Bebasnya Kapal Nuklir 3 : Tatapan Agen CIA

19 Sep

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab III: Tatapan Agen CIA

helikopter evakuasi medis

Pada pelayaran hari kesebelas, kapal MV Sinar Emas mencapai Lautan Hindia sisi tenggara pulau Ceylon yang bernegara Sri Lanka. Cuaca mendung, angin bertiup cukup kencang, matahari tertutup awan namun tidak hujan. Rifai dan Thoha mengamati horizon depan memakai teleskop binokuler dari dek anjungan, hari belum beranjak siang.

“Hari yang kurang menyenangkan. Masih adakah badai menghadang, topan menerjang?” ucap Thoha teringat beratnya menghadapi badai di teluk Benggala.

“Meskipun ada badai, posisi kita cukup dekat dengan pulau Ceylon, 100 km dari Pottuvil. Kita bisa berlindung ke sana,” Rifai optimis dengan keberhasilan berlindung di balik pulau kecil.

“Kota itu dekat dengan pantai paling indah di Sri Lanka, pantai teluk Arugam. Surga bagi peselancar dunia,” kenang Thoha.

“Pantai Nias dan Mentawai tidak kalah dengan pantai Arugam. Termasuk lokasi surfing terbaik di dunia, banyak orang bule berselancar di sana,” debat Rifai bersemangat. Sebagai orang Bengkulu tentu dia sangat bangga dengan keelokan tanah Sumatera.

“Besar sekali nasionalisme, realistis dikit ajalah,” balas Thoha dan Rifai pun tertawa.

“Pernahkah Kapten berwisata ke pantai Arugam?”

“Sekali tapi sudah lama, pada awal Desember 2004 sebelum pantai itu terkena tsunami Asia.”

“Ngapain Kapten ke sana? Berselancarkah?”

“Aku diinstruksikan menggantikan nakhoda kapal kargo perusahaan yang bersandar di Colombo secara estafet. Kapal kargo bulking baru yang bertolak dari galangan Yunani, tanpa muatan, singgah ke pelabuhan Colombo karena ada masalah elektrik. Diinspeksi selama dua minggu. Seumur-umur baru sekali ke sana makanya ada waktu senggang aku manfaatkan mengunjungi pantai Arugam, berkendara bus. Tidak lebih karena masa itu kondisi keamanan masih genting di tengah pemberontakan Tamil Eelam di utara. Ngeri juga, siapa tahu tiba-tiba ada bom bunuh diri meledak. Pantai Arugam aman dijaga ketat tentara, banyak juga orang bule berselancar di sana. Selesai inspeksi, aku membawa kapal kargo itu ke Tanjung Priok. Tapi sayangnya, aku tidak pernah kebagian memegang kapal baru. Nakhoda muda yang selalu diberi kepercayaan memegang kapal baru. Aku selalu dikasih kapal lama hingga saat ini. Ini saja kapal bekas buatan galangan Shanghai.”

Pelabuhan Colombo merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di dunia dengan rata-rata kargo tahunan sebesar 30,9 juta ton. Lokasinya sangat strategis di Lautan Hindia menjadikannya sebagai jalur penting pelayaran internasional, sudah dikenal dari dua ribu tahun yang lalu.

“Sekarang sudah aman. Pemberontak Tamil Eelam kalah perang dengan pemerintah Colombo yang didominasi orang Sinhala. Prabhakaran sang pemimpin pemberontak ditembak mati pada 2009, Jaffna di semenanjung utara dikuasai pasukan pemerintah. Itulah kalau perang saudara berkepanjangan. Yang rugi mereka sendiri. Sudah sengsara, miskin lagi. Ada pepatah sudah jatuh tertimpa tangga lagi,” tambah Rifai.

Intercom di dek anjungan berdering, Rifai menghampiri dan mengangkatnya.

“Dari siapa nih?”

“Dari Sigit di ruang klinik. Kesehatan Sebastian makin memburuk. Demam panas tinggi, sering mengigau, sudah dua kali tidak sadarkan diri. Pasaribu sangat was-was dengan anak buahnya ini.”

Pasaribu pantas khawatir, obat-obatan anti-malaria yang diberikan ke Sebastian tidak membikinnya membaik malah memburuk, bisa dikatakan kritis.

“Sebentar. Aku laporkan ke nakhoda.”

“Bagaimana, Kapten. Kondisi Sebastian kritis. Dia jatuh sakit sejak selepas kita dari pulau kecil di teluk Benggala. Sering mengeluh sesak nafasnya, penyakit malarianya kambuh namun kali ini seperti ada komplikasi. Obat-obatan malaria sudah diberikan namun tidak ada perubahan.”

“Aku sayang sekali sama ABK satu ini. Disiplin dan pekerja keras, tidak neko-neko. Aku coba hubungi kantor pusat. Aku akan minta mereka mengontak Rio Tinto apakah bisa membantu. Ada kantor besar cabang Rio Tinto di Colombo. Kalau bisa aku akan minta izin bersandar di pelabuhan terdekat,” ujar Thoha lirih.

Nakhoda melangkah menggapai radio telekomunikasi, menghubungi kantor pusat PT. Pelayaran Samudra di Jakarta. Di sana seorang pegawai menerima kontak radionya. Selesai bercakap-cakap, dia meletakkan kembali gagang radio dan melangkah menunduk. Di samping Rifai, dia kembali menatap horizon depan haluan kapal seraya mengambil nafas panjang.

“Bagaimana hasilnya, Kapten?”

“Masih diupayakan. Disuruh menunggu setengah jam lagi.”

Rifai ikut menghela nafas panjang. Mereka saling diam di dek anjungan, menunggu kontak radio dengan kantor pusat.

Di kamar mesin, Pasaribu dan kelasi mesin sibuk mengecek ulang mesin cadangan. Besok mesin utama harus ganti olie sehingga penggerak kapal berpindah daya ke mesin cadangan.

“Tambahkan air aki hingga level normal, jangan kelebihan. Hati-hati saat memasang kembali kabel aki, perhatikan betul tanda kutubnya positif atau negatif. Kalau terbalik bisa meledak akinya karena konslet,” ujar Pasaribu mengatur anak buahnya.

“Pak Pasaribu kelihatan muram hari ini,” celetuk Wayan, seorang kelasi mesin asal Buleleng.

“Aku risau terhadap kondisi kesehatan Sebastian, makin memburuk. Kamu sendiri masih fit?”

“Segar Bugar, Pak.”

“Tolong dijaga, kalau giliran istirahat tidur yang cukup. Perjalanan kita masih panjang.”

“Ya, Pak. Saya ikut prihatin dengan keadaan Sebastian. Dia teman tidur satu kamar dengan saya di kapal ini.”

Wayan Kuster dan Sebastian Lucky sama-sama berkulit hitam. Namun Sebastian kulitnya lebih gelap lagi dari Wayan.

“Lanjutkan hinnga selesai. Aku tinggal sebentar, hendak naik ke dek anjungan, nanti balik ke sini,” pesan Pasaribu.

“Baik, Pak. Kami selesaikan pekerjaan ini.”

Pasaribu membalikkan badan dan melangkah ke tangga keluar.

Sudah setengah jam Thoha dan Rifai menunggu radio di dek anjungan. Radio tidak kunjung berderik, keduanya mulai gelisah. Badan kapal berayun-ayun diterpa gelombang Lautan Hindia. Tak lama kemudian, radio berbunyi tanda ada kontak dari luar.

“Biar langsung aku yang menerimanya,” ujar Thoha.

“MV Sinar Emas. MV Sinar Emas,” suara orang memanggil dari radio.

“Di sini MV Sinar Emas. Langsung dengan nakhoda.”

“Kapten Thoha, manajemen perusahaan sudah berkomunikasi dengan Rio Tinto dan memutuskan mengevakuasi Sebastian dari kapal guna mendapat perawatan yang lebih layak di darat.”

“Jadi, apakah aku bisa bersandar di pelabuhan terdekat atau langsung berlabuh di Colombo?”

“Jangan Kapten Thoha. Sudah diputuskan MV Sinar Emas tidak diperkenankan mendekat ke Teluk Mannar apalagi berlabuh di Colombo. Rio Tinto berkoordinasi dengan rumah sakit Lanka Hospitals Colombo akan mengirim helikopter medevac. MV Sinar Emas diminta mendekat 3 km dari teluk Arugam karena cuaca tidak mendukung, heli tidak berani terbang terlalu jauh ke laut.”

“Baik, instruksi dimengerti. Kami akan memutar haluan menuju teluk Arugam. Kapan helinya berangkat?”

“Helikopter medevac RS Lanka Hospitals sudah berangkat dari Colombo, tiba di Pattuvil satu setengah jam lagi. Dia akan menunggu kalian di sana.”

Wajah Thoha berubah menjadi segar dan bersemangat. Dia menoleh ke belakang, terlihat Pasaribu sudah berdiri di samping Rifai.

“Kapten, bagaimana keputusannya?” tanya Pasaribu berharap-harap cemas.

“Ada harapan yang sangat cerah meski cuaca tidak cerah. Ada heli medevac di Pattuvil untuk membawa Sebastian ke rumah sakit Lanka Hospitals Colombo.”

“Siapa yang mengurusnya di sana, Kapten?”

“Ada orang Rio Tinto di Colombo yang akan membereskan semua urusannya. Rendevous-nya 3 km dari teluk Arugam. Rifai, ubah rute navigasi menuju teluk Arugam. Kita pakai kecepatan penuh 12 knot. Kita akan tiba di lokasi rendevous selepas siang dalam tempo 4,5 jam.”

“Siap, Pak.” sahut Rifai.

Juru mudi memutar roda kemudi dan mesin diesel kapal makin menderum, asap lebih tebal dan hitam keluar dari cerobong kapal kargo itu. Kapal perlahan berbelok ke kanan dan melaju lebih kencang membelah perairan samudra Hindia.

Sementara itu di lokasi wisata pantai Arugam hanya sedikit turis yang bermain selancar. Kebanyakan duduk di kafe atau berjemur di pantai. Moshe Livni yang tinggi ramping dan berkulit putih mulus malas turun ke pantau, sekedar duduk di jok depan Ford Ranger double cabin warna hitam. Cewek berambut pirang staf kedubes AS ini tengah berlibur akhir pekan sendiri, memakai kaos casual ketat, celana pendek, mengenakan kacamata hitam. Dia membuka locker dasboard, mengeluarkan satu pak rokok mild, sebatang rokok dipungut dan dijepit di antara dua bibir tipisnya. Tangan kiri menyalakan korek gas dan disulutnya rokok itu dengan dilindungi sebidang tangan kanannya supaya nyala korek tidak padam terkena hembusan angin pantai. Kepulan asap putih bertiup dari mulutnya, Livni sangat menikmati rokok filter putihnya.

Lima jam berlalu, MV Sinar Emas sudah berhenti di teluk Arugam, melego jangkar 3 km dari pantai. Di dalam dek anjungan, Rifai memanggil-manggil helikopter medevac lewat radio.

“Heli medevac. Heli medivac. Kami sudah menunggu, di mana posisi anda?”

“ Kami stand by di Pattuvil. Oke, segera luncuran menuju rendevous, kami segera tiba”

Empat pria berlari-lari kecil keluar dari ruang transit bandara kota Pattuvil menuju heli yang parkir di apron. Baling-baling propeller sebuah helikopter medical evacuation jenis Eurocopter EC-135 perlahan berputar, makin lama makin kencang. Setelah menara kontrol bandara menyatakan clear, helikopter take off  meninggalkan bandara ke arah selatan. Dengan ketinggian jelajah 30 meter heli tersebut melintasi pantai Arugam, tepat di atas mobil Ford Ranger hitam. Livni di dalamnya mengernyitkan dahi keheranan ada helikopter medis berwarna putih terbang menuju teluk. Dia sangat familiar dengan heli itu, satu-satunya heli evakuasi medis swasta di kota Colombo. Hanya perusahaan besar atau pribadi kalangan tertentu saja yang bisa menyewanya dari rumah sakit Lankan Hospitals Colombo. Dia meletakkan botol air mineral yang dipegangnya, mengambil ponsel blackberry, menghubungi rekan staf kedubes AS di Colombo bagian jawatan intelijen.

“Halo, Smith. Di mana kamu?”

“Masih di kantor. Bagaimana khabar liburanmu di panatai Arugam?”

“Ada heli rumah sakit Lankan Hospitals terbang menuju perairan teluk Arugam. Cari informasi segera apa aktivitasnya.”

“Baik, sebentar. Jangan ditutup ponselmu.”

Sambil memakai telepon tetap kantor dan membuka komputer notebook, Smith melanjutkan pembicaraannya dengan Livni.

“Heli itu pada hari ini disewa perusahaan tambang Rio Tinto, mau mengevakuasi seorang karyawannya ke rumah sakit dari sebuah kapal kargo.”

“Kapal kargo?”

“Ya, betul.”

“Apa muatan kapal kargo tersebut?”

“Belum ada data dan informasi saat ini.”

“Cari terus informasinya. Nanti aku menghubungimu lagi.”

Livni memalingkan punggungnya ke belakang dan menjulurkan tangan kanannya meraih tas di jok penumpang. Dia membuka tas hitam tersebut, mengeluarkan sebuah pencacah Geiger portabel. Diarahkannya alat itu kemana heli medevac terbang menuju laut. Pencacah Geiger berderit aktif menandakan ada sumber radiasi radioaktif, dahi Livni berkenyit lagi. Livni dengan lekas mengambil ponsel, menghubungi kembali Smith di kantor kedubes.

Helikopter medevac terus melaju ke perairan teluk Arugam, pilot dan kopilot mencermati semua obyek di bawahnya. Kecepatan dikurangi, mendekat ke arah kapal kargo bertulis MV Sinar Emas di buritannya.

“MV. Sinar Emas. Itukah anda?” tanya pilot heli lewat radio.

“Betul, dari dek anjungan kami dapat melihat heli warna putih mendekat dari arah barat laut. Apakah anda helikopter medevac dari rumah sakit Lankan Hospitals Colombo?” tanya balik Rifai.

“Benar sekali, di bagian mana kami bisa mendarat?”

“Kapal ini tidak dilengkapi fasilitas helipad. Tapi saya kira geladak haluan bisa didarati helikopter.”

“Saya pastikan dulu. Heli akan mengitari kapal dua kali untuk memastikan situasi dan kondisi pendaratan.”

Sejumlah ABK kelihatan berkerumun di geladak mengamati helikopter warna putih yang berputar sekitar kapal. Suara bising mesin turboprop heli menarik perhatian mereka.

“Ada ruang lapang yang cukup aman di geladak haluan kapal. Namun saya tidak berani landing di situ karena goyangan kapal masih terlalu tinggi menurut prosedur kami. Heli hanya bisa hovering di geladak haluan. Agar disiapkan ke sana pasien yang hendak dievakuasi.” ujar pilot.

“Dipahami, pasien segera disiapkan.”

“Bagaimana kondisi fisik pasien?”

“Sangat lemah meski masih sadar” jawab Rifai.

“Tolong, MV Sinar Emas melempar jangkar supaya badan kapal bisa lebih stabil.”

“Kami sudah melempar jangkar begitu tiba di sini. Ombak lautan di sini jauh lebih mending dibanding laut lepas di sana.”

Thoha mengebel intercom ruang klinik. Pasaribu yang dari tadi ikut menjaga Sebastian, segera berdiri meraih intercom.

“Di sini Pasaribu di ruang klinik.”

“Ambil handy talkie dan tandu Sebastian ke geladak haluan. Persiapkan evakuasinya ke helikopter. Kamu berkomunikasi dengan pilot lewat relay dari stasiun radio yang dipegang Rifai.”

“Baik, Kapten.”

Pasaribu mengambil HT dan memberi tanda pada ABK di ruang klinik untuk membawa tandu Sebastian.

“Ayo Wayan, kita bawa Sebastian ke geladak haluan. Heli rumah sakit sudah menunggu di sana,” seru Pasaribu.

Dengan hati-hati mereka membawanya ke geladak haluan kapal. Pelan-pelan helikopter turun mendekat, hempasan anginnya menerjang pakaian ABK di bawahnya sehingga rambut dan kain baju berkibar-kibar. Helikopter hovering setinggi satu meter dari lantai geladak. Satu orang kru helikopter membuka pintu dan meloncat turun . Dua orang di atas menjulurkan tandu evakuasi yang diikat tali. Rekannya di bawah menyambut uluran tandu dan meletakkan di atas lantai. Pasaribu dan beberapa awak kapal menggotong Sebastian, menaruhnya di atas tandu. Kru helikopter menutup kunci pengikat, dengan dibantu awak kapal, tandu Sebastian diangkat dan disorong masuk ke dalam pintu helikopter. Kru pesawat tersebut berusaha naik ke dalam kabin helikopter. Sebelum pintu ditutup, dia mengacungkan jempol ke arah Pasaribu. Awak kapal lainnya melambai-lambaikan tangan tanda perpisahan. Helikopter pelan-pelan menambah ketinggiannya dan terbang menjauh ke arah barat daya.

“Selamat jalan MV Sinar Emas. Kami langsung terbang menuju Colombo,” salam pilot.

“Selamat tinggal. Terima kasih atas bantuannya,” balas Rifai.

“Sama-sama,” ucap pilot menutup pembicaraan.

Bel kapal meraung panjang, tanda MV Sinar Emas akan bergerak lagi. Semua awak kapal kembali ke masing-masing stasiunnya. Kelasi mengangkat jangkar, suara mesin diesel penggerak kapal makin menderum, asap tebal membumbung dari cerobong kapal.

“Semoga Sebastian segera sehat. Orang tuanya pasti merindukannya,” ucap Rifai penuh harap.

“Aku yakin dia cepat sembuh. Orang Rio Tinto akan mengurusnya selama di Colombo. Rifai, buat rute lagi. Kita kembali masuk Lautan Hindia, menuju Socotra lewat Laut Lacadive dan Laut Arab”.

“Siap, Kapten. Perintah segera dilaksanakan.”

Dua jam kemudian helikopter medevac sampai di Colombo pada sore hari dan mendarati helipad rumah sakit Lanka Hospitals. Sejumlah petugas paramedis berbaju putih-putih telah menunggu di luar. Begitu mendarat, pintu dibuka dan sebastian dipindah ke tandu kereta rumah sakit. Dengan terburu-buru tandu didorong masuk ke dalam menuju ruang ICU (Intensive Care Unit).

Di seberang jalan tak jauh dari helipad, Patrick Smith mengawasi pakai teropong dengan cermat dari dalam sedan Ford Focus. Sebentar-sebentar dia memotret dengan kameranya. Ia sudah parkir di bawah sebatang pohon rindang sebelum helikopter medevac mendarat di rumah sakit.

***

Bersambung ke Bab IV : Menunggu Godot

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: