Bebasnya Kapal Nuklir (Trilogi Novel) I.1

16 Sep

Buku Kesatu: Pelayaran Maut

Bab I: Kiriman Paket Speedboat

Jam tangan menunjukkan pukul empat pagi, masih dingin buat bangun. Namun Thoha memaksa badannya segera beranjak dari ranjang mess pelabuhan. Pria berumur empat puluh lima tahun ini hendak mempersiapkan diri sembayang subuh dan mengecek perbekalannya. Jam enam nanti Thoha akan menakhodai kapal barang berlayar jauh menuju Rotterdam, pelabuhan besar Eropa, Belanda tepatnya. Usai sholat subuh dengan sebagian tubuh masih basah bekas usapan air wudlu, Thoha mengangkat ponsel menghubungi Sri Ajeng, istrinya asal Malang yang tinggal di Surabaya. Sebuah kebiasaan yang berlangsung selama delapan belas tahun, selalu menghubungi istri tercinta sebelum kapal berangkat berlayar.

“Halo. Assalamu’alaikum, Mama.”

“Wa’alaikumsalam,  Papa. Baik-baik ajakah Papa. Di mana Papa sekarang?”

“Papa dalam kondisi baik saja. Sekarang ada di pelabuhan Polewali. Dua jam lagi Papa akan berlayar menuju Rotterdam Belanda mengantar barang. Doakan Papa mudah-mudah perjalanan ini lancar tanpa hambatan.”

“Iya Pa. Doaku selalu menyertaimu.”

“Bagaimana dengan Luna? Masih rajin sekolah?”

“Putri Papa habis ujian semesteran. Dia bilang dapat pacar lain fakultas kedokteran.”

“Tolong tetap diawasi dia Ma. Ayah khawatir dengan pergaulan anak muda sekarang. Meski aku banyak memberi nasihat lewat email maupun hpnya. Salam kangen buat keluargaku. Aku senantiasa rindu berkumpul dengan Mama dan Luna.Tapi demi mencari rezeki yang halalan thoyiban, apa boleh buat ada sesuatu yang harus kukorbankan.”

“Mama juga selalu rindu dengan suamiku.”

“Cintaku, sayangku, jaga diri baik-baik. Papa mau berangkat kerja.”

Tak lama kemudian dia meluncur dari mess pelabuhan Polewali ke dermaga tempat kapal MV Sinar  Emas merapat dengan mengendarai sebuah Landrover Defender tua inventaris perusahaan tambang raksasa dunia, Rio Tinto. Lokasi tambang Rio Tinto sendiri berjarak 200 km dari Polewali sebelah barat gunung Rantemario. Jam enam pagi lebih sedikit, dua puluh tujuh awak kapal MV Sinar berkumpul di ruang kendali kapal. Mereka dikumpulkan oleh Abdullah Thoha sebagai kapten kapal dengan tujuan dibriefing sebelum berangkat dan mempererat kerjasama sekaligus persaudaraan di antara orang-orang yang bekerja di dalam kapal ini. Selama lebih dari dua bulan mereka akan bekerja dan hidup bersama di atas kapal sumber nafkah hingga balik ke tanah air dan kembali berkumpul bersama keluarga masing-masing. Dalam pagi yang masih sejuk, dalam posisi berdiri sikap istirahat membentuk setengah lingkaran, Thoha memulai briefingnya, “Selamat pagi, rekan-rekan.”

“Selamat pagi. Kapten,” balas para awak kapal.

“Setengah jam lagi kita akan berangkat berlayar menempuh perjalanan panjang. Sebelumnya kita biasa mengirim bijih tambang ke Jepang. Kali ini kapal memuat sepuluh ribu ton limonit nikel dengan tujuan pelabuhan Rotterdam Belanda. Tolong tetap menjaga kesehatan dan tetap solid di antara rekan-rekan. Karena kita satu-satunya yang ada dalam kapal ini selama lebih dari dua bulan hingga kita pulang. Jaga komunikasi selama perjalanan. Jangan bertindak sendiri-sendiri. Ada pertanyaan?”

“Kita akan lewat rute mana Kapten?” tanya Ahmad Rifai, Mualim I yang berkumis tebal melintang, perokok berat sehari bisa habis 4 pak rokok filter. Dia sudah berkeluarga, asal Bengkulu, berusia 29 tahun.

“Kita mendapat instruksi dari kantor pusat Jakarta dengan rute Terusan Suez, tidak diperkenankan singgah di pelabuhan mana pun selain pelabuhan Rotterdam. Itu ditempuh sekitar 34 hari jika perjalanan lancar dan mesin kita dalam kondisi fit. Pasaribu, apakah sudah selesai persiapan mesin kapal?” selidik sang nakhoda kepada Busar Pasaribu, Masinis Kepala bertubuh besar kekar berusia sepertiga abad asal Tarutung, tidak pernah merokok sejah dari kecil.

“Siap Kapten. Terakhir kemarin kami sudah selesaikan pengecekan sistem pendinginan,sistem mekanik listrik, hidrolik, dan sekalian ganti oli mesin. Solar dalam posisi full tank

“Kemarin juga kami telah selesai pengecekan dan pengetesan sistem komunikasi dan navigasi. Semuanya lancar Kapten” tambah Rifai.

“Logistik makanan dan perlengkapannya cukup untuk tiga bulan berlayar. Kecuali persediaan air bersih harus kita tambah sesampainya di Rotterdam” sela Yamin Anwar, Stewart Kepala yang gemar masakan Padang, sudah lama berhenti merokok sejak dimarahi dokter spesialis anak karena anaknya yang masih batita mendadak menolak menyusu ASI. Anaknya dua yang pertama laki-laki sudah sekolah TK yang kedua perempuan.

Sambil keningnya berkerut, Rifai menimpali “Tapi Kapten, perairan ujung tanduk Afrika mau masuk Laut Merah kabarnya di media massa sangat rawan dengan perompakan. Apakah tidak ada alternatif rute lain yang lebih aman?”

“Jangan khawatir. Kantor pusat sudah menginformasikan bahwa mereka berkoordinasi dengan NATO dan armada internasional yang berpatroli di sana. Saat ini yang memimpin operasi keamanan laut di sana dijabat angkatan laut Singapura dengan dukungan Amerika Serikat. Kita akan mendapat perlindungan dari mereka. Lagi pula itu rute tercepat mencapai Rotterdam dibanding jika kita mengitari Tanjung Harapan dengan memotong Lautan Hindia lewat kepulauan Chagos” jawab Thoha.

“Semua dokumen dan sistem di-recheck lagi. Kita bertolak setengah jam lagi. Pasaribu, panaskan mesin kapal. Sebelum bubar menuju stasiun masing-masing, mari kita berdoa menurut agama dan kepercayan masing-masing. “ Dua puluh enam orang penghuni kapal MV Sinar Emas menundukkan kepala dalam keheningan satu menit.

Suara mesin diesel kapal menderu, bel kapal meraung panjang, semua awak kapal berada pada stasiun masing-masing. Thoha berdiri di anjungan ruang kendali kapal yang menyatu dengan ruang kemudi bersama Mualim I. Dia mendampingi Asep Jafar, lelaki brewok kelahiran Bandung,  juru kemudi.

Thoha mengangkat gagang radio mengontak Syahbandar Polewali, “Di sini MV Sinar emas minta izin bertolak dari pelabuhan.”

Syahbandar menyahut, “Izin diberikan, MV Sinar Emas bisa berangkat sekarang. Hati-hati di posisi kanan jalur masuk pelabuhan. Ada kapal penumpang yang antri mau merapat. Selamat jalan, semoga harimu menyenangkan, Kapten.”

“Terima kasih, Pak Syahbandar. Selamat tinggal,” balas Thoha.

Pelan-pelan kapal barang yang berbobot mati  dua puluh ribu ton itu bergerak dengan kecepatan 3 knot meninggalkan pelabuhan dan keluar dari mulut Teluk Mandar. Tiga jam kemudian kapal barang tersebut memasuki perairan lepas Selat Makasar.

Rifai meraih alat komunikasi radio dan memanggil-manggil petugas kantor pusat PT. Pelayaran Samudra yang berkedudukan di Jakarta. Dia melaporkan posisi dan kondisi sekarang kapal beserta krunya.

“Kantor Pusat! Kantor Pusat!” panggil Rifai.

“Masuk. Dari siapa ini?” terima petugas kantor pusat.

“Ahmad Rifai. Mualim I MV Sinar Emas. Melaporkan harian kapal,” balas Rifai.

Lima hari kemudian, MV Sinar Emas berlayar di perairan dekat Kepulauan Seribu. Jam tangan menun jukkan pukul delapan pagi. Menunggu Jamil juru masak hidangankan sarapan, Thoha dengan Rifai, Pasaribu, dan Anwar duduk semeja di ruang makan. Di atas meja ada teko teh dan kopi panas, mereka mengambil minuman panas sesuai selera.Thoha meneguk cangkir kopinya kemudian menghisap cerutunya dalam-dalam dan membuka perbincangan, “Ada informasi hari ini? Apakah ada masalah yang belum terpecahkan di seksi kalian?”

Pasaribu berkata, “Sekarang kapal memakai mesin cadangan. Semalam mesin utama ngadat, tidak bisa nyala dieselnya setelah start.”

“Bagaimana panel petunjuk parameter mesin?” tanya Thoha.

“Temperatur normal, level oli cukup, dan batere masih bagus,” jawab Pasaribu.

“Apakah itu terjadi setelah kalian melakukan sesuatu tindakan,” sambung Thoha.

“Semalam kami usai mengganti saringan solar karena sudah waktunya filter solar mesin utama diganti,” tukas Pasaribu.

“Sehabis sarapan, Pasaribu ikut aku ke kamar mesin. Kita periksa lagi mesin utama,” sahut Thoha.

Tak lama suara berdenting pinggan beradu alas meja, Jamil menyajikan menu sarapan hari ini berupa opor ayam dan cah kangkung. Suara gemericik air tatkala dia menuangkan air putih ke dalam gelas.

“Silakan sarapan pak. Nasinya ada di dalam rice cooker. Kalau kopinya habis panggil saja saya,” kata Jamil. Dia berlalu ke dapur membereskan peralatan masak dan mencucinya.

Selesai menyantap sarapan, Thoha dan Pasaribu bergegas berjalan menuju kamar mesin. Suara detak sepatu terdengar ketika mereka menuruni tangga. Seorang kelasi mesin dan juru minyak meyambut kehadiran mereka. Di dalam gemuruh mesin diesel cadangan, Thoha memeriksa kondisi engine diesel mesin utama.

“Hmm. Semua kondisi mesin dan alat bantunya dalam kondisi baik-baik aja. Pasaribu, mana saringan bahan bakar yang kamu ganti?” pinta Thoha.

“Ini saringan bekasnya dan ini saringan suku cadangnya,” Pasaribu menjulurkan kedua tangannya memberi kedua saringan solar.

Sejenak Thoha mengamati kedua saringan itu sambil dahinya berkenyit, “Kenapa dua filter ini berbeda merknya. Yang bekas ini asli sedangkan suku cadangnya baru pertama kali saya melihat merk ini.”

“Itu suplai terbaru dari gudang kantor pusat. Pernah saya menghubungi bagian pembelian suku cadang. Katanya suku cadang asli harganya meningkat tajam, departemen pembelian melakukan efisiensi. Salah satunya membeli saringan solar alternatif yang harganya jauh lebih murah. Stok suku cadang asli di kapal sudah tidak ada lagi. Mesin cadangan yang beroperasi saat ini masih memakai saringan solar asli, 10 hari lagi harus diganti. Berarti mesin cadangan akan mati tanpa mesin utama juga,” kata Pasaribu.

“Ini bukan penghematan tapi bunuh diri. Kita bisa terkatung-katung di Lautan Hindia tanpa pertolongan kalau caranya kayak gini. Sepuluh hari lagi kita berada di tengah lautan Hindia,” gerutu Thoha. Dia melangkah meraih interkom menghubungi ruang kendali.

“Mualim I, Mualim I. Di sini Kapten Kapal,” panggil Thoha kepada Rifai.

“Masuk Pak, di sini Rifai,” sambut Rifai.

“Radio kantor pusat. Kita dalam masalah serius, suplai suku cadang filter engine kualitasnya tidak layak. Kapal terancam mati mesin di Lautan Hindia nanti. Mintakan ijin merapat ke Tanjung Priok untuk menaikkan suplai suku cadang asli. Sampaikan sekarang juga. Sebentar lagi saya naik ke atas,” perintah Thoha kepada Rifai.

“Siap Kapten. Instruksi segera dilaksanakan,” ucap Rifai.

Thoha berlalu dengan langkah cepat menuju tangga meninggalkan Pasaribu dan anak buahnya sibuk di kamar mesin. Dia menemui Rifai di anjuangan ruang kendali yang telah menghubungi kantor pusat.

“Bagaimana hasilnya? Apa tanggapan kantor pusat tentang permintaanku tadi?” tanya Thoha kepada Rifai.

“Sangat bagus Kapten. Petugas radio telah menghubungi staf. Dia menyampaikan bahwa  kita tidak perlu bersandar ke Tanjung Priok. Dia minta kapal berlayar mendekat ke pulau Burung dalam kepulauan Seribu. Kantor pusat mengirim suplai suku cadang pakai speedboat, dua jam lagi tiba di utara pulau Burung,” jawab Rifai.

“Aneh sekali. Tumben layanan mereka sebaik ini. Belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya kapal ini sendiri yang merapat ke pelabuhan dan menaikkan suplai suku cadang kapal,” kata Thoha keheranan.

“Baiklah. Rifai, tempatkan orang di sisi kiri, kanan geladak kapal, dan haluan kapal. Suruh laporan jika melihat speedboat mendekat. Jafar, arahkan haluan kapal ke utara pulau Burung. Agak merapat ke sana. Tapi hati-hati, amati mercusuar. Jangan sampai lunas kapal kandas!” teriak Thoha kepada Jafar yang memegang roda kemudi di ruang kemudi kapal.

“Ya. Kapten,” jawab Jafar pendek.

Cuaca cerah dan ombak begitu tenang di daerah kepulauan Seribu membikin jarak pandang maksimal. Dua jam kemudian dari arah depan lambung kiri lamat-lamat nampak sebuah speedboat dengan kecepatan penuh melaju mendekat. Buih ombak yang dipecah speedboat melebar ke belakang meninggalkan jejak gelombang yang makin menghilang. Seorang kelasi yang berjaga di dek lambung kiri mengontak ruang kendali melalui HT.

“Kapten, ada speedboat warna kuning hendak merapat terhadap kapal,” lapornya.

“Jafar, hentikan kapal dulu. Rifai, lempar jangkar dan siapkan tali di geladak lambung kiri,” perintah Thoha.

Jafar segera memutar balik putaran poros baling-baling penggerak kapal kemudian menyetop putarannya sehingga pelan-pelan kapal berhenti. ABK melempar jangkar supaya kapal tetap stabil pada posisinya supaya speedboat dapat merapat dengan aman. Bejo mengulurkan seutas tali kepada orang di speedboat. Dengan sigap orang tersebut mengingatkan tali terhadap koli kardus. Empat paket kardus satu per satu ditarik ke atas geladak. Bejo memberi tanda dengan jempol kanannya kepada orang di speedboat. Dia pun mengangguk dan membalas dengan mengangkat jempol kanannya. Dengan cepat speedboat menjauhi kapal dan bergerak menjauh kembali ke arah Jakarta. Bejo memindah paketan barang itu ke dalam gudang.

Pasaribu menyusul dan membuka sebuah kotak kardus dan mengecek isinya. Lalu dia mengontak Thoha di ruang kendali dengan interkom.

“Paket barang sudah saya cek. Isinya suku cadang saringan bahan bakar dengan merk yang asli,” lapor Pasaribu.

“Bagus. Aturkan orangmu untuk segera mengganti saringan bahan bakar mesin utama lanjut tes mesinnya,” kata Thoha.

Dengan cekatan Pasaribu berjalan ke arah tangga menuju lorong kamar mesin sambil membawa suku cadang yang telah dia buka. Dua juru mesin membantunya memasang saringan bahan bakar engine diesel mesin utama. Kemudian dia putar kunci starternya. Terdengar mesin menderum hidup, Pasaribu merasa lega dan puas. Dia pun berkomunikasi lewat interkom dengan anjungan ruang kendali.

“Laporan. Saringan baru sudah dipasang dan mesin utama sudah menyala dengan lancar,” kata Pasaribu.

“Oke. Pindahkan putaran poros baling-baling penggerak memakai mesin utama sekarang juga. Jika sudah selesai lakukan pengecekan mesin cadangan,” seru Thoha.

Kelasi mengangkat jangkar dan perlahan kapal mulai bergerak. Lama-lama MV Sinar Emas berlayar dengan kecepatan jelajah penuh sepuluh knot menjauhi pulau Burung meninggalkan perairan kepulauan Seribu dalam cuaca yang begitu cerah.

Hari sudah beranjak siang, juru masak sibuk melayani makan siang ABK. Dia memasak sop buntut dan menggoreng kerupuk udang sebagai menu makan kali ini. Thoha, Rifai, Pasaribu, dan Anwar berkumpul dalam satu meja. Pasaribu sudah mandi membersihkan diri dari kotoran oli. Rifai selesai memperhitungkan rute dan navigasi kapal hari ini. Anwar pun telah mengaturkan pembersihan geladak, kabin, dek kapal serta memperhitungkan logistik dan stoknya.

“Hari yang cerah,” celetuk Anwar.

“Syukurlah kita telah memiliki stok cuku cadang asli. Cukup hingga kita tiba di tanah air,” ujar Pasaribu.

“Mudah-mudahan tak ada kendala lagi. Rifai, sudah kamu kontak kantor pusat?” tanya Thoha sambil menghisap lagi cerutunya dalam-dalam.

“Barusan, Kapten. Saya laporkan posisi terakhir dan konfirmasi penerimaan kiriman suku cadang dari speedboat di pulau Burung tadi,” jawab Rifai.

“Ada informasi lain dari sana?” sambung Thoha.

Pembicaraan terhenti sebentar. Juru masak menghidangkan pinggan dan alat makan di atas meja. Lantai berayun ringan akibat terjangan ombak kecil yang mengusap lambung kapal. Terdengar suara sendok beradu dengan piring dan tegukan minuman air putih.

“Staf di radio bilang bahwa perjalanan kali ini kita mendapat servis lebih dari kantor pusat. Saya tidak mengerti apa maksudnya. Mungkin seperti kiriman paket suku cadang tadi,” balas Rifai.

Dia mengeluarkan sebatang rokok filter dari kotaknya. Klik.. Suara geretan zippo terdengar tatkala Rifai menyulut rokok yang dijepit bibirnya yang tebal.

“Aku keluar duluan. Lelah sekali pikiranku, mau istirahat sebentar,” kata Thoha.

Dia beranjak dari kursinya dan melangkah menuju kabin kamar nakhoda untuk istirahat siang. Meninggalkan tiga anak buahnya melanjutkan perbicangan. Tampak wajah Thoha dan tiga anak buahnya lebih cerah dibanding pagi tadi. Secerah cuaca siang ini yang mengiringi kapal MV Sinar Emas yang berlayar mengarungi Laut Jawa menuju Selat Karimata mengarah ke Selat Malaka. Sebuah selat dengan intensitas pelayaran paling padat di seluruh di dunia tempat berlalu-lalangnya kapal-kapal dari dan ke Tiongkok, Jepang, Korea, Australia, Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Lalu-lintas kapal yang sangat menguntungkan bagi pelabuhan Singapura.

***

Bersambung ke Bab II : Pralaya Teluk Benggala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: