Profil Algojo Arab Saudi

25 Jun

Salah Satu Algojo Arab Saudi, Al-Beshi

Ada sekitar 6 orang algojo, penjagal nyawa, yang bertugas memancung kepala tervonis hukuman mati di negara Arab Saudi. Yang cukup populer nama-nama para algojo tersebut di antaranya Abdallah bin Said Al-Bishi, Ahmad Rezkallah, dan Muhammad Saad Al-Beshi. Yang paling tenar adalah Al-Bishi karena dia mempunyai account facebook dengan nama Abdalah Al-Bishi – The Arabian Executioner, baru kemudian Muhammaad Saad Al-Beshi dan Ahmad Rezkallah.

Gaji besar, jam kerja leluasa, paket bonus menarik merupakan sebagian insentif pemerintah yang diberikan kepada algojo. Namun besarnya dirahasiakan sesuai kesepakatan dengan pemerintah. Mereka kuat dalam melaksanakan pekerjaan sebagai algojo karena yakin mereka melaksanakan hukum Tuhan.  Muhammad Saad Al-Beshi memulai kariernya di penjara Taif. Kerjanya adalah memborgol dan menutup mata terpidana mati sebelum dipancung. Latar belakangnya tersebut mendorong dia tertarik dengan profesi algojo. Ketika ada lowongan, Al-Beshi melamar dan langsung diterima. Tugas pertamanya di Jeddah pada tahun 1998 memancung seorang terpidana. Dengan sekali tebas ayunan pedang, kepala menggelinding beberapa meter dari badan terpidana. Al-Bishi mengakui sempat gemetar ketika pertama kali menjalani tugas itu. Namun kemudian dia terbiasa dengan profesinya dan pernah memancung kepala terpidana sampai 7 orang dalam satu hari.

Namun demikian dia tetap menghormati keluarga terpidana dengan mengunjungi keluarga korban untuk meminta maklum karena besok dia akan memancung anggota keluarganya. Soal besarnya gaji tidak masalah bagi Al-Beshi karena dia merasa melasanakan perintah Tuhan. Pernah dia menerima bonus dari pemerintah berupa pedang yang bernilai 20 ribu riyal (46 juta rupiah). Dia merasa sangat gembira mendapat hadiah pedang sekaligus dia pakai sebagai alat pancung. Rajin dia membersihkan dan mengasah  pedang itu supaya memiliki kecepatan yang tinggi saat memenggal leher terpidana. Al-Bishi sudah terbiasa dengan pekerjaannya, sementara orang merasa mual melihat ceceran darah tetapi dia bisa pulang dengan tenang dan tidur nyenyak. Terpidana mati biasanya pasrah pada nasib yang akan menimpanya namun tetap mengaharapkan maaf dari ahli waris korban. Percakapan terakhir Al-Beshi dengan terpidana sebelum dieksekusi adalah memberi kesempatan terpidana mengucapkan kalimat syahadat.

Secara pribadi Al-Beshi tidak tega kalau ada tugas memancung wanita. Pada terpidana wanita mesti menggunakan hijab dan tidak boleh ada yang mendekat saat eksekusi. Ada dua pilihan jika terpidananya wanita, boleh memilih pedang atau senjata. Kebanyakan memilih dieksekusi dengan pedang. Sebagai salah satu algojo ternama, dia senang mengajari anaknya, Mushed, menjadi seorang algojo. Muhammad Saad Al-Beshi mengatakan bahwa seorang algojo harus fokus ketika menjalankan pekerjaannya. Dia mengajari anaknya titik-titik mana yang harus diperhatikan supaya eksekusi berlangsung cepat dan tepat. Sebagi seorang algojo dia tidak selalu memancung kepala terpidana. Ada kalanya dia melaksanakan hukum qishash potong tangan atau kaki dengan memakai pisau khusus, bukan pedang. Aparat tinggal menunnjukkan bagian mana yang harus dipotong dan dia dengan tepat mengeksekusinya pada persendian. Istri Al-Beshi tidak merasa aneh dengan profesinya sebagai algojo. Istrinya selalu meyarankan hari-hati sebelum berangkat kerja dan terkadang menyambutnya saat pulang dan membantu membersihkan pedangnyha dari ceceran darah.

Adalagi algojo bernama Ahmad Rezkallah yang mengaku telah memancung terpidana lebih dari 300 orang, 70 di antaranya adalah wanita. Dia mengawali kariernya sebagai algojo tidak tetap atau sukarelawan, pada usia 20 tahun. Pada walnya oran-orang ragu dia akan sukses sebagi algojo karena terlalu muda. Pernah dia mengalami peristiwa mengharukan. Pada detik-detik akhir tatkala dia hendak memancung seorang terpidana wanita, tiba-tiba dia mendengar bahwa keluarga korban memaafkan terpidana. Eksekusi batal dan polisi membawa kembali terpidanan ke tahanan. Dari pengalamnnya sebagi algojo dia menyaksikan sendiri bahwa terpidana wanita pada umumnya lebih tegar daripada terpidana pria. Wanita tetap pasrah dan tenang hingga detik terakhir. Sebaliknya terpidana pria gelisah bahkan ada yang pingsan menjelang eksekusi atau berubah menjadi gila.

Satu lagi algojo Arab Saudi, Abdallah bin Said Al-Bishi yang bertugas pertama kali pada 1991 setelah ayahnya yang berprofesi juga sebagai algojo wafat seminggu sebelumnya. Al-Bishi sempat terkejut tatkala ditunjuk sebagai algojo oleh Kementrian Dalam Negeri Arab Saudi. Pertama kali memnacung, di langsung mengekseskusi tiga orang pada hari itu. Hingga kini Al-Bishi sudah mengseksekusi lebih dari 100 orang. Dia memakai pedang bernama Sultan, warisan dari mendiang bapaknya. Sewaktu kecil Al-Bishi menyaksikan bapaknya melaksanakan eksekusi di depan gerbang Jaja Abdul Aziz. Dia melihat kepala melayang dan pancaran darah seperti sumur. Malamnya Al-Bishim kecil sulit tidur dan bermimpi buruk. Pedang eksekusi yang bagus berasal dari Jowhar, sebuah kota kecil sekitar 90 km utara Mogadishu Somalia. Al-Bishi sebagaimana algojo lainnya menegaskan bahwa syarat utama menjadi algojo adalah tidak boleh merasa iba terhadap terpidana. Jika merasa iba ia akan menderita dan hati merasa kasihan, tangan pasti gagal. Profesi algojo adalah pekerjaan turun-temurun dalam keluarganya. Putra sulung Al-Bishi, Badr, sudah dilatih menjadi algojo dan akan diangkat untuk bertugas di Riyadh.

Demikianlah profil beberapa algojo Arab Saudi. Anda tertarik untuk melamar pekerjaan sebagai algojo di sana?

4 Tanggapan to “Profil Algojo Arab Saudi”

  1. mihta 6 Juli 2011 pada 5:28 PM #

    aduh mendingan ga punya karier deh serem….

    • cakidur 8 Juli 2011 pada 7:45 AM #

      khas berhati kalem…

  2. Aiiyu 22 November 2011 pada 5:06 PM #

    PReeetttt .

    mksud ???

  3. warga 20 Desember 2012 pada 11:48 PM #

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, banyak warga desa di medan amplas indonesia meminta hukuman cambuk 100 kali karena berzina, haram, berjudi, dan lain – lain. waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: