Semangat Proklamasi Kemerdekaan

24 Agu

Bulan ini bulan yang penuh berkah yang luar biasa, bulan Agustus dan bulan Ramadhan. Bulan Agustus di mana bangsa Indonesia mengumandangkan proklamasi kemerdekaannya dan bulan Ramadhan di mana umat Muslim melaksanakan ibadah puasa. Keduanya beriringan, seperti 65 tahun yang lalu. Di mana ketika umat Muslim beribadah puasa Ramadhan, pada hari Jumat bulan Agustus tanggal 17 tahun 1945, Soekarno Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Begitu dasyatnya proklamasi kemerdekaan yang ditunggu-tunggu bangsa ini selama 300 tahun dijajah bangsa Belanda sampai-sampai ada orang yang sakit parah menunggu ajal bisa sembuh karena mendengarkan pembacaan teks proklamasi. Syahdan, Soemitro Djojohadikoesoemo lahir pada 29 Mei 1917 di Kebumen, Jawa Tengah. Setelah menyelesaikan sekolah di HIS dan MULO, Sumitro bertekad untuk melanjutkan studi di negeri Belanda. Ia berangkat pada bulan Mei 1935 dengan naik kapal laut. Selama perjalanan sempat singgah di Barcelona selama 2 bulan karena terpikat dengan wanita blasteran Filipina-Spanyol. Gelar BA di Rotterdam pada 1937 dan ia lanjut studi sejarah di universitas Sorbonne Paris (1937-1938). Selama di Prancis aktif dengan tokoh-tokoh sosialis seperti PJ Nehru, Andre Malraux, dan Henri Bergson. Sempat ikut latihan militer dalam rangka melawan dikatator Spanyol di Catalonia namun gagal masuk Brigade Internasional karena umur kurang dari 21 tahun. Kemudian ia kembali ke Belanda menyelesaikan studi ekonomi , penulisan desertasi dilakukan ketika Belanda dijajah Jerman Mei 1940. Selama penjajahan Jerman, Sumitro ikut gerakan bawah tanah Belanda melawan pendudukan Jerman. Pada paruh awal 1945 Sumitro mulai sakit-sakitan karena menderita tumor usus besar. Dokter Belanda mengoperasi Sumitro tanpa antibiotik dan mendiagnosa Sumitro akan meninggal dalam beberapa bulan ke depan. Ketika Sumitro tergolek tanpa daya di pembaringan, pada pagi hari tanggal 18 Agustus 1945 terdengar suara dari radio yang meyiarkan rekaman proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia oleh stasiun radio Hilversum. Siaran tersebut ternyata memberi dorongan sugestif luar biasa dalam diri Sumitro. Semangat hidupnya kembali berkobar dan secara perlahan namun pasti Sumitro makin pulih kesehatannya. Hal tersebut mengherankan dokter yang merawatnya. Bahkan saat DK PBB bersidang di London pada 17 Januari 1946, Sumitro ikut bergabung dengan Mr. Zairin Zain. Kemudian bersama Zairin usai sidang DK PBB, ia terbang pulang kembali ke Jakarta. Begitu tiba di rumah begitu terpukulnya dia oleh kabar gugurnya dua adiknya Subianto (21) dan Sujono (16). Terlebih Subianto yang paling dia sayangi, bekas mahasiswa Stovia yang dikeluarkan karena menolak melaksanakan adat Seikerei ke arah Tokyo. Hal itu semakin mengobarkan tekad Sumitro Djojohadikusumo dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Ref:
1. Jejak Perlawanan Begawan Pejuang, Pustaka Sinar Harapan, 2000
2. Sumitro Djojohadikusumo, http://www.tokohindonesia.com
3. Sumitro Djojohadikusumo, http://www.wikipedia.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: