Upacara Bendera dan Nasionalisme, Nikmatnya Merdeka

17 Agu

Satu Upacara Bendera di Pelosok Kalimantan (Koleksi Pribadi)

Pada hari sebagian dari kita sebagai warga negara diberi kesempatan melaksanakan upacara bendera 17 Agustus. Bagiku yang berprofesi buruh pabrik adalah kesempatan langka, sekali dalam setahun melaksanakan upacara bendera. Bendera Merah-Putih adalah lambang eksistensi sebuah bangsa dan negara. Lambang yang tidak muncul begitu saja, penuh derai air mata dan darah dari rakyat dan pemimpinnya sewaktu melahirkan dan mempertahankannya dari nafsu penjajah yang mau memberangusnya.

Perlu kesatuan paham dan pikiran oleh para elit pemimpin bangsa untuk melahirkannya, menyingkirkan ego masing-masing yang mematri semangat kebangsaan. Bukan sebuah kebetulan fakta bahwa hari kemerdekaan bangsa Indonesia dan pengibaran pertama kali bendera Merah-Putih jatuh pada hari Jum’at pada bulan Ramadhan di tahun 1945. Hari Jum’at merupakan hari di mana Adam dan Hawa bertemu di dunia setelah terpisah bertahun-tahun sejak diturunkannya mereka ke dunia dari surga. Hari Jum’at adalah hari dimana dunia diciptakan oleh Allah SWT. Bulan Ramadhan adalah bulan di mana kaum Muslim menunaikan ibadah puasa yang penuh barokah dan penuh keistimewaan. Dalam bulan Ramadhan pertama mukjizat terbesar Rasulullah diturunkan yakni kalam Allah SWT berupa Al-Qur’an.

Pada hari Jum’at bulan Agustus tahun 1945 pada tanggal 17 di pagi hari kemerdekaan bangsa Indonesia dikumandang lewat proklamasi kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Keduanya mewakili dua wilayah berpenduduk terbesar Indonesia simbol integrasi, simbol demokrasi dan kearifan, bukan sekedar Soekarno saja yang bisa memunculkan kecemburuan atas dominasi satu suku. Bahkan Soekarno-Hatta adalah dwi-tunggal, dua tokoh yang tidak bisa terpisahkan. Karena jika keduanya berpisah niscaya negara Republik Indonesia yang mereka bidani ini akan goyah dan menemui hambatan besar yang terbukti kemudian setelah Bung Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. Beliau mengundurkan diri untuk memberi kesempatan Bung Karno mewujudkan semua ambisi politiknya yang banyak bertentangan dengannya pada masa masa itu. Keduanya saling melengkapi, Bung Karno yang berprofil meledak-ledak, berpikiran makro, ekspresif, bersanding dengan Bung Hatta yang cenderung introvert, teliti terhadap detail, dan lebih kalem. Ketokohan Bung Hatta memang sulit tergantikan, terbukti posisi wakil presiden baru diisi kembali pada tahun 1973 oleh Sultan HB IX.

Di dalam Perkebunan Sawit (Koleksi Pribadi)

Aku gembira bisa melaksanakan upacara bendera yang merupakan hak sipilku. Tidak semua rakyat berkesempatan ikut upacara. Aku senang sebagai orang sipil yang turut serta melaksanakan upacara. Aku malu dengan orang militer yang selalu bersemangat melakukan upacara bendera. Padahal sewaktu pembacaan proklamasi dan upacara pengibaran bendera  pertama pada 17 Agustus 1945 malah belum ada badan militer pemerintah maupun negara. Adanya adalah kelompok-kelompok bersenjata baik senjata api dan senjata tajam yang belum diorganisasikan secara nasional. Lain kata, penyelenggaranya semuanya orang sipil, bukan militer. Bahkan pada masa itu pun kaum muslim yang berpuasa belum tentu malamnya makan sahur karena beras adalah barang mewah pada masa itu. Sebelumnya pemerintah pendudukan Jepang banyak merampas produk pertanian dan perkebunan untuk kepentingan militer mereka dalam peperangan melawan Sekutu. Pada masa ini aku selalu makan sahur dengan nasi. Beras walaupun makin mahal harganya tapi masih ada dan banyak dijual. Tidak ada serdadu yang bisa main hakim sendiri terhadap rakyat selayaknya serdadu penjajah. Pada saat ini pun masih bisa kita lihat serdadu pendudukan yang dengan mudah memainkan nyawa rakyat seperti pendudukan Irak, Afganistan, dan Palestina. Dengan melihat nasib mereka saat ini, baru bisa langsung merasakan dan membedakan betapa nikmatnya rasa kemerdekaan. Betapa tak ternilai rasa ini.

Oleh karena itu warga negara yang diberi kesempatan melaksanakan upacara malah ngeloyor pergi main kemana sungguh sangat menyakitkan. Itu bukan tampang orang yang merdeka, tapi tampang orang yang lalim. Dulu sewaktu negara ini dipimpin oleh rezim berhawa militerisme di bawah Soeharto, siapa yang berani tidak ikut upacara bendera. Karena upacara bendera pada masa itu adalah simbol kesetiaan terhadap negara sekaligus loyalitas terhadap rezim berkuasa. Kita harus tidak bermental tempe, di bawah rezim yang represif rajin upacara bendera, giliran rezim  yang jauh lebih demokratis malah menyepelekannya. Dadaku sesak mengingat proses kelahiran bangsa dan negara ini meski aku tidak mengecap era itu. Aku malu pada sekumpulan penduduk beserta pemimpinnya di Jalan Pegangsan Timur No.56 di Jakarta pada bulan Agustus tahun 1945 di tanggal 17.

6 Tanggapan to “Upacara Bendera dan Nasionalisme, Nikmatnya Merdeka”

  1. riez 19 Agustus 2011 pada 11:51 AM #

    Semoga 66th semakin membawa kita kesejahteraan

  2. Imam 23 Agustus 2011 pada 12:54 AM #

    Merdeka mas, salam kenal..
    Kita isi Kemedekaan dengan hal Positif🙂

  3. Kaligrafi indah 7 September 2011 pada 1:42 PM #

    mantab gan kita bisa merasakan kemerdekaan, jika tidak merdeka entah apa yang akan terjadi dengan sekarang ???

  4. Ni kadek ayu lestari 19 September 2011 pada 4:51 PM #

    Dek yu besok tidak boleh lagi marah marah ya kalau di panggil nanda jangan nyaut Kalo di panggil Dek yu baru nyaut Ok yu Ok Ok bu eky

  5. Ni kadek ayu lestari 19 September 2011 pada 4:52 PM #

    ayu tidak boleh marah marah di sekolah

  6. bali tour 17 Agustus 2013 pada 10:33 AM #

    Merdeka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: