F-16: Pilih Kuantitas Atau Kualitas

6 Jan
Pesawat Tempur F-16 Block 52 (www.defense.pk)

Polemik antara menolak dan menerima hibah pesawat tempur bekas USAF F-16 terus menyeruak. Tentunya pasti hibah tersebut memiliki dua sisi acceptable dan unacceptable. Pesawat tempur ini memang pesawat legendaris General Diyamics (Locheed) karena sudah battle proven, baik dalam operasi khusus maupun operasi terbuka dari sejumlah campign. Dari pihak legislatif pun terbelah pendapat antara menerima dan menolak sementara Kemenhan masih menimang-nimang. Indonesia mengalami sejarah pahit operasional pesawat F-16, satu-satunya pesawat paling canggih yang dimiliki negeri ini.

Meski pesawat F-16 sebenarnya merupakan pesawat tempur ringan multi peran (berat kosong 8 ton, berat operasional 12 ton) dengan radius tempur menengah (500-an km), bandingkan dengan pesawat tempur berat Sukhoi Su27/30 mampu 2 ribuan km. Dampak krisis Timor Leste, AS embargo militer Indonesia September 1999 yang baru dicabut November 2005. Dampaknya sangat terasa bagi kemampuan terbang fleet F-16, tercermin dari Insiden Bawean Juli 2003. Ketika 5 pesawat F-18 yang berinduk USS Carl Vinson melanggar wilayah udara RI, kita cuma bisa meng-intercept dengan 2 unit F-16 B berkursi ganda yang notabene untuk latih pilot malah dipake bertempur sungguhan. Btw, cuma 2 unit itu saja yang bisa terbang!  Sementara 8 unit lainnya pasti grounded karena kurang spare part atau bahkan dikanibal kalau tak dapat akses ke pasar gelap. Sedangkan 2 unit lagi telah rontok duluan, 1 unit (1607) saat berlatih di daerah Tulungagung Jatim Juni 1992 dan 1 unit lagi (1604) crash waktu mendarat di Halim saat cuaca buruk Maret 2007.

Pesawat Tempur TNI-AU F-16 Block 15 OCU

Tidak heran F-16 B dalam insiden Bawean sampai rocking the wings (kepakkan sayap tanda tidak hendak berkelahi). Belum lagi masalah arsenal untuk F-16, Indonesia hanya bisa beli sidewinder standart dan maverick. Padahal sidewinder cuma bisa untuk dogfight karena jarak jangkaunya pendek dan model lama sudut serangnya lebih sempit. Kita tidak bisa mengakses rudal AMRAAM yang daya jangkaunya bisa 40 km! Demian juga rudal udara ke darat yang bisa menembus bunker, TNI AU tidak diberi akses, mungkin maksud AS biar Indonesia tidak bisa menjebol bunker di tengah pulau Singapura jika seandainya Indonesia konflik dengan Singapura.

Di situ lah letak pertahanan militer terakhir Singapura. Dari segi avionik, pasti sistem navigasi dan kendali senjata mudah dijamming oleh pesawat AS seperti pada insiden Bawean. Pesawat bekas pun harus diketahui dengan pasti sisa usia pakai engine turbin gas masih berapa ribu jam lagi sebelum overhaul atau bahkan replacement. Belum ada kabar TNI AU memiliki stock engine jet turbin, beda dengan pembelian F16 blok 52 Mesir tahun 2009 yang meliputi engine turbin dan kualitas turbin gas bagus dimana lifetime engine 6000 jam terbang. Dari segi pesawatnya sendiri perlu diketaui kondisi ketahanan fuselage atau airframe (kerangka), masih sisa berapa ribu jam lagi sebelum mengalami fatigue sehingga crack/retak. Dari segi konsepsi fungsi strategis pesawat tempur. Lebih condong sebagai fungsi deterrent (penggetar) ataukah fungsi taktis.

Secara historis, Indonesia tidak pernah melibatkan secara langsung pesawat tempurnya bertempur dengan pesawat negara asing/musuh. Demikian juga secara taktis, Anggaran negara Indonesia tidak mampu menyediakan jumlah pesawat yang memang bisa mengcover seluruh wilayah nasional. Itu dari segi biaya pembelian unit, belum biaya pemeliharaan pesawat bekas pasti jauh lebih besar. Demikian pula biaya penyediaan arsenal untuk opeasional pesawat. Pesawat F-16 yang pernah dibeli Indonesia pun cenderung berfungsi sebagai deterrent meski juga memiliki peran taktis. Tentuya kalau menitik beratkan pada fungsi deterrent, membeli F-16 dengan jumlah yang sedikit tapi memiliki spek dan kemampuan yang lebih tinggi adalah lebih bagus. Terlepas dari kajian teknis dan finansial, kemampuan diplomasi juga sangat mempengaruhi keputusan suatu alutsista (alat utama sistem persenjataan). Ingatlah bahwa Indonesia bisa memiliki pesawat C-130 Hercules di awal dekade 60-an. Padahal belum ada negara NATO di Eropa yang diberi akses dan kita masih konflik dengan Belanda masalah Papua Barat. Bahkan Hercules langsung terjun dalam operasi militer berhadapan dengan pesawat-pesawat tempur Belanda yang peninggalan PD II bermesin piston rotary.

Bayangkan, pesawat tempur Belanda mau menembak pesawat angkut segede Hercules aja tidak mampu! Itu belum diplomasi Bung Karno dalam mendapatkan pembom jet strategis Tu-16 yang bisa mengkaramkan kapal induk Belanda Karel Dorman, pertama di luar Soviet yang bisa mengaksesnya, setara dengan pembom jet strategis AS sendiri yang memilki B-58 Hustler. Bayangkan, pesawat pembom sebesar itu tidak bisa dikunci pesawat-pesawat jet tempur Inggris waktu konflik dengan Malaysia! Tapi Indonesia bisa! Semoga para pemimpin negara ini tidak salah ambil langkah karena obsesi sesaat. Dikaji betul antara membeli bekas 24 unit dengan beli baru 6 unit karena rakyat Indonesia sendiri yang bakal menanggung akibatnya.

Pesawat Tempur F-16 Block 60 (www.military.wikia.com)

3 Tanggapan to “F-16: Pilih Kuantitas Atau Kualitas”

  1. imelda deag 24 Juli 2011 pada 10:07 PM #

    saye nak ncari info berat pesawat🙂

    • cakidur 24 Juli 2011 pada 10:13 PM #

      The weight of aircraft is vary depend on the mission. Thanks Imelda

      • es kampiun 26 Juli 2011 pada 7:54 PM #

        ou,,… I see… Ur wlcm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: