Kasus Roy Suryo dan Mentalitas Birokrat

27 Mar

“Pengusiran” anggota DPR dari fraksi demokrat dari pesawat Lion Air, Roy Suryo, adalah gambaran gunung es mentalitas pejabat Indonesia pada umumnya. Cenderung ingin didahulukan dan diistimewakan, tidak perlu ngantri, urusan pribadi atau kantor minta dipercepat dan disederhanakan. Meski ada eufisme Roy Suryo tidak diusir paksa tapi memang dia terpaksa harus meninggalkan kursi pesawat Lion Air Jakarta-Yogya di Bandara Soeta hari Sabtu tanggal 26 Maret. Tiketnya seyogyanya untuk penerbangan pukul 07.45 sehingga terjadi konflik dengan penumpang seat yang sama di penerbangan 06.15. Tapi tidak ada sikap gentleman, malah mengkambing hitamkan adanya double seat atau tiket ganda pihak maskapai. Meski pada awalnya penumpang biasa yang seatnya diambil Roy Suryo beserta istri hendak mengalah, akibat tekanan massa orang banyak penumpang pesawat akhirnya terpaksa Roy Suryo dan istrinya yang mengalah padahal sudah terlanjur membawa-bawa nama direktur Lion Air dalam berargumentasi. Hal ini menggambarkan bahwa dalam mengawal jalannya proses demokratisasi dan lanjutan reformasi 1998 perlu kerjasama banyak pihak tidak bisa parsial, sepotong-potong/berpecah belah. Tidak peduli awalnya siapa dia tapi kalau sudah masuk dalam lingkungan kekuasaan pasti cenderung corrupt. Lord Acton berkata bahwa kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan mutlak pasti korup. Saya masih ingat waktu nonton acara talkshow berita TV sebelum Roy Suryo menjadi legislator, masih seorang pengamat telematika terkemuka, dia mengkritik pedas anggota DPR yang hendak minta fasilitas laptop mahal padahal fungsinya bagi anggota dewan tidak seberapa penting dan membuang-buang anggaran negara. Dia berargumentasi secara logis dengan cara berpikir sesuai metode ilmiah, khas seorang peneliti/pakar. Begitu kemudian dia memegang kekuasaan dia menjadi lupa jargonnya dulu. Sebagaimana para perwira muda di dunia ketiga yang melancarkan revolusi di era 60-an dan 70-an, terbakar oleh semangat antipenindasan rezim yang berkuasa sebelumnya mereka merebut kekuasaan untuk mendudukkan kekuasaan pada apa yang disebut dengan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Tercatat perwira militer mulai dari Cuba, Bolivia, Argentina, Mesir dan Syiria, Libya, Iraq, Iran, bahkan Indonesia merebut tampuk kekuasaan dari rezim berkuasa sebelumnya namun lambat laun mereka lebih kurang berlaku seperti rezim yang telah mereka gulingkan. Bangsa Indonesia sendiri telah mengalami beberapa revolusi: 1945, 1965, dan 1998, sudah cukup berulang pelajaran sejarah bangsa dalam menempa karakter bangsa Indonesia, tidak perlu mengulanginya untuk menyadarkan penyelengara negara. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: