Andai Melinda Dee Pernah Manager Bank Grameen

6 Apr

Melinda Dee di Citibank bergaji 70 juta rupiah per bulan dengan bonus setiap triwulan seperempat milyar aja masih bernafsu menilep dana nasabah dan bank demi kemewahan hidupnya tentu sangat mengherankan dan memprihatinkan bagi banyak orang. Padahal wanita montok itu bekerja di kota metropolis dengan segala fasilitas hidup yang lebih dari layak, tempat kerja dengan kantor yang nyaman, beserta sarana berkendara yang mewah (kayak Ferarri dan Hummer). Mendengar Citibank saja semua orang pasti membayangkan kliennya orang-orang parlente atau korporasi beromzet besar sejalan dengan nafas kapitalisme negara asal Citi. Seandainya dia pernah bekerja di bank yang sangat altruis seperti bank Grameen setidak-tidaknya nurani dapat melihat betapa orang-orang yang bekerja di Grameen bank dengan gaji jauh sekali tapi masih bersengat kerja dalam bisnis microfinance bagi orang-orang dhuafa terutama kaum perempuan. Direktur Utama sekaliber peraih nobel perdamaian 2006, Muhammad Yunus, cuma bergaji 650 dollar. Beliau di Dhaka yang merupakan daerah tropis bekerja di kantor tanpa AC, cuma kipas angin, berkendara mobil minibus bekas. Sedangkan manajer paling rendah bergaji 175 dollar. Angka kemiskinan di Bangladesh adalah 40%. Dengan 60 ribuan karyawan mereka telah melayani 80%  penduduk miskin namun masih bermimpi bisa menyentuh 100% penduduk miskin Bangladesh dan ikut berpartisipasi menurunkan angka kemiskinan meski tanpa dukungan pemerintah. Bahkan kini Muhammad Yunus disingkirkan pemerintah dari Bank Grameen. Seandainya bisa ditukar, Muhammad Yunus di sini dan Melinda Dee di sana. Semoga beliau bisa mengangkat kaum miskin di Indonesia, tidak gagal sebagaimana konsep koperasi Bung Hatta yang diadopsi dari Skandinavia.

Satu Tanggapan to “Andai Melinda Dee Pernah Manager Bank Grameen”

  1. azzetjogja 8 April 2011 pada 9:42 AM #

    Iya, benar sekali, betapa kepekaan setiap manusia dalam menjalani hidup ini perlu diasah. Bila tidak, tentu kurang dan kurang, seakan lupa bahwa orang lain untuk makan saja harus bekerja keras diterpa sinar matahari, bahkan menahan malu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: