Esai Evolusi Laptop

6 Jan

Senantiasa terbayang di benakku akan sebuah laptop yang memiliki kombinasi portabilitas dan performance grafis dan kinerja prosesor yang optimum dengan budget yang nyaman di kantong. Aku telah menggunakan laptop sejak 2005, pertama kali memakai notebook second hand IBM Thinkpad series dengan prosesor Intel Pentium II 266 MHz dengan memory 64MB dan 32MB, 2 keping SODIMM SDRAM. Itupun memory RAM dishare untuk memory grafis sebesar 8MB. Sistem OS yang terinstall ialah windows me, masih terasa berat kalo diinstal windows xp. Aplikasi yang terpasang pun sederhana, aplikasi kantoran, dengan batere yang telah soak dan cuma mampu bertahan kurang dari 5 menit. Lumayan guna menggeser colokan power tanpa perlu mematikan laptop . Belum lagi Cuma ada sepasang speaker kecil dengan output yang juga sangat kecil, benar-benar tidak memuaskan saat memutar file multimedia dan dipinggiran monitor LCD sudah banyak dead pixel. Di tahun tersebut aku harus merogoh 6 jeti secara mencicil selama beberapa bulan kepada seorang rekan kerja. Beralih di 2007, beruntung ada sepupu yang hendak melego laptopnya yang belum setahun dibeli karena dia upgrade ke laptop acer aspire core 2 duo T7100. Aku tawar separo harga barunya, kena dua setengah jeti, masih bagus kondisinya sedangkan yang lama kuhibahkan aja ke kerabat. Tipenya Axioo intel celeron M series clock speed 1,5 GHz. Memorynya RAM DDR400 512MB dengan memory grafis shared sebanyak 64 MB plus tas laptop Targus. Sebuah loncatan yang bagus walaupun Axioo ternyata cuma sekedar merk tempelan aja. Ini merk lokal Indonesia namun dipesan barangnya dari China, baru dikasih merk. Bodynya serba plastik dan saat beroperasi terasa panas di areal palm rest dan keyboard. Dengan bobot lebih dari 2 kg bikin pegal bahu bila dicangklong tas sambil jalan lama. Kondisi screen monitor LCD sudah ada satu-dua titik di tengah yang dead pixel. Namun kinerjanya jauh melebihi pendahulunya IBM Pentium II. Ini notebook sudah bisa diajak main game yang ringan, terutama favoritku simulator pesawat tempur F-16/ F-22 serta Starcraft Broodwar yang masih 2D yang dulu sering aku mainkan saat kuliah di Malang. Baterenya juga masih oke dengan durasi satu setengah samapai dua jam rata-rata. Menginjak tahun 2008 muncul fenomena baru netbook yang murah meriah, suatu ras baru turunan notebook. Seperti notebook tapi ditujukan untuk aplikasi ringan dengan titik berat pada kemudahan koneksi jaringan dan internet serta memannfaatkan jenis prosesor baru yang ekonomis tapi hemat daya dan kinerja memadai untuk fungsi netbook. Produsen pertama yang melempar produk netbook ke pasar adalah Asus dengan seri Eee yang meledak di pasaran. Hampir semua produsen kompie ikut-ikutan bersaing di ceruk pasar baru dengan penyuplai prosesor tunggal, intel atom. Banyak telaah menunjukkan dengan terang bahwa netbook memang hanya memiliki kemampuan dasar seperti aplikasi office dan internet, tidak sanggup dibebani lebih. Pada saat yang sama aku juga memiliki komputer desktop PC yang telah kurintis sejak tahun 2006 dari AMD sempron ke Intel Pentium D 925, dari VGA card kelas ekonomi ATI radeo 9600 LE ke kartu grafis kelas menengah enty level nVidia 8600GT lengkap dengan upgrade motherboard dan modul memory. Berdasar itu akhirnya kulego notebook Axioo ke salah satu saudara senilai satu setengah jeti dan kubeli secara kredit sebuah netbook Axioo pico warna putih. Pertimbangan pico dipilih adalah dengan harga yang sama diperoleh netbook dengan spesifikasi yang lebih baik. Sedangkan untuk pekerjaan yang membutuhkan aplikasi berat seperti main game 3D dan autocad atau edit video, desktop PC mengambil alih. Pada awal tahun 2009 sebulan setelah kredit tak dinyana ada sedikit masalah kecil tapi fatal. BIOS netbook Axioo pico ternyata dipassword tanpa tahu siapa yang bertanggungjawab. Dari awal sejak kubeli memang aku tahu itu bios dipassword, kirain pihak toko komputer supaya terjamin garansi tokonya. Selama dipakai tidak kendala software/OS windows xp, jadi tiada kendala berarti, dirasa tidak urgent menanyakan masalah bios yang dipassword. Setelah sebulan pasca lunas kredit kubawa netbook ke toko Cellcom untuk service windows xp nya. Pihak teknisi mengecek dan menanyakan perihal password bios. Dari situ baru tahu kalau pihak prnjual retail tidak mempassword, teknisinya mencoba berbagai metode pun tidak berhasil menjebol password bios, padahal resepnya sederhana aja: reset default bios dengan cara cabut batere CMOS hingga tidak ada sisa daya di system CMOS. Saat kutanyai teknisinya metode tersebut telah dia lakukan. Aku coba ke toko MMS, ternyata sama juga, teknisi tidak berhasil menghapus password bios dan menyarankan mengirim ke service center di Jawa. Daripada terlalu panjang jalannya kuputuskan untuk menjual ulang ke toko penjual retailnya dan Cuma dihargai lima ratus ribu rupiah. Pahal setahun yang lalu cashnya 5 jutaan karena memang sudah diupgrade harddisk drive dan memory RAM. Sebenarnya bisa saja dijual ke pihak ketiga dengan harga yang lebih tinggi namun aku tak enak hati kalau di belakang hari dimintai perbaikan instal ulang windowsnya pasti tidak bisa karena terbentur passwors bios untuk konfigurasi boot sequence. Dengan hati yang agak galau aku ikhlaskan nilainya sekedar 500 ribu, hitung-hitung buang sial dan nambah uang muka buat kredit laptop baru. Setelah lihat-lihat stock notebook yang ada dengan dasar pertimbangan laptop nanti ditujukan untuk pekerjaan kantor dengan mobilitas tinggi dan hemat daya yang harus lebih bagus dari mendiang netbook tapi dengan harga yang rasional akhirnya terpilih Acer Aspre 4810TZ. Tipe ini memang di luar keluarga timeline tapi sangat mendekati. Lagian seri timeline kelewat mahal, di atas 8 juta semua. Yang ini dipatok 7,2 juta, pasti terpaut minimal 500 ribu dengan harga di Jawa, hitung-hitung ongkos transport ke Kalimantan. Prosesornya Pentium su4100 dengan memory RAM 1GB dan grafis intel 3100 MHD. Guna mendongkrak kinerja laptop, gue tambahkan sekeping memory RAM DDR2 2GB sehingga total memory RAM 3GB. Buat mengetik dan aplikasi office lainnya tahan 5-6 jam, bandingkan dengan seri timeline durasinya 8 jam. Karena sayang sekali terhadap notebook baru ini, saya tempelkan aksesoris screen protector dan keyboard protector serta skindecor. Minimal sebulan sekali laptop selalu dibersihkan dengan kit pembersih LCD. Bikin laptop ini kinclong dan lekat di hati… Bersambung

Satu Tanggapan to “Esai Evolusi Laptop”

  1. khoiri 2 Juni 2011 pada 11:04 AM #

    pamer ap curhat ni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: