Libya dan Strategi Perang Asimetris Sang Kolonel

6 Mar

Krisis timur tengah dan Afrika utara semakin melebar. Mulai dari konflik Arab-Israel, krisis Iraq, ketegangan Iran, gelombang pemakzulan rezim Tunisia dan Mesir, gelombang destabilisasi Yaman dan Bahrain, kini perang saudara Libya yang makin memburuk. Krisis di Libya melibatkan 3 kekuatan besar dunia: Eropa dan NATO, Rusia & China, Liga Arab & Uni Afrika. AS dan sekutu NATO tampaknya memiliki keinginan yang kuat untuk melakukan intervensi. Kondisi yang chaos di dalam negeri Libya merupakan prakondisi ideal bagi suatu intervensi militer. AS sendiri secara unilateral pernah melakukannya lewat serangan udara terhadap kota Benghazi tatkala Kol.Gadhafi bermukim di situ. Serangan udara direncanakan dalam operasi El Darado Canyon yang dilancarkan dari satuan kapal induk di perairan teluk Sidra 15 April 1986 namun gagal membunuh sang kolonel. Namun suara sekutu AS terbelah bagi opsi intervensi langsung berkaca dari pengalaman operasi militer di Iraq dan Afganistan serta resistensi yang kuat dari kaum muslim serta dunia ketiga. Liga Arab & Uni Afrika sendiri enggan menerima rencana intervensi militer Barat meski lebih dapat menerima rencana pemberlakuan zona larangan terbang. Rezim-rezim primordial timur tengah pun sangat mengawatirkan campur tangan AS karena sangat berpotensi menggoyang stabilitas kawasan. Sekutu lama Libya, Rusia dan China cenderung wait and see namun menghambat keputusan intervensi militer DK PBB guna meredam pengaruh AS atas kawasan. Namun dibalik semua itu AS dan sekutunya telah bergerak dibalik layar dengan berhubungan langsung dengan pihak oposisi Libya, pembentukan opini publik dunia, serta operasi-operasi rahasia militer dan intelijen. Krisis Libya tidak akan berakhir dengan cepat karena rumitnya struktur lembaga negara dan hierarki angkatan bersenjata yang terorgarnisasi secara tidak terpusat. Berlawanan dengan sistem lembaga negara dan militer gaya negara maju. Hal tersebut memang sengaja diciptakan oleh Muammar Qaddafi sebagi strategi pertahanan terhadap ancaman serangan langsung Barat yang notabene musuh abadi sang kolonel. Dalam sejarah konflik yang panjang sang kolonel pasti memahami tidak mungkin dia mampu menghadapi intervensi langsung Barat dalam peperangan simetris / konvensional. System yang tidak begitu tersentral baik secara militer maupun organisasi sipil berdasar pengalaman sejarah lebih mampu memberi perlawanan yang lebih lama terhadap kekuatan konvensional yang jauh lebih superior. Tentunya dengan durasi intervensi yang berkelamaan akan menciptakan resistensi publik dalam negeri dan menarik simpati dari pihak ketiga.

3 Tanggapan to “Libya dan Strategi Perang Asimetris Sang Kolonel”

  1. upin 7 Maret 2011 pada 10:55 AM #

    mudah-mudahan tidak meluas

  2. ahmadriyadhmz 8 Maret 2011 pada 9:48 AM #

    Tugas sdh dilaksanakan, linknya sdh sy psang, terima kasih atas kunjungannya, ditunggu kunjunganberikutnya.

    • cakidur 9 Maret 2011 pada 5:00 AM #

      Makasih. Senang jua bertemen ma anda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: