratusan kapal niaga dari berbagai negara berhasil dirompak para lanun asal Somalia termasuk kapal MV Sinar Kudus dan MT Gemini yang banyak diawaki pelaut asal Indonesia. Iming-iming omzet jutaan Dollar dalam waktu sekejab membuat para pemuda pengangguran berbondong-bondong memilih perompak sebagai profesi mereka. Maraknya profesi perompak di Somalia tidak lepas dari tidak adanya kekuasaan pemerintahan yang efektif di negeri itu. Perang saudara yang berkepanjangan, campur tangan asing seperti intervensi Ethiopia dan negara adikuasa menimbulkan perpecahan yang sulit disatukan. Kemiskinan dan kelaparan menghantui setiap jiwa di Somalia. Bukan karena mereka tidak mampu mencari nafkah namun situasi dan kondisi di sana memupus upaya setiap orang untuk mencari sesuap makan. Bahkan demi mencari sejumput bantuan pangan PBB pun, mereka kesulitan. Hanya elit dan komandan perang lokal yang bisa makan kenyang.

“Kamu takut, Rifai?” gertak Thoha membuyarkan lamunan Rifai.

“Jangan resah, dari semula sudah ditekankan direksi kantor pusat bahwa kita akan dikawal kapal perang NATO begitu memasuki Laut Arab. Perompak Somalia pasti lari terbirit-birit jika bertemu kapal perang NATO,” sambung Thoha meyakinkan Rifai.

Rifai pun hanya manggut-manggut tanda setuju. Tangan kanannya kembali meletakkan teleskop di depan wajahnya, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

“Lihat Kapten, sepertinya ada helikopter mendekat dari arah pukul satu.”

Dengan kedua tangannya,Thoha bergegas menyorongkan teleskopnya ke arah jam dua seperti yang dikatakan Rifai.

“Itu sepertinya heli angkatan laut. Mungkin kepunyaan angkatan laut India” kata Thoha.

Lamat-lamat helikopter makin mendekat dan makin jelas, efek Doppler suara mesin heli makin kentara. Helikopter itu terbang rendah melintas di atas kapal MV SinarEmas. Sejumlah awak kapal sedang bertugas di luar melongok ke atas tatkala helikopter berwarna biru abu-abu gelap lewat.

“Itu heli Panther buatan Eurocopter,  bukan milik angkatan laut India. Lihat simbol di badan samping heli, bintang biru penuh seperti di bendera Israel. Itu heli angkatan udara Israel,” seru Rifai.

“Mungkin dia menuju ke pangkalan angkatan laut India di Cochin. India kan punyai kerjasama militer dengan Israel,” sahut Thoha mengira-ngira.

Helikopter itu terbang rendah kurang dari 100 kaki dari permukaan laut menjauh ke arah buritan kapal, semakin lama tampak semakin mengecil hingga hilang di balik cakrawala.

Helikopter AS-565 Panther buatan Eurocopter, konsorsium Eropa, merupakan helikopter berbobot menengah bermesin ganda. Bisa dikonfigurasi untuk berbagai macam fungsi militer seperti angkut, dukungan serangan, SAR, evakuasi medis atau ambulan udara, misi anti-kapal selam dan anti-kapal permukaan. Helikopter Panther merupakan pengembangan lebih lanjut dari helikopter Dauphin.

Hari semakin sore, selesai sembayang Ashar Thoha keluar dari mushola berjalan naik tangga meuju dek anjungan. Dia bergabung lagi dengan Rifai yang masih berjaga di situ.

“Belum juga ada kontak radio dengan kapal perang NATO,” sambut Rifai.

“Mana radionya, saya mau menghubungi kantor pusat,” Thoha mengambil alih radio dari tangan Rifai.

“Kantor Pusat. Kantor Pusat. Ini dengan nakhoda MV Sinar Emas.”

“Masuk, Kapten,” suara dari radio membalas.

“Kami sudah berada di ujung Laut Laccadive, malam nanti kami sudah memasuki Laut Arab. Tetapi belum juga mendapat kontak dari satu pun kapal perang NATO.”

“Sabar, Kapten. Staf di sini sudah berkomunikasi dengan perwira penghubung armada NATO di Teluk Aden. Informasinya sudah disiapkan sebuah frigat angkatan laut Amerika Serikat buat mengawal MV Sinar Emas. Mungkin kalian bertemu dengan dia malam nanti di Laut Arab. Data frekuensi radio kalian juga sudah kami berikan.”

“Baguslah kalau begitu.Saya mencemaskan keselamatan awak kapal. Kami tidak mau bejumpa dengan kawanan perompak Somalia.”

“Kami juga di sini sangat perhatian terhadap semua awak kapal yang bertugas.”

Thoha meletakkan kembali  mic radio, berjaga lagi dengan memandang jauh ke depan. Dengan mata telanjang dia menangkap sesuatu obyek bergerak dari arah pukul sepuluh.

“Coba tengok ke sana di posisi pukul sepuluh,” ajak Thoha.

Baik Thoha maupun Rifai meneropong pakai teleskop masing-masing sambil mengeser-geser fokus lensa sehingga obyek itu tampak jelas di mata.

“Sebuah pesawat terbang propeller yang terbang rendah, mesinnya empat di sayap,” Rifai mencoba mengidentifikasinya.

“Benar, pesawat maritim angkatan laut. Kalau dilihat mesin propellernya ada empat mungkin jenis P-3 Orion,” analisis Thoha.

Pesawat terbang maritim tersebut terbang makin dekat, deru empat mesinnya terdengar semakin nyaring melintas dekat MV Sinar Emas. Lagi-lagi awak kapal yang bekerja di luar mendongakkan kepalanya ke arah pesawat terbang itu berlalu.

“Itu adalah pesawat maritim angkatan laut Amerika Serikat. Lihat Rifai, simbol di ekor belakang dan bawah sayap, bintang putih dalam lingkaran biru,” teriak Thoha dengan gembira ketika pesawat terbang lewat dengan ketinggian sekitar 200 kaki.

Siluet pesawat terbang Orion makin lama makin kecil kemudian lenyap di balik cakrawala buritan. Suasana kembali hening, Thoha dan Rifai melanjutkan perbincangannya.

“Saya rasa pesawat terbang itu akan memberitahu identitas dan posisi kapal ini kepada kapal frigat yang akan mengawal kita,” ujar Rifai penuh harap.

“Ini yang aku tunggu-tunggu.” Sambung Thoha.

Hari sudah gelap, malam meyelimuti alam, Anwar mendampingi Jamil di dapur menyiapkan makan malam. Mereka memasak menu istimewa, cap-cay sayur mayur dengan rendang daging sapi ditambah sambel terasi. Tidak menggoreng krupuk, masih ada satu toples besar. Nakhoda dan semua perwira kapal suka menu masakan ini. Jamil mengecilkan nyala api gas, menaburi bumbu-bumbu.

“Sedikit saja garamnya, Jamil. Entar hipertensi Kapten bisa kambuh. Kalau yang lain merasa kurang asin biar membubuhi garam sendiri di piring makan masing-masing ,” Anwar mengingatkan Jamil.

“Ini sedikit, Pak Anwar. Buahnya apa yang cocok, semangka atau pisang?”

“Semangka buat makan siang besok, lebih nikmat di cuaca yang panas” jawab Anwar sambil mengelap piring.

“Sekarang kita sudah sampai di mana? Kalau tidak salah sudah hari keenambelas sejak bertolak dari Polewali.”

“Informasi yang aku peroleh dari mualim harusnya posisi sekarang ada di Laut Arab. Dia bilang sore tadi kapal sudah berada di ujung Laut Laccadive, malam akan memasuki Laut Arab.”

“Pak Anwar, semalam saya mimpi buruk. Teringat terus sampai saat ini,” Jamil curhat seraya menggeser letak duduknya.

“Emangnya mimpi apa sampai terbawa-bawa terus?”

“Semalam saya mimpi dikerumuni ular warna hitam, banyak, sampai saya tidak bisa lari. Di mana-mana saya dihadang ular hitam hingga saya terjaga dari tidur.”

“Lha ya namanya juga mimpi, bunga orang tidur. Jangan diingat terus, malah nanti tidak bisa tidur.”

“Saya belum pernah mimpi seperti itu.”

“Siapa tahu itu bukan mimpi buruk malah mimpi yang membawa rezeki,” hibur Yamin Anwar.

Waktu sembayang Isha telah tiba, Thoha dan awak kapal yang Muslim berkumpul di Mushola menunaikan sholat jama’ah. Thoha memimpin sholat sebagai imam dilanjutkan kultum oleh Rifai. Seusai sholat Isha, semua awak kapal makan malam bergantian di ruang makan. Thoha sebagai nakhoda berkumpul satu meja dengan ketiga perwira kapal.

“Belum ada juga kontak radio dengan kapal frigat, Kapten. Kita semakin jauh memasuki Laut Arab,” ujar Rifai mulai cemas.

Thoha mengambil sebuah pisang dari tandannya, mengupas kulit lalu mengunyahnya.

“Kita harus membuat antisipasi, skenario terburuk adalah tidak ada kapal perang yang akan kita jumpai, seandainya berpapasan dengan perompak Somalia mau tidak mau kita berjuang sendiri mempertahankan kapal ini,“ Thoha menimpali lalu meneguk kopi tubruk yang disajikan Jamil.

Thoha dan ketiga perwira kapal berdiam sejenak, mencoba berpikir keras.

Pasaribu memiliki ide, “Di gudang bawah masih ada kawat berduri. Bagaimana jika kawat berduri dipasang sekeliling pagar geladak?”

Sang nakhoda menjawab, “Ide yang bagus, Pasaribu. Seusai makan malam, ambil kawat pengikatnya dan alat tang atau catut. Malam ini aturkan anak buah untuk memasang kawat berduri tersebut. Mulai malam ini yang tidak mendapat giliran kerja wajib berjaga di semua stasiun yang berada di sekitar geladak hingga tengah malam. Peraturan ini berlaku sampai kapal berhasil memasuki Laut Merah. Rifai, bagikan semua handy talkie yang kita punyai.”

Malam makin kelam, gumpalan awan berarak silih berganti menutupi rembulan. Laut begitu tenang, serasa berlayar di laut dangkal. Thoha dan ketiga perwira kapal turun tangan langsung di geladak memonitor pemasangan kawat berduri. Sebelum tengah malam, pemasangan tuntas, kawat berduri telah melilit semua batang pagar sekeliling geladak kapal. Mereka meninggalkan geladak naik menuju dek anjungan. Keempat orang itu berjaga di dalam dek anjungan sambil mencermati keluar. Samar-samar nampak ada sumber cahaya di kejauhan dari arah samping kiri kapal.

“Ada kapal di kejauhan, dari arah pukul  sepuluh,” teriak Rifai.

Thoha langsung mengarahkan teleskop binokulernya ke arah tersebut. Kapal asing itu makin mendekati MV Sinar Emas. Thoha terus-menerus meneropong pergerakan kapal asing itu.

“Mereka seperti menurunkan sekoci. Rifai, coba dihitung berapa sekoci yang mereka turunkan.”

“Ada empat sekoci, Kapten.”

“Siapa koordinator penjaga lambung kiri?”

“Kelasi Bejo.”

“Katakan pada dia, amati pergerakan sekoci kapal asing itu.”

“Siap,Kapten.”

Rifai mendekatkan HT yang dipegangnya ke mulutnya, menghubungi bejo. Benda mirip sekoci tersebut bergerak dengan cepat mendekati lambung kiri kapal.

“Pak Rifai. Pak Rifai,” panggil Rifai dari HT.

“Masuk, Bejo. Gimana?”

“Itu bukan sekoci, Pak. Tapi speedboat yang mengangkut sejumlah orang.”

“Celaka tiga belas. Itu perompak Somalia. Halangi, jangan sampai mereka berhasil naik. Dengan segala cara!”

Semua awak kapal mulai panik, instruksi Rifai didengar semua orang yang membawa HT. Di geladak lambung kiri, Bejo dan beberapa awak kapal melempari speedboat yang mencoba merapat. Mereka melempari dengan apa saja yang bisa dilempar, balok-balok kayu, potongan besi bekas, dan sebagainya. Merasa mendapat kesulitan, perompak membidik pisir senapan ke arah geladak, melepaskan tembakan berkali-kali. Suara tembakan senapan terdengar hingga dek anjungan.

“Perompak mulai melepaskan tembakan, Kapten,” teriak Rifai dari pintu, dia mengamati di luar ruangan dek anjungan.

Thoha termangu, apa yang dicemaskan selama ini akhirnya menjadi kenyataan.

“Apa yang harus kita kerjakan, Kapten!” kembali Rifai berteriak.

Teriakan Rifai menyentak Thoha yang terdiam seribu bahasa.

“Panggil semua awak berlindung di dalam ruang dek anjungan sekarang juga!” seru Thoha.

Rifai dengan cepat berlari masuk ke dalam meraih mikropon sambil memegang HT.

“Perhatian, perhatian! Kondisi darurat. Semua awak kapal berlindung ke dalam dek anjungan.”

Dengan sigap Rifai memencet tombol besar warna merah, sirine emergency berbunyi bertalu-talu. Belum ada satu pun awak yang tidur dalam kabin karena belum lewat tengah malam. Semua awak dari pos di stasiun buritan hingga haluan berlari-lari menuju dek anjungan. Demikian juga kelasi mesin yang bertugas di kamar mesin tergopoh-gopoh meninggalkan stasiunnya naik tangga menuju dek anjungan. Penghuni kapal berjumlah dua puluh satu orang yang berkumpul di dalam dek anjungan, semua pintu lantas dikunci dari dalam. Thoha mendekat dashbord kemudi, membuka kaca penutup tombol besar warna kuning. Akhirnya tombol kuning tanda kapal dalam bahaya perompakan dipencet oleh Thoha. Pencetan tombol kuning tersebut mengirim sinyal ke kantor pusat di Jakarta, menyalakan sirine di ruang komunikasi radio kantor dan menampilkan identitas kapal pengirim sinyal.

“MV Sinar Emas. MV Sinar Emas,” panggil petugas dari radio.

“Masuk, ini langsung dengan kapten kapal.”

“Kapten Thoha, pagi-pagi begini masak latihan emergency perompakan.”

“Ini bukan latihan! Ini perompakan sungguhan!” teriak Thoha dengan ketus.

“Di mana koordinat kapalnya?”

“ Sepuluh derajat lintang utara dan tujuh puluh derajat bujur barat,” jawab Thoha.

Pembicaraan dia hentikan ketika kedua pintu dek anjungan digedor-gedor dari luar.

“Siapa pun di dalam, harap buka pintu dan menyerah!” seru seseorang dari luar dalam bahasa Inggris.

“Kalau tidak dibuka akan kami buka paksa dengan senjata,” ancamnya.

Anwar mulai kalut, dengkulnya tampak gemetar, “Bagaimana ini, Kapten?”

Thoha terdiam, namun dalam situasi sesulit apapun, sebagai pemimpin tertinggi di atas kapal tersebut dia harus tegar dan memberi ketenangan. Ruangan dek anjungan adalah satu-satunya ruangan di atas kapal yang tahan peluru. Kaca ruangan sangat tebal kedap tembakan peluru kaliber 5,56 mm sedangkan pintu dan dinding terdiri dari pelat baja paduan molybdenum yang tahan tembakan peluru kaliber 7,62 mm. Namun Thoha sadar, para perompak tentu tidak cuma membawa senapan, barangkali berbekal juga granat nanas dan RPG. Memaksa tetap berlindung di dalam ruang dek anjungan sambil menunggu pertolongan datang tentu bukan pilihan tepat. Pintu baja dek anjungan tidak akan mampu menahan ledakan granat maupun RPG. Dia sangat mengkhawatirkan keselamatan anak buahnya.

“Sekali lagi. Jika tidak dibuka, pintu ini akan diledakkan!” dia mengulangi ancamannya.

Thoha terkesiap, dia berteriak, “Jangan. Pintu kami buka!”

“Bejo, lepaskan kuncinya. Buka saja pintunya,” kata Thoha.

Bejo melangkah ke pintu kiri, melepaskan batang-batang pengunci dan membuka daun pintu. Seorang pria hitam, brewok, tinggi besar bersepatu boot muncul dari balik pintu langsung menendang perut Bejo.

“Aduh,” rintih Bejo sambil menunduk memegangi perutnya.

Belum cukup, popor senapan AK-76 dia layangkan ke jidat Bejo hingga tersungkur dan berdarah.

Thoha maju ke depan, “Cukup tuan.”

“Siapa kamu?” bentaknya.

“Saya Abdullah Thoha, Kapten kapal MV Sinar Emas. Kami berasal dari Indonesia.”

“Oh ini kaptennya. Baiklah, Kapten. Jika anda dan anak buah anda mau selamat, ikuti perintahku,” kata seorang perompak berjenggot yang menyelipkan pistol di pinggangnya.

“Oke, saya turuti semua kemauan Tuan. Tapi tolong jangan sakiti semua anak buah kapal.”

“Perintahku pertama. Atur anak buahmu kemudikan kapal ini sesuai instruksiku. Yang lain semuanya tanpa kecuali tinggal dalam satu ruangan di kabin ABK.”

Akhirnya kapal MV Sinar Emas benar-benar dikuasai perompak Somalia. Empat unit speedboat mengangsur anggota kawanan bajak laut dari kapal induknya beberapa kali. Sehingga jumlah perompak yang menduduki kapal bertambah banyak. Kapten Thoha mengaturkan anak buahnya yang tersisa, satu orang mengemudi, satu orang mengatur navigasi, dan satu orang di kamar mesin. Enam orang telah tewas terkena tembakan senapan di atas geladak. Mayatnya dibuang ke laut oleh perompak. Kapten Thoha beserta ABK lainnya meringkuk di kabin ABK dengan penjagaan ketat. Banyak pembajak berkeliaran di geladak lambung , haluan dan buritan, sebagian lagi menunggui kelasi mesin di kamar mesin. Pimpinan kawanan perompak memilih berkumpul di dek haluan dan menempati kabin nakhoda.

Awak kapal MV Sinar Emas tidur berhimpitan seadanya, semua properti pribadi telah dirampas para perompak. Tapi malam ini mereka sulit tidur, cemas dengan nasib diri esok hari di tangan perompak Somalia yang terkenal bengis dan kejam.

***

Bersambung ke Bab V : Jalan Tikus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: