Dominasi Israel dan Pembelian Skuadron UAV Indonesia

27 Mei
Pesawat Searcher Mk-II Singapura di Afganistan

Perkembangan teknologi persenjataan perang mengantar manusia ke periode piranti tempur tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh. Dalam perang Irak, Afganistan, dan Libya peran pesawat nirawak atau UAV (unmanned aerial vehicle) semakin mengemuka dalam praktis pertempuran di lapangan. Dahulu pesawat nirawak cuma dominan pada peran IRS (inteligence, reconnaissance, and surveillance) namun kini sudah merambah ke peran tempur sesungguhnya dengan kemampuan meluncurkan misil udara-darat. Teknologi pesawat nirawak masih didominasi Amerika Serikat dan Israel. Namun negara-negara lain di dunia dengan cepat berusaha mengikuti perubahan ini. Indonesia merasakan manfaat pesawat nirawak pertama kali pada saat operasi pembebasan sandera di Mapeduma Papua pada tahun 1995. Saat itu Kopassus di era Danjen Prabowo Subianto mengoperasikan pesawat nirawak dengan peran IRS untuk memantau pergerakan kelompok Kelik Kwalik yang menyandra tim ekspediri Lorenz. Pesawat nirawak tersebut model Searcher pinjaman dari AU Singapura.

Sejumlah institusi juga berusaha mengembangkan prototipe UAV dengan beberapa variasi teknologi madya yang lebih sederhana. BPPT memiliki roadmap pengeambangan pesawat nirawak pelatuk, gagak, dan wulung. PT. Dirgantara Indonesia mengembangkan PTTA (pesawat terbang tanpa awak) dengan prototipe UAV-530. PT. Aviator Indonesia bekerja sama dengan Irkut corp. mengemabangkan SmartEagle II dan UAV-IRKUT 10. Lapan dan UAVindo mengembangkan CR-10. Ada juga beberapa perguruan tinggi seperti ITB dan ITS yang merintis penelitian AUV. Namun semua rekayasa UAV lokal sangat terbatas daya jelajah dan pengindraannya.

Pesawat Nirawak IAI Israel Hermes 450

Pertengahan tahun 2006, tujuh perwira menengah (Pamen) TNI pernah dikhabarkan berkunjung ke produsen pesawat UAV, Israel Aircraft Industry (IAI) di Haifa-Israel. Kemudian pada 22 Oktober 2006 salah satu media di Israel, The Jerussalem Post, mengabarkan bahwa militer Indonesia tertarik membeli salah satu produk UAV buatan IAI. Keputusan tersebut diambil setelah Pamen TNI melihat secara langsung kemampuan dan kehandalan beberapa UAV buatan IAI saat beroperasi siang maupun malam. Setelah melakukan penilaian dan diskusi panjang dengan pihak produsen, TNI memilih UAV dari jenis Searcher MK-II untuk Badan Intelijen Strategis TNI (BAIS). Untuk rencana ini, TNI mengajukan dana sebesar 6 juta dollar AS pada anggaran APBN tahun 2007 untuk paket pembelian UAV, sparepart dan pelatihan awak. Pembelian UAV ini sempat disamarkan dengan memanipulasi pembelian sarana pendukung alutsista TNI dari perusahaan di Filipina, padahal barang tersebut berupa UAV dari Israel. Manipulasi ini berujung ditolaknya rencana pembelian UAV tersebut dari Israel setelah diketahui sejumlah anggota parlemen di Senayan. Pada dasarnya penetapan penyedia pengadaan UAV sudah tertuang dalam Surat Keputusan Dephan Nomor SKEP/723/M/IX/2006. Surat tersebut dikeluarkan 21 September 2006 dan ditandatangani Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono. Menhan Juwono Sudarsono saat itu mengungkapkan, pengadaan UAV oleh Indonesia dari Israel adalah langkah realistik mengingat alat serupa yang dibuat di dalam negeri belum memiliki teknologi yang dibutuhkan oleh BAIS. Rencana pembelian akhirnya marak diberitakan oleh pers di Indonesia, kontan saja banyak masyarakat terutama kaum muslim di tanah air yang tidak setuju dengan pembelian alutsista asal Israel, ujung-ujungnya banyak aksi demo dilakukan di depan kedubes AS. Israel dianggap sebagai negara penjajah karena tindakannya menindas dan melanggar HAM di Palestina.

UAV Model terbaru IAI Israel, Heron TP

Rencana pembentukan skuadron UAV akhirnya dimatangkan kembali pada tahun 2011 dengan basis lanud Supadio Pontianak. Dari wacana yang dimuat di media massa, jenis pesawat yang hendak dibeli sama dengan rencana tahun 2007 yaitu Searcher MK-II dengan bobot setengah ton berkemampuan terbang hingga 6100 meter dan daya tahan 18 jam. Memang harus diakui produk UAV Israel saat ini masih mendominasi secara internasional seperti pesawat Seacher, Hermes, dan Heron. Dari AS, Perancis, hingga India dan Rusia semuanya membeli UAV Israel. Namun pembelian tersebut juga harus diwaspadai terhadap konsesi apa yang diminta Israel terhadap Indonesia karena hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah dalam jual-beli persenjataan strategis. Justru seharusnya Indonesia mendapatkan keuntungan transfer teknologi seperti halnya Turki yang membeli UAV Israel. Aselsan Turki memodifikasi pesawat Heron dengan mengadopsi piranti sistem pemindai dan pencitraan termal produksi dalam negeri, ASELFLIR-300T. Model Hermes maupun Heron bisa dimodifikasi memuat dua rudal udara ke darat seperti Hellfire AS atau Rafael Israel sebagaimana pesawat nirawak Predator atau Reaper Amerika Serikat.

Singapura pun sudah memakai Searcher II sejak tahun 2004 dan sekarang sedang menggantinya dengan Heron dengan kemampuan yang lebih bagus, juga produk IAI Israel. Bahkan dengan bantuan teknologi Israel, Singapura mengembangkan pesawat UAV sendiri untuk kelas short range. Rusia pun telah membuat kesepakatan dengan Israel untuk melisensi produksi UAV di dalam negeri Rusia karena memang jauh tertinggal dalam teknologi UAV. Rusia merasakan betul dampak dari penggunaan UAV dalam perang di Kaukasus melawan Georgia. Dalam perang 5 hari tersebut Georgia yang memakai UAV Israel mampu memberikan perlawanan sengit dalam pertempuran penguasaan ibukota Ossetia Selatan. Armada lapis baja Rusia yang kurang mendapat pasokan data IRS karena tidak memiliki unit UAV mengalami kerugian hebat dalam sebuah penyergapan pasukan Georgia di mana barisan 30 unit tank dan kendaraan lapis baja pasukan Rusia Divisi Ke-58 yang memuat Jenderal Anatoly Khrulyov , 25 diantaranya hancur dan hanya 5 yang selamat sementara Jenderal Khrulyov cedera di kaki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: