Bersepeda Ke Tempat Kerja, Green and Healthy Style

11 Jul

Sepeda Lipat Polygon Metro 3.0

Di perkotaan Jawa sangat marak trend berkendara sepeda ke kantor dan tempat kerja. Setiap hari Minggu banyak orang berolah raga dengan bersepeda, tidak jarang ada Fun Bike. Di kota kecil sini, Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah), dalam setahun terakhir semakin ngetrend klub bersepeda olah raga terutama jenis MTB, mountain bike. Merk yang paling banyak diburu adalah polygon, sepeda ini memiliki prestise yang besar pada komunitas bersepeda di sini. PNS di kota ini pun sudah dihimbau naik sepeda ke kantor tiap hari Jum’at guna menumbuhkan pola hidup sehat dan sadar polusi udara. Aku pun tertarik berkendara sepeda apalagi kadar kolesterol darah ku naik terus. Hasil check up 2 tahun yang lalu 270-an, sekarang  malah 301. Alhasil aku berusaha mengurangi makanan goreng-gorengan kesukaanku dan memutuskan berkendara sepeda ke tempat kerja atau berkeliling perumahan, tidak lagi naik sepeda motor seperti biasanya. Jarak dari perumahan karyawan ke tempat kerja cuma satu kilometer saja. Namun memang hambatannya adalah jalan yang sangat berdebu, khas jalan perkebunan, tidak ada jalur khusus pejalan kaki ataupun pesepeda.

Sepeda Lipat United Bike Dot

Setelah survei di internet, kuputuskan membeli secara kredit sepeda lipat Polygon tipe Metro 3.0 di toko sepeda polygon di kota. Yang banyak populasi sepeda ada 3 merk; United Bike, Wim Cycle, dan Polygon. Wim cycle ada merilis sepeda lipat pocket rocket 20” dengan harga sekitar 1,9 jeti, paling murah. Namun ada yang komplain  sambungan lipatan kurang kokoh, masih goyang saat digowes. United Bike ada juga yang lipat tipe Dot ukuran 20 inci seharga sekitar 2,6 jeti. Modelnya frame mirip dengan Polygon Metro 3.0 dengan rem cakram. Sayangnya sepeda United Bike tidak didukung lembaga finansial FIF. Alhasil aku memilih sepeda lipat Polygon tipe Metro 3.0 seharga sekitar 2,9 jeti secara kredit karena memang tidak ada duit sebesar itu buat membelinya. Itupun indent, ada satu ready stock tapi pesanan orang. Mudah-mudahan dalam seminggu sudah datang barangnya.

Sepeda Lipat Wim Cycle Pocket-Rocket

Folding Bike atau yang lebih dikenal dengan Sepeda Lipat (Seli) saat ini pamornya tidak mau ketinggalan dengan sepeda balap (roadbike) dan sepeda gunung (MTB). Semakin maraknya pekerja di kota-kota besar yang menggunakan sepeda untuk sarana transportasi menuju tempat kerja telah dijawab oleh sejumlah produsen sepeda dengan melansir sepeda lipat/folding bike. Sebenarnya apakah Sepeda Lipat itu, Berikut sejarah singkat Folding bike (sepeda lipat). Folding Bike atau Sepeda Lipat sebenarnya sudah lama sekali digunakan pada tahun 1900. Saat itu sepeda sudah digunakan untuk menunjang Angkatan Darat Prancis pada tahun 1890, Mikael Pedersen mengembangkanya menjadi sebuah Sepeda versi lipat digunakan Angkatan Darat Inggris yang berbobot 15 pound dengan ukuran roda 24 inch. Pada perang Dunia ke-2, BSA Folding Bicycle digunakan pada 1939-1945 oleh pasukan terjun payung Inggris. Keuntungan Sepeda Lipat saat itu adalah bentuknya yang mungil dapat dikemas dengan ringkas, memungkinkan para tentara tersebut membawanya dimedan tempur melalui udara.

Sepeda lipat memang didesain khusus hingga memungkinkan sepeda dapat dilipat menjadi bentuk yang ringkas. Bentuknya yang ringkas sangat memfasilitasi transportasi di perkotaan, tanpa menyita media ruang penyimpanan. Bila dilipat, sepeda lipat dapat lebih mudah dibawa ke gedung, ke tempat kerja atau ke terminal transportasi umum (stasiun kereta atau bus). Sepeda Lipat dapat di bawa didalam mobil, kapal atau pesawat terbang. Mekanisme lipatnya sendiri sangat bervariasi, dengan desain khusus menawarkan kombinasi yang unik diantaranya ; kecepatan melipat, kemudahan melipat, keringkasan bentuk, teknik melipat, berat, ketahanan dan tentunya harga.

Berkendara sepeda memiliki perlindungan hukum yang termaktub dalam peraturan tentang transportasi yaitu Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Pasal-pasal yang berkaitan dengan pesepeda :

pasal 26 ayat 1 disebutkan bahwa
“Pemerintah harus memberikan kemudahan berlalu lintas bagi pesepeda.”

pasal 62 ayat 2 disebutkan bahwa
“Pesepeda berhak atas fasilitas pendukung keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran dalam berlalu lintas.”

pasal 106 ayat 2 disebutkan bahwa
“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki dan pesepeda.”

pasal 122 ayat 2 disebutkan bahwa
“Pesepeda dilarang membawa Penumpang, kecuali jika sepeda tersebut telah dilengkapi dengan tempat Penumpang.”

pasal 123 disebutkan bahwa
“Pesepeda tunarungu harus menggunakan tanda pengenal yang ditempatkan pada bagian depan dan belakang sepedanya.”

pasal 284 disebutkan bahwa
“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki atau pesepeda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu
rupiah).”

Pasal-pasal yang berkaitan dengan fasilitas sepeda:

pasal 25 ayat 1 disebutkan bahwa
“Setiap Jalan yang digunakan untuk Lalu Lintas umum wajib dilengkapi dengan perlengkapan Jalan berupa:
g. fasilitas untuk sepeda, Pejalan Kaki, dan penyandang cacat; ”

pasal 45 ayat 1 disebutkan bahwa
“Fasilitas pendukung penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan meliputi:
b. lajur sepeda; ”

Mudah-mudahan makin banyak orang dan lembaga yang bike to work (b2w).

Bersepeda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: